
Liu Mei_POV
Cahaya terang menyelimuti aku, dan tak tahu apa yang terjadi setelah Axila mengajakku pergi.
Kami tiba di suatu tempat yang tak asing bagiku, ini seperti berada dalam kediaman ku di era kuno. Tempat ku yang sebenarnya.
Namun tempat ini berbeda, terasa sunyi dan sedikit berdebu. Namun masih rapi seperti terakhir kali aku melihatnya, tak ada perubahan apapun.
Aku beranjak keluar, saat menyentuh pintu tanganku menembusnya.
Ah, aku lupa jika aku saat ini berada dalam bentuk Roh, tak ada tubuhnya. Entah dimana mereka menyimpan abu jenazah ku, tapi sepertinya didalam kamarku. Aku tak peduli, aku ingin melihat ayah dan Kakak ku.
"Yang Mulia," panggil Axila, aku hanya menoleh dan berlalu dari sana, ternyata wanita itu mengikuti ku sampai kesini.
"Ayo pergi," ucapku. Kakiku bahkan tak menyentuh tanah, aku melayang di udara.
Axila mengatakan jika waktuku disini tak banyak, hanya tiga batang dupa. Setelah itu aku akan kembali ke sana, tempat itu lagi.
Aku tak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini, meskipun tak dapat menyentuh mereka, yang penting aku tahu bagaimana keadaan mereka saat ini.
Ayah, Kakak. Aku datang.
Aku mencari kakakku di kediamannya, namun tak menemukannya disana. Hanya ada para pelayan saja yang sedang bekerja, aku pergi dan mencarinya ditempat yang lain.
Kudengar suara bisik-bisik yang mengganggu pendengaran ku, aku mendekat dan melihat siapa disana.
Ternyata para prajurit yang sedang berkeliling.
"Yah kau benar, setelah Mendiang Putri Mahkota meninggal, Yang Mulia kaisar dan pensiunan Kaisar menjadi semakin muram.
Aku harap dengan kehadiran kedua pangeran kerajaan ini kembali seperti dulu lagi."
"Aku juga, semoga kedua pangeran bisa mengembalikan keceriaan di kerajaan ini."
"Aku juga setuju."
Apa yang mereka bicarakan?
Apakah kakakku telah naik tahta? Mungkinkah dia telah menjadi seorang Kaisar sekarang?
Itu artinya dia pasti sedang berada di ruang kerjanya saat ini.
Lalu bagaimana dengan ayahku?
Aku terbang kearah ruang kerja Kaisar, mungkin saja dia berada disana.
Selama diperjalanan, aku melihat banyak prajurit maupun pelayan yang sedang berlalu-lalang melakukan pekerjaan mereka.
Axila terus mengikuti ku tanpa banyak bicara, setidaknya dia tak membuat suasana hatiku semakin kacau, jadi aku membiarkannya.
Ketika aku tiba, kulihat beberapa prajurit yang sedang berjaga disekitar ruang kerja Kaisar, pasti kakakku berada didalam sehingga mereka menjaga keamanan kakakku.
Aku menembus dinding, terlihat seorang pria tampan yang sedang melihat-lihat kertas yang menumpuk dihadapan nya.
"Gege.." panggilku, namun tak mendapatkan jawaban darinya.
Ia terus fokus pada pekerjaannya, mengambil kuas dan menuliskan sesuatu diatas kertas.
"Gege..." panggilku lagi, namun tetap saja, aku tak mendapatkan jawaban darinya, hal ini membuatku sangat terpukul. Aku mendekat, aku berusaha untuk memeluknya, namun tanganku menembus tubuhnya.
"Hikss... Hikss... Hikss....." air mataku tumpah, aku tak bisa menyentuhnya meskipun aku menginginkan nya.
"Gege.. aku disini... Aku disini.. Lihat aku ada disini!.."
Aku menangis dihadapan nya, aku tak bisa melakukan apapun, bahkan jika aku berteriak dengan keras ia tak akan mendengarkan ku.
"Hikss... Hikss... Hikss..." Biarlah. Biarlah aku meluapkan semuanya, meskipun aku terlihat sangat kuat namun aku juga lemah jika bersangkutan dengan keluargaku, orang yang paling kusayangi.
__ADS_1
"Gege..."
Takk..!
Aku mendongak, menatapnya yang saat ini tiba-tiba terlihat sedih.
Apa? Apa yang terjadi?
Lio Guan meletakkan kuas yang ia pegang dengan kasar,
Prangg...!
mangkuk tinta yang ia gunakan di lempar ke sembarang arah, membuat tinta didalamnya tumpah.
"Mei'er.." gumam nya lirih, aku bisa mendengar nya. Wajahnya terlihat sangat sedih, aku tak suka melihat wajahnya seperti itu.
"Yang Mulia, meskipun mereka tak dapat melihatmu, namun masih bisa merasakan kehadiran mu. Terlebih orang-orang yang sangat menyayangi mu," ujar Axila memberitahu ku.
Jadi.... Kakakku dapat merasakan kehadiran ku?
"Gege... Gege..." Kulihat wajahnya yang sangat sedih. Mata Lio Guan mengeluarkan cairan bening itu.
Sasak, dadaku terasa sangat sesak.
Aku memeluknya, meskipun menembus, aku tetap melakukan nya.
"Mei'er, aku sangat merindukanmu," gumamnya.
"Aku juga merindukan mu, Gege. Aku menyayangimu," balasku meskipun dia tak mendengarnya.
"Mei'er, mengapa aku seperti merasakan kehadiran nya disini?" gumam Lio Guan lagi.
"Aku memang disini, Gege. Aku disini, bersamamu," ujarku.
Lio Guan semakin terisak, matanya sampai memerah.
"Tidak. Ini bukan salahmu Gege, ini sudah takdirku... Maafkan aku," balasku
Kudengar langkah kaki dari luar sana, pintu terbuka dan masuklah seorang wanita yang membawa dua bocah laki-laki bersamanya.
"Ayah..." panggil salah satu dari kedua bocah itu.
"Salam kepada Yang Mulia kaisar, semoga panjang umur seribu tahun..." ujar Wanita itu, aku mengenalnya.
Dia adalah tunangan kakakku, apakah mereka telah menikah?
Apa itu kedua anak mereka? Ternyata dia sangat beruntung bisa mendapatkan dua pangeran kecil secara bersamaan, wajah mereka juga terlihat sama. Kakakku memiliki anak kembar.
Entah berapa tahun yang sudah terlewati sejak kepergian ku, sampai kakakku telah menikah dan memiliki anak. Aku tebak, sepertinya kedua bocah mungil itu telah berusia 2 tahunan.
Salah satu bocah itu terdiam, dia menatap lurus kearah kami, aku dan Kakakku.
(Disini, author make bahasa yang jelas untuk anak berusia 2 tahun. Biar jelas yah, dan nggak bingung bacanya)
"Ayah... bibi itu siapa?" Tunjuk salah satu dari keduanya, tangannya menunjuk ku dan Axila.
Deggg..!
Apakah... Apakah anak itu bisa melihatku?
"Pangeran Yi Feng, tak ada siapapun disamping Yang Mulia, kau harus sopan Nak." tegur kakak ipar ku.
"Adik, kau bicara apa?" tanya salah satu pangeran lagi.
"Tapi, disana ada dua bibi. Yang satunya sedang menangis, sedangkan yang lain tidak. Apakah kau mengenalnya, Ayah?" tanya pangeran kecil.
"Yi Feng-"
__ADS_1
"Kau melihat seseorang, Nak?" tanya Lio Guan kepada putranya itu. Sedangkan Kakak ipar sudah berwajah pucat, sepertinya ia takut dihukum karena ketidak sopanan salah satu Putranya.
"Iya, Ayah. Dia juga menangis seperti Ayah, dia berdiri disamping Ayah," balasnya polos.
Aku mendekatinya, "Sayang... Kau bisa melihat Bibi?" tanyaku padanya.
Matanya menatapku, mata yang sangat jernih dan cantik.
Aku menatap Axila yang berdiri diseberang sana, "Dia sungguh bisa melihat ku?" tanyaku pada Axila.
"Sepertinya begitu, Yang Mulia. Bukankah kau juga mengetahui jika ada orang-orang tertentu bisa melihat mereka yang tak terlihat?" jawab Axila.
"Tentu saja Bibi, aku bisa melihatmu. Kau sangat cantik, lebih cantik dari ibuku." balasnya dengan polos, sedangkan semua orang menatapnya, bahkan aku bisa merasakan jika kakak ipar ketakutan. Berbeda dari Lio Guan yang membiarkan hal itu terjadi.
"Pangeran Yi Feng," panggil kakak ipar.
Aku menatapnya, jadi itu namanya?
"Namamu Yi Feng?" tanyaku, ia mengangguk.
"Iya, Bibi. Aku Yi Feng, dia kakakku, Yi Fang." dia terlihat sangat antusias memperkenalkan namanya bersama kembarannya.
"Baiklah, bisa kau bantu Bibi, sayang?" tanyaku.
"Tentu saja Bibi. Ibu bilang aku harus membantu orang yang membutuhkan bantuan ku," balasnya polos.
Ohh... dia sangat menggemaskan seperti Azka.
"Pangeran Yi Feng, bisa kau kemari, Nak?" panggil Lio Guan.
"Yang Mulia, pangeran pasti sedang-"
"Diam! Diam saja kau, aku ingin bicara dengan Putraku." ujar Lio Guan dengan dingin. Kakak ipar terdiam, ia menundukkan kepalanya tak berani.
"Yi Fang, Yi Feng. Kemari, Nak." panggil Lio Guan.
"Baik, Ayah." balas kedua bocah itu. Aku terus melihat apa yang akan dilakukan oleh kakakku.
"Kau melihat seseorang disamping Ayah, Yi Feng?" tanya Lio Guan setelah kedua putranya tiba dihadapan nya.
"Iya, Ayah. Dia mengenakan baju yang sangat cantik, wajahnya juga sangat cantik." ujarnya.
Apakah kakakku akan mempercayai ucapan Yi Feng? Aku takut jika...
"Apa yang dia katakan padamu tadi? Kau bicara dengannya, Kan?" ujar Lio Guan.
"Bibi cantik memintaku membantunya," balas Yi Feng. "Apakah aku bisa membantu nya Ayah? Dia terlihat sangat sedih," ujarnya sambil menatapku.
Aku lihat Lio Guan yang mengangguk, "Kau bisa membantunya."
Syukurlah.... Kakak mempercayai ucapan nya.
Aku melihat wajah polos pangeran yang satunya lagi, wajah mereka sama namun dia terlihat lebih ceria dibandingkan dengan Yi Feng.
"Bibi.. Ayah bilang aku bisa membantumu." ujar Yi Feng.
"Sayang, bisa kau ambil kuas itu? Bibi akan membantumu menulis, kau mau?" ujarku.
Yi Feng mengikuti instruksi ku, dia meminta kuas, tinta dan kertas pada Lio Guan, dan lebih mengejutkan lagi kakakku memberikan apa yang dia minta.
Aku memegang tangan kecil Yi Feng, ternyata aku bisa menyentuhnya. Aku mulai menggores kertas dengan kuas yang telah ku beri tinta. Meskipun sulit, namun akhirnya tulisan itu bisa ku
..."Gege, ini aku. Liu Mei"...
Kulihat wajah Lio Guan yang sangat terkejut..
"Mei'er.."
__ADS_1