
Azka turun dari mobil kakaknya, setelah mengecup pipi Axila gadis itu kembali melajukan mobilnya ke kampus.
Sedangkan Azka melangkah memasukinya gerbang sekolah, disana ia melihat Reyna, Valen, Emmy dan Emma yang menunggunya di kejauhan.
Azka mempercepat langkahnya, "Annyeong Azka." Sapa Emmy dengan nada cerianya, diikuti oleh teman-teman nya.
"Annyeong." Balas Azka.
"Itu kakakmu yang sering kau ceritakan itu?" Tanya Valen.
Azka mengangguk, "cantik 'kan?"
"Sangat." Timpal Emma, kembaran Emmy.
"Pantas saja Adiknya tampan, ternyata kakaknya sangat cantik." Sambung Valen lagi.
Ptakk....!
Satu sentilan berhasil didapatkan oleh Valen,
"Hei, mereka bukan orang asli Indonesia dan berdarah campuran, tentu saja sangat cantik." Timpal Emma dengan memasang wajah pokernya.
Reyna hanya mengamati teman-temannya sambil tertawa pelan.
"Jika kau campuran Korea-Indo, lalu kakakmu?" Tanya Reyna.
"Chinese-Indo." Balas Azka, mereka mulai melangkah kaki memasuki gedung sekolah.
"Sungguh? Chinese?" Tanya Valen dengan wajah alay nya.
"Tentu. Bibiku Chinese dan pamanku Indo. Kami tak ada yang asli Indo." Jawab Azka dengan sabar.
"Daebak...!
Pantas saja sangat cantik." Puji Emmy.
"Berapa uang jajanmu sebulan?" Tanya Valen.
Uang jajan? Azka mau mengatakan apa? Sebulan ia akan mendapatkan 100 juta? Atau seminggu 10 juta?
"Emm.." Azka sedikit ragu untuk mengatakan jumlah nominal uang jajannya.
"Kalau aku 5 juta sebulan, itu juga harus hemat, kata Mama." Ucap Valen membeberkan nominal uang jajannya.
"Sedikit sekali. Aku dan Emma masing-masing 10 juta perbulan." Emmy juga membeberkan nominal uang jajannya beserta kembarannya.
"Aku 7 juta." Sambung Reyna, semua mata tertuju pada Azka sekarang.
"Emm.. aku tak tahu perbulan berapa yang diberikan oleh kakakku, aku hanya menggunakan uang saja secara sembarangan. Mungkin lebih sedikit dari kalian semua." Ujar Azka berbohong.
Jika di periksa, uang yang ia pegang saat ini sudah mencakup angka miliaran uang ia pegang sendiri.
"Sungguh? Aku ragu." Ujar Valen.
"Sungguh. Memangnya apa yang ingin ku beli?
Semuanya sudah tersedia dirumah. Makanan dan minuman enak, game online dengan semua peralatannya, studio pribadiku, Peralatan olahraga lengkap, juga ada freezer dengan full Ice cream.
Tak ada yang ku perlukan lagi, semuanya sudah tersedia dirumah." Ujar Azka polos, ayolah dia tak berbohong saat ini.
Bahkan tempat Gym saja ada di dalam rumah. Apa lagi yang kurang?
Mungkin hanya Mall dan supermarket saja yang tak ada di rumah.
__ADS_1
Hahahaha....
"Sungguh? Hampir semua yang kau sebutkan juga ada di rumahku, hanya studio saja yang tidak, bukankah begitu?" Timpal Emmy yang notabene merupakan anak orang kaya, bahkan 70% siswa yang bersekolah di sekolah ini merupakan anak-anak orang kaya.
"Studio yang kau perlihatkan di salah satu konten mu itu?" Tanya Emma.
Azka mengangguk, "Itu karena aku suka musik dan suka dance, makanya Noona membuatkan studio seperti itu disalah satu kamar kosong." Jelas Azka.
"Agar kau bisa melakukan apa yang kau mau didalam sana, begitu?" Tanya Reyna.
Azka mengangguk, "aku biasanya akan bermain game disana, berlatih alat musik dan mengcover lagu serta dance." Terang Azka.
"Aku jadi penasaran dengan rumah mu, Azka. Kami boleh bermain kerumah mu?" Tanya Emma.
"Emm....
Aku minta ijin dulu pada kakakku." Balas Azka.
"Baiklah, semoga saja boleh." Balas Valen, Emmy dan yang lainnya.
*_*
Sementara di tempat Levi.
Sebagai dosen baru, Levi menjadi pusat perhatian banyak orang terlebih para kaum hawa.
Entah itu sesama dosen maupun mahasiswi yang terus meliriknya.
Levi tak mengambil full class karena waktunya yang juga terbatas, hanya ada beberapa kelas saja yang bimbing oleh Levi, salah satunya adalah kelas Axila.
Itu adalah alasan utama kenapa Levi bisa nekat sampai seperti ini, hanya untuk mendekatkan diri dengan gadis pujaannya.
"Gue denger, ada dosen baru yah?" Pembicaraan antar mahasiswa.
"He'em. Katanya dia ganteng banget, bukan orang Indo lagi."
"Menajemen bisnis deh sama Bahasa Inggris."
"Yang gue denger sih, dia cuma ngajarin beberapa kelas aja. Pokoknya kelas bisnis deh sama beberapa kelas lagi."
"Enak banget mereka, gue penasaran banget sama tuh pak dosen."
Ini adalah pembicaraan tak penting bagi Axila yang tak sengaja ia dengan, bahkan sedang panas-panasnya diantara mahasiswa.
Axila hanya menggeleng kepala, ia bahkan tak peduli dengan dosen baru yang mereka maksud karena ia yakin jika itu adalah Levi.
Langkah Axila memasuki kelasnya, menyimpan bag nya lalu duduk di bangkunya.
Aldo yang sudah berada dalam kelas kembali membuat rusuh seisi kelas.
"Morning Baby ku, cantik banget sih lagi ini." Aldo kini sudah duduk ditempatnya Jessica, menopang kepalanya dengan tangan sambil menatap Axila dengan senyum mautnya, kata orang.
"Udah sarapan belum? Ini yayang bawain Sandwich sama susu kotak buat baby ku yang paling cantik." Aldo menyimpan kotak bekal dan satu cup shake milk diatas meja depan Axila.
Belum sempat Axila menjawab, Aldo sudah dulu mendesis kesakitan.
"Awhh...
Apaan sih, Jes? Lo kira nggak sakit apa?" Protes Aldo.
"Kasar banget sih jadi cewek." Sambungnya lagi.
"Biarin aja, siapa suru Lo pagi-pagi udah godain temen gue, udah gitu duduknya ditempat gue lagi.
__ADS_1
Pergi Lo, huss.. huss.." usir Jessica, ia mendorong tubuh Aldo menjauhi Axila.
"Apaan sih? Orang Axila nya aja nggak protes, Lo nya yang protes.
Naksir Lo sama gue?" Tuduh Aldo.
"Ihh.. amit-amit gue suka sama Lo. Playboy cap katak kayak Lo nggak pantes bersanding sama gue." Balas Jessica lebih percaya diri, mereka terus beradu mulut tanpa memperhatikan anak-anak yang lain, yang sudah menonton aksi keduanya.
"Udah, Jes.. malu diliatin sama yang lain." Timpal salah satu mahasiswa.
Namun tak digubris oleh keduanya, bahkan sekarang Aldo dan Jessica saling kejar karena Aldo terus mengejar mahasiswi itu.
Langkah kaki yang memasuki kelas membuat beberapa mahasiswa yang sejak tadi ribut langsung terdiam, mereka memandang pemuda tampan tak berekspresi yang sedang berjalan kearah bangkunya.
"Syutt... Diam.. si Eggy udah masuk." Begitulah yang membuat semua orang terdiam.
Bahkan jika mereka mengobrol pun akan menggunakan suara yang lebih kecil dan tak ingin berurusan dengan pemuda tampan itu.
Eggy menyimpan bag nya lalu duduk di bangkunya. Matanya menyipit saat melihat kotak bekal berukuran kecil diatas meja Axila juga ada minumannya sekaligus.
'bekal?' batin Eggy.
Axila menggeser kotak bekal itu pada Eggy, "buat kami. Aku masih kenyang." Ujar Axila datar.
Disaat bersamaan, Levi memasuki kelas dimana Axila berada. Ia sempat melihat Axila yang menggeser kotak bekal pada mahasiswa disamping nya.
Bahkan yang lebih membuat Levi kesal, apaan itu?
Hanya mereka berdua saja yang duduk dibarisan itu?
Tatapan Levi yang sejak tadi sedikit menghangat kembali dingin, ia melangkah dan meletakan buku dan laptop yang ia pakai untuk mengajar dengan sedikit keras sehingga menimbulkan bunyi.
Brakk..!
Beberapa pasang mata beralih padanya, mereka melihat seorang pria berpakaian formal didepan sana dengan wajah yang sangat tampan.
"Perhatian semuanya." Ujar Levi mengambil semua perhatian seluruh mahasiswa dikelas itu, yang jumlahnya 40-qn orang.
"Saya dosen bari disini. Nama saya Levi Alex, kalian bisa memanggil saya Pak Levi.
Umur saya tak beda jauh dengan kalian, harap kalian bisa mengikuti jam kuliah saya dengan tertib." Ujar Levi, matanya menatap seluruh mahasiswa yang berada dikelas itu.
Saat matanya beralih pada Axila, gadis itu malah melempar pandangannya kearah lain.
Hal itu membuat Levi semakin kesal, mengapa gadis itu malah mengabaikan nya?
"Kita mulai kuliah kita....."
Levi mulai menjelaskan mata kuliahnya, aura yang di pancarkan membuat para kaum hawa terpesona dengan kharisma yang ia miliki. Tak terkecuali Axila yang datar saja sejak tadi.
Tapi tenang saja, ia memperhatikan apa yang dijelaskan oleh Levi didepan sana.
Ada sedikit rasa tak rela saat Levi dikagumi oleh para kaum hawa, terlebih saat kuliah berakhir, para mahasiswa itu langsung merapat pada Levi, mereka mulai bertanya-tanya tentang hal pribadi ataupun tentang pelajaran yang mereka tak mengerti.
Itu hanya cara agar Levi bisa berbicara dan mengobrol dengan mereka.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Zero^-^