
Axila sudah berada di rumah ketika Azka kembali menelponnya. Mendengar deru mesin mobil yang mendekat, Azka tahu jika itu kakaknya.
Langkah kaki Axila memasuki rumah ketika seorang pelayan wanita membukakan pintu untuk sang pemilik rumah.
"Selamat datang kembali, Nona." sapa nya sambil membungkukkan tubuhnya.
"Terima kasih." balas Axila sambil berjalan memasuki rumahnya yang cukup luas itu. Tentu saja karena orang yang tinggal didalam sana bisa dihitung dengan jari.
Hanya ada sang kakak beradik Remanov, ditambah dengan tiga pelayan wanita, seorang tukang kebun dan yang tersisa adalah supir yang akan selalu mengantar Azka pergi kemana pun remaja itu inginkan.
Axila tak sembarangan memilih orang untuk bekerja dirumahnya, semua orang itu diambil dari rumah Michael, pria itu sendiri yang membiarkan Axila untuk memilih para pekerja.
Azka menuruni anak tangga, melihat sang kakak yang sedang duduk diruang tamu.
"Noona-a" panggil Azka, ia berjalan mendekat.
"Ya, terjadi sesuatu padamu?" tanya Axila namun mendapatkan gelengan dari sang adik.
"Lalu?"
"Entahlah, tapi aku merasa jika terjadi sesuatu padamu dan itu terasa sangat tak nyaman." ujar Azka, perasaan lega menyeruak ketika melihat kakaknya dalam keadaan yang baik-baik saja.
Axila mengangguk sebagai tanda jika dia mengerti. Axila mengeluarkan sesuatu dari balik jaketnya.
"Ini, makanlah." ujarnya sambil memberikan buah yang berbentuk sedikit aneh.
"Apa ini, Noona?" tanya Azka sambil memperhatikan buah yang berada ditangannya.
"Bentuknya seperti apel mini, namun mengapa berwarna putih kertas"
"Aku tak tahu apa nama buah itu, namun terasa manis dan enak." balas Axila, Azka tak lagi berfikir buah apa yang diberikan oleh kakaknya, ia langsung memasukkan buah aneh itu kedalam mulutnya dan mengunyahnya.
"Hmmm.....
Rasanya sangat manis dan enak, aku tak tahu rasa apa ini namun sangat enak, Noona." ujar Azka dengan mata yang berbinar.
Tentu saja rasanya sangat manis dan enak, karena buah itu diambil dari dalam ruang dimensi.
Louis mengatakan jika itu adalah buah yang dihasilkan oleh salah satu pohon yang paling dekat dengan danau teratai, pohon itu tak pernah berbuah namun sekarang ini pohon itu menghasilkan buah meskipun itu hanyalah beberapa saja.
Louis bilang, jika orang yang memakannya akan mendapatkan keistimewaan tersendiri yang akan melekat ditubuhnya dan jiwanya. Orang itu akan merasa energi dari orang lain, niat baik maupun buruk dari orang-orang disekitarnya. Penglihatan dan pendengaran nya jiga akan semakin baik, ditambah dengan pemahaman tentang apa yang ia pelajari.
Axila pikir, itu bagus untuk Azka, sehingga anak itu bisa menghindari sesuatu yang buruk dan akan menimpanya.
Saat diperjalanan pulang tadi ia masuk kedalam ruang dimensi miliknya untuk meneguk air suci didalam sana dan beristirahat sebentar, karena jika dia kembali dalam keadaan yang buruk itu, sudah dipastikan Azka akan sangat panik dan khawatir.
"kau merasakan sesuatu?" tanya Axila pada Azka disamping nya.
Azka mengangguk, "penglihatan ku seperti lebih bersih lagi, dan aku bisa mendengar suara kendaraan diluar sana." ujar Azka jujur, ia merasa sedikit aneh saat ini.
__ADS_1
"Aku hanya akan memberitahu mu ini. Jika kau melihat kepulan asap yang keluar dari tubuh seseorang, maka kau adalah anak yang sangat spesial." ujar Axila.
"Kepulan asap? Maksud Noona?" tanya Azka tak mengerti.
"Kepulan asap yang kau lihat akan membuatmu terhindar dari suatu masalah.
Jika berwarna putih maka, orang itu mempunyai niat yang baik.
Jika asapnya berwarna hitam, orang itu mempunyai niat jahat padamu.
Dan jika berwarna hitam pekat, maka orang itu mempunyai niat membunuh dan itu sangat berbahaya bagimu.
Kau bisa mengerti apa yang aku maksud?" tanya Axila setelah menjelaskan sedikit yang mungkin saja dipahami oleh adiknya.
"Tapi aku tak pernah melihatnya, Noona." ujar Azka polos.
"Mulai sekarang kau mungkin akan melihatnya." balas Axila mengusap kepala Azka.
"Tapi, jika aku tak melihat apapun?"
"Maka orang itu tak mempunyai niat apapun padamu." balas Axila.
"Jadi, apakah itu hanya tertuju padaku saja?"
Axila menggeleng, "orang-orang di sekitarmu. Entah itu dalam lingkungan sekolah ataupun dimana saja kau berada." balas Axila.
"Aku melihat bercak darah dibaju Noona, tapi aku takut untuk bertanya." gumam Azka, ia merasa frustasi sendiri. Dia takut terjadi sesuatu pada kakak nya sehingga menimbulkan luka ataupun apa itu, tapi terlalu takut untuk bertanya karena dari pengamatan nya ia bisa melihat jika kakaknya baik-baik saja dan tak menahan rasa sakit atau apapun itu.
...-------...
Pagi telah menyambut hari mereka, membuat Axila yang saat itu sedang berolahraga di ruang Gym menghentikan aktivitasnya karena merasa sudah cukup, langkah kakinya membawa nya keluar dari sana namun matanya menangkap sosok remaja yang saat itu sedang berada dalam ruang kaca.
Tanpa mengetuk pintu, Axila masuk kedalam sana dan melihat Azka yang saat itu sedang bermain game. Balapan mobil, remaja itu terlihat sangat menikmati permainannya sampai tak menyadari jika kakaknya sudah berdiri dibelakangnya.
"Yah... yah... ahhkkk..
Mengapa aku kalah lagi?" umpat Azka kesal, untuk kesekian kalinya ia kalah dalam permainan.
"Kau suka?" tanya Axila membuat Azka tersentak kaget.
"Noona-a" Azka mengusap dadanya pelan, "aku pikir siapa yang masuk."
Axila terkekeh, "mau yang nyata? Kita bermain sekaligus kau belajar mengendarai mobil.
Mendengar hal itu membuat Azka mengalihkan perhatian nya penuh pada kakaknya.
"Noona becanda? Aku belum memiliki umur yang pas untuk mengendarai mobil." ujar Azka.
"Anak dengan usia yang lebih muda darimu saja sudah ahli dalam balapan, kau mau kalah dari anak kecil?" ujar Axila mengejek.
__ADS_1
Wajah Azka jadi jelek, ia menekuk bibirnya.
"Baiklah. Siapa takut?" balas Azka, ia langsung berdiri dan meninggalkan ruangan yang menjadi studio nya itu. Studio musik dan game, karena didalam sana terdapat banyak alat musik dan komputer dimana tempat itu juga biasa Azka gunakan untuk membuat vidio-vidio nya.
Axila tersenyum tipis, ia juga meninggalkan ruangan itu dan menaiki tangga, masuk kedalam kamar dan mulai dengan ritual mandinya.
Sebenarnya Axila tak ingin Azka belajar mengemudi mobil, tapi mengingat banyak hal yang mungkin saja terjadi kedepannya, Axila melakukan hal ini.
Firasatnya juga mengatakan jika akan terjadi sesuatu kepada mereka berdua, firasat Axila tak pernah melenceng sejauh ini.
...--------...
"Tarik ini, lalu tekan pedal gas nya dengan kakimu.....
Yah, seperti itu.... Pelan-pelan saja....
Tambah kecepatan nya...."
Axila terus menginstruksi Azka yang saat ini sedang belajar mengemudikan mobil, mereka belajar di area balapan yang Axila sewa untuk beberapa jam kedepannya.
Lagi pula, hari ini adalah hari Minggu. Dimana ia menghabiskan waktunya dengan bersantai dan menemani Adiknya. Dan hari ini, Azka belajar mengemudi mobil sendiri, dengan Axila yang duduk disamping Azka.
Setelah beberapa menit Azka masih terlalu kaku, namun setelah itu tidak lagi. Ia semakin menambah kecepatan mobil, semakin lancar saja. Yang tadinya berjalan seperti siput, sekarang seperti kelinci yang berlari dengan cepat.
Mereka menghabiskan waktu selama 2 jam untuk belajar mengemudi, lanjut dengan makan siang di salah satu restoran yang berada tak jauh dari sana.
Azka berceloteh tentang pengalaman pertamanya mengemudikan mobil barusan, merasa gugup dan lainnya. Sedangkan Axila, ia hanya menjadi pendengar setia, sesekali terkekeh karena wajah Azka yang terlihat sangat menggemaskan.
Mereka keluar dari restoran, kembali ke mobil Axila dan pergi dari sana, berencana untuk pergi ke Mall dan menghabiskan waktu disana.
Namun dibelakang mobil mereka, ada mobil Jeep yang mengikuti kedua kakak beradik itu.
Ditengah perjalanan, Axila menyadari sesuatu yang tak beres. Ia sengaja untuk bermain kecepatan dengan mereka, setiap kecepatan itu mengurang maka mobil itu juga sama, saat kecepatan nya meningkat mobil itu juga sama.
Azka, ia pikir kakaknya sedang menguji mentalnya karena barusan belajar mengemudi, namun dugaannya salah ketika matanya melirik kearah kaca spion dan menangkap Jeep hitam yang mengikuti mereka.
Sampai di perempatan, Axila tiba-tiba membelokan mobilnya kearah jalanan yang mulai sepi. Azka tak tahu kemana arah jalan itu, namun ia tahu jika ini bukan jalan menuju Mall.
"Noona-a" panggil Azka, ia melihat wajah serius Kakaknya lalu melihat kebelakang.
"Maaf, aku tak berencana untuk membawamu kedalam masalah ku, namun aku terpaksa." ujar Axila dengan tegas, tatapannya semakin dingin hingga membuat Azka merinding.
Azka tak mengerti, namun ia coba lagi untuk melihat kebelakang. Melihat ada kepulan asap hitam pekat yang keluar dari mobil itu.
Azka tak mengerti, namun didetik selanjutnya matanya membulat.
Ia ingat dengan ucapan kakaknya semalam, asap putih, asap hitam dan yang terakhir hitam pekat.
"Huh?!" nafas Azka langsung tersegal, ini berarti orang-orang itu ingin membunuh salah satu dari mereka, apakah itu dia? Atau Kakaknya?
__ADS_1