Perjalanan Waktu Putri Mahkota

Perjalanan Waktu Putri Mahkota
Tak terima


__ADS_3

Segera saja dia melangkah mendekat.


"Axila!" pekiknya, kakinya terus berjalan mendekat.


Tangannya menarik lengan kekasihnya agar berdiri, kedua pria itu juga ikut berdiri.


"Mike?" balas Axila.


"Sedang apa kau dengan lelaki itu?!" tatapan tajam mengarah pada Levi, begitu pula dengan Levi yang menatapnya tajam.


Azka menatap bingung pria yang menarik tangan kakaknya.


"Siapa dia?" ujar Azka.


Axila tak menjawab pertanyaan Mike, membuat pria itu semakin kesal.


"Aku bilang apa yang kau lakukan dengannya!" bentak Mike.


Levi menarik lengan Axila yang lainnya, "Hei. Mengapa kau membentaknya?!" balas Levi tak terima.


"Ini urusanku dengannya, siapa kau yang mencampuri urusan kami?" tatapan tajam Mike mengarah pada Levi, Azka yang berada diantara mereka menjadi bingung plus kesal. Mengapa kakaknya ditarik-tarik seperti itu.


"Mike, kami hanya makan malam." ujar Axila.


"Makan malam? dengan pria lain?" geram Mike. Tangannya mengepal, berani juga pria itu mengajak makan malam kekasihnya. Kesalahpahaman diantara mereka saja belum selesai, pria ini malah.


Haisss! Buat kesal saja.


"Kau siapa?" ujar Azka pada Mike.


Mike mengalihkan pandangannya pada Azka, 'siapa lagi bocah ini?' batin Mike.


"Aku kekasihnya, siapa kau?" balas Mike.


Azka menatap pada kakaknya.


"Noona" panggil Azka, Axila menoleh.


"Aku tak setuju jika kau bersamanya. Selera mu buruk sekali." ujar Azka pedas.


Mata Levi membulat, ekspresi nya sedikit berubah namun didetik selanjutnya ada seringai yang keluar dari raut wajahnya.


"Bocah ini!" geram Mike, tapi tunggu dulu.


Noona? artinya dia adik Axila?


"Kau?"


"Ya. Aku Adiknya, mengapa?!" tantang Azka. Raut wajahnya semakin dingin saja, dia tak suka kakaknya ditarik paksa seperti tadi.


Mike menahan kesabaran. Tatapan kembali tertuju pada Axila.


"Honey, kesalahpahaman kita harus diselesaikan." ujarnya, maksudnya soal ciuman dikantornya itu.


"Kurasa tidak ada lagi. Aku sudah memaafkan mu, aku juga tak peduli tentang hal itu." balas Axila acuh.


"Aku ingin kita serius dan tak seperti ini lagi." sambung Mike cepat.


"Tidak! Aku tak setuju." timpal Azka. Segera saja dia berjalan mendekat dan menarik Axila kesisi nya.


"Kau pikir kau siapa?!.... Kau mau mengambil kakakku lagi?!... Tidak akan pernah aku berikan pada pria sepertimu!" ujarnya dingin.


Tatapan tertuju pada Levi. "Maaf, kak. Makan malam kita berantakan karena ini. Aku akan mentraktir mu lain waktu, aku permisi." tanpa menundukkan kepalanya, Azka menarik Axila pergi dari sana.

__ADS_1


Mike yang ingin menyusul segera dihentikan oleh Levi.


"Jangan berani menyusulnya atau kau akan habis ditangan ku!" ujarnya memperingati.


...---------...


Azka menghempasnya tubuhmu diatas sofa kulit berwarna putih dengan kesal, padanya dia baru saja menikmati spaghetti beberapa suap. Kekesalannya bertambah karena ini merupakan makan malam pertamanya dengan kakaknya, namun malah berantakan seperti ini.


Axila yang melihat wajah kesal Azka segera mendekat.


"Hei, kenapa?" tanya Axila. Menurut Axila, wajah Adiknya terlihat imut saat sedang kesal seperti ini.


Azka mengalihkan pandangannya pada Axila.



"Noona.." rengek Azka.


"Kenapa?" balas Axila.


"Aku lapar." ujarnya dengan manja, hilang sudah kekesalannya saat ini.


Axila duduk disamping Azka, "mau ayam?" tawarnya.


Azka mengangguk semangat, namun didetik selanjutnya wajahnya kembali murung.


"Kenapa?" tanya Axila.


"Bagaimana dengan pizza yang belum sempat kusentuh, Noona?" tanyanya.


"Mungkin diambil oleh pelayan lagi. Mau?"


Azka mengangguk namun kembali menggeleng.


"Tapi bisakah pizza tadi diambil lagi?"


Axila mengangguk, dia akan membawa Azka ketempat yang sering didatangi oleh adiknya.


Apa lagi jika bukan rumah makan Sehun dan ibunya.


...-----------...


Axila membonceng Adiknya dijalanan yang masih banyak dilalui kendaraan roda empat, Axila terus melajukan motornya ditengah keramaian, menyalip mobil yang berada didepannya.


Beberapa menit kemudian mereka tiba.


Azka yang sejak tadi memperhatikan jalanan yang tak asing seperti tahu, namun dia hanya menebak saja siapa tahu bukan itu tempat yang akan mereka datangi.


Namun setelah kakaknya menghentikan laju motor, Azka sangat terkejut.


"Noona. Bukankah ini-"


"Rumah temanmu, aku benar?" potong Axila.


"Ayo turun." sambungnya lagi karena Azka tak beranjak dari belakangnya.


Azka turun dan melepaskan helmnya, begitu juga dengan Axila yang melepaskan helmnya dan turun dari motor sport berwarna hitam itu.


"Ayo masuk, tunggu apa lagi?" kakinya beranjak memasuki rumah makan diikuti Azka dibelakangnya.


"Selamat datang." sorak suara seorang wanita yang menyambut kedatangan mereka.


"Bibi, aku datang." balas Azka, segera saja sang pemilik yang sudah familiar dengan suara itu segera menengok.

__ADS_1


"Yoo.. Azka..." ujarnya, "Sehun! Ada Azka, cepat kemari." panggilnya.


Azka hanya tertawa pelan, sedangkan Axila hanya mengawasi saja dari belakang.


"Duduklah." ujar ibu Sehun, dirinya segera menyambut teman putranya dengan hangat dengan memeluknya sebentar.


Azka dan Axila duduk disalah satu meja, pengunjung hanya ada beberapa orang saja sehingga mereka bisa bersantai sebentar.


"Kau sudah makan? mau makan sesuatu?" tanya ibu Sehun.


"Ya, aku lapar. Dimana Sehun? kudengar, dia sudah keluar." balas Azka.


"Dia masih diatas, sebentar lagi juga akan turun." balas ibu Sehun, matanya mengarah pada Axila yang mengamati seisi rumah makan.


"Ini?"


"Ah, benar. Ini kakakku, yang sering aku ceritakan pada bibi." balas Azka cepat.


Axila yang merasa jika dirinya dibawa dalam kata Adiknya segera menoleh, lalu menundukkan kepalanya sebentar.


"annyeong, saya kakaknya Azka." ujarnya ramah.


"Senang bisa bertemu dengan anda, Nona. Saya ibu teman Azka." balas ibu Sehun, Axila mengangguk paham.


Tak beberapa lama remaja itu tiba, segera saja dia menghampiri mereka.


"Azka." panggilnya, senang bisa melihat temannya diluar sekolah seperti ini.


"Beri salam pada kakaknya Azka." ujar ibunya.


Sehun yang melihat ada orang lain disamping sahabatnya segera membungkuk hormat.


"Selamat malam, Nona." sapanya.


"Malam." balas Axila.


"Duduklah dengan Azka, ibu mau mengambilnya ayam untuk mereka." ujarnya, segera saja Sehun duduk didepan sahabatnya dan mereka mengobrol sebentar.


Ibu Sehun kembali, meletakkan satu piring ayam pedas diatas meja dengan minuman dingin disana.


Azka tampak senang bisa berkumpul dengan mereka, Axila hanya tersenyum tipis melihat mereka.


"Nona, terima kasih telah membayar biaya rumah sakit putraku" ujar ibu Sehun tiba-tiba.


"Ah, bukan masalah, Bibi. Itu hanya sedikit saja." balas Axila.


"Terima kasih, Nona." ujar Sehun juga.


"Aiss. mengapa formal begini. Panggil saja namaku." ujar Axila yang merasa tak nyaman dengan panggilan mereka, itu karena Adiknya dekat dengan keduanya.


"Noona." panggil Sehun tiba-tiba.


Azka melotot padanya, "Hei! dia kakakku, bukan kakakmu." ujarnya tak terima.


"Yah, mengapa?" balas Sehun, dia bahkan dengan beraninya menarik tangan Axila seperti sedang memeluknya.


"Hei, lepaskan." ujar Azka, bilang saja dia cemburu jika ada yang menyentuh kakaknya seperti itu.


"Tak mau." balas Sehun meledek Azka. Mereka terlibat pertengkaran kecil hanya masalah itu.


"Azka, Sehun. Diam lah sedikit. Ada yang ingin aku sampaikan pada kalian berdua." ujarnya dengan serius. Membuat kedua remaja itu segera menarik diri dan mulai memasang wajah serius pada Axila, namun sesekali melempar tatapan ejek.


"Ada apa, Noona?" tanya Azka.

__ADS_1


"Kalian berdua mendapatkan misi dariku. Kalian-----"


__ADS_2