Perjalanan Waktu Putri Mahkota

Perjalanan Waktu Putri Mahkota
Bertemu mantan


__ADS_3

Di suatu kamar serba putih yang terkesan mewah, berbaring seorang remaja tampan yang tertidur dengan pulas tanpa ada gangguan sedikitpun.


Titt..Titt...Titt...Titt...


Alarm yang berada diatas nakas terus berbunyi, menandakan jika pagi telah menyambut harinya.


Perlahan ia mengeliat, sebentar tangannya terulur dan meraba asal atas nakas lalu mematikan alarm yang sejak tadi mengganggu tidurnya.


Matanya terbuka, perlahan bangun dari tidurnya dan berjalan kearah dinding kaca lalu menarik tirai agar cahaya mentari masuk kedalam kamarnya.


Ia mengecek ponselnya, apakah ada pesan atau panggilan tak terjawab saat ia tertidur pulas, namun ternyata tak ada.


"Apa Noona Sangat sibuk sampai tak menghubungi ku?" gumamnya, menyimpan kembali ponselnya diatas nakas lalu keluar dari kamarnya.


"Pagi, Azka." sapa Gong-Min yang saat itu sedang duduk di sofa sambil menikmati coffelate.


"Pagi, Hyung." balas Azka, ia masuk kedalam kamar mandi dan mulai ritual mandinya.


Gong-Min meraih telepon seluler yang berada diatas meja samping foto Azka lalu memesan sarapan mereka.


15 menit berlalu, Azka keluar dari kamar mandi dengan jubah mandi berwarna abu-abu dan handuk putih yang berada di lehernya, ia mengeringkan rambutnya menggunakan handuk terlebih dahulu.


"Hyung sudah pesan sarapan ku?" tanya Azka.


Gong-Min mengangguk, "sudah. Bersiaplah, aku akan mengantarmu ke sekolah." ujarnya.


Azka mengangkat sebelah alisnya, "kemana sekretaris Kang?" tanyanya.


"Dia mempunyai urusan yang harus diselesaikan, dan Moonbin juga sedang sibuk saat ini." balas Gong-Min, ia menatap Azka kilas dan beralih kembali pada buku yang saat itu berada di tangannya.


Azka mengangkat kedua bahunya acuh, berjalan kearah kulkas dan mengambil satu botol mineral lalu meneguknya sambil berjalan kembali memasuki kamarnya dan bersiap.


20 menit kemudian, Azka sudah selesai dengan seragamnya bahkan sudah selesai sarapan. Kini remaja itu berjalan di lobby hotel, beberapa kali berpapasan dengan staf ataupun office boy yang menyapa dan memberikan salam padanya. Ia hanya menjawabnya dengan mengangguk, dan kembali berjalan keluar dari hotel atau bisa dibilang rumahnya saat ini.


Gong-Min melajukan mobil Axila, mengantar Azka ke sekolah adalah tugasnya hari ini.


Beralih pada Axila.


Gadis itu sudah bangun sejak tadi, dia sedang ngos-ngosan sehabis olah raga. Mengambil botol mineral yang isinya adalah air suci dan meneguknya.


Axila sudah bangun sejak sejam yang lalu, memulai aktivitas nya dengan berolahraga yang diawali dengan pemanasan, push-up, sit-up, lari ditempat, boxing dan masih banyak lagi.


Bahkan kini ia mengambil pistol yang berada diatas meja, mengarahkan pada titik lingkaran yang diam ditempat.


Dorr...!!


Dorr...!!


Dorr...!!

__ADS_1


Setelah peluru didalam pistolnya habis, ia beralih pada panah yang persis disebelah pistol, menggerakkan target yang sengaja ia gantung diatas tali tambang dan mulai dengan panahan.


Semua anak panahnya juga sudah habis, beralih lagi pada katana yang adalah senjata favoritnya sejak dulu, ketika ia masih di zaman kerajaan.


Syuttt....


Syuttt....


Syuttt....


Axila terus menebas angin yang sudah kasti tak terlihat namun terasa, gerakannya sangat lincah dan mematikan. Pantas saja ia disebut sebagai Dewi Perang, bakatnya dalam berpedang tak ada yang bisa menandingi.


Selesai sudah aktifitas nya di pagi hari, ia kembali masuk kedalam rumahnya. Ingat, rumahnya dan bukan keluarga angkatnya. Karena memang setelah tugasnya kemarin ia kembali kerumahnya dan bukan rumah Michael.


Sedangkan di suatu ruangan yang serba putih, Mike sedang sarapan ditemani oleh Jack yang berada disampingnya.


"Anda ingin menemui nona Axila hari ini?" tanya Jack.


"Hmmt. Kemarin sepertinya ada urusan mendesak sehingga dia meninggal kan aku bersama keluarga nya." balas Mike.


"Apa anda sudah mengutarakan maksud kedatangan anda kemarin kesana?" tanya Jack lagi.


Mike menggeleng, "dia bahkan tak menganggap kehadiranku dirumah orang tua Putra." balas Mike, sungguh kasihan sekali nasibnya kemarin. Namun setidaknya sebelum Axila pergi kemarin gadis itu sempat mengatakan sesuatu padanya, meskipun tak tahu dia bisa bertemu gadis itu atau tidak.


"Cincin yang aku suruh kau beli sudah siap, bukan?" tanya Mike.


"Aku sudah memesannya, aku akan mengambilnya sebentar." balas Jack.


Dan itu harus baginya.


Namun, sepertinya tak semudah itu. Langkah pertama yang harus dia ambil setelah itu adalah mencuri perhatian calon adik iparnya, remaja yang menatapnya tak suka ketika pertama kali bertemu.


Dan langkah selanjutnya adalah menyingkirkan pria-pria yang juga menyukai Axila nya. Yah, dua pria yang bersamanya beberapa waktu lalu ketika di hotel milik mantan kekasihnya.


Lebih tepatnya lagi adalah kekasih pura-pura nya.


Kembali pada Axila yang saat ini sedang duduk santai menikmati waktunya santainya. Dengan televisi yang saat itu menampilkan berita panas mengenai hal kemarin.


Banyak Chanel TV yang menampilkan berita itu, tentang penyelamatan orang-orang yang diculik dan akan dijadikan sebagai budak seks di luar negeri, serta yang membuat mereka menjadi panas adalah keterlibatan dua polwan yang juga ikut dijadikan target mereka.


Axila memijit pelipisnya yang sedikit pusing, ia sangat malas mendengar berita itu. Lebih baik dia keluar dan mencari udara segar.


Mengendarai mobil Mercedes Benz nya dan mulai menjelajahi ibu kota, tak tahu harus kemana. Namun ketika dilampu merah, ia malah melajukan kembali mobilnya kearah pusat perbelanjaan.


Axila menyusuri pusat perbelanjaan, sepertinya dia ingin menghabiskan waktunya dengan bermain game saja. Namun ketika langkahnya kembali, ada seseorang yang menabraknya dari belakang.


Bruggg!!


Brakk!!

__ADS_1


"Ponselku!" pekik seorang wanita dengan suara cempreng nya.


Axila menghentikan langkahnya karena memang ditabrak dari belakang, namun ketika melihat ponsel wanita itu ia segera memungutnya.


"Ini ponsel-" Axila menyodorkan ponsel itu tapi ucapannya terhenti saat mendapati wajah tak asing itu.


"Dasar tak tahu diri, beraninya kau menabrak ku!" pekik wanita itu tanpa mau melihat wajah Axila, ketika ia mengangkat wajahnya dan menatap Axila, matanya malah membulat.


"Kau- Apa yang kau lakukan disini?!" bentaknya kasar, ia meraih ponselnya lalu mendorong Axila dengan kasar


Namun bukan namanya Axila jika dia terjatuh, hanya tubuhnya saja yang bergeser namun tak sampai terjatuh.


"Bukan urusanmu." balas Axila dingin, segera ia melangkah dan ingin berlalu dari sana, namun wanita itu menarik tangannya dengan kasar kebelakang.


"Mau lari kemana kau, jal@ng?!" dia menahan tangan Axila agar tak leegi dari sana


Mereka menjadi pusat perhatian orang-orang yang juga berada disana, lalu ada seorang pria yang mendekat pada keduanya.


"Sayang, ada apa?" tanyanya, ia menarik wanita itu kebelakang dengan penuh perhatian.


"Lihat, siapa yang aku temui disini" tunjukkan pada Axila yang masih menampilkan wajah datarnya.


"Ka-kau!" pria itu malah menunjuk Axila menggunakan jarinya, "apa lagi yang kau lakukan sini?!" bentaknya.


"Kau bisa melihat sendiri, apa yang aku lakukan." balas Axila datar, ia menatap jijik pada sepasang kekasih itu.


Yah, dia adalah Alex. Mantan tunangan Axila yang asli dan juga wanita itu adalah Indri, mantan sahabatnya atau bisa dibilang sang penghianat.


"Wah...wah..


Penampilan mu sedikit berbeda, bahkan sangat berbeda dari dulu yah. Sudah berapa banyak uang yang kau habiskan untuk penampilan mu ini?" ejek Alex.


Axila melempar pandangannya kesamping, ia tersenyum ejek.


"Kau yakin sekali jika semua punyaku adalah hasil kerja mu." balas Axila.


Tentu saja banyak orang yang sudah mengerubungi mereka, menyaksikan apa yang terjadi.


Sama seperti dua lelaki yang dari arah berbeda, namun akan melewati jalan yang sama.


Mike yang baru saja mengambil cincin lamarannya di salah satu toko perhiasan di mall itu berjalan keluar dari toko bersama Jack di sampingnya, namun melihat kerumununan orang-orang yang sedang berbisik-bisik. Kakinya melangkah dan menatap wajah itu.


Levi yang baru saja selesai meeting dengan kliennya disalah satu restoran di mall itu melihat ada keributan, ia ingin melihat siapa yang menyebabkan keributan itu.


Namun matanya membulat ketika melihat wajah familiar itu.


"Axila!"


Dua suara dari orang yang berbeda membuat Axila mengangkat wajahnya dan melihat kearah dua pria itu

__ADS_1


"Levi? Mike?"


__ADS_2