
Axila mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi, ia menyalip beberapa kendaraan yang berada didepannya.
Ia menjadi tak sabaran, Letkol Bobby baru saja menghubungi nya dan memberikan misi lagi. Rekan setimnya telah berada di markas, hanya dia sajalah yang masih dalam perjalanan.
Misi kali ini hanyalah mengawal seorang pria berkuasa, dan semua strategi akan disusun di markas nanti.
Axila mengemudikan mobilnya kearah
rumah gua yang adalah markas mereka. Sebenarnya itu adalah gua batu yang luasnya 168X154 meter, dipahat dan dibuat menjadi rumah oleh Letkol Bobby. Entahlah tapi pria itu menyukai alam sehingga rumahnya juga dibuat dari batu alam.
Jika pertemuan pertama mereka di mansion Letkol Bobby, sekarang dimarkas mereka yang diberikan oleh pria itu.
Tim Axila diberi nama Red Velvet, entah mengapa namun itulah nama dari tim mereka. Dengan diketuai oleh Axila tentunya.
Daren menyambutnya didepan pintu, mereka memasuki ruangan yang cukup luas didalam sana, Axila akui jika rumah ini terlihat sangat keren. Dindingnya dibuat dari batu asli, hanya dipahat dan dirapikan saja.
Mereka berjalan kearah ruang kerja pria itu, disana sudah ditunggu oleh yang lainnya.
"Baguslah jika semuanya telah hadir. Kita langsung saja." ujar Letkol Bobby setelah Axila menduduki bok0ng nya diatas sofa empuk itu.
"Misi kali ini adalah, pengawalan ketat pada Gubernur kota N yang baru saja diserah terima. Ia akan terjadi tiba pukul 11 siang nanti, dan........"
Kini semuanya mengambil kendaraan masing-masing, pergi ke tempat tujuannya dan melakukan misi kali ini.
Sedangkan ditempat yang berbeda.
Levi mendapatkan informasi, jika serah terima Gubernur kota N kali ini mendapatkan pengawalan ketat dari orang yang selama ini ia cari. Diketahui jika tim itu diberi nama Red Velvet, Levi menggelengkan kepalanya karena namanya seperti salah satu Cake yang sangat digemari oleh kalangan anak muda dan yang lainnya.
"Kita pergi ke lokasi. Hanya untuk mengawasi mereka juga." ujar Levi pada anak buahnya, tentu saja ia harus pergi.
Karena ini adalah kesempatan untuk bisa mengetahui siapa wanita misterius yang sangat lihai itu, Levi menamainya wanita teratai. Kerena apa? Karena maskernya terdapat lambang teratai yang disulam dengan benang berwarna emas.
Ia dan beberapa anak buahnya segera meninggalkan lokasi dimana markasnya berada.
Di bandara Internasional SH, pesawat telah mendarat dengan baik dan membawa penumpangnya dengan selamat pula.
Terlihat banyak orang yang menyambutnya, diantaranya adalah orang yang mempunyai jabatan besar di pemerintahan.
Sangat jauh dari sana, digedung pencakar langit terdapat seorang pria yang saat itu sedang mempersiapkan snipernya. Ia adalah penembak jitu yang dikirimkan oleh bosnya.
Mengawasi keadaan disekitar sana dari jarak yang sangat amat jauh, karena dia juga yakin jika musuh bos nya berada disana.
Axila, Dara dan yang lainnya juga sudah bersiap diposisi mereka.
Dony, pria itu berada di gedung yang tak jauh dari sana, dengan semua persiapannya tentu.
Daren, pria itu mengawasi pergerakan semua orang dari balik layar atau bisa dibilang hanya menggunakan teknologi.
Sedangkan Axila, Dara dan Josua berada diantara para pengawal.
Mengawasi setiap keadaan disana.
Jangan ditanya dimana Levi dan para anak buahnya, mereka saat ini sedang bersembunyi ditempat yang tak bisa diketahui oleh orang.
Mata Levi mencari-cari orang yang ia maksud, apakah orang itu kembali menggunakan penyamarannya.
Dan senyum tipis terlihat diwajahnya, ia menemukan wanita teratai itu.
__ADS_1
Axila yang berada disana melihat sekelilingnya, ia kembali menggunakan masker hitam yang sama, yaitu dengan lambang teratai emas nya.
Keadaan disana aman-aman saja, namun tiba-tiba Axila langsung bergerak cepat untuk melindungi seseorang.
Dan ternyata mereka mendapatkan penyerang, membuat Axila terhempas dan mendapatkan luka dibagikan lengan kirinya.
Dara dan Josua langsung saja mengangkat senjata mereka, begitupun dengan para pengawal yang berada disana.
"Dony, arah jam 9" ujar Daren tiba-tiba, membuat Dony segera mengarahkan senjatanya pada tempat yang dimaksud oleh rekannya.
Penyerang ini tak dilakukan oleh seorang saja, namun lebih dari itu.
Ada beberapa pengawal yang mengalami luka, para pengawal langsung mengamankan Gubernur kota N dan orang-orang yang memiliki pangkat tinggi itu.
Axila yang terluka sudah bermain dengan senjatanya, ia mengarahkan pistolnya kearah yang ia rasa disitulah musuhnya berada.
Gerakannya sangat cepat, membuat beberapa orang merasa kagum. Meskipun tangannya mengeluarkan darah segar, namun kedua tangan itu memegang senjata nya masing-masing. Rasa sakit itu adalah makanannya sehari-hari, tak akan membuatnya merasa gentar sedikitpun.
Dony berhasil membuat beberapa musuhnya mendapatkan luka, ada pula yang langsung tewas ditempat. Dengan bantuan Daren yang membantu dari balik layar membuat pekerjaan nya sedikit lebih ringan, bukan hanya dia tapi juga yang lainnya
Kalung yang sejak tadi bersembunyi dibalik pakaian Axila meloncat keluar, membuat seseorang yang saat itu sedang mengawasinya dengan diam merasa sangat terkejut.
Levi, matanya melotot saat melihat Kalung yang sangat familiar.
Semua orang sudah mengamankan dirinya, para musuh juga tak lagi menyerang. Ada yang langsung meninggalkan area penerbangan setelah orang yang dikawal sudah berada dalam posisi aman, polisi dan pihak keamanan langsung berpencar untuk mencari orang-orang itu.
Axila yang sudah kehilangan banyak darah tersungkur, nafasnya sedikit tersegal sehingga melepaskan maskernya agar ia bisa menghirup oksigen lebih banyak lagi.
Dara dan Josua mendekati Axila, mereka membantu Axila agar berdiri.
Bayangan jika informasi Axila dan wanita itu sulit didapat terlintas diingatnya, lambang teratai yang sama persis, dan kalung yang dipakai juga sama. Setiap gerakan juga sama dan tatapan dingin itu, Levi sering melihatnya.
Bertambah terkejut lagi saat mengetahui jika wanita itu adalah orang yang ia incar dan dicintai secara sepihak dan belum mendapatkan hati wanita itu.
Wanita teratai adalah Axila. Wanita yang ia cintai.
Emosi Levi sudah tak terkontrol lagi, ia menjatuhkan sniper yang sejak tadi ia gunakan untuk mengamati keadaan disana.
"Bos, ada apa?"
"Apa yang terjadi, Bos?"
Pertanyaan dari anak buahnya tak dijawab oleh Levi, ia merasa tiba-tiba menjadi khawatir. Ia kembali melihat keadaan wanita itu.
Terlihat Axila dibopong oleh seorang pria, mungkin saja itu adalah rekan kerjanya.
Axila yang dibopong oleh Josua segera dibawa ketempat yang aman, rasa sakit yang diakibatkan oleh goresan timah panas itu membuatnya merasa sedikit ngilu.
"Selesaikan tugas kalian, aku tak apa. Jangan khawatirkan aku.!" ujar Axila pada rekan-rekannya, Daren langsung memberitahukan jika masih ada beberapa orang yang berada disana. Dony, Josua, Dara dan para pengawal itu langsung mengarahkan perhatian mereka untuk melumpuhkan musuh.
Namun satu dari antara mereka sudah meninggalkan tempat. Ia sudah melihat wajah dibalik masker itu, orang yang sudah membunuh tangan kanan dari bosnya.
Dan sialnya lagi, ia sempat mengambil gambar Axila untuk diserahkan pada bosnya.
Letkol Bobby menyuruh mereka untuk mundur karena pihak berwajib telah tiba dan akan melanjutkan tugas mereka.
Misi mereka kali ini dibilang berhasil, karena telah mengamankan Gubernur kota N. Meskipun tragedi tadi harus terjadi dan ketua mereka mendapatkan luka.
__ADS_1
Axila dibawah kemarkas oleh rekannya. Mereka telah meninggal bandara karena misi mereka hanya untuk mengawal disana saja, sisanya oleh para polisi dan yang lainnya. Mereka sudah tak peduli lagi.
Begitu melihat Axila yang telah meninggal bandara, Levi dan anak buahnya juga ikut meninggalkan tempat persembunyian mereka.
Levi saat ini sedang diterpa kebingungan yang sangat mendalam. Wanita nya adalah orang yang seharusnya menjadi musuhnya.
Mengapa?
Karena pastinya, dia akan selalu berurusan dengan pihak-pihak tertentu dan mungkin saja akan berhadapan dengan Axila saat ia menjalankan pekerjaannya di dunia mafia.
"Ini sulit" gumam Levi.
Axila duduk diatas sofa singel, baju yang tadi ia gunakan untuk penyamaran sudah dilepaskan oleh Dara. Axila melepaskan lapisan kain yang menutupi tubuh bagian atasnya, meninggalkan baju tipis yang ia gunakan sebagai lapisan **********.
Empat pria itu menatap lengan Axila yang mengeluarkan darah, ada juga darah yang telah kering dan membasahi sebagian bajunya.
Daren menatap ngilu saat Dara membersihkan luka goresan yang diakibatkan oleh peluru tadi. Untuk saja peluru itu tak bersarang disana, jika tidak mereka pasti akan melakukan operasi dimana untuk mengangkat peluru itu.
Dara, wanita itu untunglah bisa melakukan pertolongan pertama dan menjahit luka. Jika tidak, mereka pasti akan pergi ke klinik ataupun rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan bagi Axila.
Sedangkan orang yang bersangkutan, ia hanya meringis saat Dara menjahit dan menyatukan luka yang menganga itu.
Axila sudah terbiasa mendapatkan luka saat dimedan perang, entah itu dari pedang ataupun anak panah yang menyayat kulitnya.
Tiba-tiba terdengar dering dari ponsel milik Axila.
"Siapa?" tanya Axila.
Dony yang mengangkat ponsel Axila melihat siapa yang saat itu sedang menghubunginya.
"My little Brother." balas Dony.
"Tolong keraskan volumenya." ujar Axila yang langsung dituruti oleh Dony. Setelah ia menggeser ikon hijau, ia mengeraskan volume sehingga semua orang bisa mendengarkan suara itu.
"Noona..."
"geulae, museun il-iya." *Ya, ada apa* balas Axila, ia menetralkan suaranya saat ini.
"Kau baik-baik saja?" (Anggap aja ini make bahasa Korea)
suara Azka terdengar sangat khawatir, kening Axila mengerut. Ada apa dengan anak itu?
"Aku baik-baik saja, apa terjadi sesuatu?" tanya Axila.
"Tak ada, aku baik-baik saja tapi entah kenapa aku tiba-tiba merasa khawatir dan takut terjadi sesuatu padamu.
Apa kau sungguh baik-baik saja?" Pertanyaan itu kembali dilontarkan oleh Azka. Sementara semua orang menatapnya dengan tak mengerti apa yang dibicarakan oleh keduanya.
"Ya, aku baik-baik saja. Jangan khawatir." balas Axila lagi.
"Syukurlah jika memang benar, tapi aku tak akan baik-baik saja jika belum melihat Noona."
"Aku akan kembali sebentar lagi, jangan khawatir dan tetaplah bersama asisten Kang di rumah. Aku tutup telponnya." ujar Axila, panggilan itu terputus saat Axila menyuruh Dony untuk menutup panggilan itu.
"Apa sudah selesai?" tanya Axila pada Dara, wanita itu mengangguk karena memang telah selesai dengan pengobatannya.
"Baguslah. Aku akan kembali, adikku sudah khawatir dirumah." ujar Axila, ia langsung pergi dari sana setelah mengenakan kembali bajunya yang baru lagi.
__ADS_1