
━━━━━━━━━⊰✿✿⊱━━━━━━━
إِنَّ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ
“Ingatlah, sesungguhnya kepunyaan Allah apa yang ada di langit dan di bumi.”
[ Q.S Yunus: 55 ]
━━━━━━━━━⊰✿✿⊱━━━━━━━
Jika aku jatuh cinta, izinkan aku menyentuh hati seseorang yang hatinya tertaut pada-Mu
Membawaku ke setiap jalan terbaik yang akan aku masuki bersamanya ditemani balutan ilmu.
Jadikanlah aku yang mencintainya karena agama yang ada padanya
Mencintainya karena-Mu, bersamanya pun karena-Mu
Jika ini belum saatnya
Dan jika Kau tahu kami belum siap
Jarakkan kami, pisahkan kami
Ajarkan kami untuk bisa saling menjaga
Hati demi hati dalam ridho-Mu
Malam ini mobil Rendi melaju meninggalkan apartemen dan menuju rumah Bara. Rendi akan meminta maaf kepada Bara atas kesalahannya beberapa hari terakhir ini yang ingin menghancurkan rumah tangga sahabat sekaligus atasannya itu.
Di tengah perjalanan netra milik Rendi memicing melihat seseorang gadis
berjilbab yang di seret paksa ke dalam mobil di sebuah gang sempit.
Tanpa berpikir panjang, Rendi langsung menepikan mobilnya ke sisi jalan dan keluar untuk membantu gadis itu.
"Tolong lepaskan saya, Pak! saya tidak mau melayani Bapak. Saya bukan wanita murahan." Gadis berjilbab itu terus memberontak melepaskan cengkeraman tangan pria paruh baya itu.
Pria paruh baya itu tersenyum kecut. "Aku sudah membayarmu untuk melayaniku malam ini, Bapakmu sendiri yang menjual kamu kepadaku. Kita bersenang-senang malam ini, hahaha." Pria paruh baya itu tertawa jahat, dia terus menyeret paksa tangan gadis itu. Gadis itu tak lain adalah Mufdilla Dzakiyah.
Penderitaan Dilla begitu banyak setelah ibunya meninggal, bapaknya suka mabuk-mabukan dan gonta-ganti perempuan tidak jelas, terkadang uang hasil kerja Dilla di ambil paksa oleh bapaknya yang bejat itu. Mirisnya lagi, bapak Dilla tidak pernah menafkahi Dilla dan kedua adiknya setelah ibunya meninggal dunia. Dilla menjadi tulang punggung keluarganya, dengan penuh tekad dan keyakinan Dilla mencoba menjadi wanita tegar menghadapi semua masalahnya itu. Dilla terus bekerja keras demi membiayai kedua adiknya yang masih duduk di bangku SMP dan SMA.
Bug!
Satu tendangan telak mengenai punggung pria paruh baya yang menyeret Dilla, membuat pria paruh baya itu jatuh tersungkur ke trotoar jalan.
"Lepaskan gadis itu!" titah Rendi berdecih sinis.
"Kamu anak muda jangan urus, urusanku. Gadis ini sudah aku beli untuk melayaniku!" jawab pria paruh baya itu lalu bangkit berdiri.
"Itu Rendi, kan?" batin Dilla bertanya pada dirinya sendiri. Dilla tidak terlalu bisa melihat wajah Rendi karena pencahayaan di jalan kurang terang. Dilla memundurkan langkahnya menjauhi dirinya dari hadapan kedua pria itu.
Rendi tersenyum sinis. "Aku membeli gadis ini dari Bapak dua kali lipat, bagaimana?" tawar Rendi to the point.
Pria paruh baya itu diam sejenak, dia menimbang-nimbang tawaran pemuda di hadapannya itu.
"Saya menyetujui, saya mau uang cash sepuluh juta sekarang!"
Rendi mengambil dompetnya di dalam saku celananya. Dia melemparkan uang cash sepuluh juta itu secara kasar di hadapan pria paruh baya itu. "Jangan pernah menyentuhnya dan mengganggu dia lagi!"
"Tenang saja, gadis itu sudah milikmu malam ini." Pria paruh baya itu mengambil uang itu lalu pergi dengan hati penuh kegembiraan karena mendapat keuntungan dua kali lipat.
__ADS_1
Ekor mata Rendi mencari keberadaan gadis berjilbab itu, tatapannya jatuh di belakang mobilnya. Suara isakan tangis terdengar di gadis yang duduk menenggelamkan wajahnya di lekukan lututnya.
"Hei kenapa kamu menangis seperti itu, Bapak tua itu sudah pergi." Rendi berjongkok lalu menarik tangan Dilla.
"Dilla?" tanya Rendi memastikan setelah Dilla mendongak kepalanya.
Dilla langsung memeluk tubuh Rendi. "Aku takut Rendi, kesucianku hampir saja di renggut." Bulir air mata jatuh di pelupuk mata Dilla. Sungguh kecewa Dilla sama bapaknya, bapaknya tidak ada hati sama sekali ingin menjual dan menghancurkan masa depan putrinya sendiri.
"Nggak perlu takut, Dilla. Kamu sudah aman sekarang," ucap Rendi mencoba menenangkan.
Dilla mendorong pelan tubuh Rendi. "Maaf, Ren. Aku refleks langsung memeluk tubuh kamu." Dilla mundur memberikan jarak pada dirinya dan Rendi.
"Nggak apa-apa, Dil. Bapak kamu tidak berubah dari dulu, sangat kurang ajar dan tidak punya hati! Bapak macam apa itu." Dengus Rendi kesal.
Dilla hanya terdiam menundukkan kepalanya.
"Kenapa diam, Dilla? aku salah ngomongnya, yah?"
"Nggak kok, Rendi."
"Aku antar pulang yah, ini sudah malam."
"Baiklah," jawab Dilla.
Dari kejauhan pemuda yang masih memakai setelan jas kerja tersenyum getir memperhatikan Dilla dan Rendi dari dalam mobilnya. Pemuda itu adalah Erwin. Erwin juga melewati jalan itu dan bahkan melihat Dilla di seret paksa. Saat Erwin sudah turun dari mobil dan ingin membantu Dilla tetapi, langkahnya terhenti saat melihat langkah Rendi lebih cepat daripada dirinya untuk membantu Dilla.
Erwin memegang dadanya. "Kenapa aku ngerasa sesak lihat OB itu dekat dengan Rendi? apa hubungan mereka berdua?" batinnya bertanya. Erwin segera menyalakan kembali mobilnya dan meninggalkan tempat itu dengan sejuta penasaran di dalam hatinya.
•••
"Dilla," ucap Rendi membuka keheningan yang terjadi di dalam mobil.
"Iya, Ren."
"Setelah lulus SMA aku pulang kampung ke rumah keluarga almarhumah ibu di sana. Aku baru saja balik ke kota ini. Sekitar baru satu minggu sih aku di sini. Keluarga ibu di sana juga tidak menerima kehadiran aku dan kedua adikku, Ren. Kami seakan di campakkan dan tidak di anggap lagi. Makanya aku memilih balik ke sini lagi," ucap Dilla dengan dengan suara melemah. Bening air mata ingin jatuh dengan derasnya namun, Dilla menahannya.
"Sabar, Dilla. Penderitaan kamu sejak dulu belum kelar. Aku jadi ikut sedih."
"Kamu memang yang terbaik dari dulu, Ren. Aku beruntung bisa ke temu lagi dengan kamu."
"Aku terharu, ada juga yang menganggap aku baik ternyata selama ini."
Dilla tersenyum tipis. "Wis lebay nya mulai deh, nggak berubah dari dulu," ejek Dilla di akhiri dengan ejek tawa. Rendi tersenyum senang akhirnya dia bisa melihat senyum kembali di bibir gadis itu.
"Kenapa kamu nggak hajar aja tuh Bapak tua. Kamu kan terkenal cewek kuat, mana jiwa laki kamu saat SMA dulu?" tanya Rendi. Rendi tertawa kecil saat pikirannya melayang ke masa SMA-nya dulu. Mengingat tingkah konyol Dilla yang sering menghajarnya apabila dia bolos sekolah.
"Aku sudah berusaha kabur, Ren. Bahkan aku cekik leher Bapak tua itu. Tapi, tenaganya kuat juga." Dilla menyikap lengan bajunya sedikit. "Lihat ini tangan aku aja luka akibat keluar dari mobil paksa."
"Lukanya cukup serius, aku antar ke rumah sakit," tawar Rendi.
"Nggak-nggak usah. Luka gini nggak apa-apanya bagi aku, Ren. Aku mau pulang aja," jawab Dilla. "Oh ya, kamu kerja apa sekarang, Ren?eis pasti jadi orang kaya sekarang."
"Hahaha, nggak juga, Dil. Kerja aku cuman jadi sekretaris direktur."
"Wah keren dan hebat kamu Ren ..." tutur Dilla kagum. "Jangan antar aku ke rumah," ucapnya lagi.
"Kenapa? terus kamu mau ke mana?"
"Belok kiri Ren, aku mau nginap di indekos teman aku malam ini. Aku masih takut sama Bapak."
"Kamu masih sering di pukul, Dil?"
__ADS_1
"Sudah nggak, Ren. Tapi Bapak sering mengancam akan membunuh kedua adikku apabila aku berbuat salah dan tidak memenuhi keinginannya."
"Dasar Bapak brengsek! lapor polisi aja, Dilla. Aku geram tingkah Bapak kamu yang semena-mena sama kamu dan adik kamu."
"Aku tidak tega melihat Bapak diam di jeruji besi di umurnya yang sudah tua. Aku sangat menyayanginya Ren, walaupun Bapakku sering main tangan. Aku yakin suatu saat dia akan berubah dan insaf."
Rendi tersenyum tipis. "Aku kagum dengan kepribadian kamu, Dilla. Kita berdua nikah aja," tutur Rendi penuh keyakinan.
Dilla membulatkan matanya mendengar ucapan Rendi. "Nikah?"
"Iya, nikah. Biar kamu tidak di tindas lagi sama Bapak kamu, aku bisa melindungimu dan adik kamu selamanya."
"Jangan bercanda Ren, kita hanya sebagai temanlah." Dilla mencubit pinggang Rendi.
"Ampun Dilla ... iya aku bercanda kok."
Dilla melepaskan cubitannya. "Hati-hati menyetirnya hampir saja kamu tabrak kendaraan di depan."
"Kamu sih main cubit aja," sahut Rendi kesal.
Beberapa menit kemudian akhirnya mobil milik Rendi sampai di sebuah indekos sederhana.
"Terima kasih, Ren. Aku berjanji akan menggantikan uang yang kamu berikan kepada Bapak tua tadi."
"Santai aja, Dil. Nggak usah di ganti aku ikhlas bantuin kamu."
"Itu tetap hutang aku, aku akan membayarnya. Walaupun mencicil hehehe ..."
"Terserah kamu, Dil. Aku nggak mau membebani kamu."
"Abang Rendi sangat baik sekali."
"Aku nggak suka kamu panggil aku Abang, panggil aja sayang. Itu lebih romantis, Dilla." Goda Rendi menaiki sebelah alisnya.
"Dasar jomblo ngenes!" cibir Dilla.
"Yang bilang juga jomblo!" balas Rendi.
"Mana ada, aku aja lagi proses ta'aruf. Do’akan saja semoga aku segera di khitbah lalu nikah," tutur Dilla antusias.
"Siapa calon kamu, Dilla?" tanya Rendi penasaran.
"Rahasia, nanti kamu tahu sendiri kalau aku sudah nikah. Pulang sana, aku sudah ngantuk, Ren."
"Tawarin kopi ke dulu, biar ngobrolnya lebih lama lagi. Aku masih penasaran dengan sosok pria yang akan menikah dengan kamu, Dilla."
"Indekos ini tidak boleh masuk pria!"
"Ya udah, aku pulang dulu. Assalamu'alaikum ..." ucap Rendi kesal.
"Wa'alaikumussalam, Abang Rendi. Hati-hati ya ...," sahut Dilla lalu melambaikan tangannya ke arah Rendi yang sudah ada dalam mobil.
•••
Vernandes yang sedang duduk di ruangan keluarga mengerutkan keningnya melihat putranya yang pulang dengan tampang lesu.
"Assalamu'alaikum, Yah," ucap Erwin menghampiri Vernandes lalu mencium punggung tangannya.
"Wa'alaikumussalam, Nak. Kamu kenapa, Erwin? kamu sakit?" tanya Vernandes khawatir melihat Erwin yang tidak bersemangat tidak seperti hari biasanya.
"Erwin cuman capek, Yah. Erwin ke kamar dulu." Vernandes hanya mengaguk kecil.
__ADS_1
Setelah sampai kamar Erwin segera mandi membersihkan dirinya.
Erwin berjalan ke balkon kamarnya. Anak rambutnya tertiup oleh angin malam. Netra milik Erwin menatap langit malam yang bertabur bintang dengan tatapan hampa dan kosong. "Belum juga aku berjuang untuk mendapatkan hatinya, tetapi aku sudah kalah saja!" Erwin lagi-lagi tersenyum getir meratapi nasib percintaannya.