Perjalanan Waktu Putri Mahkota

Perjalanan Waktu Putri Mahkota
Chapter 103


__ADS_3

Deru mesin mobil membuat Azka berlari ke balkon kamarnya, mengintip siapa yang datang.


"Akhirnya." gumam Azka, ia melangkah turun kebawah dan meninggalkan kamarnya.


Levi, pria itu turun dari mobilnya terkesan sangat keren, melepas kacamatanya lalu memegangnya beserta smartphone nya, sedangkan kunci mobil sudah ia masukkan kedalam kantong celananya.


Levi melangkah menuju pintu yang sudah terbuka lebar, ia disambut oleh seorang pelayan yang mengantarnya keruang tamu dan menunggu Azka tiba dibawah sana.


"Silahkan duduk, Tuan. Saya buatkan minumnya dulu." ujar wanita yang menjadi kepala pelayan dirumah itu, Anna.


Levi mengangguk sebagai jawaban, membiarkan pelayan itu mengambilkan tamunya minuman.


"Kak Levi." seru Azka dari anak tangga paling akhir, remaja itu melangkah sedikit lebih cepat.


"Annyeonghaseyo." Azka membungkuk seperti biasa pada orang yang lebih tua darinya, ia bersikap sopan pada pria yang berhadapan dengannya saat ini.


Anna kembali dengan dua cangkir teh yang sudah diseduh beserta beberapa camilan sebagai pendampingnya, ia meletakannya diatas meja dan kembali lagi kebelakang.


"Bagaimana kabarmu?" tanya Levi berbasa-basi, sebenarnya ia penasaran dengan kabar Axila dan bukan Azka, ia ingin mengetahui perkembangan kesehatan dari gadis itu.


"Aku baik, Noona juga." ujar Azka, ia menjawab sekaligus dengan kabar sang kakak.


Levi mengangguk, "lalu, bagaimana kondisi kesehatannya?"


"Semakin membaik, bahkan aku merasa Noona sudah sembuh dan seperti tak pernah mengalami peristiwa kemarin." ujar Azka.


Mereka berdua mengobrol di ruang tamu, sedangkan Axila berada diruang kerjanya saat ini.


"Bagaimana?" tanya Axila.


"Aku menemukan sesuatu, sepertinya ini berkaitan dengan misi kita yang lalu." ujar Daren dari seberang sana.


"Misi yang lalu?"


"Ya, kau masih ingat, 'kan? Saat kita menggagalkan transaksi dan pengiriman wanita sebulan yang lalu?" tanya Daren, mata pria muda itu sedang menatap layar laptopnya, dan saat ini dia sedang berada di markas Red Velvet.


"Jadi-"


"Kita membuat mereka rugi besar, ditambah seluruh anak buahnya kau dan yang lain habisi. Namun, sepertinya pemimpin mereka dendam padamu karena telah membunuh tangan kanan nya." jelas Daren.


"Kau mengetahui sesuatu tentang mereka?" tanya Axila.


Daren mendesah pelan, "tidak ada apapun yang aku dapatkan. Hanya satu."


"Apa itu?" sambung Axila cepat.


"Tato."


"Tato?" apa mungkin anggota dari organisasi itu memiliki tato khusus? pikir Axila.


"Yah, tato," balas Daren, "coba kau lihat sendiri. Sudah ku kirimkan gambarnya padamu."


"Baiklah." Axila segera mengecek laptopnya yang baru saja menerima Email dari Daren.


Dibukanya Email itu dan terlihat jelas gambar yang digandakan.

__ADS_1


"Elang dengan lingkaran emas?" ujar Axila.


"Yah, gambar yang pertama aku temukan ditubuh orang yang kita habisi saat berada dalam misi yang pertama.


Dan gambar yang kedua, kutemukan pada orang yang menyerangmu beberapa hari yang lalu." jelas Daren.


Kening Axila mengerut, sudah ia tebak.


"Ternyata memang mereka." gumamnya.


"Kau juga pasti sudah menebak nya, bukan?" tanya Daren.


"Hmmt.


Mereka pasti mencari tahu siapa kau, namun tak menemukan apapun."


"Penyerangan di bandara juga dilakukan oleh mereka." ujar Axila memberitahu.


"Maksudmu?" Daren tak mengerti.


"Orang yang berhasil melukaiku, ia menggunakan senjata Laras panjang. Tak berniat membunuh, hanya memberikan peringatan saja.


Kurasa, dia melihat wajahku sehingga langsung mencari tahu informasi ku dan-"


"Menemukan jika kau adalah kakak dari salah satu YouTubers, Azka… Begitu?" potong Daren cepat.


Axila mengangguk, "kau benar." ujar Axila. Sejak tadi mereka bicara tentu saja lewat ponsel, meskipun Daren tak melihatnya tapi Daren tahu jika saat ini Axila pasti sedang dalam mode serius.


Yang dimana Sangat menegangkan, untung saja tak berhadapan langsung jika tidak mungkin dia telah gemetar ketakutan karena aura Axila yang sangat mendominasi.


"Akan ku hubungi lagi nanti." panggilan itu berakhir, dimana Axila yang mengakhiri panggilan itu.


Axila sudah menduganya, firasatnya tak pernah salah.


Dan sekarang, karena dia Azka juga berada dalam masalah.


Axila memijit pelipisnya, dia tak bisa membiarkan Azka berada dalam bahaya karena dirinya.


Jangankan Azka, saat berada di Zamannya dulu, sang kakak tak pernah berada dalam bahaya.


Jika itu terjadi, maka bersiaplah orang itu untuk menghadap Yang Maha Kuasa.


Ketukan pintu membuat Axila menarik kembali auranya, "masuk!" seru Axila.


"Nona, cokelat hangat, Anda."Anna, wanita itu masuk tak lupa memberikan salam. Wanita itu meletakkan secangkir cokelat hangat dengan beberapa Cake.


"Apa yang sedang Azka lakukan?" tanya Axila.


"Tuan muda kedatangan tamu, Nona." balas Anna.


"Tamu? siapa?"


"Sepertinya dia teman Nona, saya pernah melihatnya beberapa kali datang kesini." balas Anna.


Axila mengangguk, "kau boleh kembali, Anna."

__ADS_1


Axila sedikit penasaran dengan siapa tamu Adiknya, kebetulan pekerjaannya telah selesai, ia segera beranjak dari ruang kerjanya dan berlalu ke ruang tamu.


Pendengarannya menangkap Azka yang saat itu sedang bercerita dengan suara yang terdengar semangat.


"Noona.


Tipe wanita yang aku sukai adalah seperti Noona ku." ujar Azka.


"Axila? mengapa bukan wanita lain?" tanya Levi yang terdengar sedikit penasaran.


"Karena Noona adalah wanita yang anggun dan bukanlah wanita manja, mandiri, penuh dengan keberanian dan yang pastinya adalah Sangat menyayangiku." ujar Azka panjang lebar


"Kau benar, dia wanita yang sangat berbeda," Levi setuju.


"kau mengatakan jika dia adalah wanita yang pemberani, apa yang membuatmu terkagum-kagum padanya?" lanjut Levi.


Azka mengingat kembali pertemuan pertama mereka ketika kakaknya masih mengawasinya dari jauh.


"Sebenarnya, aku juga telah melupakan bagaimana bentuk wajahnya. Karena saat terakhir kali kami bertemu, aku masih anak kecil." Jeda Azka, "waktu itu, aku melarikan diri dari rumah dan ditemukan oleh Hyung Bin....." Azka terus bercerita bagaimana dia bisa melarikan diri dari rumah.


Sedangkan Axila, ia hanya mendengar saja sambil melangkah mendekati mereka, tanpa disadari oleh keduanya Axila sudah berada disana.


"Omo!" Azka mengusap dadanya karena terkejut, bagaimana tidak?


Kakaknya tiba-tiba saja sudah berada tepat disampingnya sambil menikmati sesuatu yang menyeruak masuk kedalam indera penciuman nya.


"Cokelat?" tanya Azka, tak mendapatkan jawaban dari sang kakak membuat Azka meraih tangan kakaknya lalu meneguk minuman sang kakak.


"Hei...hei... ini punyaku, kenapa diminum?" ujar Axila ya g sedikit kesal karena tingkah Adiknya.


"Sedikit saja," ujar Azka pada kakaknya.


"Bik Anna, tolong buatkan aku cokelat hangat juga!" pekik Azka dan mendapatkan sentilan kecil dari kakaknya.


"Panggil dan minta tolong, bukan berteriak seperti itu!


Sudah berapa kali aku bilang, huh?" Axila sedikit gemas dengan tingkah Azka yang ini, dia selalu mengingatkan Azka untuk tetap menghargai orang-orang yang bekerja di rumah ini.


"Iya, baiklah. Aku minta maaf." balas Azka, ia mengusap pelan kepalanya yang menjadi target sentilan kakaknya.


Levi yang sejak tadi menyaksikan kedua kakak beradik itu terkekeh geli, bisa juga Axila memarahi Adiknya karena hal ini.


Tapi hal ini memang harus ditanamkan pada remaja usia Azka agar tetap menghargai orang lain.


Pikir Levi.


"Lalu, bagaimana cara kalian bertemu padahal kau melarikan diri dari rumah." Levi memang sedikit penasaran juga dengan cerita Azka tadi.


"Noona mengintai ku dari sekolah hingga tempat tinggal ku saat itu." balas Azka, ia sekarang malah menatap penasaran pada kakaknya.


"Apa?" tanya Axila.


"Apa waktu itu Noona sudah menyiapkan semuanya untukku?


Ponsel, uang, makanan dan yang lainnya."

__ADS_1


Axila mengangguk santai.


__ADS_2