Perjalanan Waktu Putri Mahkota

Perjalanan Waktu Putri Mahkota
Makan Siang Bersama


__ADS_3

Axila duduk sendirian disalah satu meja, dengan beberapa orang pengawal di meja yang lain. Aiiss, mengapa mereka tak mau di ajak satu meja saja, sih?


Yah karena mereka sadar, tugas mereka adalah mengkawal Axila, meskipun Axila rasa hal ini tak diperlukan.


Tapi apa boleh buat, jika sang pemilik sebelumnya saja bersikeras memberikan keamanan pada gadis itu.


Seorang waiters datang dan menyapa Axila sopan.


"Selamat siang, Nona. Ada yang ingin dipesan?"


Axila mengangguk, "Aku memesan semua menu makanan spesial ditambah dengan satu orange jus." ujar Axila tanpa mau melihat daftar menu yang diberikan oleh sang waiters.


Gadis waiters yang ingin mencatat pesanan Axila merasa ragu dengan pesanan gadis itu.


"Anda yakin, Nona? saya pikir ini terlalu banyak untuk anda sendiri."


Axila mendongkak dan menatap sang waiters.


"Bukan untukku sendiri, tapi mereka juga." tunjuk Axila pada para pengawal yang sedang duduk di meja sebelah.


Waiters mengangguk paham, dia segera mencatat pesanan Axila.


"Minumnya?" tanyanya lagi.


"Samakan saja." ujar Axila.


Waiters berlalu meninggalkan Axila setelah mencatat pesanan gadis itu, sedangkan Axila memilih untuk memainkan Smartphone nya.


Tatapan seorang pria terus tertuju pada Axila, setelah waiters itu pergi dia bangun dari kursinya dan berjalan kearah dimana Axila duduk seorang diri.


"Boleh aku duduk disini?" ujarnya, namun sudah terlebih dahulu meletakkan bokongnya diatas kursi depan Axila.


Tanpa mau melihat siapa didepannya, Axila menjawab.


"Bukankah masih ada meja yang kosong? Pergilah dari sini." usir Axila.


Sedangkan para pengawalnya sudah ada yang bangun dari duduk mereka saat melihat seseorang datang dan duduk didepan gadis itu, namun Axila mengangkat tangan dan memberikan kode pada mereka jika tidak perlu.


Levi, dia yang dengan lancangnya duduk di meja yang sama dengan gadis itu.


"Kau benar, tapi aku tak suka sendirian. Jadi, bolehkah aku ditemani olehmu?"


Axila mengangkat wajahnya dan menatap Levi dengan malas, "Entahlah dari sini."


"Wah, kau tahu siapa yang sedang berhadapan denganmu saat ini, Nona?" tanya Levi.


"Aku tak mau tahu dan tak tertarik dengan siapa kau. JADI, ENYAHLAH DARI HADAPAN KU." tekan Axila, dia paling malas berhadapan dengan seseorang yang menganggap dirinya hebat atau yang sama seperti Levi lakukan saat ini.


"Hmmtt" Levi mengangguk, "tapi aku mau duduk disini. Pemilik hotel tak mungkin mengusir pelanggannya, bukan?" ujar Levi.


"Cihh!" Axila malas untuk mendengarkan ucapan Levi, segera saja dia memanggil salah satu pengawal.


Salah satu dari 10 orang itu bangun dan mendekat kearah Axila.

__ADS_1


"Ada yang bisa saya bantu, Nona?" tanyanya sopan.


"Bawakan laptopku. Ada yang ingin ku kerjakan." ujar Axila.


"Baik, Nona." pengawal berlalu dan mengambilkan laptop Axila yang dipegang oleh salah satu temannya.


"Bukankah tidak sopan jika makan sambil bekerja?" ujar Levi memberikan pendapatnya, padahal dia sering melakukan hal yang sama jika sedang sibuk.


"Bukan urusanmu. Jadi, Enyahlah dari hadapanku." balas Axila dingin, tatapannya seolah menunjukkan jika dia tak menyukai Levi.


"Sepertinya kau tak menyukai kehadiran ku disini, Nona." ujar Levi.


"Jika kau tahu, mengapa masih berada disini?" balas Axila.


"Apa yang membuatmu tak menyukaiku. Bukankah kita baru bertemu?"


"Baiklah kalau itu pertanyaan mu.


Karena, aku tak menyukai seseorang yang dengan lancangnya mencari tahu data pribadiku yang sudah kusimpan dengan baik" ujar Axila, "Jadi, bagaimana? Apakah file berhargamu bisa diselamatkan dari virus yang kutanamkan pada laptopmu, Tuan Levi?" senyum ejekan diberikan oleh Axila pada Levi.


"DEGGG!"


Mata Levi langsung membulat dengan sempurna. Jadi, dia sudah tahu? pikir Levi.


"Kenapa? Terkejut dengan kemampuan ku, Tuan Levi?" ejek Axila lagi.


Levi mengusap pelan hidung mancungnya sambil terkekeh pelan. "Hahaha...."


"Kau sudah tahu, Nona Axila?


Pengawal kembali dan memberikan laptop Axila, dia meletakkan dengan pelan diatas meja.


Saat menatap Nona nya, dia merasa jika keduanya sudah saling mengenal dan sedang terlibat percakapan serius sehingga dengan cepat dia undur diri dari keduanya.


Sementara dari kejauhan, Daniel terkejut melihat tuannya menampilkan senyum yang dia rasa terlalu mahal pada seorang gadis, pemilik baru Hotel yang saat ini mereka datangi.


"Wah, kurasa akan ada badai yang datang sebentar lagi." gumamnya sambil menggosok tangannya yang merinding. Ini kedua kalinya dia melihat seorang Levi tersenyum.


"Apa? mau bertanya dari mana aku tahu siapa namamu?" ujar Axila, dia melihat Levi yang seperti pemasangan akan sesuatu.


"Kau sepertinya seorang psikolog, yah. Kau bahkan bisa mengetahui apa yang aku pikirkan." balas Levi sambil tersenyum miring.


"Aku bisa membaca pikiran mu, jadi jangan bertanya lagi."


'Bagaimana mungkin?' batin Levi.


"Mungkin saja, karena itu aku" ujar Axila lagi.


"Kau? Bagaimana bisa?" ujar Levi.


'Apa dia vampire?' batin Levi.


"Yah, aku vampire." balas Axila.

__ADS_1


"Oke! Aku mengalah. Kau menang." Levi mengangkat sebelah tangannya keatas, tanda jika sudah cukup dan dia menyerah. Seumur hidup, ini pertama kalinya Levi mengaku menyerah, terlebih lagi pada seorang gadis yang mungkin saja belum menginjak 25 tahun.


"Baguslah." ujar Axila, "Jadi, bisakah kau pergi dari sini?!"


"Mengapa kau selalu saja mengusir ku?" tanya Levi.


"Aku tak tahu.


Mungkin saja karena aku tak menyukai seseorang yang tak menolong orangku saat dia membutuhkan bantuan. Padahal dia mampu dan sedang berada disana." ujar Axila.


"Kau menyindirku?" tanya Levi, dia sepertinya sadar jika Axila menyindir nya.


"Kau sadar juga?" balas Axila.


"Aku bahkan tak tahu siapa orangmu-" ucapan Levi terputus, dia mengingat kembali kejadian malam itu. Dimana terjadi pengeroyokan pada seorang tunawisma.


"Sudah ingat?" ujar Axila.


"Aku tak tahu jika dia itu orangmu." ujar Levi.


Axila memutar matanya dengan malas. Untung saja waiters tadi kembali dan menaruh pesanan Axila, ditambah dengan yang lain yang datang dan menyajikan pesanan Levi.


"Bagikan untuk mereka." tunjuk Axila dengan matanya, mengisyaratkan pada waiters.


"Baik, Nona." Ujarnya, lalu beralih pada para pengawal.


"Wooo. Kami tak memesan, Nona" ujar salah satu.


"Itu memang benar, namun Nona yang memesannya untuk tuan-tuan." ujar waiters sambil tersenyum, temannya yang juga mengantarkan pesanan untuk para pengawal hanya menampilkan senyum ramah pada mereka.


Yang lainnya segera melihat kearah Axila yang juga sedang menatap mereka dari meja seberang, mereka mengangguk kepala tanda terima kasih.


Axila hanya mengangguk pelan, lalu meneguk minumannya.


Semua itu tak lepas dari tatapan Levi, "Kau memesan untuk bawahan mu juga?"


"Mereka juga manusia yang membutuhkan makanan. Mereka sudah bekerja keras dan membutuhkan asupan, bukan?" balas Axila acuh, dia melahap makanan yang sudah tersaji kan didepannya.


"Yah, kau benar" ujar Levi setuju.


Dia semakin tertarik pada Axila, sungguh. Gadis ini sangat berbeda dan tak angkuh seperti para wanita lainnya.


Levi juga mulai melahap makan siangnya, sesekali akan menatap Axila diam-diam.


...____________________________...


...Note...



Salam Damai Natal untuk kita semua, terkhusus nya untuk umat Nasrani.


Merry Christmas and happy new year.

__ADS_1


Dapat salam Damai Natal dari semua tokoh pemeran Perjalanan Waktu Putri Mahkota.


God Bless you 😇🙏


__ADS_2