
"Brakkk!!!"
Dengan kasar, Azka mendorong pintu ruang kepala sekolah dan mendapati kakaknya yang tengah menatapnya juga bersama tiga orang lainnya.
"Noona" panggil Azka.
"Kau kemari?" balas Axila, tangannya melambai menyuruh Azka mendekat.
Tanpa diucap lagi, langkah kaki Azka mendekat.
"Apa yang Noona lakukan disini?" tanya Azka setelah duduk disamping kakaknya.
"Ahh.." timpal Kepala sekolah, "Azka. Apa betul ini kakakmu?" tanyanya.
"Tanpa kukatakan anda bisa tahu, Pak." balas Azka acuh, dia malas berhadapan dengan pria ini. Pria yang hanya memandang seseorang dari latar belakangnya, Azka sudah beberapa kali berhadapan dengannya karena masalah yang bahkan tak pernah ia lakukan.
Kepala sekolah geram, tapi tak dapat melakukan apapun saat ini terlebih mengetahui siapa kakak Azka yang adalah pemilik hotel yang dimana makanan di kantin sekolah ini berasal dari kerja sama antar sekolah dan hotel, bahkan makanan yang sekarang lebih baik dan enak dari pada sebelumnya.
"Saya harap, Azka dapat melupakan semua kejadian dulu dan kita memperbaiki hubungan yang telah-"
"Tidak, terima kasih!" bantah Azka, "Noona" ditatapnya Axila.
Axila mengangguk, "pergilah dulu, aku akan menyusulmu setelah ini." ucap Axila yang tahu arti tatapan Adiknya.
Azka melihat sebentar wajah kepala sekolah lalu keluar dari ruangan itu. Dia mendapati Sehun yang berada didepan pintu bersama dua pengawal tadi.
"Azka, apa terjadi sesuatu!" tanya Sehun.
"Entahlah, Noona datang untuk mengurus pindahan sekolahku nanti." ujarnya, Azka masih menunggu kakaknya yang berada di dalam sana.
Sehun terkejut, "kau akan pindah?" tanyanya tak percaya.
Azka mengangguk, "Setelah ujian selesai kami akan kembali ke Indonesia." ujarnya.
Pinta tiba-tiba terbuka, terlihatlah Axila yang berjalan keluar dan menghampiri kedua remaja itu. "Ada apa lagi dengan wajahmu, Sehun?" tanya Axila.
"Noona!" ditatapnya wajah Axila dengan serius, "apa yang dikatakan Azka itu benar?" tanya Sehun.
Axila menatap Adiknya, ahh... dia mengerti.
"Azka akan kembali dua Minggu lagi, memangnya kenapa?" tanya Axila.
"Noona..." rengek Sehun.
"Kita bicarakan nanti, Sekarang sudah jam makan siang kalian. Pergilah" ujar Axila mengingat jam makan siang mereka.
Axila menatap kedua pengawal itu, mereka mengangguk dan berlalu dari sana.
Entahlah, tapi mereka seakan tahu arti tatapan itu.
...-----...
Ketiga nya sedang berada di lapangan bola basket, dengan duduk di bangku penonton sambil menikmati Snack yang dibawa Axila didalam mobil.
Axila terus saja mendengarkan ocehan Sehun yang tak ingin lepas dari Azka, sedangkan Adiknya hanya memenangkan temannya itu.
__ADS_1
Ibu Sehun juga sudah membuka restoran disalah satu mall dengan bantuan Axila sehingga ibu dan anak itu sudah tak khawatir lagi soal biaya pendidikan dan kehidupan mereka, bahkan mereka tinggal disalah satu apartemen yang dibelikan Axila untuk mereka.
Sudah pernah Axila bilang bukan? Jika ia akan membalas kebaikan orang yang sudah menolong Adiknya selama ini dengan berkali lipat.
Dan mereka yang selalu menindas Adiknya juga mendapatkan balasan yang setimpal bahkan lebih dari itu.
Obrolan mereka terhenti saat Axila mendapati ponselnya berdering.
Tertera "Letnan Kolonel" yang memanggil.
"Selamat siang, Let!" Ujar Axila dengan suaranya yang tegas, meskipun dia sudah menjauh namun kedua remaja itu masih bisa mendengarnya namun tak tahu apa yang saat itu dibicarakan oleh Axila ditelepon.
Mereka hanya melihat raut wajah Axila yang terlihat lebih serius lagi, dan suara yang sangat tegas saat bicara.
"Siapa yang menghubungi Noona, Azka?" tanya Sehun pada Azka.
"Pasti orang itu lagi." balas Azka.
"Siapa?" tanya Sehun lagi.
"Entahlah. Aku juga tak tahu, namun setiap kali ada yang menghubungi Noona dari Indonesia, pasti akan begini." balas Azka.
'Sebenarnya siapa yang menelpon Noona sampai membuat Noona seserius itu?' batin Azka.
Sehun mengangguk, meskipun dia sangat penasaran tapi dia akan dia jika Azka juga diam.
Panggilan terputus. Axila kembali menyimpan ponselnya dibalik tas kecil yang selalu menggantung disampingnya lalu berjalan mendekati Azka dan Sehun.
Azka melihat langkah kaki kakaknya terlihat sangat tegas, bahkan berjalan dengan sangat cepat.
"Ya, Noona. Apa terjadi sesuatu?" tanya Azka, dia tahu Lewat raut wajah Axila yang sangat serius.
"Kau selesaikanlah masalahmu, maaf aku harus kembali sesegera mungkin.
Aku janji akan datang setelah tugasku selesai." ujar Axila.
Raut wajah Azka langsung berubah drastis, ditatapnya Axila dengan serius.
"Tidak bisakah kita kembali bersama, Noona?" ujarnya memelas.
Axila menggeleng, "tidak bisa. Ini darurat, aku harus kembali." dipalingkan nya wajahnya menatap Sekretaris Kang.
"Pesankan aku tiket ke Indonesia, sekarang juga." perintah Axila.
"Baik, Nona." balas Sekretaris Kang, dia melangkah mundur dan segera menghubungi seseorang.
Azka langsung menggenggam tangan kakaknya. "Noona kumohon."
Axila menggeleng, "Azka, tolong mengertilah.
Ini sangat berbahaya bagimu.
Tetaplah disini dan lakukan tugasmu, kakak percaya padamu." ujar Axila menjelaskan pada Azka.
"Aku ikut. Aku akan mengantarmu ke bandara jika begitu."
__ADS_1
"Lalu bagaimana dengan sekolah mu?" balas Axila.
"Tak ala jika aku bolos sebentar, lagi pula besok aku akan kembali sekolah."
"Aku juga ikut jika begitu." timpal Sehun.
Axila mengangguk, kedua remaja itu langsung saja berlari kearah kelas mereka diikuti oleh dua pengawal.
Axila berjalan kearah parkiran, dia akan menunggu keduanya disana.
Tak lama setelah itu kembalilah mereka berdua sambil berlarian, diikuti oleh kedua pengawal tadi. Semua siswa yang memang masih berada dalam jam istirahat melongo pada mereka, semuanya menatap mereka dengan terheran-heran.
Begitu mereka sampai, masuklah mereka kedalam mobil, Azka berada disamping kakaknya sedangkan Sehun berada dibelakang.
Axila mulai melakukan mobilnya dengan kecepatan sedang, mereka masih harus kembali ke Hotel dan mengambil pasport dan barang-barang Axila.
Dengan kecepatan tinggi, Axila melajukan mobilnya dijalanan sesekali menurunkan kecepatan laju mobilnya Karena lampu lalulintas yang berubah ataupun karena ada kendaraan yang berada persis didepan mereka.
20 menit kemudian, Azka dan Sehun juga iku turun namun mereka hanya menunggu di Lobby Hotel sedangkan Axila pergi ke kamarnya dan mengambil barang-barang nya.
Levi yang baru saja kembali dari pertemuannya dengan rekan bisnisnya mendapati Azka yang berada di lobby dengan masih menggunakan seragam sekolah, saat ia akan mendekat malam mereka berjalan kearahnya dengan Axila yang berjalan tegas dengan sekretaris Kang disampingnya.
"Pukul berapa keberangkatan ku?" ujar Axila, sekretaris Kang yang sedang menarik koper Axila pun menjawab.
"Satu jam 11 menit lagi, Nona." balasnya.
"Berapa lama kita akan tiba di bandara?" tanya Axila lagi.
"Sekitar 45 menit, Nona." balas Sekretaris Kang.
Levi bisa melihat jika yang akan pergi adalah Axila, terlihat dari raut wajah gadis itu yang seperti sedang mengejar waktu.
"Mau kemana dia?" gumam Levi.
Saat akan melewati Levi, tangan Axila dicekal olehnya.
"Mau kemana kau?" tanya Levi.
"Itu bukan urusanmu!" balas Axila, ditariknya tangannya dari cekalan tangan Levi, dihempasnya dengan kasar lalu berjalan melewati pria itu.
Azka yang melihat itu menepuk pundak Levi, "Maaf kak. Aku harus mengantar kakakku dulu." ujar Azka, dia segera menarik tangan dan akan berlalu namun kembali dicekal oleh Levi.
"Mau kemana dia?" tanya Levi.
"Terjadi sesuatu di Indonesia, sepertinya kakakku yang harus turun tangan. Kalau begitu aku permisi." balas Azka, segera dia melangkah kakinya dengan sedikit berlari karena Axila sudah membunyikan klakson mobil dengan sangat kencang.
Levi menghubungi seseorang.
"Kawal Axila dan Adiknya sampai bandara dengan selamat," perintahnya. "aku tak mau terjadi sesuatu pada gadisku dan Adiknya." lanjut Levi.
...----_----...
Jangan lupa dukungan kalian yah.
Gamsahabnida
__ADS_1