Perjalanan Waktu Putri Mahkota

Perjalanan Waktu Putri Mahkota
Hampir ketahuan


__ADS_3

Keadaan diruang rawat Shin-Young sedang menegang. Siapapun tak akan tahan dengan situasi saat ini jika mereka berada disana.


"Apa yang sebenarnya kalian lakukan pada Axila, Eomma-Appa?" tanya Shin-Young dengan dingin, tatapannya sangat tajam.


"Young-ah"


"Jawab pertanyaan ku!" bentak pria itu.


"Kami hanya tak ingin terjadi sesuatu padamu, tadi ayahmu terbawa emosi saat gadis itu mengusir kami dari sini. Jadi-"


"Ayah menampar pipinya. Begitu?" potong Shin-Young.


Nyonya Kang mengangguk, membetulkan ucapan putra tunggalnya.


"Apa begitu cara kalian berterima kasih pada orang yang sudah membangunkan ku, appa? eomma?" ujarnya.


"Apa kalian pikir dia tak mempunyai uang, appa?


Aku sungguh kecewa pada kalian karena selalu memandang seseorang dari harta mereka.


Kalian pulanglah." Dia berusaha agar tak terbawa emosi, dia tak ingin memarahi kedua orang tuanya.


"Young-ah"


"Pulang!" bentak Shin-Young.


"Appa minta maaf, maafkan kami." ujar Tuan Lee. Tangannya menarik tangan istrinya.


"Ayo kita pulang."


"Tap-"


"Kita kembali besok. Ayo biarkan dia sendiri dulu." potong tuan Lee. Nyonya Kang hanya mengikuti langkah suaminya, namun matanya masih terus memandangi wajah Shin-Young yang terlihat sangat kecewa.


Shin-Young meremas rambutnya dengan sedikit frustasi setelah kedua orang tuanya menghilang dibalik pintu, batu saja dia kembali bangun dari tidur panjangnya.


Dia malah mendapatkan hadiah yang tak mengenakkan.


"Tuan muda." panggil Woon-soo.


"Siapkan semua berkasnya, aku akan menyerahkan hotel itu padanya besok.


Dengan atau tanpa dibayar olehnya, aku akan tetap memberikan apa yang dia inginkan." potong Shin-Young cepat. Matanya kembali terpejam, memasuki pikirannya sendiri.


.......


Perut Axila terasa minta diisi, segera saja gadis itu berpamitan pada tuan Kang dan kembali ke hotel.


Namun dipertengahan jalan, Axila menghentikan mobilnya dan memasuki satu restoran, memesan makan malam dan menikmati dengan tenang.


"Ah, apa bocah itu sudah makan malam?" gumam Axila, yang teringat akan Azka.


Axila kembali memesan tiga porsi makanan untuk dibungkus, lalu setelah membayar gadis itu pergi dari sana menuju ke rumah yang ditempati oleh adiknya saat ini.


Dua puluh menit kemudian, gadis itu sudah sampai di daerah perumahan yang sedikit padat. Mobilnya berhenti tepat didepan gerbang berwarna coklat, ponselnya sedang terhubung dengan seseorang diseberang sana.

__ADS_1


"Ye?" tanya orang itu. Jin-Na.


"Keluarlah, aku membawakan makanan malam untuk kalian." balas Axila.


"Dimana kau?" tanya Jin-Na lagi.


"Depan rumah, cepatlah." balas Axila.


Jin-Na yang sedang berada di halaman segera membuka pintu gerbang, terlihat mobil yang sudah beberapa kali dilihatnya.


Kakinya segera melangkah mendekati mobil itu.


"Mana?"


"Ini." ujar Axila, dia juga memberikan beberapa Snack sehat dari Indo untuk tiga orang itu. Terakhir, satu botol minuman teh rasa apel.


"Berikan ini pada adikku, lalu Snack nya kalian bagi rata. Dan ini makan malam kalian"


"Wah, apa ini dari Indonesia? aku belum pernah melihatnya." ujar Jin-Na dengan mengobrak-abrik Snack yang diberikan Axila.


"Ye, aku membawanya dari sana.


Masuklah sana, aku sangat lelah hari ini dan ingin beristirahat." ujar Axila.


"Kau mengusir ku?" suara Jin-Na naik dua oktaf.


"Kau sadar juga? masuk sana." usir Axila, segera saja gadis itu menghidupkan mesin mobilnya dan menginjak pedal gas.


"Hei! kau mau membuatku serangan jantung, huh?


"Tak sama seperti ku? maksud kak Jin-Na, apa?" sambung seseorang persis dibelakang Jin-Na.


Tubuh Jin-Na memegang, dia kenal persis siapa pemilik suara itu.


Dengan perlahan, tubuh Jin-Na memutar dan menatap remaja yang kini berada didepannya.


"Azka? dari mana ka-"


"Apa maksud ucapan kak Jin-Na tadi?


Gadis angkuh? tak sama seperti nya? apa maksudmu, kak?"


"Haisss! tentu saja gadis itu, aku bahkan tak mengenalinya.


Sudahlah, ayo masuk dan makan malam." gadis itu coba untuk mengalihkan perhatian Azka, dengan menyuruh remaja itu membantunya membawa kantong plastik yang berisi makanan dan Snack.


Meski Azka membantu Jin-Na membawa barang, matanya tertuju kearah dimana mobil tadi menghilang. Yah, dia sempat melihat satu mobil yang terparkir disana pergi meninggalkan Jin-Na sendirian dengan umpatan-umpatan nya.


"Siapa dia?" batin Azka.


Kaki keduanya memasuki rumah.


"Mau diletakkan dimana, kak?" tanya Azka.


"Ah, ini untuk tiga orang. Ambillah punyamu, aku akan memberikan ini pada Moonbin juga." balas Jin-Na.

__ADS_1


"Kak Moonbin?"


"Hmm, kita bertiga." balas Jin-Na.


"Bertiga? apanya yang bertiga?" tanya Moonbin yang keluar dari kamarnya lalu menatap kedua nya.


"Ah, tadi nona kemari.


Membawakan makan malam, dan Snack." ujar Jin-Na, tangan langsung saja meraih satu kotak makanan dan memberikannya pada Moonbin, lalu Azka sedangkan yang satunya lagi punya Jin-Na sendiri.


"Dan ini Snack nya, kita bagi rata." gadis itu mulai memberikan satu persatu Snack sehat pada kedua pria yang berdiri tak jauh darinya, tak lupa punya dia sendiri hingga tangan keduanya sudah penuh dengan Snack sampai tak tahu bagaimana memegangnya.


"Lalu, apa yang berada dalam botol itu?" tanya Moonbin, tatapannya tertuju pada botol berisi cairan layaknya teh.


"Ah, ini nona berikan lada Azka. Ini, punyamu." Jin-Na segera memberikannya pada Azka.


"Bukankah sudah pas?" tanyanya.


"Ya, tapi apa aku tak dapat minuman itu juga?" tanya Moonbin.


"Hai, aku saja tak dapat. Tentu saja nona akan memperlakukan adiknya dengan istime-wa." Jin-Na langsung menutup mulutnya dengan cepat, menyadari apa yang baru saja dia ucapkan, oh tidak.


"Adiknya? siapa?" tanya Azka, tatapannya tertuju pada Jin-Na dan Moonbin secara bergantian.


"Apa maksudnya?" ulang Azka lagi.


"Tentu saja dia akan memperlakukan kau dengan istimewa, karena kau sudah menjadi adiknya.


Dia menganggapnya sebagai adiknya, itulah mengapa kau mendapatkan perhatian darinya." ujar Moonbin menjelaskan.


Alis Azka mengerut, "kalau begitu aku masuk dulu." pamit Azka, dia langsung saja berbalik dan berjalan kearah kamarnya yang berada beberapa meter dari kamar Jin-Na.


"Baguslah dia percaya.


Lain kali jaga ucapan mu, jangan membuat nona marah karena kita tak tahu seberapa bahaya ketika dia sedang marah." ujar Moonbin, lalu masuk kedalam kamarnya yang berhadapan dengan kamar Jin-Na.


"Ah, betapa bod0h nya aku.


Untung saja dia percaya dengan kata-kata Moonbin." gumam Jin-Na, gadis itu juga memasuki kamarnya tak lupa dikunci.


Sedangkan didalam kamar, Azka sedang memandangi Snack yang katanya diberikan oleh nona.


Orang yang menyuruh Jin-Na dan Moonbin bekerja untuknya.


"Siapa sebenarnya nona itu?" gumam Azka, matanya tertuju pada layar ponsel yang diberikan Axila, terlebih nomor kontak ponsel gadis itu.


Kedua alis Azka kembali menyatu, kala melihat tulisan Indonesia yang berada pada bungkusan-bungkusan Snack, terlebih minuman botol yang tertulis.


"Teh-Xx rasa buah apel"


Azka semakin curiga, apa lagi diponsel itu tersedia salah satu aplikasi yang menunjukkan jumlah uang yang berada didalam sana.


(Semacam kayak aplikasi OVO gitu).


Uang dengan jumlah yang sangat banyak untuk remaja seusianya, bahkan bisa ditarik kedalam bentuk tunai.

__ADS_1


"Siapa sebenarnya kau, kak AL" gumam Azka.


__ADS_2