
Percayalah, Axila sedang kesal saat ini.
Kakinya memang mengikuti langkah ketiga pria yang berjalan bersamanya, Woon-soo dan dua pengawal lainnya.
Tuan Lee, ah. Pria itu membuat Axila menjadi kesal, bahkan sangat kesal.
Bagaimana tidak, dia bersikeras dengan ucapannya, yaitu membawa Axila kedalam ruang rawat Shin-Young.
Setelah menunggu tiga jam setengah, operasi tuan Kang akhirnya selesai juga. Mereka bahkan sudah memindahkan pria itu kembali keruang rawatnya yang baru. Axila ingin agar tak ada yang mengganggu orangnya, jadilah dia memesan satu ruang VIP sebagai ruang rawat tuan Kang.
Namun siapa sangka, Woon-soo sudah kembali berada didalam ruang rawat pria itu dan meminta Axila untuk datang keruang rawat Shin-Young.
Lagi pula, tuan Kang masih belum sadarkan diri, pria itu masih berada dibawah pengaruh obat bius.
Langkah kaki Axila kembali memasuki ruangan, setelah dibuka pintunya oleh salah seorang yang menjaga dari luar.
Mata Axila tertuju pada sosok yang saat itu sedang berbaring, matanya bertemu dengan Axila yang saat itu juga menatapnya.
Kaki Axila kembali berayun kedepan, berjalan menghampiri bangsal yang sedang terbaring seorang pria tampan dengan wajah pucat nya.
"Baguslah jika kau sudah bangun, kupikir tadi aku akan dibunuh oleh serigala lapar." ujar Axila menyindir tuan Lee, yang saat itu juga berada disamping bangsal Shin-Young. Pria itu mengepalkan tangannya karena sindiran dari Axila.
"Terima kasih." ujar Shin-Young pelan, namun ditangkap oleh telinga Axila yang tajam.
"Untuk?" tanya Axila acuh.
"Karena telah membangunkan ku."
"Dari mana kau tahu kalau itu aku?"
"Aku merasakannya, kehadiran mu disini. Sebelum aku kembali terbangun." balas Shin-Young dengan suaranya yang masih lemah.
"Hmm." Axila mengangguk, "Bagaimana keadaanmu?"
"Hahaha.." Shin-Young terkekeh pelan, "ternyata kau pengertian juga, yah.
Oppa mu ini baik-baik saja."
"Oppa?" kedua kening Axila mengerut, "aku rasa kita tak sedekat itu." balas Axila dingin.
"Bagaimana kabarmu, kau baik-baik saja 'kan?" tanya Shin-Young.
Axila mengangkat kedua bahunya, "Kurasa kau tahu jawabannya."
"Nak, sebaiknya kau jangan banyak bicara dulu, kau baru saja bangun." tegur Nyonya Kang.
"Eomma, aku baik-baik saja." balas Shin-Young.
"Dengarkan saja apa yang ibumu katakan, jadilah anak patuh." Axila mengucapkan kata yang sangat menusuk bagi mereka.
"Ila-"
"Diam lah." potong Axila.
"Berapa yang kau inginkan?" sambung Tuan Lee, matanya menatap Axila saat ini.
Axila yang merasa jika pria itu bicara padanya segera menoleh, kedua alisnya menyatu.
"Maksud anda?"
"Berapa yang harus kubayar untukmu." ulang tuan Lee.
__ADS_1
Tangan Axila terangkat dan menunjuk pada Shin-Young, "maksudmu untuk dia? atau" lalu tangannya kembali menunjukkan pada dirinya sendiri.
"untuk tamparan setelah aku membangunkan putramu itu?" ujar Axila.
Shin-Young yang sejak tadi hanya mendengar, kini tatapannya tertuju pada ayahnya dengan tak percaya.
Pria itu menajamkan matanya melihat pada pipi Axila yang masih membekas oleh tamparan tuan Lee.
"Appa?" panggil Shin-Young.
"Jangan bilang kau melakukan itu." tatapan kembali tertuju pada tuan Lee yang saat ini sudah menegang.
"Aku tak membutuhkan uangmu, asal kau tahu itu." potong Axila saat mulut tuan Lee terbuka dan ingin menjawab.
"Aku juga mempunyai banyak uang, meskipun tak sebanyak punyamu. Setidaknya aku masih hidup dengan baik dan bebas." sambung Axila lagi.
"Kompensasi apa yang kau inginkan?" sambung nyonya Kang.
"Eomma!" bentak Shin-Young. Dia tak percaya, kedua orang tuanya malah menyepelekan gadis yang dia sukai.
Axila terkekeh, bahkan dengan kerasnya.
Matanya menatap kedua pasangan suami istri itu dengan senyum sinis nya.
"Ternyata memang benar, hanya ada dua kata yang sangat sulit untuk diucapkan oleh manusia.
"Maaf dan terima kasih" ujar Axila menatap mereka.
Tatapannya tertuju pada Shin-Young, "aku tak menyangka, kau mempunyai orang tua seperti mereka."
Shin-Young menggeleng keras, apa Axila akan pergi?.
"Baiklah, karena kalian bertanya apa yang aku inginkan sebagai kompensasi.
Oh, sekretaris nya harus menjelaskan semua pada nya setelah ini. itu harus. Pikir Shin-Young.
"Ah, aku ingat." jeda Axila, matanya menatap sepasang suami-isteri itu dengan senyum palsunya yang langsung diketahui oleh mereka.
"Aku menginginkan salah satu hotel mu yang berada di negara ini." ujar Axila dengan senyum kemenangan.
"Kau-"
"Apa? kau pikir aku mau memintanya secara gratis padamu? cih" potong Axila cepat.
"Aku masih mempunyai harga diri yang harus dipertahankan, asal kau tahu itu.
Aku hanya meminta agar kau menjual hotel mu padaku, bukan secara gratis.
Karena aku tak mempunyai rumah di negara ini." ujar Axila dengan dingin, bahkan membuat mereka jadi merinding karena hal itu.
"Aku akan menjualnya padamu." sambung Shin-Young, dia menatap pada kedua orang tau dengan tak percaya. "Aku menjual padamu, mana yang kau inginkan?"
Tuan Lee dan nyonya Kang menatap putra mereka dengan tak percaya, apa keduanya sungguh sudah saling mengenal bahkan dekat?
"Aku pikir kau sama seperti kedua orang tuamu yang memandang seseorang dengan harta, ternyata tidak." balas Axila pada Shin-Young.
"Nomor tiga, aku ingin hotelmu yang nomor tiga." sambung Axila lagi.
"Baiklah, kau mendapatkan nya." potong tuan Lee, berani juga gadis itu.
"Berapa harga yang kau mampu?"
__ADS_1
"Aku tak tahu berapa harga yang harus kubayar pada kalian, tapi akan kubayar dengan batang lain bukan dengan uang."
Axila menatap pada Shin-Young.
"Jadi, siapkan semuanya karena aku akan kembali besok, aku hanya ingin hasil yang bersih."
Axila mengeluarkan satu botol kecil berwarna putih, seperti botol obat tetes.
Lalu berjalan mendekati Shin-Young.
"Teteskan ini pada air yang akan kau minum, ini obat herbal yang aku buat sendiri." ujar nya, lalu menatap kedua orang tua Shin-Young.
"Aku permisi, semoga kau tidur dengan nyenyak." Axila langsung saja keluar dari ruang rawat Shin-Young dengan santai, dia hanya menatap pada Woon-soo yang saat itu menyaksikan semuanya.
Kakinya berjalan memasuki lift, dan memencet tombol angka 3. Didalam lift, dia terkekeh dengan apa yang baru saja terjadi.
Tak masalah, lagi pula dia belum menemukan rumah untuk ditempati bersama adiknya. Hotel menjadi lebih baik untuknya, setidaknya Azka mendapatkan pelayanan yang sangat menjamin.
Kaki Axila kembali berayun, berjalan di lorong rumah sakit dan memasuki satu ruangan yang terlihat sepi. Hanya terdapat seorang pria yang sedang berbaring disana.
"Dia belum sadar juga?" gumam Axila.
"Nona?" panggil tuan Kang.
Dia mengandalkan pendengarannya untuk mengetahui siapa yang memasuki ruang rawatnya.
"Ah. kau sudah bangun, Ahjussi?" kaki Axila melangkah kedepan, menjumpai tuan Kang yang berusaha untuk duduk.
Tangan Axila menahan tubuh tuan Kang, "jangan terlalu banyak bergerak dulu, kau belum pulih. Kau mau sesuatu? mau kuambil kan?"
"Aihh, tenggorokan ku terasa kering. Namun tak ada siapapun disini yang bisa kuminta tolong. apa kau memindahkan ku keruangan lain?" ujarnya, sambil mengikuti arahan Axila agar kembali berbaring.
"Ah, sebentar biar kuambilkan minum." balas Axila, tangannya memang menggapai gelas, namun dia membuang airnya didalam salah satu vas bunga dan membiarkan gelas itu kosong. Axila membayangkan sebotol air suci, lalu tiba-tiba muncul ditangan Axila.
Gadis itu segera menuangkan air kedalam gelas, lalu memberikannya pada tuan Kang.
"Minumlah." ujarnya.
"Tembakan mu sungguh benar, Ahjussi. Aku memindahkan mu keruangan lain, apa kau merasa bosan karena sendirian?"
Tuan Kang menerima gelas, lalu menempelkan gelas pada bibirnya dan meneguk setengah gelas air.
"Tidak juga, aku sudah hidup sendiri bahkan tak ada yang membantu selama berbulan-bulan. Aku sudah terbiasa." balasnya, sungguh sangat memilukan membayangkan hari-hari yang dia lalui dengan pilu.
Tak beberapa lama, pintu diketuk dan masuklah seorang perawat yang membawakan makan malam untuk tuan Kang.
"Makan malamnya, Tuan-Nona." ujarnya yang berdiri tepat didepan pintu.
Axila mengangguk, perawat itu segera saja mendorong semacam meja yang mempunyai roda, diatasnya sudah terlihat nampan yang berisi satu mangkuk bubur, sup dan sayuran.
Setelah meletakkan diatas nakas, perawat itu segera berlalu dari sana.
"Ahjussi, makanlah dulu, kalau istirahatlah." ujar Axila, tangannya mengambilkan mangkuk dan meletakkannya diatas meja yang bisa dilihat.
"Nona, ak-"
"Aku akan membantumu makan, jadi menurut saja, oke?"
Tuan Kang mengangguk, dia merasa beruntung Axila menolongnya, bahkan sampai mengobatinya dan mengajakku kerja sama.
Bukankah dia sangat beruntung?
__ADS_1
Axila dengan telaten menyuapi tuan Kang, lalu membantunya membersihkan sisa makanan yang berada disekitar bibirnya menggunakan tissue.
.