Pernikahan Tanpa Cinta

Pernikahan Tanpa Cinta
76


__ADS_3

━━━━━━━⊰✿✿⊱•━━━━━━━


❝Barang siapa yang cinta kepada kebaikan, maka akan dikumpulkan bersama orang-orang yang baik, meskipun dirinya tergolong orang yang jelek. Dan barang siapa yang cinta kepada kejelekan, maka akan dikumpulkan bersama orang-orang jelek, meskipun dirinya tergolong orang yang baik.❞


[ Al-Allamah Al Habib Thohir bin Muhammad Al Haddar ]


━━━━━━━⊰✿✿⊱•━━━━━━━


Gadis yang menggunakan piyama lengan panjang warna biru langit tak lupa dengan hijab yang senada, masih merasa canggung bersama dengan suaminya. 'Aku tidur dimana, ya?' batin Dilla bertanya pada dirinya sendiri. Dilla merasa bingung harus di atas kasur bersama Erwin atau tidur di atas sofa. Dilla nggak mau terjadi hal-hal yang tidak inginkan pada malam ini, dia belum siap.


Dilla melirik ke arah Erwin yang sedari tadi sibuk dengan handphonenya, tanpa mempedulikan dirinya.


Dilla mengambil bantal guling, dia memutuskan untuk tidur di sofa saja.


"Aku tidak menyuruhmu, tidur di sofa! kembali ke atas kasur ...," Perkataan Erwin menghentikan langkah Dilla yang tinggal satu jengkal lagi sampai di sofa.


"Aku tidur di sini saja, Mas," sahut Dilla, gadis ini tidak mengindahkan perintah suaminya.


"Terserah dirimu, kamu sangat keras kepala." Nada suara Erwin terdengar tidak bersahabat. Erwin mematikan lampu di kamar. Membaringkan tubuhnya secara kasar di atas kasur.


Dilla meremas jari tangannya, merasa bimbang.


"Maafkan aku, Mas." Dilla kembali ke atas kasur menarik selimut menutupi setengah badannya.


Erwin tidak merespon apa pun.


'Apakah Pak Erwin marah? dimana letak kesalahanku?' batin Dilla, dia tidak bersuara lagi setelah itu. Dan berusaha memejamkan matanya.


Erwin berbalik badan, dia tersenyum saat melihat wajah istrinya sudah tertidur pulas. Erwin menggeserkan tubuhnya lebih mendekat, menarik badan Dilla yang sudah terlelap ke dalam dekapannya.


"Aku sangat mencintaimu dan aku tidak akan memaksakan bila kamu belum siap." Kecupan singkat mendarat di kening Dilla sebelum Erwin menutup matanya dan mengistirahatkan tubuhnya yang cukup lelah.


Dilla membuka bola matanya, wanita ini sebenarnya tidak tidur. Saat Erwin membalikkan badannya dia berpura-pura tertidur pulas saja.

__ADS_1


Dilla mendogak kepala, menatap lekat wajah Erwin yang sudah terlelap dengan intens. Tangan Dilla bermain di alis tebal milik suaminya itu, bening kristal mata jatuh di pipinya.


"Aku akan belajar mencintaimu, Mas," ucapnya. Dilla mengeratkan pelukan, menyembunyikan kepalanya di dada milik Erwin mencari kehangatan disana.


****


"Yah, Bara nggak sanggup bila sampai tiga malam nggak tidur bersama Famira. Baru satu malam nggak tidur sama Famira, Bara mulai frustrasi. Bagaimana tiga hari?" tanya Bara dengan suara khas bangun tidur. Bara berucap memohon kepada Vernandes yang masih membaringkan badan diatas kasur.


Bara tidur di kamar Vernandes malam ini dan dua malam lagi, sebagai bentuk hukuman dan perjanjian karena kalah telak dengan Vernandes setelah main catur semalam.


"Bahkan kamu semalam memeluk tubuh Ayah seperti guling saja." Vernandes menggelengkan kepalanya mengingat kelakuan menantunya itu.


Bara cengir kuda, malu mendengar ucapan mertuanya. "Bara sudah biasa memeluk tubuh Famira," jawabnya diakhiri dengan elak tawa ringan.


"Ganti dengan hukuman lain bagaimana, Yah?" tawar Bara lagi.


"Keputusan Ayah sudah bulat. Kamu yang menantang Ayah, jadi terimalah, Nak." Vernandes beringsut bangkit. "Sudah azan subuh, sebaiknya kamu siap-siap untuk sholat. Ingat! tidak hanya kamu nggak boleh tidur dengan putri Ayah, kamu juga tidak boleh menyentuhnya selama tiga hari. Bersabarlah, Nak." Vernandes berjalan ke kamar mandi, cukup senang mengerjai menantunya.


Bara menendang kesal sisi sofa. Mana sanggup dia tidak menyentuh Famira. "Coba aja Rendi sialan nggak ganggu konsentrasi main semalam. Gue pasti menang dari ayah." Bara mengembuskan napas panjang, sahabatnya itu memang sialan. Suka benar membuat dirinya menderita.


****


"Pagi, Sayang ...," ucap Bara yang baru saja keluar dari kamar. Bara tersenyum tipis, hampir saja dia mencium kening istrinya itu namun, Vernandes sudah lebih dahulu menghadang dirinya.


"Jangan lupa dengan perjanjiannmu, Nak," ujar Vernandes lalu duduk di samping putrinya, "biar Ayah yang duduk disamping Famira."


Bara mendengus kesal, coba saja kalau pria paruh baya itu bukan mertuanya. Dia mungkin sudah memberikan tinjauan tepat di wajahnya.


"Sayang ...." Bara berucap melas kepada Famira.


"Penuhi janji Mas, pada Ayah. Janji itu nanti dipertanggungjawabkan di akhirat kelak. Mas bersabarlah, hanya tiga hari kok," tutur Famira menahan tawa melihat kekesalan di wajah Bara.


"Pagi, Dek," sapa Erwin yang baru saja turun bersama Dilla disampingnya. Erwin mengecup puncuk kepala Famira yang dilapisi jilbab.

__ADS_1


"Pagi juga, Kak," jawab Famira. Tersenyum simpul ke arah Dilla, Dilla membalas senyuman itu.


Bara yang melihat Erwin mencium istrinya meluapkan kekesalannya pada sendok di tangannya.


"Assalamu'alaikum," salam seseorang dari ambang pintu.


"Wa'alaikumussalam ..." sahut mereka serempak.


"Nak Rendi, pagi sekali datang." Vernandes menyambut ramah.


"Sengaja Om, aku ingin menanyakan kepada pengantin baru tuh." Rendi menunjuk Dilla dan Erwin.


"Kamu nggak ingin menceritakan bagaimana malam pertama kamu dengan Bang Erwin, Dil?" tanya Rendi antusias.


"Nggak!" sahut Dilla. Dilla berusaha menjaga sikap kepada anggota keluarga lainnya. Berbagai sumpah serapah kepada Rendi hanya bisa dilontarkan dalam hatinya.


"Niat sekali lo datang pagi-pagi hanya ingin menanyakan itu." Erwin menepiskan tangan Rendi dari tubuh wanitanya.


"Gue sangat niat sekali Bang Erwin!" ujar Rendi, "tapi sepertinya lo nggak berhasil semalam, ya? muka lo apes benar pagi ini hahaha ..." Rendi tertawa terbahak-bahak.


"Sok tahu lo!" hardik Erwin.


"Kejam juga kamu Dil, nggak berikan jatah malam pada Bang Erwin," ujar Rendi pada Dilla. Dilla tidak merespon percakapan Rendi.


Rendi beralih menatap Vernandes dan melakukan tos ala pria pada umumnya.


"Duduk Nak Rendi, kamu ikut sarapan bersama kami juga."


Rendi mengaguk setuju lalu menarik kursi di samping Bara.


"Bagaimana rasanya tidur sama mertua, Bar?" tanya Rendi mengejek, "muka


lo berdua nggak ada semangat-semangatnya." Rendi berkata pada Erwin dan Bara

__ADS_1


"Berisik lo, Ren!" Bara hanya diam menyimak sedari tadi merasa jengkel, dia menyumpal mulut Rendi dengan roti tawar yang ada ditangannya, agar sahabatnya itu berhenti mengoceh. Bara sudah sangat kesal dan bertambah kesal lagi melihat wajah sahabat yang menurutnya sialan itu datang ke kediaman keluarga Martadinata lagi.


__ADS_2