
Tokk...! Tokk...! Tokk...!
Ketukan pintu menyadarkan Azka dari lamunannya, ia melirik sebentar kearah pintu yang masih diketuk dari luar.
"Masuk." ujar Azka mempersilahkan.
Pintu terbuka, menampilkan sosok pria tampan yang berdiri didepan sana. Levi melangkahkan kakinya memasuki kamar Azka,
"Kau sudah baikan?"
Azka menanggapi nya dengan anggukan kecil.
"Makan malam sudah siap, semuanya telah berkumpul disana. Kau ingin bergabung?" tawar Levi.
Azka menggeleng, "tidak. Aku tak lapar." balasnya.
Levi mengangguk pelan, "aku tak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada kalian berdua tapi, sepertinya kau harus mendengarkan penjelasan kakakmu dulu."
"Dia bukan kakakku!" ketus Azka.
"Tapi bukankah dia sudah menjagamu selama ini dengan baik? Aku bahkan tak pernah melihatnya memarahimu sedikitpun, bahkan kau sepertinya mendapatkan semuanya darinya." ujar Levi, "keluarlah dan makan dulu, lambungmu perlu diisi juga." sambbung Levi lagi, ia segera berlalu dari kamar Azka.
Azka mash terdiam dalam kamarnya, memang tak bisa dibihongi, lambungnya mulai terasa perih karena belum diisi sejak kemarin, namun ia juga tak ingin bertemu dan melihat Axila dibawah sana.
Pintu kamarnya kembali diketul, "Masuk." sahut Azka dari dalam kamarnya.
Pintu terbuka dan terliht sosok wanita yang menjadi kepala pelayan dirumah ini, "Tuan muda, ini bibik anterin makan malamnya, soalnya bibik nggak lihat tuan muda dimeja makan." ujar Anna meletakan nampan diatas nakas samping tempat tidur Azka.
Azka tersenyum kecut, "Makasih, Bik" ujar Azka.
__ADS_1
"Sama-sama, Tuan muda, udah kewajiban bibik." balas Anna, "Maaf kalo bibik lancang, tapi..."
"Ngomong aja, Bik. Azka nggak papa kok." balas Azka.
"Tuan muda lagi ribut yah sama Nona? Soalnya bibik juga nggak liat Nona dimeja makan, kursinya kosong." ujar Anna.
"Noona nggakmakan malam?"
"Iya tuan muda. Kayaknya belum balik dari luar, soalnya tadi sore waktu bibik lihat, Nona keluar rumah setelah keluar dari kamar Tuan muda." jelas Anna.
"Makasih, Bik. udah ngasih tahu Azka." ujarnya.
"Sama-sama, Tuan muda. Kalau
begitu, Bibik keluar dulu. Permisi" ujar Anna dan berlalu dari sana.
Pikiran Azka tertuju pada kakaknya, namun dengan cepat ia tepis. Lebih baik ia makan dan kembali istirahat, ia lelah memikirkan semua yang terjadi selama ini.
Begitu juga dengan Azka, ia kembali membuka matanya dari tidurnya yang lelap.
"Sudah pagi?" Gumamnya pelan.
Azka bangun dari tidurnya, berjalan memasuki kamar mandi dan mulai membersihkan tubuhnya dari rasa lengket karena sejak kemarin ia tak mandi, hanya mencuci muka saja.
Saat tiba di lantai bawah, ia melihat Daren yang berada dimeja makan.
Alis Azka mengerut, siapa orang ini? Mengapa dia duduk disana dan menikmati sarapannya?. Pikir Azka.
Langkah kaki Azka membuat Daren menoleh, "kau keluar kamarmu juga. Bagaimana keadaan mu?" Tanya Daren.
__ADS_1
"Aku baik tapi, siapa kau?" Tanya Azka.
"Ah.. benar, kau belum mengenal ku." Ujar Daren pada dirinya sendiri. "Namaku Daren, teman kakakmu. Kami yang menyelamatkan mu dari para penculik itu kemarin lalu." Sambung Daren.
"Dia bukan kakakku!" Ketus Azka mengingat kembali ucapan Axila kemarin.
Kening Daren mengerut, "Bukankah Al itu memang kak-"
"Sudah kubilang, dia bukan kakakku!" bentak Azka, Dony dan Josua yang baru saja memasuki ruang makan jadi tersentak kaget.
"Sekali lagi kau menyebut namanya, akan ku habisi kau!" ancam Azka.
"Hei... hei... ada apa ini? mengapa ribut-ribut?" tanya Dony, ia menarik kursi dan duduk disamping Daren lalu menatap Azka.
"Bukan apa-apa." balas Daren, ia lebih memilih untuk menghabiskan sarapannya dari pada meladeni Dony dan Azka.
Josua duduk disamping Azka, ia melihat wajah Azka yang terlihat sangat ketus dan tak mau menatap mereka.
Anna mendekat, ia menyajikan sarapan untuk mereka semua lalu kembali lagi ke dapur.
Dara keluar dari kamarnya, duduk disamping kanan Dony.
"Kenapa suasananya jadi tegang begini?" gumam Dara pelan, ia tak mengetahui apa yang terjadi sebelum ia datang jadi dia lebih memilih untuk mengambil sarapannya dan menghabiskan sarapannya itu.
"Kita akan kembali, Pak tua itu sudah menyuruhku untuk kembali bersama kalian." ujar Josua disela makannya.
"Really?" sambung Dara.
Josua mengangguk, "Aku tak bercanda. Dia menyuruh kita untuk kembali ke markas, sepertinya ada urusan lagi." balas Josua.
__ADS_1
"Baiklah, kita akan kembali." sambung Daren.
Azka hanya melirik mereka tanpa berminat untuk mengetahui siapa orang-orang yang berada dirumah ini, ia lebih memilih untuk menghabiskan sarapannya lalu pergi kedalam ruang studio, ada kelas yang harus ia hadiri meskipun itu kelas Online.