
Levi tak beranjak dari tempatnya, ia malah duduk di rerumputan yang ada dan tetap menjaga jarak dari Axila karena sedang diawasi oleh serigala itu, hewan peliharaan Axila.
Penasaran? Tentu saja, ia sangat penasaran dengan apa yang dilukis oleh gadis itu.
Hingga akhirnya tangan gadis itu berhenti mewarnai lukisannya dengan cat khusus itu (Cat warna yang sering dipakai oleh para pelukis).
"Kau ingin melihatnya?" Akhirnya gadis itu membuka mulutnya setelah sediakan lama terdiam.
"Boleh?"
Axila mengangguk, "tentu,"
Tatapan Levi beralih pada serigala yang sejak tadi berdiam diri dibelakang Axila, melihat itu Axio mengerti.
"Istirahatlah, sebentar lagi makananmu kuberikan," ujar Axila pada Evan.
Serigala itu mengerti, ia beranjak dari tempatnya lalu berjalan ke sisi taman yang ada pohon rindang nya, dan kembali tiduran disana dengan tenang.
"Sejak kapan kau punya peliharaan seperti itu?" tanya Levi dengan berjalan mendekat.
"Sejak dulu, aku selalu mempunyai hewan-hewan seperti nya disekitar ku," balas Axila tenang.
Levi tiba di belakang Axila, melihat seperti apa lukisan yang dibuat oleh Axila.
[Anggap aja ini lukisan yang Axila buat]
Terlihat sosok pria dengan wajah yang tampan, sepertinya orang yang sangat berpengaruh bagi gadis ini, karena dari tatapannya saja sudah terbukti jika gadis itu merindukan sosok itu.
"Dia?"
"Kakakku," sambung Axila, matanya terus tertuju pada lukisan yang baru saja ia buat.
"Kakakmu? maksudku, kau tak punya kakak disi-"
"Dia adalah kakakku dari kehidupan pertama ku.
Dia bernama Xian Lio Guan, dia adalah seorang Putra Mahkota di zaman ku," jelas Axila.
"Ah, maafkan aku," entah mengapa Levi sedikit menyesal karena hal ini. Dia lupa jika tubuh yang sekarang berada didepannya saat ini mempunyai jiwa yang berbeda, jiwa seorang Putri Mahkota.
Yah, benar... Putri Mahkota.
"Tak masalah, itu bukan salahmu," balas Axila, ia membereskan semua peralatan lukisannya, mengambil lukisan yang baru saja ia buat dan berjalan meninggalkan tempat itu diikuti oleh Levi.
__ADS_1
"Kau pasti penasaran dengan wajahku di masa lalu, bukan?" ujar Axila membuat Levi tersentak kaget, gadis ini yang mengatakannya sendiri.
"Emm.. sedikit," balas Levi namun sebenarnya ia sangat penasaran dengan wajah dan sosok seperti apa gadis ini di kehidupan pertamanya.
"Ikut aku," Axila membawa Levi kedalam ruang kerjanya. Itu adalah ruangan dengan warna kelabu padukan dengan putih, terdapat lemari yang isinya buku-buku dan jumlahnya sangat banyak.
Ada juga lukisan-lukisan abstrak, lukisan berisi pemandangan pedesaan yang sepertinya sangat damai, pemandangan laut, dan masih ada beberapa lukisan lagi.
Axila meletakkan lukisan yang baru saja ia buat, menunggu agar cat nya kering lalu ia akan memajangnya disana.
"Ini ruang kerjaku," ujar Axila membuat Levi mengangguk, namun matanya masih meneliti ruangan itu.
Hingga tatapannya tertuju pada lukisan seorang wanita yang sedang menunggang kuda.
"Dia nenekku, ibu dari ayahku. Nenekku adalah seorang kesatria wanita pertama, namun ia tak terlalu menampakkan dirinya di publik
Hingga akhirnya bertemu bedengan kakekku, menikah dan.. Kau tahu saja lah, ada ayahku lalu kami," suara Axila membuat Levi menoleh, terlihat Axila yang menatap kukisan itu dengan kerinduan.
"Dia yang merawatku sedari bayi, aku hidup tanpa seorang ibu. Ibuku meninggal saat melahirkan ku," mata Axila berkaca-kaca, membuat Levi merasa sedih.
"Jangan dilanjutkan jika kau tak ingin, aku tak memaksamu," ucapan Levi membuat Axila menoleh, ia menggeleng.
"Aku baik-baik saja," balas Axila, "kau harus mengetahui nya jika kau benar-benar mencintai ku 'kan?"
Tentu saja Levi mengikutinya.
Saat kain itu dikarik turun, terlihat lukisan seorang wanita yang mengenakan zirah perang disertai kudanya yang juga ikut di pakaikan zirah khusus, dengan tangan yang memegang pedang.
Sosok wanita itu terlihat sangat gagah, ia terlihat sangat tegas dan juga sangat dingin.
Levi seperti merasakan kehadiran wanita itu disisinya, aura yang sangat agung.
Matanya menangkap sosok Axila yang tubuhnya di selimuti api biru bercampur merah, namun api itu sama sekali tak membakar pakaian yang di kenakan oleh gadis itu.
Ini untuk kedua kalinya Levi melihat Axila yang seperti ini.
"Kau," ucapan Levi tak bisa dilanjutkan, ia sangat terpesona akan Axila saat ini.
"sangat menawan," sambung Levi lagi.
Axila menatapnya, "kau tak takut padaku?" tanya Axila.
__ADS_1
Levi menggeleng, "aku sangat terpesona padamu, semua yang kau miliki. Aku menyukainya.
Aku tak peduli, kau datang dari mana, apa saja yang bisa kau lakukan, dan semuanya.
Aku hanya merasa-"
"Minder karena aku adalah seorang Putri Mahkota, merasa lebih kecil dariku, dan tak tahu apa saja masa laluku. Benar kan?" potong Axila membuat Levi hanya bisa menunduk.
"Aku memberi satu kesempatan untukmu. Agar kau bisa dekat denganku, dan merebut hatiku.
Jika kau bisa, aku akan ikut denganmu." ucapan Axila kali ini mampu membuat Levi tersentak, pria itu menatap matanya dan mencari kebohongan didalam sana.
Namun dia tak menemukan apapun, hanya ada kejujuran.
"K-kau serius? Kau tak menarik ucapanmu kan?"
Axila menggeleng, bahkan wajahnya kini mulai memerah karena Levi terus mencodongkan tubuhnya.
Bruggg...!
Levi menarik gadis itu kedalam pelukannya. Ia sangat senang, ia selalu menunggu kata-kata itu keluar dari bibir mungil gadis ini.
Akhirnya...
Akhirnya dia bisa mendapatkan kesempatan ini.
Jantungnya berdetak dengan sangat kencang, ia tak bisa mengendalikan detak jantungnya saat ini.
Rasanya ia ingin berteriak dan mengatakan semua isi hatinya.
Axila juga merasakan hal itu, ia bisa mendengar dengan sangat jelas jika detak jantung pria ini sangat cepat. Wajahnya sampai memerah karena hal ini.
Levi melepaskan pelukannya, dipandangnya wajah gadis yang saat ini sedang memerah.
"Kau malu?"
Pertanyaan Levi membuat Axila semakin malu saja, wajahnya semakin memerah sehingga ia menyembunyikan nya di dada bidang pria ini.
"Jangan menggodaku!"
Suara Axila terdengar sangat menggemaskan.
Gadis dingin ini bisa seperti ini juga.
"Jadi....
__ADS_1
Sekarang, kita pacaran?"