Perjalanan Waktu Putri Mahkota

Perjalanan Waktu Putri Mahkota
Mengambil Alih Hotel


__ADS_3

Cahaya mentari kembali memancarkan sinar nya dengan cerah, membangunkan seorang gadis cantik yang saat itu masih berkelana dialam mimpinya.


Axila menyikap selimut yang menutupi tubuhnya, lalu tak lupa mengucap syukur kepada yang Maha Kuasa karena masih memberikannya menikmati hari yang baru.


Kakinya melangkah memasuki kamar mandi, membersihkan tubuhnya dengan air hangat.


Tak beberapa lama, gadis itu sudah selesai dengan semuanya, sudah bersiap menyambut harinya yang baru, dan pastinya akan ada cerita baru lagi hari ini.


Oh lupa, Justin dan Vano sudah Axila biarkan pulang ke tanah air dua hari setelah mereka berada di Seoul.


Kini tinggal Axila yang masih harus menyelesaikan urusan pribadinya.


Tangan gadis itu mengambil satu kantong kecil yang terbuat dari kain, lalu memasukkannya kedalam tas yang akan dia kenakan Hari ini.


.......


Axila mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, menikmati cerahnya mentari pagi.


Axila mampir kesalah satu caffe, membeli satu cup milk-Tea, dan beberapa potong donat.


Lalu kembali memasuki mobil dan meluncur diatas jalanan.


Mobil Axila memasuki kawasan rumah sakit dan memarkirkan mobilnya ditempat parkiran kendaraan roda empat, lalu keluarlah gadis itu sambil memegang cup milk-Tea dan sekantong donat. Kantongnya bukan terbuat dari plastik, namun semacam kertas berwarna putih.


"Annyeong, Ahjussi." sapa Axila pada tuan Kang yang saat itu sedang sarapan dengan dibantu oleh seorang perawat laki-laki.


"Nona." balas tuan Kang. Kepalanya juga mengikuti arah dimana terdengar langkah kaki yang memasuki ruang rawatnya.


"Selamat pagi, Nona." sapa perawat itu dengan ramah.


"Pagi." balas Axila, tatapannya tertuju pada tuan Kang yang sedang sarapan.


"Baguslah jika Ahjussi sudah sarapan, aku bawakan beberapa donat. Jika mau, makan saja."


Tak lupa gadis itu menyimpannya diatas piring yang baru saja diambil dari dalam lemari, dibawah nakas.


"Kau pasti sibuk, mengapa masih datang kesini?" tanya tuan Kang disela-sela makannya.


Axila meneguk milk-Tea miliknya, "Entahlah, aku juga punya urusan disini. Sekaligus saja membawakan mu donat."


"Tapi aku tak suka yang manis-manis, nona." balas tuan Kang tak enak hati.


"Begitu, baiklah." tatapannya tertuju pada perawat yang sejak tadi hanya mendengarkan mereka, tanpa banyak bicara.


"Kau mau?" tanya Axila.


"Ya?" pria itu menatap Axila dengan bingung.


"Donatnya, kau mau tidak? jika tidak, aku akan membuangnya." ulang Axila.


Pria itu segera mengangguk, "Ya nona. Kasihan jika dibuang, lagi pula terlihat sangat cantik dan enak." ujarnya memuji toping donat yang memang terlihat sedikit lucu.


"Bawa dan makanlah, bagikan juga pada temanmu jika kau mau." ujar Axila.


Pria itu menundukkan kepalanya, "terima kasih, nona. kau baik sekali."


"Hmm." balas Axila.


Tatapannya beralih pada kain kasa yang membungkus kedua bola mata tuan Kang.


"Kapan bisa dilepas?"


"Ye?" tanya perawat, tatapan mengikuti arah dimana Axila sedang melihat.


"Ah, sekitar satu Minggu lagi, nona Karena, operasinya baru selesai kemarin." balas perawat.


Axila mengangguk paham, dia mengeluarkan satu botol obat tetes yang sama dengan yang diberikannya pada Shin-Young.


"Berikan ini pada air yang akan diminum oleh pamanku, dua tetes dimasing-masing gelas air. Kau mengerti?" ujar Axila.


"A-apa itu, Nona?" tanya perawat ragu, dia tak tahu apa merk dari obat yang diberikan Axila.


"Ini vitamin yang kubawa dari negaraku. Ini akan mempercepat pemulihan pamanku, jadi kau tak usah khawatir." balas Axila.


"Lagi pula, aku tak berminat untuk meracuni orang ku, sudahlah kau tak akan tahu."


"Aku akan pergi sebentar, mungkin sedikit lama.


Ada yang harus kulakukan." ujar Axila, kakinya berjalan keluar dan meninggalkan kedua pria itu.


Ruang rawat Shin-Young berada dilantai lima, yang artinya dia hanya perlu naik kelantai atas, karena ruang rawat tuan Kang berada dilantai empat.

__ADS_1


Saat Axila keluar dari lift, kakinya langsung berjalan keluar dengan sangat elegan.


Tangannya membuang cup milk-Tea kedalam tempat sampah tanpa melihatnya.


Disana, sudah berdiri dua orang pria yang langsung membuka pintu saat Axila berjalan kearah mereka.


"Selamat pagi, Nona." sapa mereka, namun Axila hanya mengangguk kepalanya dan memasuki ruang rawat Shin-Young.


Disana, pria itu langsung menatap Axila yang memasuki ruang rawatnya.


"Annyeong, Ila." sapanya sambil tersenyum.


Percayalah, dia terlihat sangat tampan ketika tersenyum seperti itu dan dapat meluluhkan hati para wanita.


Namun tak akan mempan pada gadis yang bernama Axila Lian Remanov, dia hanya menanggapi Shin-Young dengan tatapan datar.


"Hmm."


"Oh, kau masih saja dingin seperti itu." ejek Shin-Young.


Axila menatapnya dengan perasaan jengah.


"Mana sekretaris mu? belum selesai juga?" tanya Axila.


"Ah, paling sebentar lagi sampai.


Duduklah." ujar Shin-Young.


Axila berjalan kearah sofa disudut ruangan, dan menduduki sofa kulit berwarna putih yang empuk itu.


"Bagaimana keadaan mu, sudah baiklah?" tatapan Axila tertuju pada Shin-Young.


"Hmm.


Aku merasa lebih enak dari kemarin." balas Shin-Young dengan menggerakkan sedikit tubuhnya.


"Baguslah.


Kau tak lupa meminum herbal yang kuberikan, bukan?"


"Aku selalu meneteskan lima tetes obat itu kedalam air yang kuminum.


Em, mengapa warnanya seperti emas?" tanya Shin-Young, pria itu mengambil botol tetes dan menatapnya bergantian dengan Axila.


"Oh, ayolah. Aku bukan penyakitan, hanya karena kecelakaan sial itu membuatku harus seperti ini." tolak Shin-Young cepat, ekspresi wajah nya jadi kesal.


"Jadi kau menyesal menolong orang lain, begitu?" tebak Axila.


"Kau gil@?


tentu saja tidak. Aku tak menyesal sedikitpun, setidaknya hidupku berguna untuk orang lain." lihatlah ekspresi nya yang saat ini malah terlihat sedikit konyol dimana Axila.


"Baguslah, kupikir kau hanya tau bersenang-senang saja."


Tak berselang lama pintu kembali terbuka dan Woon-soo memasuki ruangan dengan beberapa orang lainnya.


Mereka tampak terlihat sangat berwibawa dengan penampilan mereka yang terlihat resmi.


Axila masih duduk disana, memandangi lima pria yang mengikuti langkah Woon-soo.


Mereka menundukkan kepalanya pada Shin-Young sebagai tanda hormat.


Dan pria itu hanya menanggapi dengan anggukan kepala dan tak lupa wajahnya yang kembali terlihat dingin tanpa ada seutas senyum seperti tadi.


"Ternyata rumor itu memang benar, syukurlah jika Anda sudah sadar." ujar pria A.


"Semoga saja tuan muda cepat kembali pulih." sambung C.


"Aku akan berdoa agar tuan muda cepat pulih, perusahaan membutuhkan anda." timpal E.


Tapi apa tanggapan dari pria itu, dia hanya menanggapinya dengan anggukan kecil.


"Terima kasih." tatapannya tertuju pada Woon-soo, hanya dengan tatapan pria itu tahu apa yang harus dilakukannya.


"Tuan muda, semuanya sudah siap.


Saya juga memanggil manager hotel Shin Three, kemari." ujar Woon-soo, segera saja seorang pria maju dan menundukkan kepalanya.


Shin-Young hanya menanggapi dengan anggukan, lalu kembali menatap Woon-soo.


Tatapan Woon-soo tertuju pada Axila yang saat itu hanya menatap mereka.

__ADS_1


"Salam nona. Mereka adalah orang-orang yang bertugas di hotel Shin Three.


Saya sudah menyiapkan semuanya, tinggal tanda tangan dan tuan muda. Agar transaksinya selesai, dan juga akan ada wawancara setelah ini." Woon-soo menjelaskan sedikit apa yang harus mereka lakukan, lalu terlihat seorang pria yang membawa kamera untuk merekam terjalinnya pertukaran pemilik hotel.


Axila mengeluarkan kantong kainnya lalu meletakkannya diatas meja.


Woon-soo mengambil kantong kain itu, lalu membukanya dan menumpahkan apa yang berada didalam sana.


Terdengar bunyi seperti bijian yang dijatuhkan keatas permukaan meja, disana terlihat benda berwarna bening yang sangat indah.


"Apa?"


"Daebak."


Semua orang tercengang, mulut mereka terbuka dan sangat terkejut dengan apa yang mereka lihat.


Bahkan Shin-Young dan Woon-soo yang sudah terbiasa dengan melihat benda itu juga ikut tercengang.


Banyak berlian yang berhamburan tak rapi diatas sana, mungkin sekitar puluhan butir.


"Tutup mulut kalian jika tidak akan ada lalat yang masuk kedalamnya." ejek Axila. Dia terkekeh dengan apa yang terjadi didalam ruangan itu.


Semua orang dengan cepat menutup mulut mereka, ada pula yang dengan cepat membuang pandangannya kearah lain.


"Nona, apa ini-"


"Berlian dengan kualitas tinggi dan lebih besar dari ukuran yang biasanya. Bahkan kualitasnya lebih dari yang sering dipajang di toko perhiasan dengan harga fantastis." potong Axila cepat.


"Panggil ahli perhiasan, cepat!" perintah salah seorang diantara mereka., tak percaya dan meragukan berlian-berlian milik Axila.


Hei, itu adalah berlian yang berasal dari dalam ruang dimensinya. Ruangan dengan kemurnian diatas rata-rata.


Dan orang-orang bod0h itu malah meragukan kualitasnya? hahahahaaa. Terdengar sangat lucu.


Ada yang mengambil satu butir, lalu melihat-lihat nya dengan tak percaya.


Ini terlihat asli, dan sangat berkualitas.


Terdengar banyak bisikan yang membicarakan berlian Axila. Sedangkan gadis itu malah memilih untuk memainkan ponselnya dengan santai.


Tak beberapa lama,


Seorang pria memasuki ruang rawat Shin-Young, membuat ruangan itu sedikit sesak, namun mereka masih memberikan ruang untuk pria itu bernafas dengan lancar.


Pria yang baru saja datang dikawal oleh banyak pengawal, namun hanya dua saja yang memasuki ruang rawat sedangkan yang lain menunggu diluar sana.


Keadaan didalam sana menegang, mereka menatap dengan tak sabar apa yang akan dikatakan oleh sang ahli perhiasan terlebih berlian.


Pria itu sejak tadi hanya menggelengkan kepalanya terus menerus.


Pria setengah baya itu kembali meletakkan satu butir berlian diatas meja, dia bahkan menyimpannya dengan hati-hati.


"Bagaimana, Pak?" tanya salah satu dari mereka dengan tak sabaran. Sedangkan yang lain hanya menanti apa yang akan dikatakan oleh pria itu.


Pria baya itu menatap Axila dengan tak percaya lalu mengalihkan pada Shin-Young.


"Aku sungguh sangat terkejut. Ini adalah berlian dengan kualitas yang tinggi, membuat dadaku tak kuat menahan rasa terkejut." dia kembali menatap Axila lagi.


"Nona, dari mana kau mendapatkan semua ini?" tanyanya pada Axila.


"Dari tempat rahasia milikku. Hanya aku yang mengetahuinya." balas Axila terkesan penuh wibawa dan sangat elegan jawaban nya, meskipun membuat semua orang bertambah rasa penasaran mereka.


"Jadi. Apakah aku bisa membeli hotelmu dengan bendaku ini, tuan muda Lee Shin-Young, yang terhormat?" tatapan Axila tertuju pada Shin-Young, seperti sedang menantang pria itu.


"Tentu. Aku akan menjualnya pada temanku, ah.


Calon masa depanku." ujar Shin-Young dengan percaya diri yang sangat tinggi.


Woon-soo segera mendekati Tuannya, memberikan dokumen yang menjadi bukti kepemilikan, ada juga dokumen yang lainnya.


Shin-Young segera menerimanya, lalu menandatangani semuanya, sebagai bukti jika dia akan memberikan hotel itu pada Axila.


Woon-soo kembali berjalan kearah Axila, menaruhnya dengan sopan diatas meja depan Axila.


Gadis itu menuliskan namanya dengan lengkap, lalu segera menandatangani semua dokumen yang ada.


"Mulai hari ini. Hotel Shin Three mempunyai pemilik yang baru. Semua yang bekerja di sana akan tunduk pada aturan yang dibuat oleh pemilik yang baru.


Aku menyerahkan semuanya pada Nona Axila." ujar Shin-Young sedikit lebih panjang dari biasanya.


"Terima kasih, kuharap kerja sama kita bisa berjalan dengan baik.

__ADS_1


Mungkin aku akan membutuhkan bantuan tuan Shin-Young dimasa yang akan datang." ujar Axila.


__ADS_2