Pernikahan Tanpa Cinta

Pernikahan Tanpa Cinta
116


__ADS_3

Setelah cukup lama mengobrol dengan Detektif Jordan, Bara berjalan ke arah kasur dan merebahkan tubuhnya di samping Atha.


Ia ikut terlelap, dengan Atha dalam dekapannya.


Andaikan saja Famira tidak hamil, Bara sudah menyelesaikan kasus penembakan terhadap Rendi, dengan tangannya sendiri.


***


Pagi yang indah. Langit masih kelabu. Udara sekitar terasa dingin mengangkat kulit. Burung-burung terdengar riang bernyanyi. Kicauannya menemani aktifitas manusia di pagi itu.


Setelah selesai melaksanakan sholat subuh, Famira turun ke dapur. Wanita berjilbab itu sibuk menyiapkan sarapan pagi.


"Ra ....," panggil Bara, sembari memeluk tubuh Famira dari belakang. Kedua tangannya melingkar di perut Famira dan menumpuhkan dagunya di pundak istrinya itu.


Famira mengukir senyum tipis, ia menoleh lalu mencium singkat pipi suaminya itu.


"Mas, membutuhkan sesuatu?" tanya Famira, sambil mengaduk susu yang sedang dibuat.


"Hm, nggak ada." Tangan kekar Bara membalik tubuh Famira untuk menghadap dirinya, "Mas hanya mau ini. Boleh ya?" pintanya meminta izin, jari jempolnya mengusap lembut bibir Famira.


"Ini di dapur, Mas," tolak Famira halus.


"Ya udah kita ke kamar," ajaknya antusias.

__ADS_1


Famira menggelengkan kepalanya cepat pertanda tetap tidak mau.


Bara mengembuskan napas panjang, wajahnya nampak frustrasi. Batinnya terasa tersiksa, ia selalu saja tergoda dengan bibir merah ranum milik istrinya itu. Apalagi sudah beberapa hari terakhir ini, Famira jarang melayani dirinya.


"Sudah seminggu loh Ra, mas nggak dapat jatah," rengek Bara seperti anak kecil meminta mainan.


"Masih pagi juga, mendingan Mas duduk di meja makan yah. Kita sarapan," ujarnya, mengusap rambut Bara yang terlihat acak-acakan.


Ummi Hana dan Bibi Ina yang baru saja datang, tersenyum kecil melihat tingkah Bara. Kedua wanita paruh baya itu paham betul apa mau dari seorang Bara Sadewa.


"Puasa dulu, Nak. Istrimu 'kan lagi hamil." Ummi Hana membuka suara.


"Bara sudah mencobanya, tetapi tidak bisa, Ummi," sahut Bara.


"Kasihan suamimu, Nak. Biar ummi yang nyiapin sarapan," ujarnya.


"Baiklah, Ummi."


Bara yang mendengar itu beriyes bahagia dalam hatinya, mertuanya benar-benar pengertian. Akhirnya ia bisa mendapatkan nutrisi pagi ini.


Tangan Famira menarik lembut rambut Bara, suaminya tengah sibuk bermain di dadanya. Tidak ada pilihan lain, selain melayani apa pun yang diinginkan oleh suaminya itu.


Desahan kecil keluar dari bibir Famira, suaminya itu melakukan dengan penuh kelembutan.

__ADS_1


Setelah puas dengan dada istrinya, bibir Bara berpindah ke leher Famira. Meninggalkan jejak kepemilikan yang cukup banyak.


"Mas, udah. Nggak pergi ke perusahaan?" tanyanya mencoba menghentikan aksi Bara.


"Bentar lagi, Sayang," sahut Bara disela-sela aksinya.


Satu jam berlalu, Bara sudah cukup merasa puas. Walaupun ... ia tidak mendapatkan kenikmatan yang sesungguhnya. Ia pikir bisa nanti malam dilanjutkan.


Famira buru-buru memperbaiki penampilannya yang cukup berantakan, saat melihat kehadiran Atha di dalam kamarnya.


"Ayah, ayo antar Atha ke sekolah," pinta anak kecil yang sudah siap dengan seragam sekolahnya.


"Ayah mau ganti baju dulu," jawab Bara lalu mencium puncak kepala anak kecil laki-laki itu.


Famira menggendong tubuh Atha, mengajaknya turun ke bawah. "Udah sarapan, Tha?"


"Udah, Bun. Nenek yang suapin Atha," jawabnya mencium pipi Famira, "Kalau nanti adik Atha lahir, Bunda dan ayah tetap sayang sama Atha, 'kan?" lanjutnya, anak kecil laki-laki itu bertanya penuh harap.


Famira mengukir senyum tipis mendengar pernyataan tersebut, baik dirinya maupun Bara sudah menganggap Atha anak kandungnya sendiri. Mereka tidak akan pilih kasih, jika anak kandungnya lahir . "Tentu saja, Tha. Sampai kapan pun bunda dan ayah sayang sama Atha dan adik Atha nantinya," kata Famira mencubit pipi Atha.


Atha mengangguk kecil dan memeluk tubuh Famira dengan erat.


Maaf ya aku lama up dan sekali up pendek hehehe. Nggak tahu, kenapa. Aku nggak semangat lagi untuk nulis_-

__ADS_1


__ADS_2