
Laju mobil yang sangat tinggi membuat jantung siapapun akan berdetak dengan kencang seperti sehabis lari maraton, itulah yang Putra rasakan saat ini.
Ia merasa seperti sedang menumpang dimobil seorang pembalap profesional, ia juga merasakan aura panas yang keluar dari adik cantiknya.
Mobil Levi, Daren dan yang lainnya menyusul dengan kecepatan yang sama, sekitar 15 mobil yang sedang kebut-kebutan saat ini.
Sebentar lagi hari akan malam, hal ini akan mempermudah Axila untuk beraksi.
"Jika kau membutuhkan sesuatu, katakan saja padaku." ujar Pria itu, Zain Rach.
"Aku tak tahu mengapa kau membawaku kesini. Tapi, jika kau meminta tubuhku. Lupakan saja, kau tak akan mendapatkan apapun dariku." balas Azka dengan menggunakan bahasa Korea.
Zain terkekeh pelan, ia meraih pistolnya lalu mendekati Azka.
Plakkk...!
"Arghh!" pekik Azka, wajahnya ditampar menggunakan pistol tadi sehingga membuat bibir dan pelipisnya berdarah.
Zain menarik rambut Azka kebelakang, dengan otomatis kepalanya juga mendongak dan menatap Zain.
"Bicara dengan bahasa Indonesia!
Kau tak boleh menganggap ku pria baik. Terutama jika aku sedang memegang pistol." ia menghempas kepala Azka dengan kasar sehingga membuat remaja itu mengadu kesakitan.
Ia berjalan mengelilingi Azka, "Kapten Axila.
Dia cerdas, cantik, lucu," Zain berhenti tepat dibelakang Azka, "dan Misterius." sambungnya lagi.
"Tapi..... dia memiliki banyak rahasia. Dia akan menghilang dan susah untuk dihubungi. Dan suatu saat dia tak akan kembali." ujarnya lagi tepat ditelinga Azka.
"Jika kau mau mengatakan itu, maaf. Tapi hal itu tak akan pernah terjadi.
Kakakku tak akan pernah meninggalkan ku sendirian. Kau pikir dengan mempengaruhi otakku, aku akan terpengaruh denganmu lalu menghianati kakakku?
Kau penasaran dengan apa yang aku katakan, 'bukan?
Kah tak berhak mengetahui nya, dasar sampah!" Azka membalasnya lagi dengan menggunakan bahasa Korea, ia tahu tipe seperti apa orang ini.
Zain mengangguk pelan, "kau ternyata keras kepala juga, sama seperti kakakmu itu." ujar Zain lalu menatap kesal pada Azka.
Sementara itu.
Axila menghentikan laju mobilnya didalam kegelapan, begitu juga dengan yang lainnya saat ini. Sekarang sudah pukul 18.10 dan hari juga sudah gelap namun masih terlihat cahaya redup dilautan lepas.
Angin laut menerpa wajah cantik itu, namun tak menjadi masalah untuknya saat ini. Ia melangkah pergi dari sana, sementara yang lainnya juga sama.
Masing-masing mengambil tempat mereka, bersiap untuk menyerang atau diserang.
Axila menatap bangunan yang berada jauh darinya saat ini, sekitar 2 kilometer. Axila menggunakan sedikit Qi yang ia alirkan ke matanya, hal itu berlaku untuk melihat siapa saja disana seperti byakugan milik Hinata.
Axila merasakan kehadiran Azka disana, dimana remaja itu sedang disekap dalam suatu ruangan yang cukup luas.
"Ini adalah tempat paling teraman bagi mereka, aku tahu bagaimana liciknya Zain itu."
Axila menoleh pada Levi yang saat ini sudah berada disampingnya sambil melihat kearah dimana gedung itu berada.
"Hmmt." balas Axila, ia langsung melangkah menjauh dari mereka.
Sementara Levi, pria itu menelpon bawahannya untuk membawakan helikopter seperti permintaan Axila sebelumnya.
Levi kemudian mengikuti Axila dari belakang begitu juga dengan tim Red Velvet beserta Putra.
Kamera pengawas terus merekam apa yang terjadi diluar sana, hampir semua sisi dipasangi CCTV dan itu sedikit merepotkan bagi mereka. Namun bukan namanya Axila jika ia tak mempunyai rencana lain.
Banyak pengawal yang sedang berjaga, mereka terus menerus mondar-mandir agar musuh tak mudah menyusup.
Namun bukan namanya Axila jika dia tak dapat masuk kedalam sana, meskipun keamanan nya sangat ketat tapi Axila dengan mudahnya masuk kedalam sana. Ia bersembunyi didalam kegelapan tanpa adanya suara sedikitpun yang ditimbulkan.
Axila berlari menghindari kamera yang mengarah padanya, dengan sangat gesit Axila sudah berada disana. Saat salah seorang pengawal sedang berbalik, Axila dengan cepat sudah berada dibelakang punggung pria itu bahkan tak ada suara yang ditimbulkan oleh sepatutnya. Axila menarik pria itu, ia mematahkan leher dan menancapkan berlatihnya tepat di jantung pria itu.
Ada sedikit suara yang ditimbulkan sehingga menarik perhatian pengawal yang lain, namun Levi dan Putra yang mengurus mereka tanpa menimbulkan suara dan kecurigaan sedikitpun.
Axila memasuki gedung itu, ia mengendap seperti pencuri melewati pintu yang tak ada lagi pengawasan. Ia mengarahkan senjatanya kedepan, bersembunyi dibalik tembok lalu memukul tengkuk salah seorang pengawal yang sedang berjaga disana.
Bruggg..!
Mata Axila malah menangkap segerombolan anak-anak yang sedang disekap disana.
__ADS_1
Bahkan anak-anak itu juga sedang menatapnya dengan takut, Axila memberikan kode dengan meletakkan jari telunjuknya didepan bibir, menyuruh mereka agar tenang.
Tangannya terangkat lalu melemparkan belati itu tepat di CCTV yang sedang dipasang di ruangan itu, membuat CCTV rusak sehingga dia bisa beraksi tanpa adanya pengawasan.
Sedangkan diruang control itu sudah dikuasai oleh Daren, ia juga menyusup masuk setelah Levi, Putra dan Josua mengurus para pengawal diluar. Daren mematikan beberapa CCTV dibeberapa tempat, sehingga mudah baginya untuk mengontrol dari balik layar itu dengan ditemani oleh salah satu bawahan Levi.
Kesepakatan dengan negara D telah selesai, mereka bahkan sudah mengirimkan sejumlah uang ke rekening Zain.
"Tuan, kesepakatan nya telah selesai." ujar seorang pria disamping Zain, sedangkan Azka hanya melihat saja.
Zain mengambil laptop yang digunakan sebagai alat transaksi, ia menceburkan laptop itu kedalam aquarium tanpa ikan lalu menggerakkan tubuhnya seperti sedang menari.
"Kami punya uang. Kami punya uang, ayo menari." ujarnya pada bawahannya yang berada didalam sana.
Zain menurunkan sebuah lukisan dibelakang itu adalah brangkas. Pria itu melirik Azka sebentar lalu menekan password sehingga brangkas itu terbuka.
Zain tersenyum, ia mengambil kantong kain lalu menumpahkan berlian yang berada didalam sana.
"Ambil semuanya." perintahnya pada bawahannya, pria itu segera menuruti perintah Zain dengan memasukkan tumpukan uang kedalam koper.
"Bagaimana dengan anak-anak itu?" tanya salah satu pengawal.
"Mereka tak akan muat didalam koper. Tembak mati saja mereka itu," balas Zain santai, "lalu setelah itu ambil organ tubuh mereka." sambungnya lagi.
"Urus anak-anak itu." perintah pria itu pada bawahannya.
"Baik, Pak." balas seorang pria yang menerima perintah. Ia menoleh kebelakang melihat layar komputer yang menampilkan gambar rusak dari dalam ruang penyekapan.
Axila yang bersembunyi disana segera membuang bom asap, para pengawal yang sedang berjaga disana segera bertindak karena mereka tahu jika ada penyusup yang masuk.
"Cepat! cepat! cepat!" terima mereka, namun baru beberapa langkah saja mereka dihentikan oleh Axila.
Gadis itu mengangkat kakinya lalu memberikan mereka tendangan tepat didada, ia juga segera menjatuhkan mereka dengan pistol yang ia pegang.
Dorr..! Dorr..! Dorr..!
Hanya dengan beberapa detik saja para pengawal sudah lumpuh bahkan mereka kehilangan nyawanya.
Axila tak peduli lagi, ia segera pergi dari sana.
"Mereka membawa Azka keluar dari ruangan itu." ujar Daren memberitahu.
"Josua dan Dara, ikut aku menyelamatkan sandera." perintah Axila.
"Baik, Kapt!" balas Dara dan Josua yang berada diruang yang berbeda dari Axila.
Axila berjalan kepintu utama, dimana ia akan bertemu dengan orang yang sudah berani menculik dan menyandera adiknya.
Zain dan bawahannya pergi ke pintu utama, dimana mereka akan pergi dari gedung itu bahkan negara ini.
Axila melihat Zain yang berjalan mendekat.
"Aku sudah menyiapkan rute rahasia seperti yang kau minta." seru Axila karena mereka mempunyai jarak yang cukup jauh.
Anak buah Zain yang masih tersisa sudah mengerubungi Axila, mereka mengambil tempat dilantai atas dengan mengarahkan senjata mereka pada Axila saat ini.
Zain bisa mendengar suara baling-baling helikopter yang tak jauh dari sana, sedang mengudara pastinya.
"Aku memang meminta hal itu, tapi antarkan aku juga kesana." balas Zain.
Axila mendesah pelan, "Aku sudah menepati ucapan ku. Sekarang giliranmu melepaskan adikku." balas Axila.
Zain menggerakkan kepalanya, bawahannya membawa Azka dengan mendorongnya paksa.
"Noona!" panggil Azka dari belakang sana.
Axila mengarahkan pandangannya pada Azka, namun matanya malah menangkap sesuatu yang membuat darahnya semakin mendidih.
"Kau melukai adikku?!" ujar Axila dingin, ia mencabut earphone yang sedang ia kenakan, menggunakan kekuatannya untuk menonaktifkan semua CCTV yang berada didalam sana dengan elemen udara miliknya.
Dengan tiba-tiba angin berputar didalam sana dengan kencang melewati tubuh Axila, semua elektronik tak bisa digunakan dengan tiba-tiba juga.
Daren panik, sambungnya dengan yang lain terputus, bukan hanya Daren saja tapi semuanya.
Putra, Levi dan yang lainnya ingin melangkah kearah Axila namun tak bisa, mereka seakan ditahan ditempat mereka.
"Apa yang terjadi?"
"Aku tak tahu."
__ADS_1
Semua orang panik, begitu pun dengan Azka yang saat ini berada diantara musuh.
Semua mata terbelalak melihat Tubuh Axila yang dengan tiba-tiba mengeluarkan cahaya yang sangat terang, kemudian api yang menyala seakan membakar tubuh gadis itu.
"Axila! Axila!" Levi, Putra dan yang lainnya meneriakkan namanya dengan keras, namun gadis itu tak menoleh sedikitpun.
Matanya yang berwarna hitam berganti menjadi merah, Axila mengeluarkan pedangnya dari dalam ruang dimensi.
Memegangnya dengan satu tangan, seakan pedang itu sangat ringan baginya
"Oh, Tuhan. Apa yang terjadi disini?"
Ujar orang-orang didalam sana.
"Di-dia mon-monster! Monster! wanita itu seorang monster!" pekikan orang-orang disana.
Ruangan itu menjadi sangat panas, bagaimana tidak? Tubuh Axila mengeluarkan api suci sehingga bisa membakar apapun disekitarnya.
"Beraninya kau menyakiti adikku!" ini bukan lagi suara milik Axila, itu adalah suara milik Liu Mei yang asli. Tentu saja gadis itu sangat marah, bagaimana tidak?
Zain melukai Adiknya, ditambah dengan rompi bom yang mereka kenakan pada Azka.
Tubuh semua orang menjadi menegang, bahkan banyak yang sudah terduduk karena aura mematikan dari Axila. Bulu kuduk Levi berdiri, ia sedang berusaha agar tetap bisa berdiri melihat bagaimana yang lainnya sudah terduduk dan terbatuk karena tak kuat dengan aura Axila.
Axila melangkahkan kakinya kedepan.
"Apa lagi yang kalian tunggu! Serang dia! Cepat bunuh monster itu!" teriak Zain pada bawahannya.
Perintah dilaksanakan, mereka dengan kompak menembak Axila, namun ada hal tak terduga yang terjadi.
Axila mengangkat tangannya, menghempas tangannya dengan santai, membalikkan peluru-peluru itu pada masing-masing orang.
Bruggg...! Bruggg....! Bruggg....!
Sebagian bawahan Zain terjatuh ditempat mereka, peluru-peluru itu menembus kepala dan jantung mereka.
"Tak mungkin! Cepat bunuh dia!" perintah Zain lagi pada bawahannya yang masih tersisa.
Dorr...! Dorr...! Dorr...!
Kali ini Axila mengangkat pedangnya lalu membuat gerakan seperti memotong, hal tak terduga kembali terjadi. Semua peluru itu terpotong lalu terjatuh.
"Kau sungguh menggali lubang kuburanmu sendiri, Zain Rach!" ujar Axila dengan suara aslinya atau Liu Mei.
Axila menjentikkan jarinya, cahaya yang membentuk belati mengarah pada semua bawahan Zain, membunuh mereka menggunakan elemen cahaya.
"Siapa lagi yang ingin kau perintahkan?!" ujar Axila.
"Ka-kau sungguh monster!" pekik Zain.
"Hahahaaa.....!" tawa menyeramkan keluar dari mulut manis Axila.
"Kau benar...! Aku adalah Monster yang akan mengambil nyawamu...! Kau bahkan tak akan bisa berinkranasi lagi...! Aku akan membakar jiwamu dengan apiku...!" ujar Axila dingin.
Axila menjentikkan jarinya lagi, dengan tiba-tiba rompi peluru yang dikenakan Azka terlepas begitu saja tanpa ada yang menyentuhnya.
"Woooh!" Dony dan yang lain yang sedang membidik dari kejauhan melihat hal itu juga, namun mereka tak dapat melakukan komunikasi dengan orang-orang didalam sana.
Azka? Jangan tanya lagi. Kakinya bahkan tak dapat berdiri dengan benar, kakinya sejak tadi terus gemetaran.
Ia melihat dan mendengar suara kakaknya yang tiba-tiba berubah, melihat bagaimana api biru bercampur merah itu terus menyala ditubuh kakaknya.
"Jangan lupa jika aku ini kakakmu, Azka.
Tenang saja, aku tak akan melukaimu." ujar Axila, bukannya membuat Azka tenang. Remaja itu semakin ketakutan, itu bukan suara kakaknya. Itu suara orang asing yang belum pernah ia dengar sebelumnya.
Axila kembali menjentikkan jarinya, cahaya-cahaya itu mengarah pada para pengawal yang sedang berada disekitar Azka.
Cahaya itu menyerupai belati yang menyayat tubuh mereka, perlahan namun pasti.
Jemari mereka terjatuh dari tangan mereka, kemudian tangan dan kaki mereka yang terlepas dari tubuh mereka.
"Arrggg...! Arrggg...! Arrggg...!"
Jeritan kesakitan dan pilu terdengar ditelinga Axila, membuatnya tersenyum senang.
"Auchh.... Suara kalian indah sekali, 'bukan?" uajr Axila. "Sama seperti jeritan anak-anak tak berdosa yang kalian bunuh dan ambil organ tubuhnya, aku sangat menikmati suara indah kalian ini." sambung Axila lagi.
Ketahuilah, siapapun akan merinding mendengar ucapan Axila barusan.
__ADS_1