
"Apa yang terjadi pada putraku, dokter?!" tanya tuan Lee, Nyonya Kang disampingnya sudah menangis tersedu.
"Tuan muda sadar dari komanya." ujar Dokter memberitahu.
"Apa?"
"Sungguh?"
"Ba-bagaimana mungkin?"
Semua orang tercengang dengan apa yang barusan dikatakan oleh dokter. Mereka segera mendekat, melihat mata Shin-Young yang ikut bergerak.
Dokter segera menekan tombol dan memanggil yang lainnya, dia tak membawa peralatan lain selain stetoskop dan senter yang selalu berada dalam jas kebanggaan nya.
Nyonya Kang memeluk suaminya, dia sungguh bahagia ketika melihat putranya bangun dari masa komanya.
Begitupun tuan Lee, dia menerima pelukan dari istrinya dengan perasaan yang tak bisa digambarkan.
Woon-soo menghapus aliran bening yang keluar dari sudut matanya, akhir nya tuan mudanya kembali bangun.
Tak berselang lama, beberapa orang perawat memasuki ruangan. Keadaan didalam sana sedang haru, membuat mereka jadi sedikit bingung.
Kerongkongan Shin-Young terasa kering, sudah hampir sebulan tak ada air yang membasahi kerongkongannya.
"Air...air.." ujarnya dengan lemah.
Segera saja perawat mengambilkan segelas air hangat, tak lupa menaruh sedotan agar mempermudah pria tampan itu meneguknya.
Shin-Young yang mendengar seseorang memberikan nya air segera menyedotnya melalui sedotan, hanya dua teguk air yang membasahi kerongkongannya, selebihnya tidak lagi.
Dokter mengarahkan senternya dan jari telunjuk.
"Tuan, angka berapa ini?" tanyanya.
Mata Shin-Young tampak mengikuti arah dimana jari dokter bergerak, "satu." jawabnya.
Semua orang memegang dada mereka yang terasa sedikit sesak.
Nyonya Kang langsung mendekat.
"Sayang, kau mengenalku 'kan?" tanyanya. Dia berharap, Shin-Young tak melupakannya.
Mata pria itu mengikuti arah dimana seseorang memanggilnya.
"Eomma." Ujarnya dengan suara yang begitu lemah.
__ADS_1
Nyonya Kang langsung berbalik pada suaminya, lalu memeluk tuan Lee dengan erat.
Pikiran tuan Lee melayang. Gadis itu. Yah, dia mengingat bagaimana Axila membentak mereka dan mengusir mereka keluar dari dalam ruang rawat putranya.
Terlebih saat dengan kesal, ia menampar pipi Axila dengan keras.
Ternyata gadis itu berhasil membangunkan putranya dari koma.
Tuan Lee mengusap punggung istrinya dengan lembut, dia merasa bahagia dan bersalah diwaktu yang bersamaan.
Jadi ini, mengapa gadis itu mengatakan. "Jangan menyesal?" dengan penuh kepercayaan diri.
Nyonya Kang sudah melepas pelukannya, dia menatap dan menggenggam tangan Shin-Young dengan penuh cinta.
Sementara suaminya langsung menatap Woon-soo.
"Panggil dia kemari! panggil gadis itu, cepat!" ujarnya pada Woon-soo.
Dengan cepat, Woon-soo langsung keluar dari ruangan tuannya, berlari kearah dimana lift berada. Dia berharap, Axila belum jauh perginya.
Sementara itu, Axila sudah berada didalam ruangan rawat Tuan Kang, yang mana akan menjalani operasi sejam lagi.
"Ahjussi." panggil Axila.
Tuan Kang, atau lebih lengkapnya Kang Si Jin. Dia dulunya adalah seorang pengacara yang selalu memenangkan kasus yang dia terima, semua klien nya merasa senang dengan kepribadian tuan Kang. Usianya baru menginjak 32 tahun beberapa bulan yang lalu. Bukankah dia masih muda?
"Nona? apa sudah selesai?" tanyanya.
Axila mengangguk, "Hmm"
Mata tuan Kang menangkap bekas telapak tangan yang besar dipipi Axila. Meski hanya mata kanannya saja yang melihat, tetap saja. Karena wajah Axila yang memang putih terlihat bekas telapak tangan, mungkin seorang pria.
"Nona, pipimu?"
Axila menyentuh pipinya, "Ah, ini bukan masalah besar." ujarnya.
Tuan Kang mengangguk, pikirannya kembali berkelana.
Sedangkan Axila mulai memainkan ponselnya, dengan game online agar tak merasa bosan.
Berbeda dengan Woon-soo yang saat ini sedang berlarian bersama dua pria lainnya. Karena yang menjaga di rumah sakit berjumlah empat orang, jadi dua lainnya tetap menjadi dan dua lagi mengikuti Woon-soo.
Tiga pria itu terus menyusuri lorong rumah sakit, mereka terus berharap Axila masih berada di rumah sakit.
'Ah, mengapa aku jadi bod0h begini?' batin Woon-soo.
__ADS_1
kakinya berhenti berlari, lalu mengeluarkan ponselnya dari balik jas mahal yang dia kenakan. Terdengar nada terhubung.
"Hmmm." jawab Axila diseberang. "ada apa?"
"Nona, apa kau masih berada disekitar sini?" ujar Woon-soo.
"Kenapa?"
"Tuan besar memanggil an-"
"Katakan pada pria tua itu, aku tak akan pernah mau menemuinya." Axila langsung saja mengakhiri telepon dengan sepihak.
Woon-soo mengerti, pasti gadis itu merasa tersinggung dengan sikap kedua orang tua tuannya. Namun bukan namanya Woon-soo jika dia tak bisa membawa Axila kembali kesana, kembali dia mencari Axila didalam rumah sakit.
Sejam berlalu, Axila sedang mengikuti langkah perawat yang saat ini mendorong bangsal yang diatasnya terbaring tuan Kang. Mereka berjalan kearah dimana ruang operasi berada.
"Nona, kau yakin?" tanya tuan Kang ragu.
"Jika kau tak mau melihat dengan sempurna, akan kubatalkan saja operasinya." balas Axila dengan nada malas.
Tuan Kang terkekeh pelan, "Aku hanya bercanda,"
"Hmm, aku tahu." balas Axila.
Mereka tiba didepan ruang operasi, segera saja keduanya berpisah didepan sana.
Tuan Kang masuk kedalam ruang operasi, sedangkan Axila menunggu diluar sana dengan tenang.
Tak lama, seorang dokter perempuan datang dengan jubah operasi. Dia menghentikan langkahnya didepan Axila.
"Anda keluarga pasien yang akan menjalani operasi, nona?" tanyanya.
Axila mengangguk, "Aku mengharapkan yang terbaik dari anda, dok." balas Axila.
"Saya dan tim akan melakukan yang terbaik untuk pasien, nona." jedanya, "saya permisi." kemudian menundukkan kepalanya dan memasuki ruang operasi. Tak berselang lama, lampu tanda Operasi sedang berlangsung sudah dinyalakan.
Axila bukan orang yang akan khawatir ataupun resah disaat seperti ini, dia hanya ingin membantu pria malang itu, dan menjadikannya orangnya.
Axila duduk di kursi tunggu, dia tahu jika operasi tak akan berjalan dengan cepat, namun membutuhkan waktu yang lama.
Woon-soo yang akan melewati ruang operasi sambil mencari Axila tak sengaja menangkap sosok gadis itu sedang duduk didepan sana.
Kakinya segera melangkah mendekati Axila.
"Nona Axila." panggilnya. Axila mendongkak, menatap tiga orang pria yang sedang berjalan mendekat.
__ADS_1
"Apa yang anda lakukan disini?"