Perjalanan Waktu Putri Mahkota

Perjalanan Waktu Putri Mahkota
Pertemuan kakak beradik


__ADS_3

"Biar kujelaskan kejadiannya!


Para perundung itu memukuli temannya, lalu dia hanya membantu temannya.


Adikku tak bersalah. Dia adalah pahlawan sesungguhnya." ujar Axila dengan lantangnya.


"Apa? putraku bahkan tak tega membunuh seekor semut pun, lalu bagaimana dia menjadi seorang perundung?" seorang wali mengangkat suara.


"Apa kau gila? memangnya kau punya bukti?" tanya wali yang sejak tadi membuat Axila kesal.


"Ya, aku punya bukti. Bahkan sangat banyak bukti yang ada.


Aku bahkan harus mengambilnya ditempat kejadian." seru Axila dengan nada kesal. Seorang pria langsung saja masuk, dengan tas yang berisi tongkat baseball dan satu pisau lalu melemparnya dilantai telat dikaki para wali. Semua wali menghindar, mereka tak mau kakinya tertimpa tongkat besi itu.


"Periksa saja sidik jari yang ada disana. Aku sangat yakin, jika akan temukan banyak sekali yang berada disana. Jangan khawatir, aku menggunakan sarung tangan saat memilihnya disana." ujar Axila, tatapannya menajam pada Soo-hyun, seakan ingin menelan hidup-hidup remaja itu.


Soo-hyun dan ibunya jadi merinding melihatnya, bahkan beberapa orang polisi juga ikut merinding dan merasakan buku kuduk mereka berdiri.


"Kalian semua dituntut atas percobaan pembunuhan. Dan adikku, dia hanya melindungi dirinya.." ujar Axila dengan dingin.


"Percobaan pembunuhan?


Hei jal@ng! Kau mau menghancurkan masa depan anakku?" ujar pria yang sejak tadi terus menyambung kata-kata Axila.


"Apa?" Axila menyeringai.


"Kau lihat wajah adikku bukan? dia berdarah, hidung dan pelipisnya berdarah. Entah tubuh adikku juga ikut lebam.atau tidak, tapi aku tahu pasti satu hal." Axiap mengambil paksa kain yang tadi dia berikan pada Azka, lalu menggulungnya ditangan kanannya sendiri.


"Lalu apa? kau mau memukul ku?" tangannya dengan berani. Para pengawal sudah sejak tadi menahan diri, mereka tak akan melakukan sesuatu jika belum diperintahkan oleh Axila. Jika tidak, mungkin saja pria itu hanya tinggal namanya saja.


"Ayo pukul aku! Pukul aku!" ujarnya semakin menantang.


Axila berjalan mendekat, "Yah. Aku harus memberikan mu tinju agar kita impas" telat ucapan Axila selesai, tangannya langsung mengenai hidung pria cerewet itu.


"Brugg!"


Pria itu bahkan terjatuh, namun Axila tak peduli.


Dia mengeluarkan ponselnya dan meletakkan diatas meja seorang polisi wanita.


"Periksa itu, disana terlihat jelas bagaimana adikku melawan mereka. Jadi, keputusan ditangan kalian.


Jika kalian tak memprosesnya dengan adil. Kurasa, negara kita akan terjadi konflik yang cukup serius.

__ADS_1


Antara Indonesia dan Korea Selatan." ujar Axila pada polisi wanita yang menegang ditempatnya.


Sedangkan Azka. Tubuhnya menegang saat mendengar negara kelahiran ayahnya. Matanya seketika menatap Axila dengan cepat.


Apa ini sungguh...


"Noona?" ujar Azka pelan.


"Ya?" balas Axila.


"K-kau sungguh No-noona?" tanya Azka.


Axila mengangguk, sambil tersenyum pada Adiknya yang sudah berkaca-kaca matanya.


Azka langsung saja berjalan dengan langkah yang gemetaran kearah dimana Axila berdiri saat itu.


Axila merentangkan tangannya, menyambut adiknya yang sudah bergetar tubuhnya.


Hampir saja Azka jatuh, jika Axila tak dengan cepat menangkap tubuh adiknya.


"Noona? aku sungguh Noona ku?" tanya Azka lagi.


Axila menangkup


Axiap menatap mata Azka yang sangat memerah, air matanya tak henti-hentinya mengalir.


"Ya. Ini Noona.


Maaf baru menemuimu tanpa topeng lagi, Azka."


Azka langsung saja menarik tubuh Axila kedalam pelukannya, dipeluknya dengan erat tubuh kakaknya itu, seakan tak masu dilepaskannya lagi.


"Noona.. Aku sangat merindukanmu.


Aku sangat mencintaimu. Noona." Azka terus saja bergumam, memanggil Axila dengan Eonni nya.


Sedangkan Soo-hyun dan ibunya. Mereka sudah menegang ditempatnya, tak akan mungkin bisa melarikan diri dari para pengawal yang sedang mengawasi disana.


"Apa-apaan ini?


Kalian sedang bermain drama?" ejek salah seorang wali.


Pengawal Axila langsung saja memberikan satu bogem telat diwajahnya.

__ADS_1


"Diam kau jika tak tahu apa yang terjadi pada Nona dan Tuan muda, kami." ujarnya dengan sangat dingin.


Saking tak kuatnya, Azka pingsan didalam pelukan Axila.


"Azka!" pekik Axila terkejut.


Beberapa orang pengawal mendekat, ingin membantu Axila namun ditolaknya dengan mantan-mantan.


"Aku bisa sendiri. Kalian urusi mereka semua!" perintah Axila. Segera saja dia mengangkat Azka keatas punggungnya, lalu berjalan keluar begitu saja.


"Apa yang terjadi padanya?" tanya salah seorang polisi.


Salah satu pengawal Axila menatapnya, "Bagaimana perasaanmu saat dipertemukan dengan kakakmu setelah 8 tahun tak pernah bertemu?"


"Apa?" ulangnya.


"Kurasa, bukti itu cukup untuk memasukkan mereka kedalam penjara. Bukankah begitu, Pak?" ujarnya.


Matanya menatap serius pada polisi itu. "Jangan anggap main-main ucapan Nona kami. Karena bisa saja dua negara terjalin konflik hanya karena para sampah yang kau pertahankan.


Ingatlah. Negara kita saling menguntungkan dengan negara itu."


"Apa, Nona tadi berasal dari Indonesia?" tanya pak polisi.


"Ya. Dan nona kemari hanya untuk menjemput adiknya. Bukankah kalian sudah tahu rumor itu?


Pemilik baru Hotel Shin Three datang ke negara ini hanya untuk menjemput pulang Adiknya. Tuan Muda Azka Leon Remanov." Ujarnya, lalu kembali mengambil ponsel nonanya dan berlalu dari sana.


Untung saja pihak polisi sudah menyalin Vidio barusan, jadi tak apa.


Sedangkan para wali. Tubuh mereka menegang saat mendengar ucapan pengawal barusan. Pemilik baru Hotel Shin Three?


Jadi, nona yang tadi adalah pemilik barunya.


Pantas saja dia menyombongkan dirinya karena dia adalah pemilik baru Hotel itu.


Penyesalan datang terlambat, anak-anak mereka ditahan sebentar dan diberikan hukuman sampai besok hari.


Saat mereka keluar, mereka langsung dirundung oleh para wartawan yang sudah berada persis didepan kantor polisi.


Aisss!


Cepat sekali beredarnya berita ini.

__ADS_1


Pasti akan menjadi trending topik di esoknya.


__ADS_2