
Axila yang saat itu sedang berjalan-jalan disekitar hotel merasa bosan, dia berjalan lebih jauh lagi hanya dengan membawa dompet dan ponselnya yang berada didalam kantong celananya.
Kakinya melangkah memasuki salah satu mini market dan membuka freezer lalu mengambil satu ice cream rasa susu dan membawa ice cream itu pada si gadis kasir.
Axila keluar dari sana setelah membayar ice cream nya, lalu membuka bungkusan itu dan membuangnya ketempat sampah yang sudah tersedia. Sambil berjalan, Axila menikmati ice cream yang berada ditangannya.
Kakinya melewati salah satu club malam yang terlihat ramai, dengan berada disisi jalan yang lain.
Namun terhenti setelah beberapa langkah didepan sana, terlihat seseorang yang sedang dikeroyoki oleh yang lainnya, dan jumlah mereka yang sebanyak 7 orang mengeroyoki satu. Bukankah ini tak adil.
Axila langsung saja membuang Ice cream yang masih tersisa ditangannya, berlari dengan cepat dan melewati seorang pria yang sedang menatap mereka dari kejauhan seperti yang ia lakukan sebelumnya.
Axila langsung menendang salah satu pria dari belakang, lalu melawan yang lainnya. Dia bahkan masih sempat mengejek pria-pria yang tak seimbang menurutnya. Padahal itu tidaklah seberapa dengan yang sering Axila lawan ketika sedang berperang antara kerajaan, dulu.
Axila mengumpulkan energi Qi ditangan dan kakinya lalu memukul serta menendang lawannya. Pukulan dari Axila sangatlah fatal bagi mereka, terlebih Axila saat itu memang sedang mood down.
Saat salah satu lawannya akan memukulnya dengan tongkat baseball, Axila melenturkan tubuhnya dengan gerakan kayang lalu melompat dan melayang di udara seperti yang dia lakukan dulu. Ini adalah gerakan favorit Axila, sungguh. Rasanya sangat menyenangkan.
Kaki Axila ditekuk dan menendang rahang bawah lawannya, kakinya mendarat dengan sempurna diatas aspal jalanan.
Tatapannya tertuju pada seseorang yang sedang menyaksikan aksinya, tatapan yang begitu tajam. Dia kesal, mengapa banyak sekali orang yang tak mempunyai perasaan lagi dizaman ini. Apa hati mereka sudah mati?
Pria itu bisa langsung menolong orang yang lemah, namun apa yang dilakukannya? Hanya berdiam mematung ditempatnya, apakah itu tatapan kagum? Axila tak membutuhkannya.
Axila mulai mengumpulkan lembaran-lembaran uang yang berterbangan dan berserakan dijalankan. Lalu memasukkannya kedalam kotak yang sudah ia tebak, kotak yang dijadikan oleh pria gelandangan.
"Paman, ikut saja aku. Disini tak aman untuk saat ini." ujar Axila membantu pria itu berdiri dan membantunya pergi dari sana.
"Pengacara Kang. Apa yang terjadi denganmu?" tanya Axila setelah duduk dihalaman mini market. Memang disana disediakan bangku dan kursi untuk duduk dan bersantai.
"Ka-kau mengenaliku?" tanya Pria itu dengan tak percaya. Dengan keadaannya yang sudah begini, masih ada yang mengenalinya. Apa lagi bukan hanya penampilannya yang buruk, namun fisiknya yang sudah tak sempurna, itu sangat tak mungkin.
Axila mengangguk, "Kau hanya perlu menjawab. :Apa yang terjadi pada mu sampai keadaanmu jadi seperti ini, itu saja." ujar Axila santai.
__ADS_1
Pria itu mulai menceritakan apa yang terjadi padanya. Mulai sejak ia tak dipercayai oleh seorang nyonya besar dari keluarga terpandang, dengan tiba-tiba kehidupannya hancur, matanya juga buta karena ada yang dengan sengaja melemparkan pisau pada mata kanannya. Jadilah dia cacat dan menjadi seorang gelandang yang selalu mengemis, mencari makan ditempat sampah bahkan mengambil sisa makanan yang seharusnya menjadi makanan seekor anjing ia makan untuk menahan laparnya.
"Lalu untuk apa uang sebanyak itu, apa untuk operasi penggantian kornea mata?" tebak Axila.
Pengacara Kang mengangguk, "kau benar, nona. Aku sedang menabung untuk operasi mataku."
"Lalu, siapa mereka? mengapa mereka mau merebut uang yang sudah kau kumpulkan itu?" tanya Axila lagi.
"Aku bahkan tak mengenal mereka, setiap bulannya mereka akan datang dan mengambil paksa semua uangku. katanya 'ini sebagai kompensasi karena sudah membuat mantan klienku rugi besar." balas Pengacara Kang.
Axila meremas kaleng minuman yang masih setengah ia minum hingga tumpah sudah semua isinya.
Bagaimana tidak, Axila membaca pikiranan pengacara Kang dan merasakan emosi pria itu.
"Aku bisa membantumu jika kau mau bekerja sama denganku." Ujar Axila layaknya sedang memerintah.
"Membantu? hahahahaaa..." pria itu tertawa dengan miris, "Memangnya kau bisa apa? kau hanyalah seorang gadis yang mungkin saja sedang berkuliah." bukan mengejek, Hanya saja dia ragu pada Axila.
Axila mendesis pelan, "Uang bukan penghalang ku. Kau bisa mendapatkan kornea baru hanya dalam dua hari dan semua biaya itu aku yang tanggung.
Kemudian.
Syuuuutttt....
Mereka akan menemui ajal mereka.
Pengacara Kang menatap Axila dengan tak percaya, apakah yang dikatakan oleh gadis yang saat ini berada didepannya sungguh nyata?
Apapun itu, dia hanya ingin kembali hidup dengan normal sekarang. Bisa melihat dengan kedua matanya tanpa harus berusaha payah dengan satu mata.
"Aku terima! aku terima tawaranmu." ujarnya dengan sangat yakin.
Axila mengangguk, "carilah kamar mandi umum. Lalu bersihkan tubuhmu, terakir kenakan pakaian yang kubelikan." ujar Axila, segera saja dia kembali masuk kedalam mini market, mengambil satu botol sabun mandi, sampo, dan sepasang pakaian yang layak dipakai.
__ADS_1
Tindakan Axila yang serius membuat pengacara Kang sedikit terharu, dia diberi makan, ditawari pekerjaan, bahkan matanya juga mau dioperasi oleh gadis itu.
Entah apa yang akan menjadi tanggungannya.
Axila kembali dengan sekantong belanjaan, lalu menaruhnya diatas meja.
"Pakai itu, aku tunggu kau 1 jam lagi." ujarnya lalu pergi dari sana.
Pengacara Kang segera mencari kamar mandi umum, membersihkan tubuhnya lalu mengenakan pakaian yang diberikan Axila. memang sedikit longgar, namun ia bersyukur akan hal itu.
Pengacara Kang kembali kedepan mini market, disana sudah ada Axila yang sedang menunggu dengan satu mobil Ferrari sedang terparkir disana.
"Ayo masuk, aku harus pulang satu jam lagi." ujarnya, lalu memasuki mobil itu.
Pengacara Kang hanya menurut, tangannya masih terus menggenggam kotak yang miliknya.
Axila hanya menggeleng pelan, lalu mengemudikan mobilnya kearah rumah sakit yang sudah menjadi tujuannya.
Axila menyuruh pengacara Kang untuk mendaftarkan dirinya, biaya ditanggung As Axila. Pengacara Kang mendaftarkan dirinya dikelas ekonomi, yang artinya dia akan sekamar dengan pasien lainnya.
Lebam yang belum diobati itu segera dibersihkan dan diobati oleh para perawat. Axila juga mengatakan jika dia ingin bertemu dengan dokter mata.
Tak dia sadari, sejak tadi ada seseorang yang sedang mengamatinya dari kejauhan.
Saat kaki Axila melangkah dan ingin bertemu dengan salah seorang dokter khusus mata, dia malah dikejutkan dengan seseorang yang memanggil namanya.
"Miss Axila." panggil orang itu.
Axila segera menghentikan langkahnya lalu berbalik, mencari siapa yang memanggilnya.
Tatapannya tertuju pada seorang pria yang berjalan kearahnya.
"Miss Axila, nice to meet you." ujarnya dengan wajah yang sedikit tersenyum.
__ADS_1
"Siapa?" tanya Axila menggunakan bahasa Korea.
"Saya Woon-soo. sekretaris tuan Shin-Young." balas pria itu.