
Meskipun sekilas, Azka melihat seorang pria menurunkan kaca mobilnya lalu mengeluarkan senjata dan menodongkan kearah mobil mereka.
Azka ketakutan, jantungnya berdetak semakin kencang. Apa yang akan terjadi padanya dan juga kakaknya?
Azka tak dapat melindungi dirinya dan kakaknya jika lawannya saja membawa senjata api, jika dengan tongkat baseball mungkin ia masih bisa memberikan pelajaran bagi mereka.
"Noona-a... apa yang baru kita lakukan?" tanya Azka ketakutan,
"Kau sudah bisa mengemudi, bukan?" tanya Axila dengan dingin, ia masih fokus dengan setirnya.
"Huh?" Azka tak mengerti, apa yang dimaksud oleh kakaknya.
"Noona, ini bukan game sehingga aku bisa memenangkan nya." ujar Azka.
Axila tersenyum simpul, ia gemas pada adiknya yang saat ini ketakutan. Ia tetap fokus dengan laju mobilnya.
Dorrr....Dorrr...
Orang-orang itu mulai berulah, yang satunya tetap menyetir dan nya lain melepaskan tembakan. Tapi percuma saja, Axila mengemudikan mobilnya menghindari tembakan itu.
"Kamu jago main balap, 'kan?
kamu juga sudah bisa mengendarai mobil tadi, Sekarang saatnya kamu balapan seperti yang sering kamu lakukan.
Ada yang harus ku lakukan." ujar Axila, ia dan Azka saling memandang sebelum Azka melepaskan sabuk pengaman miliknya begitu juga dengan Axila.
Jantung Azka berdebar dengan sangat kencang, ia memegang setir dengan tatapan yang tertuju kedepan.
Axila merasa cukup aman, Axila menarik dirinya kekursi belakang sedangkan Azka langsung duduk dibelakang kemudi.
Sekarang, kemudi sepenuhnya berada dibawah kendali Azka, remaja itu tak mengurangi kecepatan sedikitpun. Tubuhnya menegang, namun harus melakukan sesuatu untuk membantu Kakaknya, bukan?
Axila mengenakan earphone khususnya, mengaktifkan nya dan segera menghubungi Daren.
Daren yang berada di markas langsung menjawab panggilan Axila karena saat ini dia sedang bermain game di ponselnya.
"Daren, lacak mobilku. Ada oknum yang menyerang aku dan adikku." ujar Axila, tangannya sedang mengambil senjata dengan jenis sniper rifle dibawah kursi penumpang.
"Kau diserang?" suara Daren yang sangat terkejut mengundang perhatian Dony yang saat itu sedang bermalas-malasan diatas sofa.
"Yah, jadi mohon kerja samanya.
Dan juga, aku hanya mempunyai 6 peluru dalam senjataku." ujar Axila sebelum mengakhiri panggilan telepon itu, dia langsung melepaskan earphone dan membuangnya diatas kursi sambil memasang pelurunya.
__ADS_1
"Jangan pedulikan aku, kendarai saja dengan benar, kau paham?!"
Mendengar suara kakaknya yang sangat tegas membuat Azka mengangguk iya.
Selama ini, dia tak pernah melihat sisi kakaknya yang ini, seperti bukan kakaknya saja melainkan orang lain yang tak ia kenal.
Dorrr.... Dorrr.....
Pekikan senjata kembali terdengar, Axila membuka penutup atap mobilnya yang berbentuk persegi empat dan hanya bisa memuat satu orang saja.
Mengeluarkan senjatanya diikuti dirinya yang berdiri.
Axila bermain dengan senjata mematikan itu, melepaskan peluru pertama nya sengaja ia lesetkan dan berhasil mengenai ban depan sebelah kiri mobil itu. Alhasil, mobil itu kehilangan kendali.
Tembakan kedua kembali diarahkan, namun meleset dan tak mengenai targetnya.
Sipengendara Jeep mulai marah, ia memerintahkan orang yang berada disampingnya agar menembak Axila, namun bisa Axila hindari dengan menundukkan tubuhnya sehingga meleset. Tak ada satupun yang berhasil mengenai gadis itu.
Azka tak menduga jika Kakaknya sehebat itu, dapat menghindari tembakan senjata api.
Kali ini Axila kembali melepaskan tembakan lagi, namun kembali meleset. Saat itu juga, orang itu berhasil melukai Axila.
Bawah pundak sebelah kanan Axila terkena timah panas itu, membuat gadis itu langsung terjatuh dan mengerang kesakitan,. namun bukan namanya Axila jika ia bisa kalah. Seumur hidupnya, tak pernah ada sejarahnya ia kalah, entah itu kehidupan sebelumnya atau sekarang.
Ia terjatuh sambil memegang pundak kanannya, senjatanya berada diatas kursi penumpang. Ia mengerang kesakitan.
Azka yang sejak tadi melihat kakaknya saling menyerang kini langsung menghentikan laju mobilnya, ia mengurangi kecepatan dan akhirnya mobil itu berhenti sepenuhnya.
Meskipun itu adalah pistol, namun pelurunya bersarang didalam sana. Azka sangat panik melihat darah segar mengalir keluar dari pundak kakaknya yang saat itu mengenakan bahu kaos putih dengan paduan jaket denim.
"Noona, Noona kau terluka." ujar Azka, ia panik, "Noona.." Air mata Azka mengalir dengan sangat deras, mata Axila mulai sayu namun masih bisa mendengar dan merasakan apa yang terjadi disekitarnya.
"Noona...." Azka memeluk tubuh kakaknya dengan erat, tubuhnya bergetar karena sangat ketakutan.
Mau membawa kakaknya kembali juga ia takut, takut jika dari sana ada orang yang sama dan akan membunuh mereka berdua, mau kembali melajukan mobil juga tak tahu kemana arah jalan itu membawa mereka.
Levi.
Tiba-tiba saja nama Levi muncul didalam otaknya. Azka mengambil ponselnya dengan tangan yang gemetaran, ia langsung menghubungi orang itu.
Sedangkan di tempat Levi berada.
Pria itu sedang berada di markasnya, ia saat itu sedang melihat anak buahnya yang sedang berlatih, termasuk dirinya juga.
__ADS_1
Ia sangat terpukul, bagaimana bisa gadis incarannya adalah si wanita teratai?
Levi benar-benar sangat frustasi.
Tiba-tiba ponselnya bergetar, namun saat itu dipegang oleh asistennya. Jika dia sedang berlatih, sebaiknya jangan ada orang yang mengganggunya, jika tidak. Mungkin saja orang itu akan kehilangan nyawanya.
Asistennya mendekat, ia memberikan hormat pada Levi meskipun pria itu tak melihatnya.
"Tuan, Azka menelpon. Suaranya terdengar sedang ketakutan." ujar pria itu.
Levi kesal, namun tetap menerima ponselnya dan menempelkan benda pipih itu ditelinga nya.
"Ada apa, Azka?" tanya Levi datar.
"Kak, kak tolong aku." ujar Azka diseberang sana.
Mendengar suara Azka yang seperti itu membuat Levi merasa khawatir.
"Ada apa? Apa yang terjadi padamu?."
"Kak tolong, a-aku dan No-noona diserang.
Aku tak tahu siapa mereka, Noona terluka dan mengeluarkan banyak darah.
Aku mohon tolong kami..
Hhuhhuu... Noona...." Tangisan Azka meledak, membuat Levi langsung melepaskan senjata apinya dan membuangnya.
"Dimana kalian sekarang?!" Langkah kaki Levi langsung berjalan keluar dari area latihan.
"Aku tak tahu, aku tak tahu ini dimana. Kak, kumohon tolong kami. Hhuhhuu... aaaaa...." tangisan Azka semakin kencang, membuat Levi disini menjadi semakin frustasi.
"Aktifkan GPS mu, aku akan melacak.
Jangan matikan teleponnya, oke?
Aku kesana sekarang juga." balas Levi.
"Jerry, kumpulkan orang-orang ku. Kita pergi!" ujar Levi dingin, tangannya langsung bergerak diatas layar ponselnya. Melacak keberadaan Azka melalui GPS.
Kakinya melangkah keluar markas, memasuki mobilnya dan meluncur ke tempat yang saat ini terdapat kedua kakak beradik itu.
Tatapan Levi semakin dingin dan khawatir mengingat kemarin gadis itu baru saja mendapatkan luka tembakan, namun hari ini. Hal itu terulang kembali.
__ADS_1
"S!alan kalian!!! akan kubunuh kalian, Bangs@t!!" geram Levi