Perjalanan Waktu Putri Mahkota

Perjalanan Waktu Putri Mahkota
Sadar


__ADS_3

"Tuan, saya mendapatkan kabar jika Nona Axila kecelakaan."


Ucapan itu terus terngiang-ngiang didalam pikirannya, langkah kakinya terus melangkah dengan tergesa-gesa. Melewati lorong-lorong rumah sakit dan berakhir didepan pintu yang bertuliskan "Mawar 3-A"


Tanpa mengetuk pintu, ia langsung mendorongnya.


Semua mata didalam sana langsung tertuju padanya.


"Mike?" gumam Maria.


Yah, dia adalah Mike.


Matanya tertuju pada sosok gadis yang saat itu terbaring dengan wajah yang pucat, langkah Mike mendekat.


Putra menarik tangan Azka agar sedikit menjauh, membiarkan Mike yang duduk ditempatnya.


Tubuh Mike seakan menjadi lemas, matanya langsung memerah dan mengeluarkan cairan bening itu.


"Honey-" mulutnya seakan tak dapat bicara lagi, ucapannya terputus.


"Mike, tenangkan dirimu." Putra mengelus punggung temannya, memberikan semangat bagi pria itu.


Mike menggenggam tangan Axila erat, "bagaimana bisa? Bagaimana dia bisa berakhir disini?!... Katakan padaku!" Suara Mike meninggi, ia menatap Putra dengan emosi yang berubah-ubah.


"Mike.." Putra mencoba untuk menenangkan temannya namun itu tak berhasil.


Tangis Mike seakan pecah saat melihat Axila yang seperti ini, dia terlalu mencintai Axila sampai lupa jika dia telah memiliki seorang tunangan dan mungkin sebentar lagi mereka akan melangsungkan pernikahan.


Robin, pria itu kembali untuk memeriksa keadaan Axila namun malah mendengar hal yang lain dan ia terpaku didepan pintu ruang rawat Axila.


"Kau," suara bariton itu mengalihkan perhatian semua orang. "tidak bisakah kau melepaskan tangan itu?" mata Levi sejak tadi menatap tajam pada genggaman Mike.


"Apa masalahmu?!" sarkas Mike.


Levi berjalan dan menghampiri bangsal, "Lepaskan tangan kotormu itu dari kekasihku!" ucapannya membuat Mike tak senang.


"Tidak sadarkan kau juga menyakiti hatinya? Kau bertunangan dengan wanita lain tapi mencintai wanita yang berbeda pula, tidakkah kau terlalu serakah?" tatapan Levi terjatuh pada jari Mike yang di lingkari oleh cincin.


"Aku tak punya urusan denganmu." balas Mike.


Levi tertawa renyah, membuat suasana didalam sana menjadi sedikit menegang.


"Hei. Ingatkah jika hubungan kalian sudah berakhir? Jika kau melupakan nya, aku akan dengan senang hati mengingatkan mu kembali. Hari itu, di Caffe G hubungan kalian-"


"Hentikan, Brengs3k!" potong Mike cepat.

__ADS_1


"Mengapa? Dia sekarang telah menjadi kekasih ku. Dan itu telah menjadi urusanku juga." balas Levi lagi.


Azka benci ini, "Tidak bisakah kalian berdua diam?!.. Noona bahkan belum membuka matanya sejak tadi!"


Dia benci melihat orang-orang yang bertengkar, dia benci melihat kakaknya terbaring seperti ini. Dia benci.


Kedua pria itu tak lagi mengeluarkan suara mereka, hanya tatapan permusuhan yang terlihat saat ini.


Azka menyalahkan dirinya yang tak bisa melakukan apa-apa, disaat mereka diserang seharusnya dia bisa melindungi kakaknya, namun apa yang dia lakukan?


Tak ada, dia tak bisa melindungi kakaknya itu dan akhirnya harus berakhir seperti ini.


Bahkan hari sudah malam namun gadis itu bahkan belum membuka matanya, ini sudah berjam-jam operasi selesai dilakukan, tapi mengapa?


"Bunda... Kenapa Noona belum bangun juga?" tanya Azka lemah.


Maria juga tak tahu, seharusnya Axila sadar setelah satu sampai dua jam sehabis operasi tadi.


Diamnya Maria membuat Azka semakin bersedih, seakan mengatakan jika dia juga tak tahu mengapa.


Semua orang bisa melihat, jika yang paling menyedihkan adalah sang Adik, Azka.


Mereka tahu bagaimana anak itu menjalani hari-hari nya dengan gembira, seakan tak mempunyai masalah sedikitpun. Namun sekarang mereka bisa melihat bagaimana hancurnya Azka saat Axila berada dikeadaan seperti sekarang ini.


Axila, gadis itu mendengar suara yang ribut, ditambah dengan bau alkohol dan desinfektan yang mendominasi rumah sakit menusuk di indera penciuman nya.


"Noona, Noona kau sadar?" ujar Azka dengan kegirangan membuat semuanya mengalihkan perhatian pada Axila.


Mata Axila terbuka, namun kembali menutup. Pencahayaan didalam kamar ini terlalu terang sehingga menyakitkan saat mata itu terbuka.


Maria bergegas memeriksa keadaan putrinya, ia mengambil stetoskop dan menempelkannya didada Axila, memeriksa detak jantung gadis itu. Senyum mengembang di wajahnya saat itu juga.


Kini mata mata Axila benar-benar terbuka, menggerakkan kepalanya dan melihat orang-orang didalam sana yang saat itu mengerubungi nya.


"Rumah sakit?" gumam Axila.


"Syukurlah, akhirnya Noona bangun juga. Aku sangat khawatir tadi." ujar Azka dengan senang.


Axila tersenyum lalu mengelus puncak kepala adiknya, "kau tak apa, 'bukan?" tanyanya.


Azka mengangguk cepat, "aku baik-baik saja."


"Bisa tolong ambilkan air, aku haus." pinta Axila karena memang tenggorokan nya terasa kering.


Levi langsung bergegas mengambilkan segelas air hangat dengan suhu 15°c, ia tak akan mungkin memberikan Axila air dingin saat gadis itu baru saja bangun dari masa kritisnya.

__ADS_1


"Ini, minumlah." Levi membantu Axila untuk setengah duduk, lalu membantunya memegang gelas sehingga gadis itu bisa minum tanpa takut airnya akan tumpah.


Tangan Axila memegang pundak kanannya yang terasa nyeri,


"Kembali baringkan dia dulu, lukanya pasti menyakitkan." ujar Maria.


Levi kembali membaringkan tubuh Axila dengan perlahan, memperlakukannya dengan sangat lembut.


"Darah, itu punyaku?" tebak Axila saat matanya tak sengaja melihat ada noda darah disana.


Levi tak menyangkal, ia mengangguk. "Ini hanya baju saja, aku bisa mengganti dan membeli lagi yang baru." ujarnya terkesan Sombong namun percayalah jika itu memang kenyataan, hanya sepotong baju tak ada artinya bagi Levi, ia mempunyai segudang uang dan tumpukan harta.


"Mike, jangan terlalu khawatir, aku baik-baik saja." ujar Axila tiba-tiba, hal itu membuat Mike tersenyum kecut.


"Selamat atas pertunangan mu, maaf jika aku tak hadir hari itu." ujar Axila tulus, matanya juga menatap pada Mike.


Pria itu hanya mengangguk lemah, pasti Axila melihat cincin yang melekat diharinya, kan?. Tebak Mike.


Michael, pria itu sudah penasaran sedari tadi. Ingin bertanya tapi ada orang lain disini, terlebih ada Azka yang dimana Axila tak memberitahu pekerjaan nya yang sangat membahayakan itu.


Levi pamit keluar sebentar karena ponselnya bergetar.


"Ya?"


"Selamat malam, Tuan. Kami menemukan jika itu adalah ulah...."


Laporan dari anak buahnya membuat Levi naik pitam.


'Brengs3k kalian! Akan kubunuh kau baj!ngan! Kau benar-benar keterlaluan, Zain!' Batin Levi.


Amarahnya memuncak, orang yang sama telah melukai Axila sebanyak dua kali. Ini tak bisa dibiarkan.


Ingatkah kalian dengan misi Axila saat menggagalkan transaksi dan menyematkan para wanita yang akan dijadikan budak nafsu diluar sana?


Orang itu, dia ingin membalaskan dendam karena telah menghabat dan membunuh orang-orang nya termasuk orang yang menjadi tangan kanannya.


Dan lebih menyebalkan nya lagi, musuhnya itu akan terus berusaha untuk membunuh Axila. Itu artinya gadis itu sedang berada dalam masalah yang serius.


Ditambah bed3bah itu menggunakan nama organisasi miliknya sebagai tersangka.


Ingin rasanya Levi menghancurkan gedung ini demi meredam amarahnya, namun ia masih waras sehingga tak membuat kerusuhan disini.


Levi pergi keluar gedung, dia membutuhkan ketenangan agar bisa meredam amarahnya yang saat ini sedang memuncak.


Ia mengeluarkan sebatang rokok lalu diselipkan disela bibirnya, menakarnya dengan korek api dan mulai menghembuskan kepulan asap, berharap agar bisa sedikit tenang.

__ADS_1


Levi bukanlah seorang perokok aktif, ia hanya akan merokok jika dalam keadaan yang seperti sekarang ini. Hanya sesekali tak apa, bukan?.


__ADS_2