
Axila keluar dari kelas dikuti oleh Eggy, sedangkan Jessica dan anak-anak perempuan lainnya merapat pada Levi. Axila merasa kesal dengan para mahasiswi yang mencari perhatian dari pria itu.
"Untunglah Baby gue nggak ikutan kayak mereka.
Ternyata masih ada cewek normal yang nggak suka sama tuh dosen sok itu." Ucapan Aldo yang sedikit keras didengar oleh Axila dan beberapa mahasiswa lainnya.
Levi yang melihat Eggy mengikuti Axila meremas buku yang berada ditangannya, ia ingin keluar dari kelas ini namun para mahasiswi itu terus mengelilinginya, bagaimana dia bisa bebas jika seperti ini?
Jessica yang mengingat Axila menoleh, ia mencari Axila diantara mahasiswi yang sedang mengelilingi dosen baru mereka namun tak menemukan gadis itu.
Saat matanya mengarah pada bangku Axila, ia sudah tak mendapati gadis itu berada disana.
Segera saja ia pergi dari antara kerumunan para mahasiswi, saat baru sampai didepan kelas, malah lebih banyak lagi yang berada disana.
Dengan penuh perjuangan, Jessica akhirnya bisa lolos dari mereka.
"Mereka menyeramkan," Gumam Jessica, ia segera mencari Axila, menelpon gadis itu dan menanyakan dimana keberadaan gadis itu sekarang.
Sedangkan Levi, akhirnya ia bisa lolos dari para mahasiswi dengan penuh perjuangan.
Ia masuk kedalam ruang rektor, menyandarkan tubuhnya disofa yang berada didalam sana.
"Ini lebih merepotkan dari pada menangani pekerjaan ku di kantor," Keluh Levi.
Sedangkan Axila yang saat ini sedang berada di taman malah melihat E-mail yang di kirimkan oleh asistennya, ia mengecek nya sebentar dan memastikan laporan-laporan itu.
Panggilan masuk membuatnya merasa sedikit terganggu, namun saat melihat siapa yang menelponnya membuat Axila segera mengangkat telepon itu.
"Halo, Bunda." sapa Axila.
"Sayang, kamu lagi ngapain?" tanya dokter itu.
"Nih lagi istirahat, aku lagi ngecek kerjaan yang dikirimkan asistenku." balas Axila.
"Kalo gitu Bunda gangguin kamu?" tanya Maria yang tak enak hati.
"Nggak, memangnya ada apa, Bunda?" tanya Axila.
"Kita udah lama nggak makan malam bareng, kamu sama Azka kerumah yah, kita makan malem bareng. Bunda kangen sama kalian berdua." pinta Maria.
"Baiklah, aku dan Azka akan pulang ke rumah nanti malam." balas Axila, padahal minggu lalu mereka baru saja makan malam bersama.
__ADS_1
Tapi biarpun begitu, ia juga ingin bertemu dengan keluarga angkatnya.
"Bunda tunggu kalian di rumah nanti malam. Harus datang yah, kakakmu juga akan pulang dari asrama nanti malam," ujar Maria, "kalau begitu bunda tutup dulu telepon nya. Masih ada pasien yang baru bunda periksa, bye-bye."
"Bye, Bunda."
Tutt...Tutt...
Panggilan berakhir, Axila kembali menarik ponselnya dari depan telinga.
Segera ia kirimkan pesan untuk Azka, jika Maria menyuruh mereka untuk pergi ke rumah Michael nanti malam.
Azka yang sedang makan siang bersama teman-temannya mendapatkan pesan dari Axila.
Noona♥️
[Nanti malam kita pulang kerumah keluarga angkat Ku, Bunda ngajak kita makan malam bareng.]
Dengan cepat Azka membalas pesan kakaknya itu.
To Noona♥️
[Baiklah]
Sedangkan Axila, gadis itu mendapatkan pesan dari Jessica, gadis itu menanyakan keberadaan nya karena menghilang dari kelas. Axila segera memberitahu keberadaan nya, tak lama setelah itu tampak Jessica yang sudah berada disana bersamanya.
"Kata yang lain, matkul yang berikutnya nggak jadi, dosennya lagi keluar kota dan cuma ngasih kita tugas, tapi kumpulnya juga minggu depan," Jessica memberitahu apa yang baru saja ia baca dari Grup kelas mereka.
Axila mengerutkan keningnya, seakan mengerti jika gadis didepannya sedikit bingung, Jessica kembali mengangkat suara.
"Kerjain nya masing-masing dan nggak berkelompok, lagian itu juga matkul yang terakhir jadi kota bisa pulang awal, lagian Prof Dani juga nggak nongol, mungkin aja nggak masuk juga,"
"Baguslah, aku juga harus pergi ke suatu tempat. Ada yang harus ku kerjakan," balas Axila, ia dan Jessica akhirnya berpisah.
Hari ini hanya ada satu mata kuliah yang berjalan, sisanya hanya diberikan tugas, sama seperti yang dikatakan oleh Jessica.
Axila memacu motornya kearah kantornya, ada banyak pekerjaan yang harus ia urus, tak mungkin ia hanya mengandalkan Asistennya untuk bekerja sedangkan ia tidak.
Sedangkan Levi, hanya ada dua kelas yang akan ia hadiri (Mengajar) dan kelas berikutnya hanya diberikan tugas, tak ada gunanya ia berada di kampus jika Axila saja tak ada. Ingatlah jika ia berada disini hanya karena gadis itu saja, jika tidak, mana mau ia mengajar dan memperlihatkan wajahnya pada orang-orang.
Terlebih ia juga merasa risih saat begitu banyak lawan jenisnya yang selalu saja membuntuti nya, terlalu banyak alasan yang mereka buat agar bisa dekat dengannya.
__ADS_1
Meskipun ia memasang wajah dinginnya, mereka tak pergi dan malah semakin berulah, inilah resikonya jika memiliki wajah tampan.
Levi akui karena hanya dengan wajahnya itu, ia bisa menarik minat banyak wanita padanya.
Namun hanya satu.
Hanya gadis itu saja yang berbeda dari mereka, gadis itu mampu membuatnya cemburu saat ia berdekatan dengan pria lain, marah saat pria lain mendekatinya, rindu saat tak melihat wajahnya dan menghilang dari pengawasannya, bahagia saat melihatnya tertawa lepas, khawatir saat gadis itu mengambil suatu tindakan beresiko, dan Masi banyak lagi emosi yang ia ekspresi kan saat berhadapan dengan gadis itu.
Gadis yang bernama Axila Lian Remanov.
Bisakah ia berharap?
Jika suatu hari nanti, ia bisa merebut hati dari gadis itu, bisa memilikinya seutuhnya, menikah dan memiliki anak yang lucu dan pintar, bergandengan tangan dan melewati hari-hari dengan bahagia.
Ia juga pria normal yang mempunyai keinginan itu.
Bagaimana cara untuk bisa merebut hati gadis itu, jika itu wanita lain, bisa ia taklukkan hanya dalam beberapa detik, namun ini Axila. Gadis dingin yang anggun dan berbeda dari yang lain.
Axila yang berada dalam perjalanan ke kantor menghentikan laju motornya saat berada di lampu merah, sama seperti kendaraan yang berada didepannya.
Merasa akan sedikit lebih lama, ia menurunkan kaca helm nya dan melihat sekitar, tanpa diketahui ada sepasang mata yang melihatnya dengan ekspresi terkejut.
"Axila?" gumam orang itu, ia mengikuti Axila secara diam-diam saat laju motor itu kembali berjalan
Mobil itu terus membuntuti Axila, dan tak ada rasa curiga sedikitpun dari Axila karena ia memasang headset dan mendengarkan musik.
Mobil itu terus membuntuti hingga motor itu tiba disalah satu gedung perkantoran yang cukup besar dan menjulang tinggi, sekitar 30 lantai.
Saat Axila masuk kedalam lobby kantornya, ada sepasang tangan yang menghentikan langkah gadis itu.
"Ternyata benar, itu kau," ucap pria itu.
"Alex?" gadis itu sedikit terkejut dengan keberadaan pria ini.
.
.
.
.
__ADS_1
.