
Mata Axila menatap layar tablet yang menampilkan berita tentang aktris, model dan pengusaha muda.
Termasuk berita tentangnya, sebagai seorang pemilik baru Hotel Shin Three. Gosip dan berita tentangnya semalam, yang berada di kantor polisi menjadi trending topik dikalangan pengusaha muda.
Axila memijit pelipisnya pelan, membuat beberapa pasang mata saling melirik.
"Nona, anda baik-baik saja?" tanya salah satu dari mereka. Jin-Na.
Axila mengangguk, "Ya. Aku baik-baik saja."
Matanya beralih pada Azka yang masih terbaring diatas bangsal rumah sakit, dengan selang infus yang melekat di punggung tangannya.
"Dia belum bangun juga?" ujar Axila.
Jin-Na dan Moonbin menggeleng bersamaan.
"Jaga dia sebentar, aku mau mandi dulu." ujarnya, lalu memasuki kamar mandi sekaligus toilet didalam kamar inap Azka.
Selang beberapa menit, mata yang sejak tadi tertutup akhirnya kembali terbuka.
"Noona!.. Noona!..." panggilnya, membuat Jin-Na dan Moonbin segera mendekat, tak lupa memanggil dokter dengan menekan tombol yang berada persis di samping bangsal.
"Kak Jin-Na, dimana Noona? dimana Noona ku, kak?" tanya Azka, matanya langsung menerawang dan mencari sosok yang semalam dipeluknya.
Azka mengguncang tubuh Moonbin, "kak. Dimana Noona, kak?" tanya Azka lagi, namun dia tak melihat sosok Axila yang berada didalam sana. Air matanya langsung saja mengalir dengan deras, menangis seperti anak kecil yang kehilangan permennya.
"Noona... Aku mau Noona..."
"Azka, tenanglah" Jin-Na coba untuk menghibur, dengan menggosok lengan Azka.
Azka memeluk Moonbin disampingnya, "kak. Aku mau Noona....
Semalam dia menemui ku, kak.
Dia memelukku, lalu membelaku di kantor polisi.
Aku tak bermimpi 'kan, kak?" ujar Azka sambil terus menangis.
Saat dokter datang, dia malah menghempaskan tangan dokter yang ingin menyentuh dan memeriksanya.
Keadaan didalam sama menjadi gaduh dan ribut, bahkan beberapa orang pengawal masuk hanya untuk menenangkan Azka yang sedang kacau.
Tiba-tiba terdengar suara pintu yang dibuka, dan keluarlah seorang gadis yang menggunakan handuk kimono untuk menutupi tubuhnya, ditambah dengan satu handuk lagi yang melingkar di kepala nya.
"Ada apa ini ribut-ribut?" tanyanya, suaranya membuat semua orang diam dan melempar pandangan mereka padanya.
"Noona?" ujar Azka, segera saja dia menarik paksa jarum infus yang melekat pada tangannya, lalu bergerak turun dari bangsal dan berlari pada Axila.
"Tuan muda, jangan!" pekik yang lainnya, namun Azka tak mendengarkan mereka.
Axila yang bingung menatap mereka mengalihkan pandangannya pada Azka yang kini sudah menariknya kedalam pelukannya.
"Noona. Kau Noona, kan?" ujarnya dengan suara yang segukan.
Ah, Axila paham.
Kepalanya mengangguk, lalu satu tangannya beralih pada kepala Azka dan mengusap nya dengan lembut.
"Ini aku. Ada apa? apa terjadi sesuatu padamu?" tanya Axila lembut.
Azka menggeleng cepat, lalu mengangkat wajahnya dan menatap mata Axila.
"Aku pikir, aku hanya bermimpi bertemu denganmu.
__ADS_1
Tapi aku senang, kau sungguh berada disini." ujarnya.
Axila tersenyum lembut, kembali mengusap kepala Azka dengan lembut.
"Kenapa kau ribut dengan mereka?"
"Aku-aku-"
"Kembalilah, aku akan menemanimu disini. Oke?"
Azka mengangguk, dia berjalan sambil memeluk Axila dari samping dan meletakkan kepalanya diatas bahu Axila.
Meskipun gadis itu merasa risih, dia tetap membiarkan Azka melakukan apa yang saat ini dilakukan oleh adik dari sang pemilik tubuh.
Azka kembali duduk diatas bangsal rumah sakit, dengan Axila yang saat itu masih berada dalam pelukannya dari samping.
Axila mengangguk, memberikan tanda pada Dokter agar kembali memasang infus pada adiknya, sekaligus memeriksa keadaan adiknya.
Azka tak merespon dokter, bahkan saat dokter kembali memasang infus dipergelangan tangannya yang lain dan membersihkan darah yang keluar dari pergelangan tangan kirinya.
Tatapan hanya tertuju pada wajah Axila, menarik wajah Axila agar menatapnya.
"Ada apa?" tanya Axila lembut, sungguh pemandangan yang membuat siapa saja jadi merasa gemas pada tingkah Azka yang menatap kakak nya dengan polos.
Azka menggeleng, "Apa aku sedang bermimpi lagi?" ujarnya dengan polos, Jin-Na dan Moonbin sampai melongo tak percaya.
'Dasar bocah, mengapa dia terlihat menggemaskan seperti itu.' batin Jin-Na.
'Aiss, dia selalu bersikap dingin namun mengapa jadi seperti bayi?' batin Moonbin.
Axila tertawa gemas, "Maaf, Noona baru menemuimu semalam tanpa penyamaran."
"Penyamaran?" tanya Azka, dia tak mengerti apa yang Axila maksud.
"Ya, Azka. Nona yang menyuruh kami menjagamu, maaf tak menjawab pertanyaan mu waktu itu." sambung Jin-Na yang berada persis didepan kedua kakak beradik itu, namun beberapa meter dari sana.
Jin-Na dan Moonbin juga menatap Axila, mereka lupa akan hal itu sampai tak pernah menanyakan padanya.
"Aku tahu segalanya.
Aku mengintai mu dari sekolah sampai rumah itu, dan ingat kejadian malam itu?
Ada seseorang yang memberikan mu ponsel dan uang"
"Jangan bilang itu-" Azka menatap nya dengan tak percaya, sedangkan Axila mengangguk tanda jika apa yang dipikirkan Azka memang benar.
"Ahh, Noona-a." Azka kembali memeluk Axila, menangis tak percaya. Ternyata kakaknya lah yang menyelamatkan dirinya dari kekejaman kakak tirinya dan teman-temannya malam itu, sudah begitu diberikan uang dan ponsel baru.
Sekarang dia duduk dengan melipat kakinya menghadap Axila, menatap kakak nya dengan penasaran.
"Lalu, apa lagi selain itu?" tanyanya dengan polos.
"Nona mengantarkan makan malam untukmu, sesudah itu kau tahu saja sendiri." sambung Moonbin, karena dia yang menerima paket ayam yang diberikan oleh Axila malam itu.
"Jadi, selama ini yang mengantarkan makanan itu Noona?" tanya Azka, Axila mengangguk.
"Lalu, yang menyuruh kak Jin-Na dan Kak Moonbin menjaga dan mengawal ku itu juga Noona?" tanya Azka lagi, Axila kembali mengangguk.
"Sejak kapan Noona mengintai ku?" tanyanya lagi, sungguh dia sangat penasaran dengan apa yang belakangan ini terasa aneh.
"Emm, sejak hari itu. Setelah aku tiba di Seoul." balas Axila, dia tersenyum gemas dengan wajah Azka yang terlihat sangat polos saat menatapnya.
Axila menyentuh pipi Azka dengan jari telunjuk nya, "mulai hari ini kau merasa bebas dari mereka semua. Kau akan mengikuti ku kemanapun aku pergi, dan bebas dari masalah yang menimpamu.
__ADS_1
Noona yang akan menjagamu mulai dari sekarang." Axila mengakhiri kalimat nya dengan mengusap lembut pipi Azka.
Azka menangkap tangan Axila, lalu menarik kakaknya itu kedalam pelukannya.
"Aku selama ini selalu menunggu mu, Noona.
Aku tahu, kau pasti akan datang dan membawaku pulang."
'Seandainya kau tahu, jika aku bukan kakakmu. Apa yang akan kau lakukan padaku, Azka.
Aku hanya ingin menjaga apa yang masih tersisa dari kakakmu saja.
Inilah yang harus ku lindungi' batin Axila namun biarlah rahasia ini Ia simpan rapat-rapat, biar dia kubur sedalam mungkin agar tak ada yang mengetahuinya.
Suasana didalam sana terasa sesak, Jin-Na dan Moonbin tersenyum akhirnya Axila membawa Azka pergi.
Karena malam itu, saat Azka lari dari rumah. Moonbin lah yang menentukan remaja itu sedang meringkuk kedinginan disalah satu gang yang sempit dan dalam keadaan babak belur, bahkan seragamnya belum diganti.
Malam itu juga, Moonbin membawa Azka kerumah dimana mereka tempati, rumah para anak gangster. Rumah itu biaya sewanya murah, ditambah Azka yang masih SMP membuat mereka memanjakan nya, lalu mengajarinya bela diri.
Azka tak membayar uang sewa kamar, dia hanya perlu mencari uang untuk makannya, sedangkan uang sewa ditanggung oleh yang lainnya dengan selalu mengumpulkan nya dengan rata.
Ada rasa lega dihatinya, adik bungsu mereka akhirnya bertemu dengan orang yang selama ini dia tunggu.
Jika didalam ruang rawat Azka sedang terharu, berbeda lagi dengan diluar sana.
Banyak sekali anak-anak kuliah yang sedang berdesakan didepan pintu, sedang ditahan oleh para pengawal agar tak membuat rusuh.
Hingga salah satu dari mereka berhasil memegang handle pintu dan memutarnya.
Alhasil, semua orang terjatuh kedalam secara bersamaan, termasuk dua orang pengawal yang sedang menahan mereka.
"Bruggg!"
Semua mata yang berada didalam sana langsung tertuju pada pintu yang terbuka lebar, dengan beberapa orang yang terjatuh dan masih ada juga yang berdiri.
"Hei!" pekik Jin-Na, sedangkan alis Axila mengerut menatap mereka.
Mulut Azka terbuka membentuk huruf "O" dan Moonbin memijit pelipisnya dengan sedikit malu.
Para remaja perempuan langsung masuk, tanpa membantu teman laki-laki mereka, bahkan ada yang dengan sengaja menginjak punggung temannya yang terbaring dilantai.
"Minggir minggir" ujar mereka memasuki ruang rawat.
"Haisss! Hei, kau menyakitiku!" ujar yang lain, tapi malah tak dianggap oleh mereka.
Saat mereka bangun dari sana, mata mereka membelalak saat melihat Axila yang masih mengenakan kimono dan handuk yang melekat ditubuhnya.
"Woohh..." ujar mereka, namun mata mereka langsung ditutup oleh anak-anak perempuan agar tak melihat Axila.
Jin-Na juga langsung menghalangi Axila agar tak dilihat oleh yang teman-temannya yang lain.
"Kalau begitu kakak ganti baju dulu." Axila bangun dari duduknya, namun tangan Azka menahan nya.
"Noona mau kemana?" tanyanya polos.
"Ganti baju di kamar mandi?" balas Axila.
"Mengapa harus disana? disini saja." Ujarnya tanpa menyadari apa yang dia ucapkan.
"Azka!" bentak Jin-Na, membuat remaja itu menatap Jin-Na dengan cepat.
"Apa?" tanyanya dengan polos, namun dia langsung menyadari apa yang tadi dia katakan.
__ADS_1
"Cepatlah, aku akan menunggu Noona disini." ujarnya.
Axila menggeleng sambil terkekeh pelan, dia mengambil satu tas yang ada baju gantinya dan berlalu dari sana.