
Dony melangkah menuruni atap gedung, ia sudah selesai mengawasi keadaan dari atap gedung itu. Kakinya melangkah kearah dimana lift berada, memasuki dan keluar dari gedung bertingkat itu.
Gedung itu adalah salah satu hotel yang berada di sekitar pelabuhan, tempat dimana biasanya banyak turis atau warga yang akan beristirahat sebentar karena kelelahan dalam perjalanan laut.
Dony kembali melajukan mobilnya kearah pelabuhan, melewati pos penjaga dan mengambil karcis, dia tak menjawab pertanyaan dari sang penjaga ketika ditanya mau kemana-mana, seakan dia sedang mendengar musik padahal sedang mendengar arahan dari ketua timnya.
Sementara Axila, Dara dan Josua dan Daren sudah bersiap diposisi mereka masing-masing.
Axila mengenakan pakaian serba merah maroon, leather jacket berwarna maroon dan masker berwarna hitam yang menutupi sebagian wajah cantiknya. Disisi kanan dan kirinya sudah menggantung dua senjata mematikan, bahkan di pahanya sudah terdapat dua berlatih yang entah seberapa tajamnya, yang dipastikan sama seperti milik para Psycopat.
Axila melirik jam tangan yang ia kenakan, waktu menunjukkan pukul 13:07 menit. Mereka memang menggunakan waktu yang cukup lama ketika berada di rumah Letkol Bobby, ditambah perjalanan yang memakan waktu hampir dua jam.
Axila memperhatikan gedung yang berada didepannya, memang hanya berlantai dua dan gedung itu seperti tak layak digunakan, lebih tepatnya itu seperti gudang penyimpanan, namun tak tahu penyimpanan apa.
"Daren, apa yang kau lihat?" tanya Axila.
"Tunggu sebentar." balas Daren, ia mengamati dari balik layar laptop dan tabletnya, "Ada 10 orang yang sedang berjaga diluar, dan didalam sana sepertinya lebih dari 30 orang yang sedang berjaga." balas Daren cepat.
"Kau yakin?" balas Axila, dia meragukan pengamatan Daren saat ini.
__ADS_1
"Tentu saja, enam orang di pintu depan dan empat lainnya berada dipintu samping." balas Daren cepat.
"Josua, kau sudah berada di posisimu?" ujar Axila lagi.
"Aku hampir sampai, sedikit lagi dan selesai." balas Josua.
"Dony?" hanya menyebutkan nama saja Dony tahu apa yang dimaksud oleh ketua mereka.
"1/4 jalan lagi dan aku akan sampai di posisiku." balas Dony cepat, ia sudah menemukan posisi yang pas untuk menjadi tempat persembunyiannya. Dimana ia bisa mengontrol dua pintu Sekaligus, pintu utama dan pintu samping. Bisa kalian bayangkan bukan?
Sementara Dara dan Axila berada di posisi yang sama saat ini.
Bahkan Dara sendiri tak merasakan gadis itu pergi dari sisi nya, hanya terdengar suara Axila dan hembusan angin ketika gadis itu berlari.
Axila sampai di posisi yang lebih dekat lagi dengan mereka atau lebih tepatnya para penjaga, lalu mengeluarkan enam jarum emas dan menyelipkannya disela-sela jarinya.
Axila keluar dari tempat persembunyiannya dan berteriak pada mereka. "Hei!"
Saat keenam orang itu mengarahkan pandangannya pada Axila, mata mereka terbelalak karena menyadari sesuatu, gadis itu membawa senjata api namun saat mereka ingin menyerang Axila, mereka lebih dulu terjatuh tak sadarkan diri.
__ADS_1
Mengapa? Karena Axila melemparkan enam jarum itu tepat didada kiri mereka dan lebih parahnya lagi tepat di jantung mereka.
Keenam orang itu terjatuh layaknya sedang pingsan, namun jika memeriksanya orang lain akan menyadari jika mereka sudah kehilangan nyawanya.
Axila menggerakkan jarinya menyuruh Dara agar mendekat, Dara yang menerima kode dari ketua timnya segera berlari kearah Dimana Axila berada.
"Dony, bagaimana keadaan dipintu samping?" tanya Axila.
"Mereka sedang mondar-mandir." balasnya, "Al, sepertinya ada yang ingin bermain denganmu. Dia sedang berjalan kearah mu" sambung Dony lagi yang sedang mengamati dengan sniper yang ia pakai.
"Bermain denganku?" ulang Axila, ia mengambil satu jarum lagi dan menyelipkan diantara sela jari telunjuk dan tengah.
Saat pria itu hampir sampai di posisi Axila dan Dara, dia tak menyadari apapun karena tak ada keanehan namun semakin mendekat ia malah tak melihat siapapun yang sedang menjaga.
Justru yang ia lihat adalah teman-temannya yang sedang tiduran didepan pintu utama, dan dua orang wanita sedang melambaikan tangan mereka pada dia itu.
"Haii..." ujar Dara sambil melambaikan tangannya, sementara Axila langsung melemparkan jarum itu tepat di dada kirinya sama seperti teman-temannya.
"Josua, bagaimana keadaan didalam sana?." tanya Axila....
__ADS_1