
Suasana di rumah saat ini sedang ramai. Semua orang berkumpul di rumah Axila saat ini, tentunya karena kecelakaan yang menimpa Azka.
Maria dan Michael juga hadir, minus Putra karena dia sedang bertugas hari ini.
Ditambah dengan teman-teman Azka yang datang.
Termasuk Levi dan asistennya.
Ada pula asisten Kang yang mengantarkan berkas pekerjaan Axila.
Reyna, si kembar Emma dan Emmy, lalu Valen. Kelima remaja itu sedang bermain di ruang keluarga, entah permainan apa yang mereka mainkan namun terlihat seru dan sangat menyenangkan.
"Sedari tadi, aku penasaran dengan studio milik Azka," ujar Emmy tiba-tiba.
"He'em. Aku juga," sambung Valen.
"Boleh, namun studio ku berada di lantai dua, samping kamarku. Aku tak bisa mengantar kalian untuk melihat-lihat, kakiku akan sakit jika aku bergerak terlalu banyak," balas Azka.
"Yaahhh...
padahal udah nggak sabar nih, buat home tour," sambil Valen dengan nada kecewanya.
Azka membalasnya dengan kekehan pelan.
"Tuan muda, cake nya telah matang," ujar Anna yang datang memberitahu Azka.
"Tolong dibawakan kemari yah, Bik," pinta Azka.
"Baik, saya ambilkan dulu. Permisi," dengan sopan wanita itu kembali ke dapur lalu mengambilkan cake yang dibuat oleh Maria.
"Nyonya, Tuan muda meminta saya untuk membawakan cake nya," ujar Anna pada Maria yang sedang fokus memasak dibantu oleh dua orang koki.
"Kalau begitu bawakan pada mereka, bawakan juga untuk Tuan dan tamu yang lain," sambung Maria.
"Baik, Nyonya," Anna mengambil piring-piring yang diatasnya sudah terdapat cake cokelat. Tepatnya Lava cake. Ia membawanya terlebih dahulu untuk para remaja itu barulah kemudian dibawakan untuk Michael dan tamu yang lain.
Pintu kembali terbuka, menampilkan sosok wanita yang mengenakan pakaian seorang pelayan. Anna memasuki ruang keluarga, mendapati semua remaja itu menatapnya. Ia meletakkan piring-piring berisi cake diatas meja, mempersilahkan mereka menikmatinya lalu keluar dari ruangan itu.
"Woohh.... Lava cake? Bik Anna memang tahu kesukaan ku, terima kasih Bik," puji Valen dengan senyum menawannya.
"Makasih yah, Bik." sambung yang lainnya termasuk Azka, Anna mengangguk lalu keluar dari ruangan itu.
Valen dengan tak ragu lagi menikmati cake nya, melihat itu yang lainnya juga mengikuti langkah remaja itu.
__ADS_1
"Enak banget, beli dari mana nih?" tanya Reyna.
"Iya, gue juga mau beli buat makan dirumah nanti," sambung Emmy.
"Ini nggak beli, tapi dibuat sama Bunda, jika aku tak seperti ini, aku yang membuatkan untuk kalian," sambung Azka santai.
"Emangnya bisa?" tanya Valen ragu.
"Tentu saja, dibantu Bunda tentunya," Giginya ia tampilkan sambil terkekeh pelan.
"Kau bisa masak?" tanya Reyna.
"Cuma bantuin Bunda masak, soalnya seru aja," balas Azka.
"Seru? Masak susah banget loh. Gue aja cuma bisa masak telor ceplok sama air doang. Sama masak Mie aja," sambung Emmy.
"Susah banget, sumpah," timpal Valen
"Nggak susah, kalian tinggal belajar aja. Beres kan?" sambung Reyna lagi.
"Emangnya Lo bisa masak?"
"Bisa lah. Masak nasi," ujar Reyna sambil menatap Emma.
"Setidaknya, gue satu tingkat diatas Lo. Masak air, buat telur ceplok sama masak Mie itu udah ahli gue nih. Malu lah sama gue," ujar Reyna sombong.
Emmy menggelengkan kepalanya, tatapannya tertuju pada Azka, "Memangnya masak apa yang bisa, Ka?"
"Aku biasanya buat sandwich, bubur ayam, kangkung tumis kesukaan Noona, ikan goreng, sama ada beberapa masakan lain lagi, tapi semuanya sama Bunda.
Lalu ada beberapa cake, contohnya Brownies, Lava cake, red Velvet, sama lainnya," balas Azka sambil mengingat-ingat apa saja yang bisa ia masak entah didampingi Maria atau tidak.
Emmy, Emma dan Reyna menjadi malu. Sepertinya Azka lebih jago masak nya dari pada mereka. Padahal Azka Ian laki-laki, sedangkan mereka itu perempuan.
"Wajah Lo berseri-seri, Lo suka banget yah sama masak?" tanya Valen.
"Kan sudah kubilang, memasak itu hal yang menyenangkan. Aku menikmatinya," balas Azka sambil tersenyum tampan.
Di sisi lain, para pria dewasa sedang mengobrol, banyak hal yang mereka bicarakan.
"Aku tak melihat Axila sedari tadi, dimana dia?" tanya Levi.
"Sepertinya Nona berada di taman belakang, bersama hewan kesayangannya," balas Asisten Kang.
__ADS_1
"Hewan? dia punya hewan peliharaan?"
"Tentu saja, Tuan. Anda bisa melihatnya sendiri," balas asisten Kang.
Karena penasaran, Levi beranjak dari ruang tamu dan berjalan kearah taman belakang, dimana terdapat kolam renang disana, dan juga tempat bersantai.
Tak ada yang mengikuti Levi, pria itu sendiri karena asisten Kang dan Michael sudah tahu seperti apa hewan peliharaan Axila, mereka tak berani mendekat karena takut.
Bahkan jika mereka ingin melihat hewan itu, hanya berada di balik dinding kaca yg memisahkan taman dan bagian dalam rumah saja.
Langkah Kaki yang mendekat membuat hewan dengan bulu yang lebat itu menggeram, telinganya sudah berdiri. Ia bangun dari tiduran nya, melihat ke sekitar lebih tepatnya lagi ke pintu yang menghubungkan antara taman belakang dan rumah.
Axila menoleh, ia melihat Evan (serigalanya Axila) yang terus menggeram namun tak peduli lalu kembali pada kesibukannya, yaitu melukis.
Sedikit tapi pasti, Axila bisa melukis.
Levi yang tiba di sana dikejutkan dengan binatang buas berbulu tebal itu, ia sedang menatap Levi dengan tajam dan siap menyerang.
"Axila! Axila lari! bagaimana bisa ada hewan buas didalam sini? Axila cepat lari!" teriak Levi, tentu saja ia sangat terkejut dicampur panik, saat ini dia bahkan tak memegang pistol yang selalu terselip di dalam jas nya.
Serigala itu langsung menerkam Levi, ia menindih pria itu namun langsung menciut saat Axila memanggilnya.
"Evannnn...." panggilan Axila terdengar lembut namun sepertinya tidak bagi serigala itu.
Ia langsung menyingkir dari Levi, berjalan mendekati Axila lalu kembali ke posisi semula. Yaitu berbaring di belakang tubuh Axila.
Tentu saja Levi sangat terkejut karena serigala itu langsung pergi, apa lagi berjalan mendekati Axila dan tiduran disana.
Levi merasa sedikit ngeri juga.
Padahal dia juga memiliki hewan peliharaan yang hampir sama seperti Axila, hanya saja miliknya itu adalah seekor singa jantan.
Tapi tak berada di negara ini, melainkan berada di Italia.
Masih dengan ragu, Levi berjalan mendekati Axila.
Dan Evan kembali mengangkat kepalanya, namun hanya menatap prianitu saja.
"Aku mencarimu didalam sana, mengapa kau sendirian disini?" tanya Levi sambil melihat gadis itu yang sedang melukis.
Ia ingin melihat apa yang Axila lukis, namun masih ada Evan yang berada tepat dibelakang gadis itu.
"Hanya merindukan seseorang," balas Axila santai dan tetap fokus pada lukisannya yang hampir selesai.
__ADS_1
Mendengar hal itu, Levi tentunya menjadi tak senang. Gadis itu malah merindukan orang lain, dan selalu memberikan sikap dingin padanya.