
Alex menjelaskan jika akhir-akhir ini dia mendapatkan teror dari orang tak dikenal. Membuatnya tak bisa berkonsentrasi saat bekerja karena orang itu terus mengganggunya, hingga akhirnya tiga hari yang lalu terdapat rumor yang beredar tentang perusahaan nya yang hampir gulung tikar, hal itu menyebabkan para investor menarik dana mereka.
Ucapan Alex terhenti saat terdengar tawa seorang wanita.
keningnya sedikit mengerut tak mengerti kenapa wanita itu tertawa.
"Kau menyukainya?" tanya wanita itu membuat Alex semakin bingung.
"Maaf?" balas Alex.
"Kau menyukai semua itu? Paket yang dikirim," lanjut wanita itu. Alex semakin tak mengerti, mengapa wanita ini malah bertanya seperti itu.
"Saya tak mengerti maksud, Nona,"
"Aku yang mengirimkan semuanya... Semua paket itu, aku yang kirimkan." ujar wanita itu.
Perlahan tangannya terangkat, lalu membuka topeng yang sejak tadi menghiasi wajahnya.
"Lama tak bertemu, Tuan Alex," ia tersenyum sinis pada Alex.
"A-axila?" Ucap Alex tak percaya.
"Sayang.... kenapa dilepas topengnya?" suara Levi yang tak suka terdengar membuat Jackson merinding.
"Axila! Kau? Kau yang mengirim semua itu?!" Bentak Alex, ia sudah tak peduli jika ada Levi didalam sana.
"Memangnya kenapa? Memang aku yang mengirim semua itu padamu, lalu apa lagi?" balas Axila santai.
"Kau! Kau benar-benar gila! Dasar j4lang sialan!" maki Alex,
Levi yang mendengar kata-kata kasar itu langsung tersulut emosi.
Dengan kecepatan langkahnya, ia sudah berada didepan Alex.
Bruggg...!
Bruggg...!
Bruggg...!
"Katakan sekali lagi?!... Aku bunuh kau B4jingan!" pekik Levi
Beraninya B4jingan seperti Alex memaki kekasihnya.
Alex tak bisa melawan, pukulan Levi yang mendadak membuatnya tak mempunyai persiapan.
Axila menahan Levi, matanya menatap tajam pada Alex.
"Dia mangsaku, mengapa kau ambil?!" bentak Axila, ia mendorong Levi sehingga Bria itu terduduk di sofa dengan kasar.
"Aku sudah menunggu saat ini sejak lama, jangan membuatku semakin marah, SAYANG...!" Axila menekan kata 'Sayang' dan membuat bulu kuduk siapapun akan merinding.
Axila melangkah kearah Alex, pria itu sedang menopang tubuhnya aga bisa berdiri.
Axila membelai wajah Alex dengan jarinya,
"Kau tahu Alex?
Aku.... telah menunggu saat ini terlalu lama, hanya untuk membalaskan dendam adikku padamu, dasar pembunuh!" Axila meremas kedua pipi Alex dengan tangannya, membuat Alex meringis kesakitan.
__ADS_1
Bagaimana bisa wanita seperti Axila memiliki tenaga yang sama seperti seorang pria?
Alex tak bisa percaya ini.
Tangannya memegang tangan Axila, ia ingin melepaskan tangan Axila dari wajahnya.
"Lepaskan aku j4lang!"
"Lepas? Kau bilang lepas?" ulang Axila.
"Hahahahaaa...." tawa menyeramkan keluar dari bibir gadis itu.
Bruggg..!
Alex terpental dan membentur tembok saat Axila membuang tubuhnya. Gadis itu hanya menggunakan satu tangannya saja, namun membuat tulang-tulang Alex terasa remuk.
"Sial!" umpat Alex
Axila berjalan mendekat, ia berjongkok didepan Alex dan kembali mengunci wajah pria itu dengan tangannya.
"Kau tahu? Kau telah membunuhnya, membunuh Axila malam itu.
Kau tak mengetahui nya 'kan?!"
Bruggg...!
Bruggg...!
Bruggg...!
Pukulan dan tendangan tak bisa di elak oleh Alex, ia tak bisa membalas pukulan Axila sedikitpun, rasanya tubuhnya terkunci, ia sangat kesakitan karena aura menyeramkan yang sengaja Axila keluarkan.
Ini yang kau lakukan padanya malam itu bukan?!...
Kau memukul nya seperti seekor anjing!
Kau menendangnya seperti bola!
Bajingan! Ku balas semuanya hari ini!
Mati kau b4ngsat!" Teriakan Axila disambung dengan tendangan yang mengenai tepat didada Alex, membuatnya kembali terpental dan menabrak tembok.
Bruggg...!
"Uhukkk... uhukkk..." Alex terbatuk, ia memuntahkan darah segar dari mulut nya, badannya sungguh remuk hanya karena wanita ini.
"Ma...af... maafk..an a..ku... maaf.." ucapan Alex selalu saja tersegal, dadanya terasa sangat sakit, tendangan Axila tak main-main.
"Kau membunuhnya malam itu...
Kau membunuh tunjangan mu sendiri hanya karena j4lang sialan itu!
Kau mencarinya kan?
Baiklah, akan kubawa untukmu." ujar Axila, sudah tak berguna lagi ia memukul Alex, bisa ia tebak jika ada beberapa tulang yang patah karena tendangan dan pukulan darinya.
"Bawa p3lacur itu kemari! Biar kekasihnya melihat wajah menjijikkan itu!" perintah Axila.
Levi dan Jackson yang sejak tasi menyaksikan semua aksi Axila sedikit merinding. Bagaimana bisa gadis itu membuat Alex seperti kapas yang ringan? memukul seperti samsak tinju lalu menendangnya.
__ADS_1
Jackson sendiri merinding melihatnya, padahal semua ini sudah biasa ia saksikan.
Mendengar perintah Axila, Jackson segera keluar dari ruangan itu. Ia kembali setelah beberapa saat, dengan seorang wanita berpakaian minim dan transparan.
Wanita itu dipaksa masuk kedalam ruangan itu, ia melihat wajah yang sangat familiar baginya, namun dalam keadaan yang sangat kacau.
Wajah babak belur, darah yang keluar dari hidung dan mulut, serta pakaian yang acak-acakan.
"Alex...!" ia berlari mendekat, wajah kekasihnya benar-benar hancur.
"Alex... bagaimana bisa kau seperti ini?" ujarnya dengan kesedihan, ia yakin jika kekasihnya datang untuk membawanya keluar dari tempat laktat ini.
"Tentu saja bisa. Karena aku yang melakukan nya," suara yang terdengar familiar membuat Indri melihat kearah sofa, di mana ia melihat orang yang sangat ia kenal.
Axila menatapnya dengan tatapan sinis, wajah yang dihiasi kepuasan.
"Hai... lama tak bertemu," ucapan Axila terdengar polos, namun mengandung arti yang mendalam.
"Axila kau! Dasar j4lang!" umpat Indri.
Axila menatap sinis pada Indri, beraninya wanita itu memanggilnya j4lang padahal dirinya yang seorang p3lacur.
Axila bangkit dari duduknya berjalan mendekati Indri lalu mencekam wajah itu.
"J4lang? kau memanggilku j4lang?
Memangnya kau wanita baik-baik?" ejek Axila, ia menghempas wajah itu kasar lalu menamparnya.
Plakkk..!
Hanya satu tamparan saja membuat kesadaran Indri hampir menghilang, mata wanita itu berkunang-kunang.
"Seharusnya aku membunuh kalian berdua hari ini, agar kita impas.
Kalian membunuh adikku, dan aku yang membunuh kalian." ujar Axila.
"Aku tak pernah membunuh siapapun. Aku-"
"Kau membunuh Axila! Kalian membunuhnya!
Dan aku, aku adalah orang yang membalas perbuatan kalian pada Axila!" pekik Axila, tentu saja yang ia maksud adalah si pemilik tubuh yang asli.
Karena dia adalah orang yang berbeda.
"Maksudmu, kau adalah kembarannya?" sambung Indri.
"Jangan omong kosong! Dia tak punya kembaran, ia adalah anak tunggal!"
"Bagaimana jika kami terpisah? Aku tinggal di tempat yang berbeda selama ini, danndua bersama orang tuaku?
Bukankah ini hal yang bisa terjadi?" sambung Axila.
Axila mendesah, "Lebih baik kalian tak pernah muncul lagi dihadapan ku!
Entah dimana pun itu, jangan pernah terlihat oleh ku. Jika kalian terlihat lagi, aku pastikan kalian akan mati hari itu juga!" ancam Axila, ia melemparkan sesuatu pada Alex
Alex melihatnya, benda itu terasa sangat familiar.
itu adalah kartu debit miliknya.
__ADS_1
"Ambil kembali barang mu itu dan pergilah dari sini sebelum aku berubah pikiran!" bentak Axila.