
Mobil yang dikendarai oleh Axila berhenti tepat didepan gedung hotel yang terlihat sangat mewah. Kedua kakak beradik itu keluar dari sana, dengan pakaian resmi mereka. Mobil diambil oleh seorang pria yang mengenakan pakaian formal, ia membawa mobil itu untuk disimpan di parkiran.
"Apa ini tempatnya, Noona?" tanya Azka.
"Hmmt.. ini tempatnya." balas Axila, Azka memberikan tangannya agar bisa digandeng oleh kakaknya. Mereka melangkah masuk kedalam hotel itu, dan sudah pasti acaranya di adakan di ballroom hotel.
Sepanjang jalan, terlihat spanduk yang memberitahu siapa yang menikah sehingga orang-orang akan mengetahuinya. Dan tentunya itu adalah Mike dengan istrinya.
"Noona, sepertinya Pengantin wanita berbeda dari yang terlihat di undangan." bisik Azka, dan tentunya saja Axila juga menyadarinya.
"Sepertinya memang begitu. Itu bukan hak kita, yang terpenting kita menghadirinya dan mengucapkan selamat untuk mereka." balas Axila, sebenarnya apa yang terjadi pada pria itu? Axila tak menyangka pria itu akan nekat seperti ini.
Mereka memasuki ballroom yang sudah dihiasi sedemikian rupa sehingga terkesan sangat mewah.
Ruangan bernuansa ungu dengan perpaduan putih elegan dan menawan adalah gambarannya, ditambah ini adalah salah satu hotel termewah yang ada di Kota J, hotel yang memang hanya disewakan untuk orang-orang kaya, para sultan. Yang penghasilan nya miliaran sampai triliun perbulan atau pertahun. Dan terlebih lagi, hotel ini adalah milik dari keluarga Anggara.
Saat kedua kakak beradik itu masuk, ada yang menunggu untuk memeriksa undangan, tak ada undangan maka tak bisa masuk.
Azka yang memegang undangan itu segera memberikannya, setelah pria pelayan yang menerima undangan itu melihatnya mereka dipersilahkan untuk bergabung, bahkan diantara ke meja yang sudah disiapkan dengan papan nama yang sudah tertera.
Azka menarik kursi yang akan diduduki oleh kakaknya, lalu bergegas untuk duduk disamping kakaknya.
"Dekorasinya indah sekali." Puji Azka melihat kesegala arah, banyak orang yang juga telah hadir dan yang lainnya baru saja masuk dan bergabung.
"Noona.." panggil Azka.
Axila menoleh, "ada apa?" Tanyanya.
"Apakah ini pesta orang kaya yang sering aku lihat di drama?" Tanyanya polos.
Axila mengangguk, "Ini bukanlah pesta pernikahan biasa. Orang-orang lebih memilih untuk datang untuk berbisnis dari pada berpesta." Jelas Axila.
"Jadi, mereka yang hadir disini adalah para jutawan dan Milioner?" Tanya Azka lagi.
Axila mengangguk, "Jangan merasa rendah. Kakakmu ini adalah seorang jutawan yang menumpuk uangnya didalam gudang." Axila coba untuk membangkitkan tingkat kepercayaan diri Azka.
"Tentu saja. Uang Noona selalu mengalir setiap waktu seperti air." Balas Azka menyetujui ucapan kakaknya.
Seorang waiters mendekat dengan membawa nampan yang berisi minuman berwarna-warni, Axila tahu itu adalah minuman dengan alkohol.
Entah berapa persen alkohol yang terdapat didalam minuman itu.
Axila mengambil segelas, saat waiters itu menawarkan pada Azka, Axila memintanya untuk membawakan bersoda saja karena Azka masih berada dibawah umur, pelayan itu memakluminya dan mengikuti ucapan Axila.
Tiba-tiba lampu mati, semua orang berbisik panik, mengapa bisa mati lampu disini.
__ADS_1
Namun ada yang mengatakan ini pasti disengaja, pengantin pasti akan memasuki aula. Dan benar saja.
Pintu terbuka, dari luar ada cahaya, lalu bayangan seorang wanita yang mengenakan gaun, ditemani bayangan seorang pria berdiri disana.
Semua berdiri dan melihat kearah pintu, penasaran dengan wajah pengantin itu.
Zahra memasuki aula ditemani Mike yang memegang tangan nya, lampu-lampu perlahan menyala mengikuti langkah kaki mereka, dengan lampu sorot yang juga mengarah pada keduanya.
Zahra berjalan dengan sangat anggun diatas karpet merah dengan digandeng oleh Mike, dia terus melihat kedepan, melempar senyum terbaiknya.
Bunyi tepukan tangan terus mengiringi langkah mereka, alunan musik lembut dari piano dan biola mengiringi langkah keduanya dengan sangat romantis.
Hingga mereka berada dipaling depan dan berdiri diatas panggung yang sudah dihias. Memberikan senyum terbaik mereka, namun sepertinya hanya Zahra saja, tidak dengan Mike yang memaksakan dirinya untuk tersennyum.
........
Suasana pesta sangat meriah, alunan musik dari beberapa artis atau penyanyi yang ikut diundang untuk meramaikan acara.
Tamu-tamu yang lain menikmati hidangan yang sudah disiapkan.
Ada juga yang berebut bersalaman dan mengambil gambar dengan kamera yang sudah disiapkan disana, dengan dipandu oleh fotografer.
Azka berjalan kesalah satu stand, mengambil beberapa potong cake yang menarik perhatiannya, sedangkan Axila hanya mengamati Adiknya dari jauh.
Matanya menangkap sosok itu, yang sedang duduk santai sambil meneguk minumannya.
Matanya tiba-tiba menajam saat melihat seorang pria yang sudah tak asing lagi diingatan nya. Pria itu mengajak Axila bicara, bahkan duduk di kursi yang kosong disana.
Azka yang telah mengambil cake kembali ke meja dimana kakaknya berada, namun ia juga menemukan sosok seorang pria disana.
Ia mendekat, "Kak Levi? Kau juga disini?"
Remaja itu duduk disamping kiri kakaknya sedangkan Levi berada di sebalik nya.
Levi mengangguk, "Aku juga menerima undangan nya, apa salahnya jika aku menghadiri undangan ini?" Balas Levi.
"Oh,,
Mau Cake?" Tawar Azka sambil menyodorkan piring berisi cake.
Namun mendapatkan penolakan lembut dari pria itu.
"Ini punya Noona, seperti pesanan Noona tadi." Azka menggeser cake cokelat didepan Axila, membuat gadis itu tersenyum padanya.
"Gomawo."
__ADS_1
Azka mengangguk, ia segera melahap cake yang sudah diambil sambil menikmati suasana disana.
"Kau tak memberikan selamat untuk mantanmu itu?" Sindir Levi karena matanya menangkap mata Mike yang terus menatap mereka dari kejauhan.
"Sebentar lagi, masih terlalu banyak yang memberikan selamat pada mereka." Balas Axila sambil menikmati cake pilihan Adiknya.
Alunan musik yang lembut dan romantis membuat beberapa pria menarik pasangan mereka untuk berdansa, Azka melirik ke arah Levi, menggerakkan matanya seolah-olah mengatakan.
"Cepat ajak Noona berdansa."
"Mau berdansa dengan ku?" tawar Levi yang kini sudah berdiri dari duduknya, dan menyodorkan tangannya pada Axila.
Saat mata gadis itu tertuju pada Azka, remaja itu langsung berdiri duduknya.
"Aku suka cake nya, aku mau mengambilnya dulu." remaja itu menghindar dan memberikan ruang pada keduanya.
Tak masalah, lagi pula hanya berdansa bukan?. pikir Axila.
Ia menerima ajakan Levi, dan pria itu membawanya ke lantai dansa.
Levi merasa sangat senang, bisa berdansa dengan gadis yang disukainya.
Tidak! Bukan hanya suka, melainkan mencintai nya.
Tangan Levi memegang kedua pinggang Axila yang sangat ramping itu, sedangkan kedua tangan gadis itu tertahan di pundak Levi.
Levi seakan ingin memeluk gadis pujaannya itu, ia menarik tubuh Axila agar bisa berdekatan dengannya, membuat gadis itu seolah memeluknya.
"Kau sangat cantik malam ini." bisik Levi ditelinga Axila.
"Terima kasih." balas Axila datar, jangan berharap wajahnya akan memerah karena pujian dan juga posisinya sekarang ini. Tak akan pernah.
Levi menghirup aroma parfum yang dikenakan oleh Axila, tak seperti parfum wanita yang lainnya. Wangi yang sangat lembut dan tak menusuk indera penciuman nya, dan Levi suka ini.
Mungkin akan menjadi candu nya. Ia akan terus mengingat harum parfum yang dikenakan oleh gadis ini.
.
.
.
.
.
__ADS_1