Perjalanan Waktu Putri Mahkota

Perjalanan Waktu Putri Mahkota
AKU MEMBENCIMU!


__ADS_3

Bagaimana jika dirimu tak menyukai seseorang, entah itu karena sikapnya atau perilakunya yang mungkin saja tak baik padamu.


Apa kau akan menunjukannya secara terang-terangan?


Atau justru dengan tindakan-tindakan kecil yang mungkin saja membuatnya tahu jika kau tak menyukai nya?.


Maka pilihlah pertama lah yang Axila pilih.


Gadis itu dengan terang-terangan memperlihatkan ketidaksukaan nya pada seorang wanita yang sedang duduk didepannya.


Menatap wanita itu tajam, seolah-olah dapat membunuhnya hanya lewat tatapan saja.


"Jadi, apa yang ingin nona bicarakan dengan ku?" tanya Nam-Joo pada gadis cantik yang duduk didepannya sambil menatapnya tak suka.


"Aku tak perlu berbasa-basi lagi dan langsung pada intinya.


AKU SANGAT MEMBENCIMU!!" ujar Axila dingin, tatapannya semakin tajam dan menusuk. Axila langsung bangkit dari duduknya dan meninggalkan Nam-Joo sendirian dengan kebingungan yang melanda hatinya.


Lihat! Bagaimana sikap Axila tak membuatnya kesal dan geram?


Jika kau diganggu seseorang saat sedang bekerja dan menatapmu dengan serius lalu mengatakan jika ingin bicara serius denganmu.


Dan dengan tiba-tiba pula mengatakan jika dia "MEMBENCIMU"


bagaimana reaksi mu? bukankah kesal? itu juga yang dialami oleh Nam-Joo saat ini.


Dua bahkan menganggap Axila gila.


Namun didetik selanjutnya matanya membulat sempurna.


Pandangannya dengan cepat beralih keluar Caffe dan berlari kecil kesana dan menemukan gadis tadi mengemudikan mobil Mercedes Benz berwarna merah dengan kecepatan sedang meninggalkan area sekitar Caffe dan toko-toko lainnya.


Tubuhnya menegang ditempat, Seolah tak dapat bergerak lagi dari sana.


Hanya dengan mengingat sekilas saja sudah membuatnya sepanik ini.


Yah, dia mengingat kembali wajah Axila saat memasuki kantor polisi diwaktu lalu, ditambah keganasan gadis itu saat memukul wajah salah satu orang tua teman putranya.


Bahkan lebih menegang lagi saat mengetahui jika Axila adalah pemilik baru Hotel Shin Three yang sudah pasti sangat mendominasi kota ini.


Bahkan lebih siap lagi, gadis itu adalah kakak dari anak tirinya.

__ADS_1


Bukankah sangat sial?


Bahkan banyak orang sedang mencari muka dengan gadis tak tersentuh itu agar mau bekerjasama dengan mereka, namun gadis itu malah mengatakan ketidaksukaan nya pada Nam-Joo secara terang-terangan.


Apa 'anak itu' mengadukan perlakuannya kemarin pada kakaknya?


Sehingga membuat gadis itu datang dan mengatakan ketidaksukaan nya pada ibu dua anak ini?.


Ralat! Satu anak, karena dia tak menganggap Azka putranya.


"Pagi yang sial!" gumam Nam-Joo.


Berbanding terbalik dengan Axila yang saat ini sedang tersenyum ejek.


"Ini baru permulaan, kau harus mendapatkan pelajaran yang tak akan kau lupakan seumur hidup!" gumamnya.


Kejam?


Tentu saja gadis ini sangat kejam. Perlu diingat, jika jiwa yang berada dalam tubuhnya ini adalah orang lain.


Jiwa seorang putri mahkota yang dijuluki sebagai "Dewi Perang" oleh semua orang di zamannya.


Axila bahkan tak punya waktu hanya untuk sekedar membersihkan kukunya dan mengenakan cat kuku karena yang alami lah yang akan langsung mewarnai kuku bahkan tangan serta seluruh tubuhnya dengan cairan warna merah yang berbau amis.


Apa lagi merawat wajah serta tubuhnya layaknya para gadis bangsawan yang lainnya.


Waktu di Medan perang. Mereka dilarang menggunakan elemen masing-masing dan hanya menggunakan pedang, panah dan tombak. Entah dari mana peraturan itu namun semua kerajaan dan kekaisaran selalu mengikuti aturan itu.


Pernah sekali ada yang melanggarnya, dengan cepat ditangani oleh Axila dengan menggunakan kekuatan perebut nya.


Aturan itu dilanggar oleh seorang jendral kerajaan lain, dan ikuti oleh dua pangeran mereka.


Alhasil, mereka harus merelakan elemen mereka diambil paksa oleh sang Dewi Perang.


Entah sudah berapa banyak nyawa yang hilang ditangannya, namun gadis itu tak pernah sekalipun menyesal, dia bahkan akan sangat tenang seperti air.


Tak tahu saja jika didalam air yang tenang itu banyak penghuni yang mungkin saja akan langsung menerkam mereka hidup-hidup.


Begitulah bagaimana Axila memiliki elemen tumbuhan, api suci dan angin. Namun tidak dengan elemen cahaya yang ia dapatkan dari sang nenek, atau lebih tepatnya ibu suri.


...........

__ADS_1


Axila memarkirkan mobilnya di parkiran depan Sekolah Menengah itu, nampak sedikit sepi namun tidak dengan didalam gedung sana diikuti oleh dua mobil yang selalu mengikutinya kemanapun. Satunya adalah sang sekretaris dan mobil lainnya adalah pengawalnya.


Dengan santainya dia berjalan memasuki gedung sekolah diikuti oleh tiga pria dibelakangnya, melangkahkan kakinya kearah yang sudah ia ketahui. Menapaki anak tangga dan berakir dilantai empat.


Sekretaris Kang mendorong pintu yang sudah pasti adalah ruang guru, lalu mempersilakan Nona nya memasuki ruangan itu.


Axila menurut, dia melangkahkan kakinya memasuki ruangan itu.


Terlihat beberapa guru yang mengalihkan perhatian mereka kearah pintu dan mendapati sosok gadis cantik berwajah anggun disana.


Axila hanya melihat kilas lalu berjalan kearah dimana meja wali kelas adiknya berada, untuk saja pria itu tak sedang mengajar.


"Permisi Pak." panggil Axila.


Pria itu mengangkat wajahnya dan mendapati sosok asing didepannya.


"Ada yang bisa saya bantu, Nona?" tanyanya.


"Perkenalkan, saya Axila kakak dari murid anda. Azka Leon Remanov." jeda Axila, "Anda pasti wali kelasnya yang baru 'Bukan?"


Pria yang usianya masih terlihat sangat muda mengangguk, "Benar, Nona. Saya wali kelas Azka yang baru dan baru bergabung dua Minggu yang lalu mengganti wali kelasnya yang lama." jelas pria itu.


"Baiklah" jeda Axila. "Saya kesini untuk memberitahu jika....."


Didalam kelas, pelajaran baru saja selesai dengan malas Azka memasukkan bukunya kedalam tas sekolahnya.


Teman-temannya sudah pada pergi ke kantin ataupun perpustakaan sesuai dengan keinginan mereka. Karena kebetulan juga ini sudah menunjukkan hampir makan siang.


Kegiatannya terhenti saat seorang siswa berlari dan membuka pintu dengan kasar


"Azka! Ada kakakmu yang berada di ruang kepala sekolah." ujarnya dengan suara lantang membuat beberapa siswa yang masih berada didalam sana mengalihkan pandangannya pada Azka.


Azka ragu dan sedikit tak percaya, namun saat mengingat kembali ucapan kakaknya semalam saat mereka makan malam Azka segera membuang semua perhatiannya dan langsung berjalan keluar kelas.


Dia mematung disana saat mendapati dua pengawal yang sudah ia hafal wajahnya berada persis didepan nya dan memberikan hormat, tanpa membalasnya Azka segera berjalan tergesa-gesa kearah dimana kantor kepala sekolah berada, ikuti oleh dua pengawal itu.


"Brakkk!!!"


Dengan kasar, Azka mendorong pintu ruang kepala sekolah dan mendapati kakaknya yang tengah menatapnya juga bersama tiga orang lainnya.


"Noona" panggil Azka.....

__ADS_1


__ADS_2