Perjalanan Waktu Putri Mahkota

Perjalanan Waktu Putri Mahkota
Caffe


__ADS_3

Sinar matahari kembali menyeruak masuk kedalam kamarnya, membangunkan remaja yang saat itu tidur dengan wajah yang sangat tenang.


Wajahnya benar-benar sangat polos dan imut saat tertidur, jika ada orang yang melihatnya pasti akan merasa gemas padanya.


Azka membuka gorden yang menghalangi cahaya masuk kedalam kamarnya, melihat suasana diluar sana yang sudah terang membuat remaja itu melangkah kaki keluar dari kamarnya, memasuki kamar mandi dan mulai dengan ritual mandinya.


Azka keluar dari kamar mandi bertepatan dengan pelayan yang membawakan sarapan paginya.


"Selamat pagi, Tuan muda." sapa pria itu.


"Pagi." balas Azka, " menu apa sarapan pagi ini?" lanjut Azka.


"Sereal dan susu cokelat, Tuan muda." balas pelayan itu meletakkan sarapan Azka diatas meja dengan piring yang berbeda lagi, terdapat dua potong sandwich diatasnya dengan seteko teh.


"Itu punya Noona?" tanya Azka, ia duduk di bangku nya dan menatap sarapan pagi ini.


"Iya, Tuan muda. Tadi Nona yang memesan sarapan" balas pelayan dengan sopan, "kalau begitu saya permisi dulu, Tuan muda." sambungnya lagi.


"Ya, pergilah." balas Azka, prianitu segera berlalu dari hadapan Azka dan pergi dari kamar nya.


Azka tak langsung memakan sarapannya, ia berjalan kearah kulkas lalu mengambil sebotol air mineral dan meneguknya lalu berjalan masuk kedalam kamarnya.


Ketika Azka masuk kedalam kamarnya, Axila masuk kedalam kamar mereka, duduk disofa yang ada lalu menekan tombol on agar televisi menampilkan gambarnya.


Axila baru selesai jalan pagi, memang hanya disekitar hotel saja, itupun ia pergi ke atap untuk melihat pemandangan dari atas sana tanpa berniat melakukan apapun.


Axila melihat kearah meja makan, sudah tersedia sarapan mereka, ia masuk kedalam kamar mandi dan membasuh wajahnya sebentar sebelum kembali sarapan. Tak lupa ia mengambil iPad nya untuk melihat pemberitahuan terbaru dari Email yang dikirimkan oleh asistennya, hari ini akan ada jadwal meeting.

__ADS_1


"Pagi, Noona-a." sapa Azka, ia berjalan mendekati meja makan lalu mengecup pipi Axila kilas sebelum duduk di bangkunya.


"Pagi juga." balas Axila, ia sempat mengacak rambut Azka sebentar.


Mata Azka tertuju pada layar iPad milik kakaknya, "apa terjadi sesuatu?" tanya Azka pengertian.


Axila menggeleng, "tak ada. Hanya akan ada meeting pukul 10 nanti, jadi aku masih bisa mengantarmu ke sekolah." balas Axila.


Azka membalasnya dengan mengangguk paham.


"Habiskan sarapan mu, sebelum kita berangkat ke sekolah." lanjut Axila, Azka patuh dan mulai menikmati sarapannya.


Begitu juga dengan Axila yang mengesampingkan pekerjaan dan menikmati sarapannya.


Azka menunggu kakaknya yang masih mandi dan bersiap untuk mengantarkan nya ke sekolah, ia cukup santai lagi ini, dan memilih untuk membaca sebentar catatannya.


30 menit kemudian Axila sudah selesai bersiap, ia dan Azka keluar dari kamar dan turun kelantai dasar.


Tentu saja ketika didepan pintu, mobil Axila langsung diantar oleh petugas untuk sang pemilik, menyerahkan kembali mobil itu pada tuannya.


Axila dan Azka mulai meninggalkan hotel, melajukan mobil dengan kecepatan sedang kearah sekolah.


Mereka tak sempat menjemput Sehun karena remaja itu sudah dulu menaiki bus dari rumahnya.


20 menit kemudian mobil Axila memasuki kawasan Sekolah, menurunkan Adiknya setelah melewati gerbang.


"Noona, aku masuk dulu. Doakan agar aku bisa menyelesaikan ujianku dengan baik." ujar Azka.

__ADS_1


"Pergilah, semua akan baik-baik saja. Bahkan jika kau mendapatkan nilai yang rendah, itu tak akan menjadi masalah untukku." balas Axila mengusap kepala adiknya sebagai tanda pemberi semangat.


"Ah, ini dia. Makan ini jika kau merasa terlalu gugup mengerjakan ujian mu." sambung Axila lagi dengan memberikan permen.


"Baiklah, aku pergi dulu. Sampai bertemu dirumah." ujar Azka melangkah menjauh dari mobil kakaknya.


Axila kembali memacu mobilnya, namun bukan kembali ke hotel melainkan tempat lain.


Disalah satu caffe yang berdiri ditempat itu, seorang wanita duduk dengan wajah yang sedikit khawatir. Banyak pelanggannya yang protes dengan menu yang ia siapkan, entah karena rasanya atau sesuatu yang dibuat agar menjadi alasan.


Bahkan banyak rumor diluar sana yang mengatakan jika tempatnya itu tak bersih, menggunakan bahan yang tak baik, memberikan makanan sisa dan lain sebagainya. Ada saja orang-orang itu.


Semua itu membuat kerugian yang besar untuknya, hanya sedikit orang yang datang ke Caffe nya untuk memesan makanan ataupun minuman. Bisa-bisa ia akan bangkrut kalau terus menerus terjadi.


Tringggg....!


Bel berbunyi, tanda jika seseorang memasuki tempatnya.


Nam-Joo dengan semangat melihat kearah pintu dimana seorang wanita muda memasuki tempatnya.


"Selamat datang..." sambut Nam-Joo dengan semangat.


Wanita itu hanya mengangguk sebentar, ia juga melihat sekelilingnya membuat Nam-Joo ikut mengarahkan pandangannya mengikuti arah pandang pelanggannya.


"Anda ingin memesan sesuatu?" tanya Nam-Joo sedikit sopan, wanita itu menatap nya dengan pandangan mengejek.


"Aku kesini bukan untuk membeli sesuatu." ujarnya.

__ADS_1


"Lalu, apa yang bisa saya bantu, Nona?" balas Nam-Joo.


"Mengambil kembali apa yang sudah menjadi hak adikku." ujarnya.....


__ADS_2