
Jalanan yang ramai dengan kendaraan menyambut pagi mereka ketika keluar dari hotel, dengan mengendarai mobil Mercedes Benz berwarna merah Axila mengantar Adiknya ke sekolah. Tak lupa juga, mereka menjemput Sehun di rumahnya sesuai dengan janji Axila semalam.
Dimobil, Axila menurunkan atap mobil sehingga mereka bisa merasakan udara pagi di kota Seoul. Tak lupa juga, Azka memutar musik dari fandom kesukaan nya. Astro yang berjudul Blue Flame.
Azka dan Sehun yang memang menyukai fandom ini terus mengikuti lirik yang sudah mereka hafal dengan gerakan dance yang memang sudah mereka pelajari namun hanya sekedar tangan saja, yah kali mau dance di mobil. Bisa-bisa Axila menurunkan mereka di tengah jalan dan menyuruh mereka berjalan kaki sampai ke sekolah.
Sedangkan Axila? Dia tampak menikmati lagu dan suara kedua remaja itu, dia juga kagum pada Sehun yang bisa rapp.
Tak terasa mereka telah tiba, Axila menghentikan laju mobilnya dihalaman sekolah.
Seketika semua mata tertuju pada mereka, terutama Azka dan Sehun yang berada di mobil. Mereka terlihat sangat tampan dan mempesona, seakan menjadi bintang.
Azka membuka pintu lalu turun dari mobil, diikuti Sehun yang duduk persis di tengah agar bisa melihat jalanan didepannya.
"Belajarlah yang rajin." ujar Axila menyemangati keduanya.
"Baik, Noona." ujar keduanya bersamaan, Azka mendekati Axila lalu mengecup pipi kiri kakaknya.
*Cup!*
"Perintah dilaksanakan, Bos." ujar Azka lalu memberikan hormat layaknya seorang prajurit.
"Masuklah, aku pergi dulu." ujar Axila sambil tersenyum pada keduanya, segera saja dia kembali menginjak pedal gas dan meninggalkan area Sekolah Menengah itu.
Azka masih berdiri sambil mengamati mobil kakaknya yang sudah menjauh, Sehun disampingnya juga sama.
Terdengar bisikan anak-anak yang lain, yang tengah membicarakan tentang mereka berdua.
"Bukankah mereka berusaha terlihat sangat keren."
"Apa mereka murid baru?"
"Sangat tampan."
Azka tak mempedulikan mereka, langsung saja dia berjalan memasuki gedung sekolah diikuti Sehun disamping nya.
Setiap berpapasan dengan siswa yang lain, mereka akan berhenti melakukan aktivitas mereka dan menatap keduanya.
Azka terus melangkahkan kakinya di koridor sekolah, menenteng tas nya dan membuka pintu kelas yang saat itu tertutup.
Beberapa siswi yang melihat kedatangan mereka segera mengalihkan pandangannya pada keduanya.
"Hei, lihat itu." ujar yang lainnya pada temannya.
__ADS_1
Teman-temannya segera melihat kearah pintu dimana Azka dan Sehun berada disana, namun tak lama mereka berjalan ke tempat duduk masing-masing.
Teman sekelas mereka masih menatap keduanya, seakan mereka orang baru disana.
"Apa dia Azka?" tanya yang lain pada temannya.
"Yah, dia Azka."
"Dia terlihat sangat tampan." sambung yang lainnnya.
Azka mengenakan headphone yang sejak tadi bertengkar di lehernya, memutar musik dan melipat tangannya lalu mulai menutup matanya. Sedangkan Sehun sudah bergabung dengan siswa yang lainnya.
Dilain tempat, Axila sedang duduk berhadapan dengan Mike disalah satu meja yang berada di Caffe. Saat kembali mengantar Adiknya dari sekolah, Mike sudah menunggunya di lobby hotel. Telat saat gadis itu masuk, Mike langsung membawanya ke salah satu caffe yang tak terlalu jauh dari Hotel.
Axila tak membuka percakapan, dia terus menutup mulutnya agar tak bicara, sedangkan Mike yang berada di depannya terus menatapnya dengan lekat.
"Jadi, apa lagi yang ingin kau bicarakan?" tanya Axila setelah sekian lama mereka terdiam.
"Jelaskan padaku, apa yang sebenarnya kau inginkan?.
Ini bukan hanya tentang kesalahpahaman kita saja, bukan?" ujar Mike.
"Kusaran kau kembali dan pulanglah ke Indo. Masih ada urusan lain yang harus diselesaikan disini." Axila tak menjawab pertanyaan Mike, baginya itu bukanlah urusan Mike.
"Hentikan, Mike!" sambung Axila. "Aku sudah memaafkan mu. Aku bahkan tak peduli kau mau menjalin hubungan dengan siapapun.
Ingatlah, status kita hanyalah pura-pura. Lagi pula, ini bukan di Indo jadi aku harus menjadi kekasihmu." ujar Axila.
"Justru karena itulah ak-"
"Aku tahu apa yang terjadi didalam ruang kerja mu, Mike." potong Axila. "Dan aku tak peduli." sambungnya lagi.
"Kau tahu?"
"Yah." Axila mengangguk, "Wanita itu yang memulainya. Aku tahu itu." sambung Axila lagi.
"Lalu mengapa kau tak menghentikan nya?" balas Mike.
"Kare itu urusanmu. Aku memang ke sana untuk berpamitan denganmu, jika aku akan ke sini." ujar Axila.
"Aku ingin kita serius dan melupakan kepura-puraan ini. Aku ingin bersamamu." ujar Mike, tangannya meraih tangan Axila yang berada diatas meja.
"Maaf, aku tak bisa." tolak Axila, ia menarik tangannya dari genggaman Mike.
"Mengapa?" tanya Mike. "Karena lelaki itu?" tebak Mike.
__ADS_1
"Tidak juga. Aku belum mau mengikat diriku dengan siapapun." tolak Axila. Enak saja, bahkan dendamnya pada mantan tunangan tubuh ini saja belum terbalaskan. Lalu ada yang ingin mengikatnya dengan hubungan yang serius?
Tidak!
Lagi pula, ini bukanlah di zamannya, bila seorang gadis harus menikah di usianya yang beranjak dewasa, dengan atau tanpa cinta.
"Kau berbohong! Ini pasti karenanya, iya kan?!" tuduh Mike.
"Hentikan, Mike!" bantah Axila. "Semua ini tak ada hubungannya dengan siapapun. Kewajiban ku bahkan belum selesai aku lakukan, jangan pernah membawa siapapun dalam masalah kita." ujarnya.
"Axila-"
"Apa ini tugas dari ayahmu?" ujar Mike.
"Ayahku sudah lama meninggal, Mike. Jika yang kau maksud adalah Papa, maka kau salah.
Ini kewajiban ku sebagai seorang kakak.
Jadi, pulanglah dan lupakan aku." ujar Axila.
"Kau memutuskan ku?" Mike tentu saja terkejut dengan ucapan Axila.
"Anggap saja begitu." balas Axila.
"Tidak! Aku tak terima ini!" balas Mike, dia menggerebak meja dan membuat mereka menjadi pusat perhatian.
"Kalau begitu buktikan!... Buktikan jika aku memang mencintaiku dengan tulus bukan karena kelebihan ku, namun kekurangan ku yang bahkan tak kau ketahui!" ujar Axila, ayolah. Dia ingin lepas dari pria yang menjadi kekasih pura-pura nya ini. Dia tak ingin melibatkan pria lain dalam urusan balas dendam nya pada pria br3ngsek seperti Alex.
"Baiklah! Aku akan membuktikannya, jika aku pantas berada disamping mu." balas Mike, karena kesal dia pergi dari sana dan meninggalkan Axila sendiri disana.
Tanpa diketahui, jika sejak tadi percakapan mereka didengar oleh seseorang yang berada persis dibelakang Axila.
Namun bukan namanya Axila jika dia tak tahu.
"Sudah puas dengarnya?" ujar Axila tiba-tiba.
Levi yang memang mengikuti mereka sejak tadi langsung saja tersenyum miring, apa kucing liar nya sudah mengetahui keberadaannya?
Levi beranjak dari tempatnya, lalu duduk disamping Axila.
"Dari mana kau tahu, jika aku berada disini?"
"Aku tahu sejak awal." balas Axila, dia meraih tas dan smartphonenya dan pergi dari sana, tak lupa meletakkan beberapa lembar uang diatas meja untuk membayar minuman yang tadi ia pesan.
Zero^-^
__ADS_1