Perjalanan Waktu Putri Mahkota

Perjalanan Waktu Putri Mahkota
Kantor Polisi


__ADS_3

Hari sudah berganti dengan malam, membuat udara disekitarnya menjadi lebih dingin lagi dari pada biasanya. Sekarang sudah hampir bulan Desember, yang artinya sebentar lagi akan turun salju.


Azka, remaja itu sedang mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru disekolah tadi, dengan bantuan lampu belajar yang menyoroti bukunya.


Tiba-tiba saja ponselnya bergetar, terdengar dering yang menandakan jika ada pesan yang masuk.


Tangan remaja itu segera saja meraihnya, dia pikir itu berasal dari gadis misterius.


Namun matanya membelalak saat mendapati Vidio singkat yang menunjukkan jika dia sedang dipukuli oleh beberapa orang siswa SMA.


"Hei Azka. Datanglah ke jalan Wx jika tak mau sahabatmu yang cupu dan jelek ini mati.


Aku tunggu kau 30 menit lagi, jika kau tak datang.


Kurasa, kau tak akan pernah bertemu lagi dengan temanmu." pesan yang dikirimkan oleh nomor asing.


"Haiss. Sial!" segera saja remaja itu mengambil sweeter nya yang berwarna putih, tanpa mematikan lampu belajarnya yang saat itu masih menyoroti bukunya.


Kakinya langsung melangkah keluar dari kamar, dia hanya menarik pintu tanpa menguncinya dari luar.


Azka mengenakan sepatunya dengan cepat, bahkan tali nya saja tak diikat dengan baik.


Azka berlari keluar, disana dia menemukan Jin-Na yang sedang mengobrol dengan temannya yang saat itu sedang berkunjung.


"Azka, mau kemana kau?" pekik Jin-Na.


"Aku mau keluar sebentar, jangan cari aku." balas Azka cepat, kakinya langsung berlari dijalan gang yang saat itu sedikit sepi, membuatnya menjadi mudah tanpa harus menabrak seseorang.


Saat dijalan raya, Azka menghentikan Taxi yang akan lewat, memasukinya dan menyuruh sopir untuk mengantarnya ke alamat yang ingin dituju.


Azka terus saja menggigit kuku jarinya dengan tak tenang, siapa lagi yang ingin menjebaknya.


Namun dari seragam anak-anak yang berada dalam Vidio, sepertinya Azka langsung mengetahuinya.


Siapa lagi jika bukan kakak tirinya. Park Soo-hyun.


"Apa lagi yang diinginkan oleh brand@l itu?" gumam Azka. Dia tak menyadari, jika ada sesuatu yang mengikutinya dari ketinggian tepat diatas Taxi yang ditumpanginya. Benda itu terus mengikutinya sejak dia keluar dari rumah tadi.


15 menit Azka turun dari Taxi, segera dia bayar dengan uang tunai yang dia punya, hanya tersisa 20.000 Won. Azka memberikan semuanya pada sopir itu dan berlari menjauh, lalu turun kelapangan kecil yang berada tepat dibawah jembatan.


"Kim Sehun! Sehun!" pekik Azka dari kejauhan, kakinya terus saja berlari dengan cepat, mencari dimana sahabatnya berada.


Dari kejauhan, terlihat seseorang yang sedang terbaring lemah diatas rerumputan yang mengering.


"Kim Sehun!" Kaki Azka langsung saja berlari kearah dimana Sehun berada, remaja itu langsung saja berjongkok dan meraih leher Sehun kepangkuan nya.


"Sehun! Sehun, kau mendengarku? Sehun!" panggil Azka, tangannya menepuk pelan pipi Sehun agar terbangun.


Dari kejauhan, sopir masih berada disana dan melihat Azka yang saat itu sedang berlari.


"Haiss, dasar remaja zaman sekarang." ujarnya, lalu meninggalkan batas jembatan itu.


Sehun mengerjap matanya dengan lemah, meskipun kabur dia tahu jika itu adalah Azka.


"A-zka? ka-u da-tang?" ujarnya dengan terbatah, matanya mengeluarkan cairan bening yang bercampur dengan darah disamping pelipisnya.


Air mata Azka juga ikut mengalir, "bertahanlah. Aku akan membawamu ke rumah sakit, oke?" ujarnya dengan suara yang bergetar.


Tiba-tiba terdengar suara tawa yang memekang disekitar sana. Lalu keluarlah 7 orang remaja yang menggunakan seragam SMA.


"Park Soo-hyun!" pekik Azka dengan marah, dia sangat mengenal suara tawa itu. Yah, kakak tirinya.


"Ya. Kenapa?" tanya Soo-hyun, kakinya melangkah mendekati Azka dengan senyum kemenangan.


"Apa maumu, huh?!" bentak Azka, dia kembali meletakkan kepala Sehun dirumput dan berdiri.


"Mau ku? mudah saja. Pergilah ke neraka!" ujarnya dengan dingin, lebih dominan kebencian.


"Mengapa kau sangat membenciku?!


Apa salahku padamu?!" bentak Azka, dia sudah sangat bersabar selama ini. Dari kecil, dia yang selalu saja harus mengalah untuk kakak tirinya itu.

__ADS_1


"Salahmu adalah. Karena kau terlahir ke dunia ini, dan aku sangat membencimu!" balas Soo-hyun.


Kepalanya menatap kilas pada salah satu temannya, lalu menggeleng. "Habisi dia lalu buang kedalam sungai." perintahnya.


Semua siswa yang berada disana langsung saja mengambil tongkat baseball yang mereka bawa, lalu berjalan mendekati Azka yang saat itu hanya menatap mereka, lalu mulai memasang kuda-kuda.


Perkelahian tak dapat dihindari, Azka terus saja menghindar walaupun sesekali dia akan mendapatkan pukulan dibeberapa titik tubuh nya.


Tangan Azka memegang tangan salah satu dari siswa yang lain, lalu memutarnya dan menendang kaki remaja itu, alhasil dia terjatuh dan tongkat baseball nya kembali memukul kepalanya dengan keras sehingga dia meringis kesakitan.


Ada pula yang lain, mereka mememukul Azka secara bersamaan, remaja itu menggeser tubuhnya kebelakang. Dan akhirnya, keduanya saling memukul dibagian kepala mereka.


Dan saat yang lain menyerang Azka, remaja itu melompat dan merangkul pundak salah satu dari lawannya, lalu memutarnya tubuhnya dan menendang beberapa siswa telat di kepala mereka.


Yang lainnya sudah tumbang, tersisa Soo-hyun sajalah yang masih berdiri disana dengan tegak. Dia rasa, boleh juga kemampuan adik tirinya itu.


Tentu saja Azka memiliki kemampuan bela diri, meskipun tak ahli tapi cukup untuk melindungi dirinya dan juga orang terdekatnya.


Dari siapa lagi dia belajar, jika bukan dari Moonbin, Jin-Na dan kakak serumah nya itu. Mereka memang sering latihan bersama diwaktu luang, biasanya akan dilakukan saat hari Jumat malam dan Minggu.


Tanpa diketahui, Soo-hyun mengeluarkan pisau lipat dari dalam kantong celana seragam miliknya. Saat dia melangkah dan mendekati Azka, keduanya langsung saja berkelahi. Azka dengan tangan kosong, sementara Soo-hyun dengan pisau lipat ditangannya.


Lihatlah, Azka sudah sangat kacau. Tenaganya sudah terkuras saat melawan teman-teman kakak tirinya itu.


Namun dia belum mau mati, dia masih harus menemui eonni nya. Yah, hanya kakaknya saja.


Soo-hyun bukan lagi melangkah, dia berlari kearah dimana Azka berdiri saat ini. Sudah sangat kencang, lalu melompat dan mengarahkan pisau.


Namun dengan cekat Azka menghindar, kakinya langsung memutar saat Soo-hyun melayang dan hampir menghantam dirinya. Lalu kaki kirinya sebagai tumpuan,lalu yang kanan melayang keatas dan menghantam tepat ditengkuk Soo-hyun.


Hanya satu tendangan. Yah, hanya satu saja namun membuat Soo-hyun oleng dan terjatuh, namun kesadarannya masih ada.


Telat saat Soo-hyun terjatuh, polisi pun tiba dan mengarahkan senjatanya pada Azka yang saat itu masih berdiri.


"Hentikan! Kami polisi." Ujar salah satu menggunakan pengeras suara. Bahkan sarine polisi tak henti-hentinya berbunyi.


Azka tak peduli, kakinya melangkah kearah dimana terdapat Sehun berbaring, lalu mengangkat kepala sahabatnya dan memangku nya sambil menangis. Dia sangat lelah.


Polisi tiba, mereka langsung saja mendekat kearah dimana terdapat Azka dan Sehun.


"Kumohon, selamatkan dia." ujar Azka lemah, polisi segera menelpon ambulance sambil memberikan pertolongan pertama pada Sehun.


Sedangkan Azka dibawa kemobil polisi, dia bahkan tak melawan saat itu. Dia sudah sangat lelah, tenaga nya sudah terkuras.


Tak lama, ambulance tiba dan membawa Sehun ke rumah sakit. Soo-hyun dan teman-temannya dibawa kekantor polisi juga, karena melihat luka mereka yang ternyata hanyalah luka ringan saja.


Sedangkan Axila yang saat ini sedang mengikuti rapat di hotel menghentikan sejenak saat ponselnya berdering.


Itu bukanlah dering telepon, namun terjadi sesuatu yang buruk pada adiknya. Azka sedang dalam masalah saat ini.


"Kita tutup rapatnya. Aku harus pergi." ujar Axila. Dia langsung saja bangun dari duduknya, lalu pergi dari ruang meeting begitu saja.


"Ada apa? apa terjadi sesuatu?"


"Apa yang terjadi? mengapa nona AL menghentikan meeting nya?"


"Syukurlah aku bisa bernafas lega. Dia sangat menakutkan tadi."


Para karyawan bertanya-tanya, ada pula yang merasa lega karena Axila yang sangat serius saat sedang meeting.


Axila pergi keluar dari dalam lift, disana sudah tersedia satu mobil berwarna hitam pekat. Dengan seorang pria yang menggunakan setelan serba hitam, bersama beberapa mobil lainnya yang saat itu sedang berada tepat dibelakang mobil yang Axila pakai.


"Kita ke jalan Wx, sekarang!" perintah Axila. Tangannya langsung saja memutar video yang saat itu masuk kedalam ponselnya.


Mengetahui suasana hati bos mereka yang saat itu sedang buruk, sang sopir langsung saja menginjak pedal gas dengan kecepatan tinggi. Dengan tiga mobil hitam yang berada tepat dibelakang mereka dan mengawasi Nona mereka.


...............


Berpindah ke kantor polisi.


Azka sedang diintegrasikan oleh beberapa orang polisi, mereka menanyakan apa yang sebenarnya terjadi. Namun remaja itu bungkam, tatapan kosong dan kepalanya terus saja tertunduk.

__ADS_1


Sementara ketujuh siswa SMA itu, mereka juga mendapat hak yang sama. Sedang ditanya apa yang terjadi.


"Pak. Dia memukuli kami, bahkan temannya saja tak luput dari nya. Dia itu seorang monster"


"Ah, dia membuatku akan cacat dan tak bisa masuk ke universitas negeri." ujar yang lain dengan memegang tangannya yang saat itu dipasang pen.


Semua tuduhan mengarah pada Azka, mereka mengatakan jika Azka lah yang salah bukan mereka.


"Sudahlah. Wali kalian sudah kami hubungi, sebentar lagi akan tiba." ujar seorang polisi wanita yang mengenakan seragam kebesaran nya.


Beberapa menit kemudian, para wali sudah datang dan membuat kantor polisi penuh sesak dengan para orang tua.


Termasuk, ibu tirinya juga ikut hadir disana dan membela putranya yang selalu dimanja dan disayang, siapa lagi jika bukan park Soo-hyun.


Azka melirik saat mendengar suara ini tirinya yang memekang ditelinga.


"Hei anak berand@l@n! Berani sekali kau memukul kakakmu sendiri!"


"Dia bukan kakakku! Aku tak pernah punya kakak seorang pembun*h sepertinya!" bentak Azka. Tak Sudi dia mempunyai kakak seperti Soo-hyun.


"Lalu mengapa kau memukuli anakku, huh?!" bentak seorang pria, wali dari salah satu siswa.


"Dasar anak miskin! Berani sekali dia memukuli anakku!" sambung yang lainnnya.


Terjadilah keributan didalam sana.


"Bukan aku yang melakukan nya! Aku bilang bukan aku yang memulainya!" bantah Azka dengan cepat. Tatapannya beralih pada polisi yang sejak tadi bertugas untuk bertanya padanya.


"Aku bilang bukan aku yang memulainya. Mereka yang memukuli temanku jadi aku membalasnya." ujar Azka.


Namun para wali itu tak mau mendengarkan, mereka terus saja menyalahkan Azka.


"Penjarakan si miskin ini, jika tidak kami tak akan berdamai!" ujar salah satu wali bersuara dengan keras.


Yang lain juga ikutan, mereka menyuruh para polisi agar memenjarakan Azka.


"Beraninya kalian mengatakan dia miskin!" ujar suara yang terdengar begitu tegas, dingin dan menyeramkan yang datang dari pintu masuk.


Semua orang terdiam. Mata mereka tertuju pada pintu masuk yang terbuka dan masuklah 10 pria berpakaian hitam layaknya pengawal resmi.


Mereka membentuk barisan memanjang, lalu menundukkan kepalanya saat seorang gadis yang mengenakan pakaian mewah melewati mereka.


Secara otomatis, para wali membuka jalan bagi si Nona muda yang saat itu berjalan lurus kedepan.


Mata Azka juga mengikuti yang lainnya, tertuju pada seorang wanita yang mengenakan pakaian seragam hitam namun dengan desain yang sangat elegan, terlebih saat wanita itu menegakan nya.


Kakinya berjalan kearah dimana Azka berdiri saat ini.


"Beraninya kau mengatakan dia miskin. Aku bertaruh, kau bahkan tak mempunyai satu triliun Won sebagai hartamu." matanya naik turun pria itu dengan perasaan jijik.


"Hei! Lihat saja, siapa yang akan masuk kedalam penjara!" ujarnya dengan bentakan diakhir kalimatnya.


"Siapa lagi jal@ng ini?" ujar pria itu pada wanita yang mereka tak kenali.


"Apa? "Jal@ng?" suaranya melengkung. "Aku wali anak yang kau sebut ber@nd@l 'tadi, bedeb*h!" bentaknya.


"Walinya?" ulang yang lainnya.


"Jadi kau walinya?" ulang pria itu, sedangkan ibu Soo-hyun sudah mengerut alisnya, bertanya-tanya siapa wanita yang mengaku sebagai wali anak tirinya.


Axila. Itulah dia. Dia yang baru saja datang kekantor polisi setelah melacak ulang ponsel milik adiknya.


Kakinya melangkah kearah dimana Azka sedang berdiri.


Tangannya masuk kedalam tas mahalnya dan mengeluarkan satu kain berwarna putih.


"Hidungmu berdarah, bersihkanlah.x ujarnya dengan lembut, lalu menggosok pipi Azka dengan lembut.


"Tananglah. Sudan ada Eonni disini, Kat tak perlu takut lagi." ujarnya lalu mengecup kening Azka lembut.


Azka? Dia hanya mematung ditempatnya. Apa lagi saat mendengar kata "Eonni" yang keluar dari bibir gadis itu.

__ADS_1


Dia yang masih terkejut dengan seseorang yang datang dan mengaku sebagi walinya, kini lebih terpaku lagi. Namun dia segera menghapus darah yang keluar dari hidungnya dengan kain yang diberikan oleh Axila


Matanya mengikuti gerakan, dimana terlihat gadis itu memasang kembali wajah dingin pada semua wali, tak lepas dari para siswa SMA. Azka menjadi sedikit merinding saat melihat wajah gadis itu yang sangat berbeda saat berbicara dengannya.


__ADS_2