
"Josua, sekarang!" pekik Axila, Josua yang sudah siap sejak tadi segera keluar dari tempat persembunyiannya.
Dorr!!!
Dorr!!!
Dorr!!!
Dorr!!!
Mendapatkan serangan tiba-tiba membuat mereka tak sempat melawan, ada juga yang langsung mengamankan diri mereka dengan bersembunyi dibalik kotak kayu, mengeluarkan senjata mereka untuk melawan.
Axila bukannya mengamankan dirinya, ia malah berjalan kearah dimana musuhnya ingin menyerang.
Tubuhnya mengelak saat beberapa timah panas tertuju padanya, melompat dan melayang layaknya sedang bermain akrobat dengan gerakan yang sangat lentur, namun gadis itu malah kembali mengembalikan timah panas lagi pada mereka telat di kepala, tangan ataupun bahu mereka.
Josua yang juga ikut bermain terus menarik pelatuknya, mengarahkan timah-timah panas itu pada para pengawal yang berada dilantai dua. Dia seperti sedang bermain game online, dimana dia terus menembak tanpa henti.
Dara yang tugasnya sebenarnya adalah untuk menjinakkan bom juga membantu rekan-rekan nya, dia menarik pelatuk revolver miliknya dan bermain dari balik kotak kayu, terkadang wanita itu menunduk dan kembali mengisi peluru pada senjata api miliknya.
Daren, pria itu membantu rekan-rekan nya dari balik layar, memberitahu Josua dan Dara dimana letak musuhnya, jika Axila ia rasa tak perlu memberitahu karena gadis itu terlalu lincah saat bersaksi.
Tentu saja, Axila menggunakan sedikit Qi yang ia alirkan pada matanya, sehingga terlihat posisi dimana musuhnya berada. Entah yang sedang bersembunyi ataupun berada didepannya yang sedang melawan mereka.
(Seperti teknik Byakugan milik Hinata dalam sireal animasi Naruto)
Pertempuran mereka terjadi selama satu jam lebih, Axila juga harus mengisi kembali peluru miliknya kedalam senjata api yang ia gunakan. Bila tak sempat, gadis itu menggunakan jarum emas miliknya untuk menjatuhkan lawannya.
Daren sendiri Axila perintah untuk mencari tahu dimana keberadaan tangan kanan milik organisasi mafia yang saat ini sedang melawan mereka.
"Josua! Bereskan sisanya!" ujar Axila.
"Mau kemana kau?" tanya Josua disela kesibukannya.
"Kelar*t itu ingin melarikan dirinya." balas Axila, kakinya langsung beralih ke lantai dua dimana orang itu berada.
Josua menurut, ia menghabisi sisa dari lawan Axila, pria itu tak membiarkan lawannya lengah. Saat mereka saling menyerang tadi, terdengar tangisan anak-anak dan perempuan yang berada dibalik kotak kayu yang sudah disusun.
Untung saja kotak-kotak itu sedikit tebal sehingga tak ditembus oleh peluru. Jika tidak, entah bagaimana nasib mereka yang berada didalam sana.
Dony yang sejak tadi terus mendengarkan suara sahutan senjata api hanya menahan dirinya untuk bermain.
__ADS_1
Daren kembali bersuara.
"Al, ini mereka udah siap berangkat." ujarnya pada Axila.
"Kirim virus yang gue ciptain ke mereka, buat mereka kacau!" balas Axila memerintah.
"Sebentar, aku baru belajar sistem yang kau ciptakan dan membutuhkan sedikit waktu lagi" ujar Daren, tangannya berlarian diatas keyboard laptop Axila, matanya menatap tajam pada laptop itu.
"Beres." sambungnya lagi setelah dua menit.
"Bagus!" balas Axila. Kini, gadis itu sudah berdiri didepan pintu yang tertutup dengan rapat, namun gadis itu tahu siapa saja yang berada dibalik pintu itu.
Didalam sana terdapat 10 bodyguard dengan tubuh kekar dan berwajah seram, tangan mereka memegang senjata api yang sangat mematikan.
Dengan posisi yang mengarah pada pintu dan siap untuk menarik pelatuk ketika pintu terbuka.
Dan dibelakang mereka, terdapat tiga pria lainnya. Dengan dua orang yang berada disisi kanan dan kiri, sedang yang ditengah sudah Axila ketahui siapa dia. Orang kepercayaan dari pemimpin organisasi ini.
Namun penglihatannya tertuju pada seorang wanita yang sedang ketakutan dibawah Kungkungan pria itu, dengan tubuh tanpa busana dan sedang ******** ***** pria itu.
cihh!!! membuat Axila tersenyum samar dan merasa jijik pada pria itu.
Axila menendang pintu itu dengan sekuat tenaga, lalu kembali bersembunyi di balik tembok.
Karena saat itu juga pintu terlepas dan menghantam beberapa orang yang berada dibaliknya, sedangkan yang lainnya langsung melepaskan timah panas yang mungkin saja akan bersarang di setiap anggota tubuh nya.
Dorr!!!
Dorr!!!
Dorr!!!
Dorr!!!
Senjata mereka terus mengeluarkan timah panas, namun tak ada orang yang berdiri didepan sana. Namun mereka terus saja menembak.
Axila yang sudah malas meladeni Mereka segera mengeluarkan jarum-jarum emas miliknya dan melemparkannya pada para bodyguard itu, seketika merek tumbang dilantai.
Axila mengambil belati nya yang sejak tadi terselip di antara kedua pahanya, memegang kedua belati dengan kedua tangannya lalu melangkahkan kakinya memasuki ruangan itu dengan santai.
"Yoh.. Yohhh.. Siapa ini?" suara bariton pria yang berada di tengah menyambut Axila saat gadis itu memasuki ruangan itu.
__ADS_1
Pandangan Axila yang tajam seakan menusuk pria itu, suhu di dalam ruangan itu tiba-tiba menjadi panas saat kedatangan gadis itu.
Axila terlihat seram saat ini, namun senyum sinis menghiasi wajahnya.
Kedua pria yang berada disisi kanan dan kiri mengangkat senjata mereka dan mengarahkannya pada gadis itu, namun tak membuat Axila takut.
Dorr!!!
Dorr!!!
Keduanya menyerang Axila, namun gadis itu dengan santainya menangkis timah panas itu dengan belatinya.
Prangg!!!
Prangg!!!
Mata mereka membulat melihat bagaimana dengan santainya gadis itu menangkis peluru yang sudah pasti akan merobek kulitnya.
Begitupun dengan Michael, Letkol Bobby, Jendral Oscar dan lainnya. Mata mereka membulat dan terbelalak kaget, hanya ada percikan api yang keluar ketika peluru dan berlari bertemu.
"Monster!" ujar seseorang dan mengalihkan perhatian mereka pada pria yang entah apa jabatannya.
Kembali pada Axila, gadis itu muak dengan keduanya yang terus menyerangnya hingga kedua belati itu terlepas dari tangannya.
Namun bukan terjatuh kelantai, tapi malah tertancap di ulu hati mereka.
Mata keduanya terbelalak kaget, tangan mereka melepas pistol yang mereka pegan dan menggapai apa saja yang bisa digunakan untuk menahan tubuh keduanya, namun tak menemukan apapun sehingga mereka terjatuh tak sadarkan diri lagi.
"Ka-kau! Monster!!" pekik pria itu, masih tersisa dia yang sadar dan bernafas.
Sedangkan wanita tanpa busana itu terus ketakutan, ia melihat dengan kedua matanya sendiri bagaimana semua orang didalam sana tumbang.
"Jangan salahkan aku karena kau yang memancing monster Psycopat ini datang!" ujar Axila dengan sangat dingin dan menusuk.
"K-kau!" pria itu meraih senjatanya dan mengarah pada wanita yang saat ini ia sekap.
"Jangan mendekat jika kau tak ini wanita ini mati ditangan ku!" bentaknya pada Axila.
Axila tersenyum simpul dibalik masker yang masih setia menutupi sekitar wajahnya.
"Kau mengancam seorang Dewi Perang hanya menggunakan wanita itu?... apa kau yakin?!" tekan Axila.
__ADS_1
"To-tolong se-selamatkan a-aku." ujar wanita itu memelas, matanya membengkak, wajahnya penuh dengan lebam bekas kekerasan fisik, disudut bibirnya terdapat bekas luka.
Axila hanya menatapnya dengan dingin.....