
Bagaimana denganmu jika hari ini adalah hari pernikahan mu, tentunya kau sangat bahagia 'bukan?
Bisa menikah dengan orang yang sangat kau cintai, berjalan diatas altar pernikahan, bergandengan tangan sambil mengucapkan janji suci pernikahan, mengenakan cincin yang sangat manis dijari manis mu dengan penuh senyumnya cinta, dan akhirnya berjalan kedalam kamar pengantin sambil menikmati waktu berdua.
Itulah bayangan orang-orang dihari pernikahan.
Namun tidak dengan Mike, semua itu bisa terjadi jika dia bisa bersama dengan wanita yang sangat ia cintai. Bukan dengan wanita yang ingin menggunakan nya sebagai bahan untuk menutupi aib nya sendiri.
Wanita egois seperti itu, Mike tak membutuhkannya.
Meskipun ia tak menikah dengan wanita yang ia cintai, setidaknya ia harus menikah dengan wanita yang bisa menjaga hati, harga diri dan dirinya sendiri. Seorang wanita mandiri yang kuat.
Druuttt....! Druuttt....! Druuttt....!
Mike mengalihkan pandangannya pada layar ponsel yang sejak tadi menyala, memperlihatkan seseorang sedang menghubunginya dan itu sudah berulang kali.
Mike menyerah, ia mengangkat ponsel itu lalu menggeser ikon hijau lalu menekan tombol pengeras suara.
"Iya m-"
"Anak nakal! Dimana kau, huh?" suara cempreng seorang wanita terdengar dari seberang sana, ia terdengar sangat marah.
"Jangan bilang kau baru saja bangun tidur?!."
"Apartemen." balas Mike singkat, tentu saja wanita itu pastinya langsung mengetahui apa yang dimaksud oleh Mike.
"Ya ampun. Mike!
Hari ini adalah hari spesial mu.
Mengapa kau masih disana dan tak bersiap untuk pernikahan mu?
Mama tak mau tahu, 1 jam lagi kau harus berada di Gereja. Jika tidak, kau tahu akibatnya." sambungan telepon terputus, Mike menatap malas pada ponselnya.
"Aku tak peduli." sambung Mike, ia mengambil Toxedo yang sudah disiapkan, menggantinya dengan sangat santai tanpa peduli jika hari ini hari pernikahannya.
Mike mengemudi mobil nya dengan sendirinya tanpa adanya supir yang mendampingi, ia akan pergi ke suatu tempat, menjemput orang yang ia rasa pantas menjadi istrinya nanti.
Di kediaman keluarga Anggara.
Hari ini adalah hari spesial bagi keluarga itu, terutama untuk anak dan calon menantu mereka.
Persiapan telah dilakukan, saat ini mempelai wanita sedang di dandani dengan sangat cantik dan anggun, gaun putih telah terpasang di tubuh indahnya, terlihat sangat pas ditubuhnya itu.
Anggun, itulah namanya. Sama seperti namanya, ia terlihat sangat cantik dan anggun, semua orang didalam sana terus memuji penampilannya yang sangat cantik hari ini bagaikan ratu disuatu kerajaan.
Terdengar langkah kaki yang sedang mendekat, pintu yang tadinya tertutup sekarang terbuka lebar dengan seorang wanita yang memasuki kamar itu.
"Aduh... calon mantu nya mama kok cantik banget sih. Nggak sabar deh liat kalian berdua sama-sama ngucapin janji pernikahan." ujar Wina, ibu Mike.
Anggun tersennyum, ia melihat calon mertuanya dari pantulan kaca.
"Makasih, Ma. Mama jiga terlihat cantik dengan dress itu." balasnya.
Wina mendekat, ia memeluk calon menantunya itu. "Kamu cantik banget sih, tapi masih ada yang kurang nih." ujarnya.
Anggun menoleh, "Apa yang kurang, Ma?"
Tanya Wina yang tersembunyi sejak tadi segera ia keluarkan, tangannya sedang memegang kotak dengan warna navy.
__ADS_1
"Apa ini, Mama?"
Wina tak menanggapi pertanyaan calon menantunya, "Buka lah."
Anggap menerimanya, ia membuka kotak yang sudah pasti berisi perhiasan itu.
Tampaklah Mahkota yang terlihat sangat cantik, dengan desain yang sangat elegan, ada berlian yang menjadi pelengkap mahkota itu.
"I-ini cantik banget, Ma."
"Harus dong, itu mahkota yang didesain sama temen Mama. Butuh waktu 3 bulan untuk pembuatannya." balas Wina dengan penuh percaya diri.
"Sini mama make-in, biar sempurna." sambungnya lagi.
Anggun mengangguk, Wina mengambilnya lalu dia kenakan di kepala Anggun agar penampilan Calon menantunya jadi sempurna.
Ia sangat senang dengan pilihannya ini, bukan mahkota dan gaun yang dikenakan oleh Anggun, tapi ia bahagia karena wanita pilihan nya akan menjadi menantunya beberapa jam lagi.
"Tuh kan, So perfect." ujar Wina lagi setelah melihat wajah Anggun dari pantulan kaca.
"Makasih Ma." balas Anggun tersennyum, ia mengambil tangan Wina lalu mengecupnya.
"Kalo gitu mama ke bawa dulu yah, mau liat papa kamu sama papa Frans dulu. Bye.." Wina berlalu dari sana, senyum Anggun yang tadi terus ia perlihatkan seketika padam.
Ia melihat mahkota yang sangat indah di kepalanya. Salah satu arti dari mahkota untuk seorang wanita yang akan menikah adalah kesucian. Wanita yang masih suci dan akan mempersembahkan kesuciannya untuk suaminya. (Menurut Author sendiri)
Bukan hanya sebagai aksesoris pelengkap untuk seorang pengantin wanita.
Anggun teringat dengan wanita yang tak sengaja bertemunya kemarin di resto, namun dengan cepat ia tepis karena ini juga merupakan kesempatan baginya dan keluarganya.
Bisa menjalin hubungan baik dengan keluarga Anggra adalah suatu kehormatan, apa lagi menjadi anggota keluarga dari keluarga Anggara yang sangat terpandang dan disegani ini.
"Apa yang terjadi dibawah?" tanya Anggun pada perias yang masih berada didalam kamarnya itu.
"Maaf, Nona. Saya juga tak tahu." balasnya. "Biar saya cek dulu."
"Tak usah, biar aku sendiri saja." tahan Anggun, segera ia keluar dari kamar yang ia tempati di kediaman Anggara.
"Mike!"
"Memangnya kenapa, Ma?" balas Mike.
Suasana diruang tamu sangat mencekam, bagaimana tidak?
Calon mempelai pria datang membawa seorang wanita lalu mengatakan jika wanita itu adalah calon istrinya.
"Apa yang kau lakukan Mike?!
Hari ini adalah hari pernikahan mu! Jangan membuat masalah lagi!" suara Wina meninggi, sedangkan Frans masih melihat suasana dulu.
"Jelaskan pada Papa, Mike!" ujar Frans.
"Aku menidurinya semalam dan aku akan bertanggung jawab." ujar Mike.
"Mike!"
"Aku sudah mengambil hal yang paling berharga dari dirinya, Ma Pa.
Aku tetap akan bertanggung jawab dan menikahinya hari ini." ujar Mike kekeh.
__ADS_1
Zahra yang berada disamping Mike hanya bisa tertunduk, ia tak bisa melakukan apapun dan menyerahkan semuanya pada Mike.
Tangannya menggenggam tangan Mike, dan pria itu menggenggam nya dengan sangat erat sampai Zahra merasa tangannya ngilu.
"Apa maksudmu Mike?" tanya Anggun yang kini sudah berada disana, ia masih terus menuruni anak tangga hingga berada disana.
"Baguslah jika kau juga disini.
Aku membatalkan pernikahan kita karena aku akan menikah nya." ujar Mike pada Anggun.
"Mike!" bentak Frans.
"Aku akan tetap menikahi Zahra, Pa." balas Mike kekeh.
"Rendra, ambilkan Aung untuknya. Usir wanita itu pergi dari rumahku!
Jangan kacaukan pernikahan anakku jal*Ng!"
"Ma!" bentak Mike.
"Mama pikir aku bakalan lepasin Zahra lagi sama kayak Axila?
Aku udah patuh sama mama untuk tunangan sama jalang itu," tunjuknya pada Anggun, "dan melepaskan gadis yang paling aku cintai.
Tapi aku nggak bakal lepasin wanita yang udah aku nodai ini.
Aku membuang benihku didalam sana, dan dalam waktu hitungan jam saja benih itu bisa menjadi calon anakku." ujar Mike, matanya menatap jijik pada Anggun
"Bukan seperti dia yang ingin memanfaatkan ku untuk anaknya, benih dari pria yang bahkan tak ada hubungannya denganku." sinis Mike.
Deggg..!
Mike melihat wajah terkejut Anggun, "Kenapa?
Kau terkejut karena aku mengetahui kehamilan mu yang baru berusia 2 Minggu itu?"
"Jangan fitnah kamu Mike!" ujar papa Anggun.
"Aku nggak fitnah memang itulah kenyataannya jadi aku juga mencari wanita ku sendiri, wanita yang mau menerima benihku dan mengandung benihku itu." ujar Mike sinis, ia merasakan tangan mungil yang meremas tangannya.
"Jangan takut, serahkan semuanya padaku." bisik Mike pada Zahra dan hanya mendapatkan anggukan kecil dari wanita itu.
"Bahkan sebelum hari ini, Axila bertemu denganmu 'Bukan?
Ia juga memperingati mu untuk mengatakan kehamilan mu padaku tapi sepertinya kau tak mau mendengarkan nya dan ingin memanfaatkan ku untuk kepentingan mu sendiri." ujar Mike pedas, percayalah jika wajah Anggun saat ini sudah pucat pasi.
"Jangan lupa jika selama ini aku menyuruh orang untuk mengikuti mu kemana saja.
Aku tahu Axila bertemu denganmu di resto kemarin, saat gadis itu akan meeting dengan kliennya." sambung Mike lagi.
Anggun mengingatnya, Axila mengatakan hal itu dengan dingin lalu pergi dari sana.
"Bicaralah yang jujur pada Mike jika tak ingin terjadi sesuatu besok. Jika tidak, kau akan menyesalinya"
"Mi-mike...
A-aku bisa menjelaskannya"
"Aku tak butuh penjelasan mu lagi. Pernikahan kita batal!
__ADS_1
Aku akan menikahi wanitaku hari ini."