
═════════•❁❁•═════════
Kemarahan dimulai dengan kegilaan dan berakhir dengan penyesalan.
[ Ali bin Abi Thalib ]
═════════•❁❁•═════════
Erwin beringsut bangkit, memungut kembali baju yang dia buang sembarang tempat, Erwin mengacak rambutnya frustrasi, dia selalu saja gagal.
Erwin berjalan ke arah pintu, lalu membukakan pintu sedikit. Takut Intan melihat keadaan kamar yang sedikit berantakan akibat ulah dirinya pagi ini.
"Ada apa, Dek?" tanya Erwin ramah berusaha tersenyum tipis.
"Kak Dilla mana, Kak?" tanya Intan.
"Hm, dia lagi dikamar mandi. Kamu tunggu dibawa aja, Dek." Erwin mengusap lembut kepala Intan yang dilapisi jilbab segi empat warna army itu.
"Iya, Kak." Intan tersenyum tipis sebelum pergi dari hadapan kakak iparnya.
Dilla sudah memakai gamis lengkap dengan hijabnya. Netranya menoleh ke arah Erwin yang duduk menekuk wajahnya.
"Mas ... aku minta izin keluar hari ini, ya," pinta Dilla mengukir senyum tipis.
"Mau ke mana?" tanya Erwin tanpa menoleh.
"Pergi temenin Intan ke toko buku. Boleh?"
"Ya." Erwin menjawab singkat.
"Marah sama aku, Mas?" tanya Dilla melihat wajah sangat tidak bersahabat dari suaminya itu. Suara Erwin saja terdengar sangat dingin dan ketus di pendengarannya.
"Nggak!"
Dilla tidak mau berkata-kata apa-apa lagi. Dia meraih punggung tangan Erwin, lalu menciumnya.
"Aku pergi dulu, assalamu'alaikum ....," pamit Dilla memberikan kecupan singkat di pipi Erwin.
"Wa'alaikumussalam, jangan lama pulang!" ujar Erwin memperingati istrinya itu. Pria ini masih kesal.
"Nggih, Mas."
Setelah kepergian Dilla, pandangan Erwin jatuh pada sebuah buku bersampul hijau yang jatuh di lantai. Erwin memungutnya, karena penasaran.
Lembar demi lembar terbaca oleh Erwin, buku itu kemungkinan buku diary istrinya. Hati Erwin teriris sakit membaca setiap lembar buku itu. Dilla sama sekali tidak ada perasaan pada dirinya sampai detik ini juga?
__ADS_1
Bahkan Dilla ingin bercerai darinya. Apakah selama ini rasa cinta dan ketulusan hatinya tidak ternilai apa pun di mata istrinya itu?
Netra Erwin kembali melebar saat ada sebuah tulisan 'jahat' yang ditujukan pada dirinya.
Deg!
Saat halaman terakhir hati Erwin benar-benar terasa perih dan sakit membacanya. Erwin langsung membuang buku itu sembarangan tempat.
'Siapa pria yang masih kamu tunggu, Dilla?!' batin Erwin. Pria ini meraih telepon genggamnya, untuk menelpon sekretaris Max. Erwin yakin sekretaris Max mengetahui semuanya.
[ Max, kamu membohongiku? ] Erwin bertanya sengit.
[ Saya tidak mengerti dengan maksud, Tuan. ] Sekretaris Max menjawab dengan nada sopan walau hatinya sudah menciut saat mendengar gertakan dari tuan mudanya.
[ Kamu mengatakan saat sebelum pernikahan, Dilla tidak menjalin hubungan dengan siapa pun. ]
[ Maaf, Tuan. Nona Dilla memang tidak menjalin hubungan dengan siapa-siapa. ]
[ Bohong! jawab jujur Max, sebelum aku yang mencari informasinya sendiri! ]
Sekretaris Max yang ada di perusahaan itu merasa bimbang, apakah dia harus mengatakan sejujurnya? Sekretaris Max hanya takut melukai hati tuannya.
[ Sekretaris Max! ] Nada suara Erwin kian melengking tinggi saat belum mendapat sahutan dari sekretaris Max.
Erwin terdiam.
[ Nona Dilla dan pria itu menjalankan hubungan sesuai dengan syariat Islam, berdasarkan informasi yang berhasil saya dapatkan, pria itu sudah melamar nona Dilla, sebelum pergi ke Mesir, kemungkinan setelah pulang mereka .... ] Ucapan Sekretaris Max tergantung.
[ Cukup Max! ] potong Erwin dengan cepat, pria ini tidak sanggup lagi mendengar penjelasan sekretaris Max.
Erwin mematikan telepon secara sepihak. Raut kekecewaan tampak sekali di wajah Erwin. Erwin meluapkan kemarahannya dengan meninju dinding kamar. Tidak peduli dengan rasa sakit di tangannya.
'Apakah aku hanya seorang penjahat yang merebut kebahagiaan di matamu ... Dilla,' gerutu Erwin. Kepalan tangannya kembali meninju dinding kamar.
***
Kekecewaan hanyalah cara Tuhan untuk mengatakan 'Aku punya sesuatu yang lebih baik'. Sabar, jalani hidup, dan miliki iman.
Dilla tidak peduli dengan sikap Erwin yang cuek dan acuh saat dia sudah balik ke rumah, Dilla mengira Erwin bersikap seperti itu karena masih kesal gara-gara tadi pagi.
"Aku ingin bicara denganmu." Erwin menarik tangan Dilla untuk naik ke atas, Erwin menutup pintu kamar secara kasar.
Vernandes yang memang sedang mengobrol ringan dengan Dilla di ruangan keluarga sore itu, mengerutkan keningnya melihat sikap putranya itu. Tidak seperti biasanya.
__ADS_1
"Apakah kamu mencintaiku atau tidak?" tanya Erwin to the point.
"Kenapa Mas tiba-tiba menanyakan itu?" Dilla merasa risih dengan pertanyaan itu.
"Aku hanya ingin kamu jawab ya atau tidak. Semua akan selesai!" jawab Erwin, pria ini melakukan penekanan di setiap kata-katanya.
" .... "
"Dilla jawab! aku akan melepaskanmu, bila itu menjadi kebahagiaanmu!" titah Erwin dengan nada suara naik dua oktaf.
Dilla masih tidak mengerti dengan obrolan Erwin mengarah kemana. Dilla berpindah duduk ke samping Erwin.
"Apa yang membuat Mas marah seperti ini?"
"Jawab, Dilla!" Erwin menepis tangan Dilla dari tubuhnya secara kasar.
Dilla bergetar ketakutan baru pertama kali Erwin marah besar terhadap dirinya dan berlaku kasar.
"Aku tidak tahu." Ucapan itu meluncur saja di bibir Dilla, Dilla memang masih belum mengerti dengan perasaan dirinya sendiri. Dilla meraih tangan Erwin meskipun Erwin menepis secara kasar tangannya. "Namun, seiring waktu dan hari- hari yang aku lalui bersama Mas. Aku sadar, aku sudah jatuh cinta," tutur Dilla berkata jujur dari lubuk hatinya.
"Lalu maksud ini apa?" Erwin memperlihatkan kotak cincin yang berhasil dia temukan di lipatan baju Dilla, "Kamu masih menyimpan pemberian dari pria yang kamu tunggu?!"
"Mas membaca buku diaryku?" Dilla bertanya balik. Wajar bila Erwin marah besar pada dirinya bila memang benar Erwin membaca semua isi buku itu.
Erwin tidak menjawab, dia bangkit berdiri. Menepis ke sekian kalinya tangan Dilla dari tubuhnya.
Dilla ikut bangkit mengejar Erwin yang melangkahkan kakinya secepat kilat.
"Tunggu, Mas. Mas mau kemana?" Dilla mencoba mensejajarkan langkahnya dengan Erwin.
"Bukan urusanmu!" jawab Erwin dengan nada suara ketus.
"Mas ...."
"Jangan mencariku lagi!"
"Aku minta maaf, aku memang salah ...."
"Sudahlah! aku kecewa sama kamu, Dilla!"
Erwin masuk kedalam mobilnya, melaju mobilnya dengan kecepatan tinggi meninggalkan kediamannya. Entahlah Erwin juga tidak tahu akan kemana, dia ingin menenangkan dirinya dulu.
Bulir air mata jatuh di pelupuk mata Dilla, melihat mobil Erwin sudah hilang dari hadapannya, Intan yang tidak sengaja melihat perdebatan yang terjadi berjalan ke arah kakak perempuannya.
"Kak Dilla." Intan memeluk tubuh Dilla, "Kakak jangan nangis, Kak Dilla biasanya selalu tegar menghadapi masalah. Bukannya Kak Dilla yang selalu bilang pada Intan jangan menjadi wanita cengeng dan lemah? kenapa Kak Dilla jadi cengeng dan lemah seperti ini?"
__ADS_1
Dilla membalas pelukan adik perempuan. "Kakak tidak apa-apa, Dek." Dilla menghapus jejak air matanya.