Perjalanan Waktu Putri Mahkota

Perjalanan Waktu Putri Mahkota
Penuh kekaguman


__ADS_3

"To-tolong se-selamatkan a-aku." ujar wanita itu memelas, matanya membengkak, wajahnya penuh dengan lebam bekas kekerasan fisik, disudut bibirnya terdapat bekas luka.


Axila hanya menatapnya dengan dingin, Levi tepatnya pria itu.


Seperti angin yang berhembus, kaki Axila berlari dengan sangat cepat kearah pria itu dan kini sudah berada persis dibelakangnya, dengan pistol salah satu bodyguard yang tadi dilempari belati oleh Axila.


Bahkan pria itu tak menyadari kapan gadis itu berpindah, apa lagi wanita yang menjadi sandera pria itu.


Axila menancapkan jarum kecil dibahu pria itu saat tangannya mendarat disana.


"Jangan memancing emosiku, Tuan.


Semua bawahanmu sudah lenyap oleh ku dan teman-temanku, termasuk orang yang saat ini kau suruh untuk membawamu pergi menggunakan helikopter." ujar Axila lagi.


Tepat ketika ucapan Axila selesai, Daren mengabarkan bahwa helikopter sudah berhasil memperbaiki sistem mereka yang ditebar virus olehnya.


"Mereka bergerak kearah mu, Dony!" ujar Daren memberitahu.


Terlihat senyum penuh arti yang Dony tampilkan, "Akhirnya aku yang bermain lagi. Punggungku sudah kram sedari tadi karena terus mengawasi dari atas sini." ujar Dony. Karena memang sejak tadi dia terus selojoran diatas salah satu gedung, dari tempat yang tersembunyi.


Telinganya menangkap suara baling-baling helikopter yang sedang mendekat, sniper yang ia gunakan diarahkan ke helikopter yang sedang melayang di udara itu. Jaraknya dari gedung penyekapan adalah 3 kilometer, dan helikopter itu sudah 1/4 jalan, beberapa menit lagi akan sampai.


Dony bisa melihat berapa banyak orang yang berada diatas helikopter besar itu. Dua orang sebagai pilot yang sedang mengendalikan helikopter, dan dua lainnya seperti nya adalah bodyguard.


Slapptt!!!


"Arghh!!" pekik salah satu bodyguard yang langsung terjun bebas dari helikopter. Hal itu membuat ketiga orang yang berada diatas sana menjadi kalang kabut, salah satu dari mereka segera mencari keberadaan sang penyerang.


"Woohhh!!! Kerennn!" ucap Dony dengan sedikit kekaguman saat melihat bagaimana bodyguard itu terjun bebas dari ketinggian lebih dari 70 meter diatas permukaan tanah.


"Lain kali kayaknya gue mau tes terjun bebas juga deh." ujarnya.


"Mau gue bantuin nggak?" sambung Josua dari seberang sana, ia saat ini sedang memeriksa musuhnya apakah masih ada yang hidup atau tidak. Ia tak ingin ada kelonggaran yang akan mengakibatkan mereka dalam bahaya. Misalkan saat mereka sedang sibuk menyelamatkan para sandera, mereka malah diserang oleh salah satu yang masih sadar namun pura-pura sekarat.


"Nggak, makasih." balas Dony cepat, ia tahu arah pembicaraan Josua tadi. Apa lagi selain membawanya ketempat yang yah, bisa dibilang sangat ekstrim lalu menguji nyalinya disana. Dia sudah cukup tahu sifat Josua, karena mereka memang melakukan pelatihan untuk menjadi seorang agen secara bersamaan.


Kata siapa menjadi agen itu mudah? Dony merasakannya sendiri, ia harus dilatih selama 4 bulan dengan penuh duka, lalu harus menghabiskan 1 bulan di alam bebas untuk tetap bertahan hidup, belajar membunuh, menyelamatkan sandera, dengan tetap diawasi dan masih banyak lagi penyiksaan yang ia terima.


Dony kembali melepaskan timah panasnya pada orang-orang yang berada dalam helikopter, membuat mereka semakin kalang kabut saja.


"Daren, kau bisa mengendalikan heli itu dari jarak jauh, bukan?" tanya Dony.


"Tentu." balas Daren cepat.


"Good boy! Gue mau main-main sama pilotnya soalnya." balas Dony, tepat setelah ia mengatakan maksudnya pada Daren, pria itu langsung melepaskan lagi pelurunya pada mereka.


"Lo pikir gue bocil?!" geram Daren, namun dengan sigap mengendalikan helikopter itu, ia tak ingin sampai mendarat dan mengenai pelabuhan. Meskipun setelah itu dia tanamkan virus dalam jumlah yang lebih banyak lagi dari pada sebelumnya.


Dony tertawa lepas, ia membuat orang-orang itu mendapatkan luka yang tak akan bisa mereka lupakan. Bahkan sang pilot sudah tak tahan dengan rasa sakitnya akibat peluru yang bersarang di lehernya sehingga kesadarannya langsung menghilang setelah mendapatkan hadiah itu beberapa detik yang lalu. Sedangkan rekan-rekannya sudah tak sadarkan diri bahkan sudah tawas dibuat Dony.


"Urusan heli udah beres, Al." ujar Dony dan Daren bersama.


"Kerja bagus." balas Axila, kini gadis itu Sedang bermain dengan mangsanya. Ia juga sedikit kesal, mengapa tak sekalian saja pemimpin nya yang datang, ini malah mengirimkan kecoak untuk menghadapinya yang adalah seorang Dewi Perang.

__ADS_1


Pria itu sekarang sedang menggigil, bukan karena dingin melainkan karena ketakutan. Tubuhnya tak dapat digerakkan, malah saat ini dia sedang bertelanjang menyusahkan baju kaos potih polos yang ia gunakan sebagai dalam sebelum menggunakan kemeja dan jas mahalnya, dan lagi Axila juga merobek paksa celana yang ia gunakan dan menyisakan boxer untuk menutupi harta terlarang milik pria itu.


Jas dan kemeja milik pria itu Axila berikan pada wanita tadi, bahkan Axila mendudukkan dengan perlahan diatas kursi kebesaran yang tadi diduduki pria itu sambil memakaikan jas pada tubuhnya dan menutupi paha serta kaki wanita itu menggunakan kemeja yang ia buat menjadi rok dadakan.


Semua perlakuan Axila tak luput dari tatapan wanita itu, meskipun merasa takut namun ia sangat kagum dengan cara Axila memperlakukannya.


Josua datang menghampiri mereka, Axila menunjuk pria itu menggunakan gerakan jarinya.


"Seret pria itu dari sini!" ujar Axila dengan sangat dingin.


"Baik, Capt!" balas Josua, dia segera menyeret pria itu pergi dari sana dengan sangat kasar.


Sedangkan Axila menatap wanita itu. "Ayo pergi!" ujarnya tanpa mau membantu wanita tadi berjalan ataupun sekedar, yah tau saja sendiri.


Saat langkah kakinya baru beranjak 3 meter, terdengar suara seseorang yang terjatuh.


Bruggg!!


Axila berbalik dan menatap wanita itu dengan alis yang terangkat sebelah, melihat bagaimana wanita itu tak dapat melangkah karena kakinya yang lemas sampai membuatnya kehilangan keseimbangan saat ingin melangkah keluar.


Axila kembali mendekat, tangannya ia ulurkan pada wanita tadi, dan disambutnya dengan sedikit gemetaran.


Axila menariknya sedikit berdiri, lalu menunduk dan menggapai tubuh wanita tadi


Axila menggendong nya ala bridal, jika dia bukan berjenis kelamin perempuan, mungkin akan ada banyak wanita diluar sana yang mengantri karena sikap Axila yang ini.


Wanita itu memeluk leher Axila, menatap wajah Axila yang sedikit tertutupi masker. Ia sangat kagum dengan Axila, harum parfum yang ia gunakan juga sangat lebut membuat wanita itu menjadi nyaman.


Saat keluar dari dalam ruangan itu, Axila berjalan dan menuruni anak tangga dengan terus menggendong wanita itu. Kakinya melangkah kearah dimana terdengar sedikit berisik.


Mereka saling peluk dan menangi, merasa bersyukur karena sudah bebas dan tak jadi dijadikan budak nafsu di negeri orang.


Axila berjalan kearah Daren, "sudah hubungan kantor polisi terdekat?" tanya Axila.


"Kami sudah kirimkan polisi dan prajurit setelah Dony meng-"


ucapan Letkol Bobby terputus karena ulah Axila.


"Bagus!" balas Axila tanpa mau mempedulikan status Letkol Bobby yang adalah Atasannya.


"Kau baik-baik saja kan, Lila?" sambung Michael yang merasa khawatir dengan putrinya.


"Anda tahu keadaan saya, Letjend." balas Axila lagi. Ia memutuskan untuk mematikan kamera pengawas yang sejak tadi mengawasi setiap pergerakan mereka.


Tak lama setelah itu terdengar sarine mobil polisi dan ambulance yang mendekat, ada dua truk prajurit yabg diturunkan dan satu truk polisi. Serta lima ambulance untuk memeriksa keadaan semua sandera disini.


Axila mendudukkan wanita yang sejak tadi dalam gendongannya diatas kotak kayu berukuran kecil.


"Tunggu disini sampai aku kembali." ujar Axila dan hanya diangguki oleh wanita itu.


Axila berjalan kearah rekan-rekannya, "kerja Bagus." puji Axila, dia menepuk pundak keempat rekannya.


Putra, kakaknya juga ikut kemari.

__ADS_1


Dengan sedikit berlari, ia menghampiri Axila dan langsung memeluk adiknya dengan sangat khawatir.


"Kau baik-baik saja?" tanyanya sambil memutar tubuh Axila seperti anak kecil.


"Aku baik-baik saja, kak. Aku haus, kau membawakan kami minuman 'kan?" tanya Axila mengalihkan perhatian Putra.


Dengan cepat Putra mengangguk, "kami membawa 20 boxs air mineral dan roti untuk mereka." sambung Putra, dia menunjuk pada para wanita dan remaja yang saat ini sedang ditangani oleh pihak medis dan yang lainnya.


Axila memangut sebentar, kemudian berjalan meninggalkan mereka. Mengambil dua botol air mineral dan dua bungkus roti yang ukurannya lumayan besar lalu berjalan kearah salah satu wanita yang sudah ia suruh tunggu sebentar.


"Ini, minum dan makan lah." Axila menyodorkan satu botol air mineral dan dua bungkus roti.


Dengan ragu wanita itu menerimanya, lalu membuka tutup botol dengan cepat. Tenggorokan nya sangat haus, ia hanya disuruh untuk terus menelan cairan menjijikkan milik pria tadi.


Dengan rakus ia meneguk air mineral yang Axila berikan, lalu membuka bungkusan roti dengan sangat tak sabaran dan memakannya dengan rakus pula. Mereka tak diberi makan selama berhari-hari, sudah begitu terus digagahi oleh orang-orang yang berbeda-beda pula.


Axila tersenyum kecut dibalik maskernya, ia yang sejak tadi haus malah membuka tutup botolnya dan menyodorkan lagi pada wanita itu.


"Pelan-pelan saja, aku akan akan merebutnya darimu." ujar Axila saat wanita itu tersedak roti yang ia makan.


Tiga puluh menit kemudian, Axila dan yang lainnya pergi meninggalkan lokasi kejadian. Sisanya diurus oleh pihak yang berwajib, jadi ia akan pulang dan beristirahat saja dirumahnya.


Sedangkan disuatu ruangan yang serba putih dipadukan dengan abu-abu, duduk seorang pria yang saat ini sedang membalikkan kursi kebesaran miliknya.


"Bagaimana keadaan dilokasi kejadian saat ini?" tanyanya dengan suara bariton yang terdengar sangat dingin.


"Maaf, Tuan. Namun, pemimpin tim penyelamat itu merupakan seorang wanita. Kita bahkan tak punya kesempatan untuk masuk kedalam selain mengandalkan kamera lalat buatan kita." balas bawahannya.


Levi yang mendengar hal itu langsung memutar kursinya dan menatap penuh tanda tanya pada asistennya itu.


"Maksudmu, mereka dikalahkan oleh seorang wanita. Begitu?!"


Asistennya tertunduk sebentar, ia mendorong tablet yang sejak tadi sudah ia bawa, menaruhnya diatas meja kerjanya tuannya dan memutar Vidio yang durasinya sedikit panjang


Levi mengambil tablet itu lalu memutar sendiri Vidio yang berada disana.


Keningnya mengerut melihat bagaimana dengan lincahnya wanita yabg mengenakan pakaian serba maroon itu beraksi, namun wajahnya malah dia tutupi dengan masker hitam.


Lalu berpindah lagi ketika berada disuatu ruangan dimana terdapat 13 pria dengan satu orang wanita tanpa busana yang sedang ******** ***** pria itu, namun dikejutkan dengan pintu yang terlepas dan menghantam beberapa orang bodyguard, mereka menyerang namun didetik selanjutnya malah terjatuh.


Sampai dimana wanita itu membuat pria yang sedikit berkuasa itu kaku tanpa diberikan ampun, memperlakukan dengan sangat memalukan. Dan saat dimana dia memperlakukan wanita itu dengan sedikit lembut, lalu menggendongnya ala bridal style lalu berjalan keluar dari ruangan itu namun malah melewati kamera mini yang bentuknya adalah lalat dengan ukuran yang sedikit lebih besar dari pada lalat pada umumnya.


Levi masih mengingat dengan jelas wanita itu menyebut dirinya adalah "Monster Psycopat" dan "Dewi Perang"


Memang cocok untuk tempramen nya yang kejam dan tak berperasaan saat itu.


Namun mata Levi malah tertuju pada masker hitam yang wanita itu kenakan. Ada lambang bunga Teratai yang berwarna emas, itu seperti hasil sulaman.


Itu Levi ketahui saat men-zoom wajah itu, lambang dari masker itu sangat kecil sampai tak ada yang menyadarinya. Namun tidak dengan mata tajam miliki Levi.


"Siapa lagi sekarang? Ini akan sulit.* gumamnya pelan.


"Cari tahu siapa wanita itu dan beritahu aku hasilnya!" perintah Levi, matanya tertuju pada masker dengan lambang dari teratai itu.

__ADS_1


"Sifatnya mengingatkan ku pada gadisku. Entah apa yang sekarang sedang ia lakukan." gumam Levi lagi.


__ADS_2