Pernikahan Tanpa Cinta

Pernikahan Tanpa Cinta
100


__ADS_3

Setelah memeriksa Famira dokter pribadi itu berpamitan pulang. Bara duduk di sisi ranjang ingin memeluk tubuh Famira karena sangat bahagia, pria ini tidak dapat berkata apa-apa selain ucapan syukur kepada-Nya. Namun, Famira terus saja menolaknya.


"Ra, masa kamu nggak mau dekat dengan, mas sih." Bara mengacak rambutnya frustrasi. Bagaimana tidak Bara frustrasi, Bara tidak akan sanggup bila lama-lama jauh dari Famira.


Famira tersenyum lebar. "Anak Mas yang tidak ingin dekat-dekat dengan, Mas. Mungkin karena Mas jahat pada Famira."


"Jahat? Mas melakukan kesalahan pada kamu, Ra?" Bara tidak henti-hentinya bertanya.


Famira menyenderkan kepalanya di sandaran kasur, mengusap lembut perutnya yang masih datar. Famira tidak kalah bahagia saat mengetahui dirinya hamil. Ucapan syukur tidak henti-hentinya terucap di bibirnya. "Sampai detik ini, Mas belum ceritain ke Famira awal kita bertemu. Bukankah Mas sudah janji pada Famira untuk menceritakannya? Famira penasaran, Mas. Ceritakan sekarang, yah," pintanya memohon.


"Tunggu saja, di waktu yang tepat, Ra."


"Lah ... kenapa, Mas?" Nada suara Famira tampak kecewa.


"Mas masih belum siap, masih malu ceritakan semuanya pada kamu, Ra."


Famira mengerucutkan bibirnya, merebahkan tubuhnya pelan di kasur. "Famira nggak mau ngomong sama, Mas lagi!" kata Famira, "Ummi, suruh Mas Bara keluar, Famira ingin istirahat. Mas Bara main rahasia terus dari Famira," ucap Famira pada ummi Hana yang hanya diam menyimak obrolan menantu dan putrinya itu.


Ummi Hana mengaguk setuju.


"Biarkan istrimu istirahat, Nak." Ummi Hana menarik pelan lengan Bara.


"Tapi Ummi ...." Bara mengeluh, menatap wajah Famira yang tidak ingin menatap dirinya. "Sayang ....," kata Bara pada Famira.


"Sudahlah, Nak. Istrimu lagi hamil, jadi kamu harus siap dengan sikapnya."


Dengan paksa Bara menuruti perintah ummi Hana untuk keluar.


"Kamu tidak ingin apa-apa, Nak?" tanya ummi Hana sebelum keluar kamar.


Famira menggelengkan kepalanya pelan.


"Nggak, Ummi. Famira ingin istirahat saja."


"Baiklah, kalau perlu apa-apa panggil ummi," ujaranya dan dibalas anggukan kecil oleh Famira. Ummi Hana menarik selimut menutupi setengah badan Famira.


"Nenek, aku mau sama Bunda saja." Atha ikut merebahkan tubuhnya di samping Famira.


Famira memberikan isyarat pada ummi Hana membiarkan Atha dengan dirinya.


Ummi Hana segera keluar dan menutup pintu kamar pelan.


"Atha, nggak mau pergi ke sekolah?" Famira menarik lembut pipi Atha.


"Aku mau nemenin, Bunda aja." Atha mencium pipi Famira, "Aku sayang sekali sama, Bunda. Aku akan jaga in Bunda dan adik aku."


"Bunda juga sayang sama, Atha." Famira memeluk erat tubuh mungil anak kecil itu.


****

__ADS_1


Kabar bahagia tentang kehamilan Famira sudah sampai di telinga keluarga besar Martadinata dan Wijaya. Erwin, Dilla, dan Vernandes pergi pagi itu juga ke kediaman Bara dan Famira. Sementara mama Ani dan papa Andi hanya bisa video call dengan menantunya itu karena mereka masih menjaga Jessika. Mereka bahagia bukan main karena sebentar lagi mereka akan menggendong cucu.


"Sayang, mama dan papa sangat rindu denganmu," ucap Mama Ani dengan suara sendu. Mencium kening putrinya yang masih terbaring lemah itu. Papa Andi merangkul pundak istrinya, mencoba memberikan semangat. Walau dirinya juga sedih sekali melihat Jessika.


Sudah dua minggu lebih Jessika belum juga siuman. Dokter spesialis yang menangani Jessika, mengatakan pada mama Ani dan papa Andi bahwa kondisi Jessika sudah semakin membaik. Tetapi, tetap saja mama Ani dan papa Andi akan tetap khawatir karena Jessika belum juga sadar.


Mama Ani dan papa rindu dengan suara keras dan cempreng Jessika saat putrinya itu memanggil mereka. Sikap kekanakan, dan manja Jessika juga sangat dirindukan. Hari-hari mereka seakan berbeda sejak Jessika masuk rumah sakit.


Orang yang menabrak Jessika sudah ditangkap oleh polisi. Mama Ani dan papa Andi menuntut seadil-adilnya. Agar pelaku diberikan hukum seberat-beratnya sesuai dengan yang terjadi pada putrinya.


Jari lentik Jessika mulai bergerak pelan, netranya mengerjap-ngerjap.


"Ma, Pa ....," panggil Jessika pelan. Bibirnya terangkat menyungging senyum tipis.


Mama Ani dan papa Andi menghambur memeluk tubuh Jessika penuh kebahagiaan.


"Alhamdulillah, kamu siuman juga, Sayang," kata mama Ani mencium pipi Jessika secara bergantian. Papa Andi tidak mau kalah mencium pipi dan kening putrinya itu.


"Kami sangat merindukanmu, Nak," tutur papa Andi.


Jessika merentangkan kedua tangannya. "Peluk lagi, Ma, Pa. Jessika juga rindu," pintanya dengan manja. Jessika memeluk erat tubuh kedua orang tuanya itu. "Maafin Jessika, Ma, Pa. Gara-gara Jessika Mama dan Papa kecapean gini." Jessika dapat melihat kedua orang yang disayangi itu kelelahan dan kurang tidur.


"Tidak ada kata kecapean bagi kami untuk mengurusmu, Sayang. Sudah menjadi kewajiban kami sebagai orang tua untuk menjagamu dan mengurusmu." Mama Ani mengusap bening air mata yang jatuh di pipi putrinya itu.


"Tubuhmu masih sakit, Nak? Papa akan panggil dokter sebenar ya." Papa Andi khawatir saat melihat Jessika mengeluarkan bening air mata, papa Andi takut putrinya itu sedang menahan sakit. Dengan cepat Jessika menahan tangan papa Andi saat ingin keluar, "Jessika nggak apa-apa, Pa. Jessika hanya terharu hehehe ....," tutur Jessika diakhiri dengan tawa ringannya. Mencoba meyakinkan bahwa dirinya sudah membaik.


Mama Ani dan papa Andi tersenyum bahagia, melihat senyuman dan wajah ceria putrinya itu sudah kembali seperti sebelumnya.


"Tidak, Pa. Jessika belum nafsu makan."


Jessika menggenggam erat tangan mama Ani. "Setelah Jessika sembuh total, Jessika ingin balik ke Inggris secepatnya, Ma."


"Papa tidak mengizinkan kamu pergi lagi ke sana, lanjutkan kuliahmu di Indonesia saja, Nak!" sahut papa Andi penuh penekanan.


Jessika menggigit bibir bawahnya, menatap wajah lurus papa Andi. "Jessika tidak mau, Jessika akan tetap mau selesaikan S2 di sana, Pa," jawab Jessika keukeh. Jessika ingin balik secepatnya agar dapat move on dari Rendi sepenuhnya.


Mama Ani mengusap lengan suaminya, memberikan peringatan untuk menjaga sikap pada Jessika saat ini.


"Tidak perlu bicarakan apa-apa saat ini, Sayang. Kamu istirahat."


"Assalamu'alaikum ....," salam Rendi dengan jas hitam setelan pakaian kerjanya, membuka pintu pelan.


"Wa'alaikumussalam ...." sahut mereka serempak.


Rendi melemparkan senyum tipis ke mama Ani dan papa Andi.


"Baru pulang, dari perusahaan?" tanya papa Andi membalas senyuman Rendi.


"Iya, Om."

__ADS_1


Jessika membuang pandangannya ke arah lain tidak peduli dengan kedatangan Rendi. Hatinya sudah tekad dan bulat ingin melupakan Rendi sepenuhnya. Hinaan Rendi pada waktu jogging masih terngiang-ngiang di kepalanya.


Jessika dan Rendi tinggal berdua dalam ruangan itu setelah mama Ani dan papa Andi pergi melaksanakan sholat magrib sebentar di mushola yang ada di rumah sakit itu.


Rendi menarik kursi dan duduk di samping brankar Jessika.


"Jessika." Rendi membuka keheningan yang sempat terjadi.


Jessika tidak mengindahkan panggilan Rendi, gadis itu masih bungkam seribu bahasa.


Rendi mengembuskan napas panjang, meraih tangan Jessika. "Aku minta maaf, Jes."


Jessika melepaskan genggaman tangan Rendi. "Untuk apa?" tanyanya ketus.


"Karena aku, kamu jadi seperti ini."


"Bukan salah Kak Ren, Jessika yang salah karena tidak hati-hati menyeberang," jawab Jessika. Jessika menatap Rendi sepenuhnya. "Jessika, mau Kak Ren, tidak usah peduli dengan Jessika lagi. Jessika mau Kak Ren, keluar. Jessika ingin sendiri," pinta Jessika.


Rendi menatap balik Jessika. "Nggak!"


"Mau Kak Ren sebenarnya apa sih? Bukannya Kak Ren yang bilang untuk Jessika jauh-jauh dari Kak Ren? Jessika ingin melakukannya itu saat ..." Ucapan Jessika tergantung, dia kaget saat Rendi memeluk tubuhnya dengan erat.


"Maafkan aku."


Air mata Jessika luruh saat ini, memukul tubuh Rendi meluapkan emosinya. "Kak Ren jahat, Kak Ren membuat Jessika semakin sulit untuk melupakan Kak Ren bila bersikap seperti ini." Jessika mencoba melepaskan pelukan hangat dari Rendi, Jessika ingin menghilangkan kenyamanan yang terjadi. Namun, Rendi memeluk tubuhnya dengan erat.


"Kak Ren, lepasin!" berontak Jessika lagi ingin melepaskan pelukan Rendi. Rendi mengalah melepaskan pelukan itu, Rendi juga tidak tahu dengan perasaannya yang tiba-tiba ingat memeluk tubuh Jessika.


"Keluar, Kak Ren! Jessika ingin sendiri, hiks ...." Air mata kian luruh dari pelupuk mata Jessika.


"Jessika, aku c ...."


"Keluar, Kak Ren!" Jessika menangis sejadi-jadinya.


"Oke, itu kemauanmu!" Rendi segera berlalu pergi dari hadapan Jessika.


Anita yang baru saja datang mengerutkan keningnya melihat wajah Rendi yang tampak frustrasi.


"Rendi kamu kenapa?" tanya Anita saat berpapasan dengan Rendi di ambang pintu.


"Tidak apa-apa, Kak."


Jessika sadar bahwa jika dia terus mengejar dan mengejar, itu hanya membuang waktu saja. Layaknya fatamorgana yang semakin dekat akan semakin hilang.


Kini saatnya dirinya memperbaiki dirinya, ucapan Rendi saat jogging waktu itu membuat hatinya terenyuh, mungkin hidayah-Nya sudah datang kepada dirinya.


Bukan berubah hanya agar pantas untuk dicintai. Tetapi, untuk mempersiapkan bahwa maut bisa saja datang saat dirinya sedang menanti.


Rendi membanting setir mobilnya.

__ADS_1


'Seharusnya aku bersyukur Jessika akan menjauhiku, tapi kenapa aku berat menerimanya ah ....,' ucap Rendi menggerutu dalam hatinya, dia berteriak keras mengusap wajahnya secara kasar.


__ADS_2