
Keadaan kembali biasa, namun sepertinya Axila harus pergi ke markas pusat beberapa kali karena kejadian kemarin.
Azka?
Remaja itu masih berbaring diatas tempat tidurnya, selang infus masih menempel pada pergelangan tangannya.
Daren dan yang lainnya juga menginap di rumah Axila untuk beberapa hari kedepan dan belum kembali ke markas Red Velvet, tentu saja karena pertengkaran mereka dengan Letkol Bobby sehingga mereka enggan untuk kembali.
Saat ini semuanya berkumpul diruang keluarga, kegaduhan terjadi karena Daren dan Dony yang terus mengoceh sedangkan Dara dan Josua lebih memilih untuk menyaksikan acara di televisi yang lebih seru.
"Bukankah aksi Al tadi malah sangat mengesankan?" ujar Dony.
"Jangan membuatku semakin penasaran, b0doh!" umpat Daren.
"Kau ang b0doh dan bukan aku." balas Dony
"Tapi, bukankah semalam Al menggunakan pedang untuk membunuh anak buah Zain?" timpa Dara tiba-tiba.
Dony mengangguk, "Kau benar, dan itu pedangnya." tunjuk Dony padapedang yang berada ditempat penyimpanannya. Kebetulan Axila meletakannya disana.
Daren bangkit dari duduknya lalu mendekati meja yang diatasnya tersimpan pedang asli Xian Liu Mei atau Axila.
Daren menjulurkan tangannya merain pedang itu, namun betapa terkejutnya ia ketika merasakan beat dari pedang itu. Sampai-sampai harus menggunakan kedua tangannya untuk mengangkatpedang itu.
"uhgg,,,ini berat sekali." ujarDaren.
Dony dan Josua saling lirik, mereka tak percaya dengan apa yang sudah dikatakan oleh rekan mereka itu.
"Dasar lemah,peang itu saja tak bisa. Kau memang cocok bermain komputersaja." ejek dony, ia berjalan mendekat lalu mengambilalih pedang itu.
Dony menggunakan satu tangan untuk mengambilnya dari Daren, siapa sangka jika yang dikatakan oleh Daren memang benar.
Tangan Dony seakan hampi lepas karena pria itu tak siap menahan beban, pedangnya terjatuh kelantai dan menimbulkan suara yang nyaring.
Prangggg...!
Dara yang sibuk dengan Televisi segera mengalihkan perhatiannnya dan melihat apa yang terjadi.
"Ada apa? mengapa pedangnya bisa jatuh?" tanya Dara.
Josua menggelengkan kepalanya, ia mendekat lalu mengambil pedang itu, "Berat juga. Ini sekitar 25-39 kilogram, bagaimana bisa seberat in?" ujar Josua heran, ia coba untuk mengayunkan pedang itu.
__ADS_1
Daren dan dony segera menghindar, "Woooh..
Kau mau membunuh kami?" protes Daren tapi Josua mengacuhka mereka.
Berbeda dari rekan-rekannya, Axila saat ini sedang berada dalam kamar adiknya, ia terus memperhatikan wajah Azka yang tenang.
sedangkan Azka.
Remaja itu berada dalam ruanganyang gelap, ia tak bisa melihat apapun dan tak merasakan apapun selainhawa yang sedikit dingin.
"Noona.... Noona... Noona kau dimana?aku takut." panggil Azka, iaketautan didalam ruangyang hampa itu, tak ada setitikpun cahaya disana.
Hingga ia tiba-tiba mendengar suara yang terdengar familiar itu, suara yang paling ia rindukan..
"Azka...Azka kemarilah."
Azka berputar, ia melihat kesegala arah namun tak mendapati siapapun disana. Hingga ada setitik cahaya yang bersinar diujung sana, dengan cepat Azka berjalan kearah cahaya itu, hingga dia tiba-tiba telah berada disuatu tempat yang sangat terang.
Mata Azka menyesuaikan dengan cahaya sana, ia merasakan terpaan angin lembut yang menyegarkan. Mata Azka dimanjakan dengan pemandangan yang sangat indah, ia merasa sedang berada di taman yang menyegarkan.
Hingga suara itu kembali memanggilnya.
"Azka...."
"Eomma?" gumam Azka.
Wanita itu tersenyum lebar, merentangkan tangannya kearah Azka.
"Kemari, sayang." ujarnya dari ujung jembatan sana.
Azka dengan cepat berlari kearah wanita itu, berlari diatas jembatan yang menghubungkan dua tempat uang dipisahkan oleh sungai.
"Eomma.... eomma..." mata Azka berkaca-kaca, wanita itu tersenyum dan menyambut putranya dengan pelukan hangat.
Bruggg...!
Azka meraih dan memeluk tubuh wanita yang telah melahirkan nya kedunia, wanita yang paling dia cintai selain kakaknya.
"Eomma.. hikss.. hikss... eomma..." tangis Azka pecah didalam pelukan ibunya.
Wanita itu mengelus punggung dan rambutnya lembut, "Eomma sangat merindukanmu, sayang."
__ADS_1
"Aku lebih merindukanmu, Eomma." balas Azka.
"Jadi kau tak merindukan Appa?" suara bariton seorang pria berada dibelakang Azka.
Azka mengendurkan pelukannya, ia memutar tubuhnya dan melihat pria yang sedang tersenyum padanya, "A-appa?"
"Lama tak melihat mu, Nak." ujar pria itu.
Ia meraih Azka kedalam pelukannya, bersama dengan istrinya juga. Mereka memeluk Azka dengan penuh cinta.
"Jadi, bagaimana kabarmu disana, Sayang?" tanya ibunya setelah mereka melepas rindu.
"Aku baik, bahkan sangat baik setelah Noona menjemput ku di Seoul.
Maaf Eomma-Appa, aku tak tinggal lagi dirumah itu." ujar Azka.
"Itu salahku, Appa mengira jika appa pergi, wanita itu akan memperlakukan mu dengan baik. Maafkan Appa, Azka." pria itu menundukkan kepalanya, ia menyesali perbuatannya dulu.
"Itu salah ku karena meninggalkan kalian sendiri. Maafkan aku." sambung ibu Azka.
Azka menggeleng, "Bukan salah siapapun, aku bahkan menjadi lebih mandiri setelah kalian pergi. Meskipun aku terkadang merasa tak adil, namun Noona selalu membuatku kuat."
"Kau pasti sangat menderita ketika kami pergi."
"Benar, namun semua itu telah berakhir setelah Noona menjemput ku di Seoul. Hidupku sekarang sudah lebih baik, bahkan kami mempunyai banyak uang." Azka mencoba untuk menghibur kedua orangtuanya agar tak merasa bersalah padanya terus menerus.
"Sayang, sebenarnya ada seseorang yang ingin bertemu lagi denganmu.
Waktu Appa dan Eomma sudah berakhir, kami akan mengunjungimu lagi nanti.
Kami harus pergi." ujar sang ibu.
"Apa? tapi kita baru saja bertemu." protes Azka.
"Maaf, pergilah kesana. Dia menunggu mu disana." mereka memeluk Azka untuk yang terakhir kalinya, bersamaan dengan itu tubuh mereka mulai menghilang seperti uap panas yang menghilang diudara.
"Eomma.... Appa... hikss... hikss.."
Azka terduduk diatas rumput yang menghiasi tempat itu, ini adalah pertemuan mereka setelah bertahun-tahun. Ayah ataupun ibunya tak pernah muncul di mimpinya, hanya ada kenangan-kenangan manis yang masih ia ingat meskipun tak jelas lagi.
"Aku sangat menyayangi kalian, aku mencintai kalian.. hikss... hikss..."
__ADS_1
Tiba-tiba Azka merasa ada yang mengelus kepalanya lembut, "Kau masih cengeng seperti dulu, Yah?" ejeknya.
"No-Noona?"