
“Sebaik-baiknya harapan adalah harapan yang digantungkan kepada Allah سبحانه وتعالى, dan sebaik-baiknya rindu adalah rindu kepada nabi Muhammad ﷺ.” ~ Habib Umar bin Hafidz
"Khem ... khem." Jessika berdehem saat berpapasan dengan Anita dan Andre di ambang pintu rumah, "Mau ke mana calon Kak ipar?" tanya Jessika pada Andre. Jessika melirik kakak perempuannya itu yang sudah malu-malu. Anita bersembunyi di balik punggung Andre. Andre tampak gemas dengan tingkah Anita yang malu dengan adiknya sendiri.
Andre tersenyum tipis. "Pergi dinner, Dek" sahutnya sembari menarik tangan Anita untuk berdiri di sampingnya. Hubungan Anita dan Andre sudah mendapat restu dari keluarganya masing-masing. Pernikahan mereka pun akan berlangsung tidak akan lama lagi.
Jessika manggut-manggut mengerti. "Tumben Kila nggak ikut juga sama calon papa polisinya. Biasanya sih nempel terus," tutur Jessika dengan tawa ringan.
"Kila lagi asik main sama Rendi di dalam," sahut Anita yang mampu membuat mata Jessika melotot.
"What? Ada kak Rendi di dalam, Kak?!"
"Iya, kakak nggak tahu datang buat apa. Tapi, tadi Rendi bicara empat mata dengan papa. Serius banget loh, Dek. Jangan-jangan ..." Ucapan Anita tergantung. Anita sangat suka menggoda Jessika bila menyangkut tentang Rendi.
"Nggak usah mikir macam-macam, Kak," sahut Jessika tampak kesal. Jessika tahu omongan kakak perempuannya itu mengarah ke mana.
"Udah deh, kakak mau pergi dulu." Anita menarik tangan Andre untuk segera pergi.
"Ya udah, pergi sana." Jessika melangkahkan kakinya ke dalam rumah, dan benar saja ucapan Anita. Rendi sedang bermain dengan Kila di ruangan tengah.
Kila berlari ke arah Jessika. Menarik tangan Jessika dengan paksa untuk ikut bergabung bermain bersama Rendi.
Jessika menatap lekat wajah pemuda yang menggunakan kemeja kotak-kotak lengan panjang itu, Jessika ingin bertanya. Tapi, Jessika malu.
"Paman dan Bibi kok jadi diam-diam gini?" tanya Kila dengan polosnya. Kila melingkarkan tangannya di leher Rendi, anak kecil ini sangat manja pada Rendi.
"Nggak ada kok," sahut Jessika dan Rendi berbarengan. Jessika tampak gugup, detak jantungnya tidak karuan.
Kila tertawa cekikikan tidak jelas, membuat Jessika ingin mencubit pipi Kila. Bisa-bisanya anak kecil itu tertawa disaat dia sedang dilanda kegugupan.
"Paman Rendi, ayo katakan pada bibi Jessika," bisik Kila di telinga Rendi.
__ADS_1
Rendi mencium pipi Kila karena merasa gemas. "Nggak jadi, paman malu," sahut Rendi berbisik juga.
Jessika mengerutkan keningnya, melihat Kila dan Rendi berbisik-bisik. Sementara dirinya tidak dihiraukan.
"Aku kok dicuekin sih, Kak Ren?" tanya Jessika dengan suara manjanya. Pertanyaan itu keluar begitu saja dari bibir Jessika, padahal Jessika tidak ingin berbicara dengan Rendi terlebih dahulu. Di dalam hati Jessika timbul rasa iri melihat Kila dekat-dekat dengan Rendi.
Rendi tersenyum kemenangan, dia dan Kila tos ria karena berhasil memancing Jessika untuk buka suara. Rendi tahu Jessika tipe perempuan tidak suka dicuekin.
Rendi menaikkan sebelah alisnya saat melihat wajah Jessika ditekuk. "Hm." Deheman singkat Rendi.
Jessika memalingkan wajahnya saat Rendi menatap dirinya dengan tatapan penuh makna.
"Anak mama sudah pulang ternyata, kenapa lama pulangnya?" ucap mama Ani sembari membawa segelas teh hangat untuk Rendi. Mama Ani menundukkan tubuhnya di atas sofa, Jessika pun ikut duduk di samping mama Ani.
"Rendi, minum tehnya," tutur mama Ani pada Rendi. Rendi mengaguk kecil.
"Mobil Jessika tadi mogok di tengah jalan, Ma. Makanya Jessika agak lama pulang," kata Jessika.
"Nggak apa-apa, Ma."
"Alhamdulillah, mama sangat khawatir takut kamu dibegal atau di rampok di tengah jalan tadi. Kenapa nggak telepon mama? Biar mama suruh papa atau sopir untuk jemput kamu, Sayang?"
"Handphone Jessika mati. Mama tidak perlu khawatir lagi, Jessika sudah pulang selamat. Jessika dibantu oleh pria ganteng tadi, Ma," ucap Jessika dengan suara keras. Sengaja, supaya Rendi yang duduk di hadapannya itu mendengarnya.
Rendi masih menyimak, sambil mengelus lembut rambut Kila yang duduk di pangkuannya itu.
"Siapa pria ganteng itu?" tanya mama Ani antusias. Baru pertama kali putrinya itu membicarakan seorang pria dengan dirinya.
"Kak Hafid, Ma."
Uhuk!
__ADS_1
Rendi yang sedang meminum teh hangat itu langsung keselek.
"Paman, cemburu yah?" tebak Kila dengan suara kecilnya takut Jessika mendengarnya. Rendi tidak menjawab, wajah pria ini tampak kesal mendengar Jessika membicarakan dan memuji pria lain dihadapannya.
"Kak Hafid baik banget, Ma. Beda kayak pria lain. Sholeh lagi." Jessika terus memuji Hafid. Tangan Rendi tampak mengepal, kupingnya terasa panas mendengar pujian demi pujian kepada Hafid itu. Mama Ani mendengar cerita putrinya itu dengan antusias.
"Mana gantengan paman Rendi sama Hafid itu, Bi?" celutuk Kila.
"Kak Hafid," jawab Jessika penuh keyakinan. Tidak peduli ucapannya yang mampu membuat Rendi sakit hati.
'Cih ....' Rendi berdecih sinis dalam hatinya, dia jadi penasaran dengan sosok Hafid itu.
"Oh ya, Ma. Papa mana?" tanya Jessika karena tidak melihat kemunculan dari papa Andi.
"Lagi ngobrol sama om Bayu ( ayah Andre ) di atas," jawab mama Ani. Jessika mengaguk paham.
Jessika menggeser tubuhnya lebih dekat dengan mama Ani. "Ma, kak Rendi datang ke sini buat apa?" Jessika berbisik pelan. Jessika sangat penasaran apa yang membuat Rendi datang ke rumahnya.
"Tanya langsung ke Rendinya."
"Mama, main rahasia sama Jessika!" Jessika langsung bangkit berdiri, pura-pura ngambek karena mama Ani tidak mau memberitahu dirinya, "Jessika mau mandi," ucapnya lagi dengan kesal dan naik ke atas menuju kamarnya.
Rendi memandang punggung Jessika dari tempat duduknya. Obrolan ringan berlanjut antara mama Ani dan Rendi malam itu. Entah apa yang dibicarakan keduanya.
.
.
.
Jangan lupa tinggalkan jejak yah.
__ADS_1
Biar aku semangat up-nya.