Perjalanan Waktu Putri Mahkota

Perjalanan Waktu Putri Mahkota
Siapa kau? Berani sekali membuatku tertarik


__ADS_3

Kembali pada Axila yang saat ini sedang berada dalam ruang guru dan ditatap oleh beberapa pasang mata. Tentu saja ruang guru sedikit sepi, karena saat ini sedang berlangsung jam pelajaran.p


"Ma-maaf nona, sebenarnya apa.yang anda lakukan disini?" tanya seorang wanita yang duduk didepan Axila.


Axila mengeluarkan satu amplop cokelat dan melemparnya diatas meja guru itu.


"Aku kesini untuk membayar biaya pendidikan adikku selama satu semester yang selalu ditundanya."


"Adik? jika boleh tahu, siapa adik nona?" tanyanya dengan sedikit ragu.


"Azka Leon Remanov. Siswa yang selalu kau tagi uang semesternya, bukankah aku betul?!" tekan Axila, sungguh kesal pada wanita yang saat ini sedang duduk berhadapan dengannya.


"Hei, tidak bisakah kau lebih sopan sedikit pada Bu Ra--"


"Aku tak bisa! Bersikap kasar adalah keahlian ku asal kau tahu." sambung Axila cepat, dia bahkan menatap tajam guru yang berani bicara.


"Bukankah kalian selalu menghina adikku? lantas dimana lagi suara kalian yang selalu meneriaki namanya hanya karena uang sepotong ini?!" bentak Axila, dia bahkan menggerebak meja guru yang menjadi wali kelas adiknya.


"Kau!" tunjuk Axila pada wanita yang sedang ketakutan itu, "Jika kau berani melakukannya lagi akan ku pastikan, suami dan anakmu melihat wajah selingkuhanmu yang saat itu sedang berada diatasmu dalam keadaan tanpa busana. Bukankah kalian sangat menikmatinya?" ancam Axila, dia tersenyum dibalik maskernya.


Semua guru yang mendengarnya menatap kearah guru itu dengan tak percaya, huh. Ada kasus baru lagi ternyata, bahkan kepala sekolah yang saat itu sedang berjalan menuju ruangannya menghentikan langkahnya untuk mendengarkan ucapan Axila.

__ADS_1


"Bu kang! datang keruangan ku sekarang!" panggil Kepala sekolah dengan nada suara yang sudah melonjak.


Axila menutup mulutnya dengan tangannya, padahal sudah berada dibalik masker.


"Upss. Ada yang mendengarnya, maaf yah." ujar Axila tanpa rasa bersalah.


"Aku hanya datang untuk membayar uang sekolah adikku, kalau begitu aku permisi dulu." pamit Axila dengan berjalan santai keluar dari ruang guru.


Matanya sempat melirik kearah seorang guru pria yang menatapnya dengan tajam.


"Ah, Pak Choi." Axila membalikkan badannya pada guru itu lalu melangkahkan mendekat.


"Ingatlah, cari tahu terlebih dahulu kebenaran dari suatu kasus dan jangan pernah menyalahkan seseorang tanpa bukti. Jika tidak, kau yang akan kumasukkan sedalam penjara, oke?" umat Axila lalu keluar dari ruangan guru.


Pria dengan wajah orang asing khas Spanyol, mempunyai hidung mancung dan bibir yang tampak seksi. Rambutnya ditata rapi, bahkan dia terus mengenakan jas kasual yang harganya sangat fantastis.


Mata hijaunya membuat siapapun bisa tenggelam didasar yang paling dalam, wajahnya terlihat dingin dan tak tersentuh.


Bahkan dia sendiri saja didalam ruangan ber-AC tanpa ditemani oleh siapapun, entah itu wanita penghibur ataupun lelaki yang menemaninya meneguk anggur mahal.


Ditangannya ada satu gelas anggur, dia menikmatinya dengan tenang tanpa ada gangguan.

__ADS_1


Merasa bosan dengan suasana yang begitu-begitu saja, dia berdiri dan meninggalkan ruangan yang membuatnya merasa nyaman, dan kini berakir didepan club malam sambil memandangi beberapa sudut kota yang ramai dengan pengunjungnya.


Kakinya melangkah menjauh, mencari kesegaran tersendiri. Hingga tiba disalah satu lorong yang terlihat remang matanya menangkap beberapa sosok pria yang saat itu saling mengejar.


Salah satu diantara mereka memegang erat satu kotak yang entah berisi apa, yang pastinya dia sedang dikejar oleh segerombolan pria.


Levi Alexander, itulah namanya. Dia masih terus mengamati pria yang saat ini sedang dikeroyok oleh yang lebih kuat Darinya lagi pula pria itu adalah gelandang yang sudah dua kali Levi lihat.


Gelandang itu memegang erat kotak yang sudah terbuka kuncinya, dan berhamburan lembaran-lembaran uang kertas yang entah berapa jumlahnya.


Baru saja kakinya akan melangkah dia dikejutkan oleh seseorang yang berlari dari sampingnya dengan cepat, lalu melompat dan membuat beberapa orang terpental kebelakang.


"Cih, terlalu lemah. hanya berani pada mereka yang lemah, kuberikan saran. Carilah lawan hangb setimpal." ujar orang yang menggunakan Hoodie berwarna hitam, wajahnya tak tertutupi oleh masker sehingga Levi dapat melihat wajahnya.


"A girl?" gumam Levi yang sedikit terheran-heran, bagaimana tidak. Wanita itu dengan mudahnya menjatuhkan lawannya hanya dengan beberapa pukulan dibeberapa titik tubuh mereka.


Terlebih lagi saat salah satu dari mereka ada yang memegang tongkat baseball lalu memukulnya dari belakang, namun gadis itu malah membuat gerakan kayang, lalu melompat dan melayang seperti seekor burung merpati, kakinya ditekuk sebelah untuk menghantam rahang bawah lawannya.


Levi benar-benar kagum dan tertarik pada gadis itu, senyum tipis terukir diwajahnya. Ini adalah kali pertama seorang Levi Alexander tersenyum. Pria kejam dan tak berperasaan itu akhirnya dapat tersenyum saat melihat seorang wanita.


"Menarik." gumamnya, namun siapa jika gadis itu menatapnya dengan tajam sebelum membantu si gelandang bangkit dari duduknya. Bahkan gadis itu memilihkan lembaran-lembaran uang yang sudah berterbangan, lalu dimasukkan kembali kedalam kotak dan membawanya pria itu pergi dari sana.

__ADS_1


Pertunjukan selesai, Levi juga kembali melangkah dan memasuki mobil mewah berwarna hitam. Tangannya mengambil pena yang menjadi kamera pengawas nya, menyambungkan pena itu dengan laptopnya dan melihat kejadian yang baru saja terjadi.


"Siapa kau? berani sekali membuatku tertarik." gumam Levi yang memandangi wajah gadis itu yang sudah di zoom.


__ADS_2