
Terlalu cepat untuk merasa rindu, terlalu singkat untuk merasa cinta. Aku dan kamu tidak seperti apa yang mereka rasa. Aku dan kamu berbeda, namun ada sesuatu hal yang kurasa. Jarang terjadi komunikasi di antara kita, bahkan intensitas pertemuan pun semut bisa menghitungnya.
Waktu yang kita lewati, sama-sama membuat kita lupa akan 'kita' satu sama lain, namun inilah hati ... bagaimanapun seseorang menyangkal dari percik ucapan, hati takkan bisa menyembunyikan itu semua, dan dalam sejarah peradaban manusia, hati tak pernah bohong.
Ia selalu jujur, selalu mengikuti apa yang diinginkan hati untuk membuatnya nyaman, senyaman mungkin. Sekali saja kamu berinteraksi normal bahkan denganku walaupun itu hanya interaksi yang sepatutnya orang bilang hanya kawan, aku merasa terbang ke awan, melewati ribuan bintang malam dan berharap kau yang menemaniku ke sana. ~Ajeng Dini Utami
Tidak ada perbicangan lebih setelah itu, kedua insan tersebut diam membisu sampai mobil milik Rendi tiba di kediaman keluarga Wijaya.
Jessika keluar dari mobil tanpa mengucapkan kata terima kasih pun.
Rendi mengembuskan napas panjang, membanting setir mobilnya.
Tin ... Tin ... Tin ....
Suara klakson mobil dari belakang, Rendi menepikan mobilnya lebih ke samping memberikan jalan mobil sedan hitam tersebut untuk masuk.
Rendi melebarkan matanya saat melihat orang yang turun dari dalam mobil tersebut Kyai Harun dan Nyai Nur diikuti dengan seorang pria yang berhasil merebut hati gadis yang dicintainya.
'Jadi sih Hafid anak kyai yang nolong Famira dulu?' Rendi menebak-nebak. Merasa penasaran, Rendi memilih turun dari mobilnya.
Jessika yang masih di ambang pintu kaget melihat kehadiran dari keluarga Hafid. Hafid tidak memberi tahu dirinya bahwa akan datang saat ini.
"Assalamu'alaikum ....," salam Kyai Harun, Nyai Nur, dan Hafid bersamaan.
__ADS_1
"Wa'alaikumussalam." Jessika menundukkan kepalanya malu. Dengan ragu gadis ini meraih punggung tangan kedua orang tua Hafid dan menciumnya, "Masuk Kyai, Bu Nyai." Sungguh Jessika benar-benar gugup, dan canggung. Perasaannya campur aduk. Kenapa Hafid datang ke rumahnya tiba-tiba seperti ini?
Mama Ani dan Papa Andi sudah berpakaian rapi, keduanya memang sudah mengetahui kedatangan keluarga besar Hafid. Senyum tipis dilemparkan kepada Kyai Harun dan Nyai Nur.
"Ayo masuk, Kyai." Papa Andi menyambut ramah, pria paruh baya ini mempersilahkan untuk masuk ke dalam rumahnya.
Kyai Harun dan Nyai Nur mengangguk setuju, senyum tipis terus terukir di bibir pria paruh baya bersurban itu.
Hafid memandang Jessika sekilas, dia tidak ingin memandang lama-lama. Sangat takut dengan murkanya Allah. Pria ini tetap gadhul bashar.
Jessika dan Hafid menjadi lebih kenal, karena sering di pertemukan dalam sebuah kajian. Sejak berhijrah, Jessika memang sering ikut kajian agar ilmu agamanya lebih dalam dan ingin menjaga keistiqomah hatinya. Kebetulan Hafid yang memberikan
ceramah dalam kajian tersebut.
Jessika masih berdiri di tempat, mencubit pipinya cukup keras. Masih tidak percaya, Hafid datang ke rumahnya untuk kedua kalinya.
Jessika memandang Rendi yang berdiri tidak jauh dari hadapannya. Jessika dapat melihat pria itu terluka. Tatapan Rendi yang hampa menatap balik Jessika.
"Kak Ren!" Jessika berjalan pelan ke arah Rendi.
"Hm, masuklah. Mereka sedang menunggumu di dalam." Suara Rendi terdengar dingin. Rendi memilih berjalan ke dalam mobilnya kembali. Lama-lama dia berada di situ, dia akan merasa sakit hati yang mendalam, "Semoga pilihanmu memang yang terbaik." Senyum tipis terukir di bibir Rendi. Dia sudah kalah telak dalam berbagai sisi dengan Hafid.
"Aku balik duluan." Rendi masuk ke dalam mobilnya, melaju mobilnya dengan kecepatan tinggi di jalan raya.
__ADS_1
••••
Rendi menghentikan mobilnya di sebuah danau. Suasana di tempat tersebut sepi, cuman ada beberapa orang saja yang datang.
Rendi mendudukkan tubuhnya di atas daratan rumput. Rendi menikmati matahari yang sebentar lagi terbenam di ufuk barat. Pria ini mendogak kepalanya, menatap bulatan mentari dengan warna kuning yang berpadu dengan semburat jingga mampu menghipnotis siapapun yang melihatnya.
'Cukup lapang untuk menampung gelap dan cahaya juga duka secara bersamaan saat ini,' monolog Rendi tersenyum getir.
Seseorang yang sedari tadi mengikuti kemana Rendi pergi, tersenyum jahat. Pria itu bersembunyi di balik pohon yang tidak jauh dari Rendi, dia mengambil sesuatu dalam saku jaketnya.
"Sudah saatnya lo mati, Ren!" Pria ini membidikkan pistol revolvel-nya ke arah Rendi.
Dor!
Dor!
Dua kali tembakan, tepat sasaran. Pria ini segera pergi, setelah berhasil melakukan aksi bejatnya. Tinggal satu orang yang harus dia singkirkan.
Rendi merasakan sakit yang hebat di pundaknya, tubuhnya langsung tumbang ke samping menahan sakit. Darah segar mengalir dengan derasnya. Rendi tidak tahu dengan penyerangan yang tiba-tiba ini.
Lima orang yang ada di tempat tersebut berlari untuk membantu Rendi.
"Bawa ke mobil segera!" ujar pria yang seumuran dengan Rendi. Ke-empat teman lainnya ikut membantu.
__ADS_1