
═════════•❁❁•═════════
“Mendekatlah kepada tuhanmu dengan meninggalkan hal-hal yang dapat menyibukkanmu dari mengingatnya. Dan ketahuilah, sesungguhnya tidak ada yang lebih menyibukkanmu dari mengingatnya kecuali karena engkau telah di kalahkan oleh hawa nafsumu sendiri.”
Catatan Muslimah
═════════•❁❁•═════════
Erwin sengaja pergi dari rumah cepat-cepat. Pria ini tidak kuat mendengar keluh kesah dari bibir mungil istrinya itu, pria yang menggunakan setelan jas kerjanya ini menaruh dokumen yang sudah ditandatangani di atas meja.
Erwin tersenyum getir, pria ini tidak akan kuat bila bertengkar terlalu lama dengan Dilla.
“Max, tunda semua meeting atau pun rapat selama dua minggu. Intinya kosongkan jadwalku selama dua minggu yang akan datang.” Erwin merasa bersalah, dia sadar dia terlalu sibuk bekerja sampai-sampai dia tidak ada waktu luang untuk Dilla.
Sekretaris Max menunduk hormat. “Baik, Tuan. Tapi ada satu pertemuan yang tidak bisa Tuan tunda–” Perkataan Max terpotong.
“Aku tidak mau mendengar apa pun lagi, aku bilang kosongkan semuanya!” Suara Erwin naik dua oktaf.
“Maaf kelancangan saya, Tuan. Saya akan mengosongkan jadwal selama dua minggu ini.”
Satu notifikasi pesan masuk dari Famira.
//Assalamu'alaikum, Kak. Kak Erwin nggak mau pulang? Dilla lagi sakit. Kenapa kakak ninggalin dia saat seperti ini?//
Erwin membulatkan matanya setelah membacanya pesan singkat dari Famira. Dia segera bangkit berdiri dan meraih kunci mobilnya.
‘Kenapa aku jadi nggak becus seperti ini mengurus istriku sendiri,’ gumam Erwin.
“Kau tidak perlu ikut denganku, handle perusahaan olehmu hari ini.”
“Baik, Tuan,” jawab sekretaris Max sambil menundukkan kepalanya.
***
Tidak butuh waktu lama bagi Erwin sampai ke kediamannya. Dia mempercepat langkah kakinya menuju kamar, khawatir terjadi apa-apa dengan istrinya.
Erwin membuka pintu kamar pelan, Dilla masih terbaring tidur di atas kasur. Erwin melepaskan sepatu pantofel yang di pakai lalu naik ke atas kasur memeluk erat tubuh wanita yang tidur menyamping.
“Aku yang seharusnya minta maaf, maaf sudah memarahimu tadi pagi dan mendiamimu ....” Erwin berbisik pelan di samping telinga Dilla. Dilla yang memang sudah tertidur pulas membuka bola matanya setelah mendengar suara familiar itu. Dilla membalikkan badannya ingin menatap Erwin sepenuhnya.
Hening sejenak, saling menatap satu sama lain. Kedua kelereng berbeda warna itu enggan melepaskan tatapan mereka masing-masing. Jari lentik Dilla terangkat mendekati wajah Erwin. Dilla menghapus lembut air mata yang lolos dari pria yang masih menatapnya dengan intens.
“Mas Erwin kok nangis? aku nggak kenapa-kenapa kok.”
Erwin tidak menjawab, dia menarik tubuh Dilla ke dalam dekapannya.
“Biarkan aku memelukmu, biar amarahku bisa hilang terhadap dirimu,” ucap Erwin. Dilla tidak memberontak, tidak ingin membuat kesalahan lagi. Pelukan itu sangat hangat sekali tanpa dia sadari dia membalas pelukan Erwin.
__ADS_1
“Aku mencintaimu, Sayang.” Erwin mengecup kedua pipi Dilla. Dilla yang mendapatkan perlakuan seperti itu tampak gugup dan malu.
Dilla mengulum senyum tipis memperlihatkan sederet giginya yang rapi. “Jangan cium aku, Mas. Aku belum mandi hehehe,” katanya dengan cengengesan.
Erwin tertawa renyah mendengar ucapan polos dari bibir Dilla. “Harum kok, sini biar aku cium lagi.” Erwin menarik tengkuk leher Dilla agar lebih dekat dengannya. “Boleh, ya ...ya?” tanya Erwin dengan suara seksi meminta izin, tangannya bergerak mengusap ujung bibir Dilla.
“Tumben minta izin dulu, biasanya sih main nyosor aja,” sahut Dilla dengan tawanya saat melihat kekesalan di wajah Erwin setelah dia mengatakan itu. “Bercanda Mas, nggak usah baper deh.” Dilla menarik pipi Erwin merasa gemas dengan suaminya yang suka sekali ngambek nggak jelas.
“Hm, nggak jadi.” Erwin beringsut duduk menyadarkan kepalanya di sandaran kasur.
“Mas Erwin masih marah sama aku?”
“Nggak, tapi cuman dikit.”
Dilla mengerucutkan bibirnya, beringsut duduk dan tidur di lengan Erwin dengan manja.
“Mas Erwin suka marah nggak jelas, kalau Mas mau sesuatu itu bilang. InsyaaAllah aku turuti kemauan Mas. Mas mau apa?”
“Aku nggak mau apa-apa. Kamu tidur lagi, kamu perlu istirahat,” titah Erwin mengecup pucuk kepala Dilla yang dilapisi jilbab.
Dilla menggelengkan kepalanya cepat. “Nggak mau .... kalau Mas Erwin masih marah sama aku,” tolaknya halus.
Erwin mengembuskan napas berat. “Aku sudah nggak marah, tidur lagi, Sayang. Biar cepat sembuh,” kata Erwin.
“Tapi aku nggak ngantuk dan aku sudah sembuh kok, Mas. Aku mau mandi aja. Aku gerah ...,” sahut Dilla suara memohon.
Dilla menggigit bibir bawahnya, mendongak kepalanya pelan-pelan menatap Erwin. “Iya, iya aku akan tidur Mas.” Dilla merebahkan kembali tubuhnya. Dia menarik Erwin untuk ikut tidur disampingnya. Erwin menuruti, tersenyum tipis melihat tingkah aneh Dilla hari ini.
“Tidur disini aja.” Erwin menepuk-nepuk lengan atas tangannya.
Dilla mengaguk setuju, tangannya sudah melingkar di pinggang Erwin. Memeluk erat tubuh suaminya.
“Tidur! jangan tatap aku terus, Dilla."
'Bagaimana aku akan memejamkan mata, aku nggak ngantuk juga,' batin Dilla merasa frustrasi. Dia nggak ngantuk sama sekali tapi Erwin pasti marah bila dirinya tidak mengikuti keinginan suaminya itu.
“Mas Erwin tumben cepat pulang, biasanya sih jam enam petang Mas pulang.” Tangan Dilla tak bisa diam, dia memainkan anak rambut Erwin.
Erwin menarik tangan Dilla di atas kepalanya, mencium lalu menggenggam erat. “Nggak ada kerjaan, lagi pula aku mau kita menghabiskan waktu luang saja. Kamu tadi pagi kan protes!”
“Terus ... kalau aku nggak protes Mas nggak akan pulang?”
“Bisa jadi,” jawab Erwin. Erwin melihat kesedihan di netra milik istrinya saat dia mengatakan itu. “Aku akan tetap pulang walaupun tanpa kamu minta, Dilla. Kamu segalanya di kehidupanku.” Erwin tidak henti-hentinya mengecup kening Dilla.
Dilla hanya bisa menenggelamkan wajahnya di dada milik Erwin setelah itu. Pipinya bersemu merah, entahlah dia sendiri tidak mengerti dengan perasaannya.
****
__ADS_1
Suara tawa ringan mengiringi perbincangan hangat anggota keluarga Martadinata malam ini. Famira dan Bara sedang bercengkrama di ruangan keluarga bersama Vernandes dan kedua adik Dilla.
Tatapan mereka teralihkah pada Erwin dan Dilla yang turun dari atas dan sudah berpakaian rapi. Tangan mereka berdua saling menggenggam satu sama lain.
“Mas Erwin lepasin dulu tanganku. Aku malu Mas dilihat oleh adik-adikku,” bisik Dilla pelan.
Erwin tidak mengindahkan keinginan Dilla, pria yang menggunakan kemeja kotak-kotak lengan panjang itu tetap kukuh, dia tidak peduli dengan berontakkan Dilla untuk melepaskan genggaman tangannya.
“Mau kemana malam-malam, Nak?” tanya pria paruh baya yang tak lain Vernandes.
“Biasalah, Yah. Mau ajak Dilla jalan-jalan. Ya kan, Sayang?” tanya Erwin meminta persetujuan Dilla yang berdiri di sampingnya.
Dilla hanya bisa mengaguk kecil.
“Kak Dilla malu tuh,” celutuk Iwan yang melihat wajah kakak perempuannya bersemu merah.
“Kakak Erwin romantis sekali sama Kak Dilla.” Intan tersenyum lebar sepertinya kakaknya sudah mau menerima pernikahannya. Dilla sangat terbuka dengan Intan, dia sudah menganggap Intan sebagai teman sebayanya bukan adiknya malahan.
Bara yang duduk di samping Famira tidak tertarik sama sekali dengan perbincangan itu dan enggan menyapa. Pria ini sibuk menatap wajah istrinya dari samping.
“Kalian mau ikut?” tawar ramah Erwin kepada kedua adik Dilla.
“Nggak, Kak. Kami nggak mau jadi peganggu hehehe,” sahut Iwan.
Erwin beralih menatap Famira. “Mau nitip beli sesuatu, Dek?”
“Beliin Martabak aja di langganan Famira, kalau sempat. Kalau nggak bisa nggak apa-apa. Biar mas Bara yang beli.”
“Nanti Kakak beliin.”
Erwin dan Dilla berlalu di hadapan mereka.
“Kamu mau keluar juga malam ini, Ra?” Bara bertanya lembut.
“Nggak, Mas. Aku ingin di rumah aja,”jawab Famira, “besok jadi kan, kita pergi, Mas?”
“Jadilah, Sayang.”
.
.
.
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian dan vote ya, biar aku semangat untuk up-nya.
Makasih:')
__ADS_1