
Waktu menunjukkan pukul 8 lagi, alarm sudah berbunyi sejak tadi dan membangunkan kedua kakak beradik itu.
Azka dan Axila bangun, membersihkan tubuh masing-masing lalu bersiap. Tak sempat lagi untuk sarapan disana, mereka akan sarapan di atas pesawat saja.
Bohong jika menggunakan pesawat perusahaan swasta, Axila lebih memilih untuk menggunakan jet pribadi nya.
Saat mereka tiba di lobby hotel, semua orang sedang menunggu mereka. Semua bersiap untuk mengantar mereka.
Azka dan Axila menghampiri mereka, "kalian semua disini?" ujar Azka tak percaya.
"Yah, kami akan mengantar kalian ke bandara." balas Sehun cepat.
"Kau tahu jadwal keberangkatan kami?" tanya Azka tak percaya.
"Kak Moonbin yang memberitahu, jadi aku bolos untuk hari ini agar bisa melihat kepergian mu." balas Sehun, ia melihat dua orang bodyguard yang sudah lebih dulu membawa koper milik kedua kakak beradik itu dan beberapa kardus lainnya.
"Oh.." Azka hanya menanggapi sahabatnya dengan mulut yang membentuk huruf "O" saja.
"Dimana Noona?" tanya Azka karena tak menyadari keberadaan kakaknya.
"Sepertinya sedang bicara dengan menajer hotel dan mengurus sesuatu." ujar Min-Hyuk.
Sementara itu Axila sedang membayar tagihan kamarnya dan semua fasilitas yang ia gunakan disana. Meskipun ia adalah pemilik nya, namun tetap saja ia membayarnya.
Axila kembali setelah beberapa saat, mereka mulai meninggalkan Hotel dan pergi dari sana.
Beberapa mobil saling membuntuti, mengikuti mobil yang paling berbeda dari yang lainnya.
Setelah menempuh perjalanan yang jauh, mereka akhirnya tiba di bandara.
Disana mereka semua akan berpisah.
Banyak bodyguard yang mengawasi kepergian Axila dan Azka, mereka terlebih dahulu memasuki area bandara dan membawa barang-barang keduanya keatas jet.
"Bibi akan merindukan mu." ujar Ibu Sehun.
"Jangan begitu Bibi, nanti aku tak jadi berangkat karena kata-katamu." balas Azka, ia memang sangat dekat dengan wanita itu yang sudah sama seperti ibunya.
"Maknae, jaga dirimu baik-baik disana." ujar Park Jin-Woo, matanya sudah mengeluarkan cairan bening itu. Hatinya terlalu lembut dan selalu pengertian terhadap Azka, bukan hanya pada Azka saja tapi ia pengertian terhadap semuanya.
"Baiklah, Hyung Jin" balas Azka.
"Aku akan mendoakan yang terbaik untuk mu." sambung Jin-Na mengacak rambut Azka.
"Kami akan kehilangan adik kecil kami."
"Tunggu aku beberapa bulan lagi akan menyusul mu ke Indonesia."
Hampir semua mengatakan hal-hal yang sedikit menyedihkan dan membuat Azka tak dapat menahan diri lagi.
Ia menangis, orang-orang ini selalu baik dan pengertian pasangan meskipun sedikit dingin dan cuek. Namun mereka lah yang selama ini peduli padanya.
Axila menenangkan Adiknya, mereka juga harus pergi karena sudah diperingatkan oleh Justin.
Azka memeluk semuanya, ia melangkah kakinya dengan sangat berat. Ia terus melambaikan tangannya pada mereka, begitulah dengan mereka.
Azka dan Axila turun karena penerbangan, disana Vano sudah menunggu sejak tadi.
"Pesawat mana, Noona?" tanya Azka yang masih menghapus air matanya.
"Kita naik yang sedikit berbeda, tak apa bukan?" balas Axila.
Azka hanya mengangguk, namun ia terkejut ketika mendapati jet pribadi yang sudah terbuka pintunya. Dan Seorang Pramugara yang menyambut mereka.
"Noona, kurasa kita salah naik pesawat." ujar Azka ragu dan polos.
"Tidak, kita akan menggunakan ini." balas Axila, ia menarik tangan Adiknya dan menaiki tangga itu dan masuk kedalamnya.
Azka benar-benar tercengang, ia mendapatkan perlakuan yang sangat baik dari pria itu.
"Noona, kau yakin?" tanya Azka lagi.
__ADS_1
"Ini adalah jet milikku, dan itu artinya ini juga merupakan milikmu.
Kau tak melihat lambang dari nama kita didepannya?" tanya Axila.
"Hah???....
Itu tak mungkin!" balas Azka sangat terkejut.
Axila hanya mengangkat bahunya acuh, Azka langsung menarik tangan Vano.
"Ada yang bisa saya bantu, Tuan muda?" tanya Vano sopan.
"Siapa pemilik jet ini?" tanya Azka.
Vano tersenyum, ia menatap Axila yang tempatnya diseberang Azka.
"Ini milik kakak Anda, Tuan muda. Saya bekerja juga untuk kakak Anda." balas Vano, ia pamit dan berlalu dari sana.
Setelah mendapatkan ijin lepas landas, jet itu mulai berangkat dan meninggalkan bandara, meninggalkan negara, meninggalkan semua orang yang berada disana.
Sehun, Jin-Na, dan yang lainnya Menatap jet yang lepas landas dari Balik dinding kaca. Sehun terlihat sangat tak bersemangat, wajahnya sungguh terlihat sedih.
Yang lain menghiburnya, mereka meninggalkan bandara dan kembali ketempat mereka masingmasing.
...--------...
Diatas awan yang artinya dalam jet pribadi, kedua kakak beradik itu bermain dengan diri mereka sendiri.
Azka yang tengah menonton, sedangkan Axila membaca artikel di majalah-majalah tentang bisnis dan lainnya.
Azka sesekali melihat beberapa komentar yang berada di akun YouTube miliknya, beberapa kali terkekeh ataupun mengucapkan sesuatu.
Sementara di suatu ruangan yang tampak megah dan mewah, pria itu duduk sambil menikmati pemandangan dari balik dinding kaca. Bibirnya tersenyum tipis, tangannya memegang gelas dengan cairan berwarna pekat, ia sedang meneguk anggur mahalnya.
Ia senang, karena gadisnya akan kembali dan tak keluar negeri lagi karena gadis itu sudah membawa serta Adiknya agar selalu bersamanya.
Dan kabar gembira lainnya, salah satu saingan nya telah berkurang. Pria itu sudah bertunangan dengan wanita lain, dan mungkin saja akan melangsungkan pernikahan dalam waktu dekat ini.
Levi, ia tahu jika Axila akan kembali hari ini. Tentu saja ia tahu, Vidio terbaru yang Azka upload di akun YouTube nya sudah ia ketahui dan tonton. Levi juga sering chating dengan Azka hanya untuk mengetahui kabar anak itu beserta kakaknya.
Jika sang kakak belum bisa didekati, maka Adiknya pasti yang akan menjadi penghubung mereka berdua. Dan Levi berharap seperti itu.
Beberapa jam lagi mereka akan tiba, Levi sudah menyuruh orang-orang nya untuk menjaga bandara.
Ia tak ingin terjadi sesuatu pada gadisnya dan calon adik iparnya.
Jika tidak salah, mereka akan tiba jam tiga siang nanti. Dan ini baru pukul 11 siang, masih ada waktu.
Levi menyimpan gelas nya, ia berjalan kearah tempat kebesarannya lalu membaca dokumen yang berada diatas meja kerjanya.
Diruang Michael, semua orang sangat gembira. Putri mereka akhirnya pulang hari ini, Maria telah mengambil cuti untuk hari ini dan besok. Begitupun dengan Michael dan Putra, mereka semua akan menjemput Axila beserta Adiknya di bandara beberapa jam lagi.
Pukul 14:00, Levi dan asistennya pergi dari perusahaannya. Mereka meninggalkan semua pekerjaan dan menjemput seseorang yang penting bagi sang Presiden Direktur itu.
Begitu juga dengan Michael sekeluarga.
Tak hanya itu, rekan setimnya Axila juga beranjak ke bandara, mereka mengetahui kepulangan Axila dari Seoul.
Ketika pesawat itu mendarat dengan baik dan membawa penumpangnya dengan selamat, membuat seorang remaja menjadi deg-degan. Ini untuk pertama kalinya ia kembali setelah bertahun-tahun. Udara yang panas menerpa wajahnya ketika ia dan sang kakak keluar dari sana.
Ia tak lagi merekam menggunakan handycam, melainkan kamera yang terselip didalam kacamata. Itu akan membantunya lebih baik lagi, dan semua aktifitas nya akan dengan mudah terekam.
Mereka langsung berjalan diantara lorong itu, Azka melihat sekelilingnya yang terasa sangat berbeda.
Udara yang panas membuatnya sedikit tak nyaman, untung saja Axila sudah memberikannya kipas angin mini yang bisa ia pegang.
Saat mereka keluar dari sana, terlihat beberapa orang bodyguard yang langsung berjalan kearah mereka.
Memberikan hormat dengan menundukkan badan mereka 25° lalu kembali berdiri lurus.
"Selamat datang Nona, Tuan muda." ujar salah satu, mungkin saja dia ketuanya.
__ADS_1
"Terima kasih, siapa yang mengirim kalian?" balas Axila sambil berjalan bersama adiknya disampingnya.
Tak ada yang membalasnya, namun Axila juga tak mempedulikan hal itu. Asalkan mereka tak mempunyai niat jahat kepada mereka.
Barang-barang Axila telah dibawa oleh pilot dan Pramugara nya, mereka mendorong troli dari belakang Axila. Namun langsung diambil alih oleh para bodyguard itu.
Gadis itu mengambil alih kopernya lalu menariknya. Begitu pula dengan Azka, ia membawa kopernya sendiri.
Putra yang melihat wajah familiar itu langsung melangkah menjauh dari kedua orang tuanya, ia sedikit berlari kearah gadis cantik yang sedang menarik koper itu.
"Axila...." Panggil seseorang, membuat Axila mengalihkan pandangannya pada orang yang memanggil namanya.Ia tersenyum, berjalan mendekat.
"Baguslah jika kau sudah pulang. Kami merindukan mu." ujarnya, ia memeluk sebentar Adiknya itu.
Axila membalas pelukan hangat itu, "terima kasih." balasnya
"Axila... Putriku..." Suara wanita itu terdengar oleh indera pendengarannya, Axila menoleh dan mendapati wajah yang sangat ia kenal itu.
"Bunda, Papa." balas Axila, sepasang suami isteri itu tersenyum, wanita itu memeluk nya dan melepaskan rindu.
"Ouhh.. Bunda Sanga merindukan mu." ujar Maria.
"Terima kasih, aku juga merindukan kalian semua." balas Axila, tarikan dibaju nya membuat Axila menoleh pada adiknya.
"Perkenalkan, ini adikku. Anggota keluarga ku yang tersisa. Azka." Ujar Axila memperkenalkan Adiknya.
" Annyeonghaseyo.... I'm Azka, Nice to meet you, uncle, aunty." ujar Azka sopan.
Hanya itu yang bisa ia katakan, bahasa Inggris nya sangat buruk dan masih harus belajar. Azka memang mengerti apa yang orang lain bicarakan, namun tidak jika dalam bicara.
"Annyeong Azka.indonesia-e osin geos-eul hwan-yeonghabnida. jeoneun Axilaui yang-eomeoniibnida. igeos-eun je nampyeongwa adeul-ibnida." (Selamat datang di Indonesia.
Aku ibu angkat Axila, Ini suami dan Putraku.) Maria memperkenalkan diri lalu menunjuk Michael dan Putra.
"Omo...." Azka terkejut. "hangug-eo hal jul aseyo?" (Astaga... Bibi bisa menggunakan bahasa Korea?" tanya Azka dengan terkejut, tidak biasa ia melihat seseorang yang sangat fasih berbahasa Korea.
"geuneun hangug deulama aehogaimeulo nollaji masibsio." (Dia pecinta drama Korea, jadi jangan heran padanya.) timpal Axila, mereka berjalan kearah pintu keluar.
Namun baru beberapa langkah saja, suara itu memanggil Azka.
"Azka..." panggilnya.
Azka yang merasa namanya dipanggil segera menoleh, ia mendapati orang yang ia kenal sedang berjalan mendekat.
"Kak Levi?" (Anggap aja ini make bahasa Korea)
Azka sedikit terkejut dengan kehadiran Levi disana. Ia juga berjalan Kearah Levi.
"Kau sampai juga?" ujar Levi, namun matanya malah menatap kearah belakang Azka, dimana Axila berdiri disana.
"Yah, aku bersama Noona." balas Azka.
"Ayo.." Azka menarik tangan Levi kearah Axila dan yang lainnya.
"Sedang apa kau disini?" hardisk Axila telat ketika Levi dan Azka tiba didekat mereka. Nadanya terdengar sangat datar.
"Aku menjemput kalian berdua." balas Levi, ia merangkul pundak Azka seakan mereka sangat akrab.
"Cihhh..." Axila tak mempedulikan lagi.
"Noona, Maaf. Tapi setelah malam itu aku dan Kak Levi menjadi akrab, kami sering bertukar kabar dan-"
"Aku mengerti. Ayo kembali, aku lelah." potong Axila cepat, tangannya langsung menarik tangan Azka dan berlalu dari sana.
Semua orang pergi dari sana, barang-barang kedua kakak beradik itu dibawa oleh bodyguard Levi yang juga ikut mengantar mereka kembali ke rumah.
Tak mungkin jika Michael sekeluarga tak mengikuti mereka. Namun Axila, gadis itu mengendarai sendiri mobilnya dengan ditemani oleh adiknya.
Ingatkah kalian jika ia menitipkan mobilnya di bandara ketika ia pergi ke Seoul?
Itulah mengapa ia menggunakan mobilnya sendiri sedangkan yang lainnya menyusul dari belakang.
__ADS_1