
━━━━━━━━━⊰✿✿⊱━━━━━━━
ق، تنفس بإمتنان، تنفس بسعادة، دع الأحزان ترحل، فقلبك
ليس مقبرة للأحزان.
“Bernafaslah dalam-dalam, bernafaslah dengan penuh syukur, bernafaslah dengan gembira, biarkan kesedihan pergi, karena hatimu bukanlah kuburan kesedihan.”
–Catatan Muslimah–
━━━━━━━━━⊰✿✿⊱━━━━━━━
Pemuda yang masih dengan kondisi lemah di atas kasur king size itu terbangun saat handphonenya bergetar di atas nakas. Pemuda itu tak lain adalah Rafael.
[ Tuan, Nona yang Tuan cari ada di sebuah rumah sakit. Dia adalah korban tabrakan lari. ] Lapor salah satu anak buahnya.
[ Bagaimana kondisinya? ]
[ Cukup membaik, Tuan. Tetapi, Nona kehilangan ingatannya dan calon bayinya. ]
Rafael beringsut duduk lalu menyadarkan kepalanya ke sandaran kasur.
[ Wanita malang, gue meminta kalian untuk mencari tahu siapa orang yang menabraknya. ]
[ Baik, Tuan. Apakah Tuan ingin kami membawa ke kediaman, Tuan? ]
Rafael mengembuskan napas berat.
[ Intai saja perkembangan kesehatannya selama disana, pastikan dia tetap dalam keadaan baik-baik. ]
[ Siap, Tuan. Kami akan menjalankan perintah Tuan. ]
Telepon pun berakhir, netra Rafael memandang sahabatnya yang sedang duduk di atas sofa kamarnya itu.
"Berhentilah, Rel. Bermain dengan Bara, lo tetap akan kalah. Dia terlalu kuat dan pandai!" Pemuda yang menggunakan jas kulit itu memberikan peringatan kepada Rafael.
"Tidak akan, gue mau balas dendam gue kepadanya!"
"Terserah lo deh Rel ... gue udah memperingati lo," jawab pemuda itu kesal, "jangan bilang lo menyukai wanita milik Bara? seumur hidup gue berteman sama lo, lo nggak pernah khawatir apalagi perhatian dengan namanya perempuan," ucapnya lagi melakukan penekanan di kata 'perempuan'.
"Nggak!" jawab Rafael penuh penekanan.
"Jangan membohongi gue Rel, lo lelaki yang paling benci berurusan dengan seorang wanita selama ini."
Rafael tidak menjawab, pria ini memilih untuk melanjutkan istirahatnya.
"Masih banyak wanita lain, Rel. Jangan merebut apa yang Bara miliki, lo akan tetap kalah dengannya!"
"Cih ... lo sahabat gue apa Bara?" Rafael mendengus kesal, "jangan pernah meremehkan gue!" hardiknya, Rafael meraih handphone di sampingnya lalu melemparkan secara kasar ke wajah sahabatnya itu, sehingga si empu yang tidak tahu serangan Rafael tiba-tiba merintih kesakitan karena lemparan Rafael tepat sasaran.
"Main kasar lo!"
"Lembek jadi laki, lo!" ketus Rafael merasa jengkel melihat sahabatnya itu sudah merintih kesakitan seperti wanita saja, "gue meminta lo untuk membantu gue saat ini." Nada suara Rafael tampak serius.
"Ngebantu apa? jangan macam-macam permintaan lo. Gue pria baik, Rel. Nggak suka bikin onar."
Rafael kembali bangkit lalu duduk di samping sahabatnya itu. Rafael membisikkan sesuatu di telinga sahabatnya.
"Yakin lo?" tanya Alwi, setelah mendengar ucapan Rafael.
"Yoi!"
__ADS_1
"Jadi lo mau mengutarakan perasaan lo kepada Adel? gue nggak salah dengar, Rel!" tanya Alwi penasaran, "lo nggak pernah cinta sama dia. Gue tau Adel memang cantik. Apa alasan lo ingin pacaran sama dia?" Pertanyaan bertubi-tubi dari mulut Alwi. Membuat Rafael yang sedang duduk di sampingnya mendengus kesal. Mulut sahabatnya itu seperti perempuan saja.
"Karena gue cinta!" jawab Rafael penuh penekanan dan keyakinan.
".... lalu wanita Bara. Bukannya lo menyukai juga?"
"Sudahlah, lo terlalu banyak ngomong. Pulang sana!" usir Rafael menendang tulang kering milik Alwi. Kupingnya sudah mulai panas mendengar pertanyaan unfaedah dari Alwi.
Dengan paksa dan berbagai sumpah serapah di mulutnya Alwi keluar dari kamar Rafael.
'Pasti ada yang beres pada lo, Rel,' batin Alwi. Alwi paham betul, Rafael tidak pernah cinta sama Adel. Karena Rafael tidak pernah dekat atau pun membahas tentang Adel selama ini. Memang dia dan Rafael pernah bertemu dengan Adel saat di Jerman satu bulan lalu. Pertemuan itu juga singkat hanya ada obrolan ringan antara Rafael dan Adel.
•••
Bara duduk di tepi ranjang, tangannya memegang sebuah kotak hitam yang selama ini dia simpan dengan baik-baik. Bahkan Bara mengangap sesuatu yang ada di dalam kotak itu adalah hal paling sejarah dalam hidupnya, mengingatkan dirinya awal mula bertemu dengan sosok Famira Az-zahra.
Bara membuka kotak hitam itu dengan hati yang gembira dan sedih, terlihatlah sebuah sapu tangan sederhana bermotif bunga. Kainnya masih terjaga dengan baik, dan aroma parfum dari sapu tangan itu masih terjaga juga.
Bara mengambilnya lalu mencium bau parfum pemiliknya yang tidak berubah dari dulu bahkan sampai pemiliknya itu sudah sah sebagai istrinya.
"Bahkan Mas belum menceritakan pada kamu, Ra. Awal ketika kita bertemu." Bara tersenyum getir memperhatikan sapu tangan itu. Satu detik kemudian senyum simpul terukir di bibir pria itu saat melihat jahitan di sisi sapu tangan itu. 'Famira punya.'
Bara memejamkan matanya sejenak lalu menghempaskan tubuhnya ke atas kasur. Netra cokelatnya menatap langit-langit kamar.
"Nama kamu siapa?" teriak anak kecil laki-laki yang masih mematung berdiri saat melihat gadis berjilbab seumuran dengan dirinya pergi menjauh darinya.
"Famira Az-zahra, aku harus pulang cepat. Semoga kita dipertemukan kembali." Gadis kecil itu melambaikan tangannya sebelum punggungnya benar-benar hilang di sebuah gang.
Cklek!
Pintu kamar terbuka, membuyarkan lamunan Bara.
"Gue tidak ingin berdebat dengan lo sekarang!" ucap Bara masih merasa jengkel dengan Erwin, Bara masih dengan posisi semula. Dia memutar bola matanya malas ke arah Erwin yang sudah duduk di atas sofa, "apa yang membawa lo bisa sampai ke kamar gue malam ini?" tanyanya lagi dengan suara dingin.
"Hm." Erwin berdehem menanggapinya.
Selang beberapa menit Rendi juga tiba di kediaman Wijaya, dia segera berlari kecil menuju kamar Bara.
"Wow ada, Bang Erwin disini. Mau adu jotos lagi?!" Tantang Rendi yang baru tiba, pemuda itu juga menyimpan dendam kepada Erwin karena merebut wanita yang disukainya.
Erwin tidak menanggapinya ucapan Rendi yang unfaedah.
Rendi duduk di samping Erwin, dia tersenyum kemenangan saat melihat handphonenya bergetar di saku celananya dan tertera nama Dilla di layar handphone mahal itu.
"Beb Dillaku nelepon nih," ucap Rendi dengan nada suara keras, Rendi memang sengaja mengeraskan suaranya supaya Erwin yang duduk sampingnya itu mendengarnya.
[ Ada apa, sayang? ] Rendi berbicara dengan nada suara mesra. Dilla yang mendengar itu sudah ingin muntah dan mencebik kesal.
Erwin mengepal tangannya mendengar itu.
[ Aku nggak jadi deh ngomong ama kamu, Bang Ren.]
[ Jangan matiin! aku minta maaf, ada perlu apa, Dil? ]
[ Aku mau minta tolong sama kamu, Ren. ] Suara Dilla terdengar sedih.
[ Minta tolong apa? Bapakmu melukaimu? ] tanya Rendi khawatir.
Erwin masih menyimak obrolan mereka. Hati Erwin tiba-tiba merasa menciut bisa mendapatkan hati Dilla. Mendengar obrolan Rendi dan Dilla, sepertinya mereka berdua terlihat sangat dekat sekali dan Erwin juga merasa Rendi lebih mengenal sosok Dilla.
[ Nggak. ]
__ADS_1
[ Terus, kenapa suara kamu sedih gitu? ]
[ Hehe, nggak ada kok. Aku tadi nonton film yang endingnya sedih. Baper, Bang. Ikut sedih sampai sekarang. ]
[ Huh ...] Rendi mengembuskan napas panjang, dia sudah khawatir bukan main mendengar suara sedih dari gadis itu.
[ Mau dengar nggak ceritanya? ini film rekomendasi dari aku. ] tawar Dilla antusias di seberang sana. Dilla sering menceritakan apa saja film yang dia tonton, kebiasaan ini sudah dia lakukan sejak dulu. Dengan senang hati Rendi mendengarnya, walaupun dia tertarik dengan film yang ditonton Dilla yang lebih ke film unsur islami.
[ Aku nggak mau dengar sekarang. Nanti aja ya. ]
[ Ya deh, aku tutup dah. ]
[ Ngambek? ]
[ Nggak! assalamu'alaikum ... ]
[Wa–] Belum sempat Rendi menjawabnya Dilla sudah mematikan handphonenya secara sepihak.
'Pasti marah,' gumam Rendi.
"Siapa yang meneleponmu, Ren?" tanya Bara yang masih tertidur dengan posisi telentang, netranya masih fokus menatap langit-langit.
"Calon istri!" jawab Rendi antusias.
Bara yang mendengar itu hanya ber 'oh' ria.
Rendi melirik kearah Erwin, wajah pemuda yang menggunakan kaos navy blue itu tampak sangat tidak bersahabat.
"Jangan memaksakan Dilla untuk mencintai lo, karena dia nggak ada perasaan sama sekali sama lo, Bang!" bisik sengit Rendi.
"Gue nggak pernah memaksanya!" jawab Erwin tak kalah sengit.
"Munafik! lalu maksud lo apa membeli, Dilla dari bapaknya?" tanya Rendi, netranya menatap lekat wajah Erwin.
"Bukan urusan lo!" jawab Erwin.
"Itu juga urusan gue, cinta nggak boleh dipaksa. Lo sama aja menjatuhkan harga diri Dilla dengan melakukan itu!" Tangan Rendi sudah meraih kerah baju Erwin.
"Mau adu jotos di luar aja! gue nggak suka lo berdua ribut dikamar gue!" Bara membuka suara saat mendengar perdebatan sengit dari kedua orang yang datang ke kamarnya tanpa di undang itu.
Rendi dan Erwin tidak peduli dengan peringatan Bara. Mereka berdua bersikukuh berdebat tak jelas.
"Singkirkan tangan lo!" ujar Erwin.
"Cih ... gue nggak suka lo yang sekarang, Win. Sombong dan angkuh!"
"Nilai diri lo sendiri! Emang lo udah baik dari gue?"
"Tentu gue lebih baik dari lo dan lebih pantas dengan Dilla!" jawab Rendi penuh penekanan, "lo memang bisa membeli apa pun yang lo mau, dengan uang lo. Tapi yang harus lo ingat uang tidak bisa membeli harga diri dan perasaan cinta seseorang!"
Bug!
Satu tinjuan tepat di wajah Rendi dari kepalan tangan Erwin.
"Jangan sok tahu, gue punya alasan untuk melakukan itu!" Erwin berjalan keluar dari kamar Bara, "gue menyesal datang kesini dan bertemu sama lo!" ucapnya lagi sebelum benar-benar pergi.
"Gue juga menyesal! lo juga nggak diundang ke sini, pulang sana!" teriak Rendi, pemuda ini menendang sisi sofa.
Erwin mendengus kesal sekali saat sampai dalam mobilnya.
"Mufdilla Dzakiyah, aku ingin segera menghalalkanmu bila seperti ini! meskipun kamu tidak menyukaiku." Erwin melaju keluar mobilnya meninggalkan kediaman Wijaya.
__ADS_1