
"Dek, ayo jawab! Kasihan Rendinya!" teriak Anita lagi melihat Jessika masih terdiam.
Jessika menggigit bibir bawahnya, lidahnya terasa sulit untuk menjawab karena gugup. Ia menatap Rendi yang masih setia berjongkok menunggu jawabannya.
Jessika mengembuskan napas panjang, sebelum mengambil keputusannya, ia tidak lupa mengucapkan 'Bismillah' semoga keputusan memang benar. "Emm ... dengan izin Allah, aku ma--u," jawab Jessika, pipinya bersemu merah setelah itu.
"Kurang dengar!" Rendi masih tidak puas mendengar jawaban Jessika.
"Yes, i do, Kak Ren!" Jessika berucap keras supaya pria dihadapannya puas. Bening-bening air mata jatuh di pelupuk matanya. Ia tidak lagi bisa menahannya.
Rendi tersenyum lebar, beranjak bangkit berdiri. Tidak tahan ingin memeluk tubuh wanita pujaannya yang baru beberapa detik menerima lamarannya dihadapan semua keluarga besarnya.
"Rendi!" Suara berat dari Papa Andi memperingati, menghentikan aksi Rendi yang ingin memeluk tubuh putrinya.
"Satu detik aja, Om eh bukan calon mertua maksudnya," ucapnya memohon.
"Tidak!" sahut Papa Andi dan Bara serentak. Bara berjalan ke arah Rendi dan Jessika, menarik tubuh sahabatnya itu untuk jauh-jauh dari adik perempuannya, "Belum halal, Ren. Ingat! Seujung kuku pun lo nyentuh adik gue sekarang. Siap-siap tulang lo remuk!" ancamnya yang berhasil membuat bulu kuduk Rendi berdiri.
"Kejam lo!" ujar Rendi kesal, "Ijab qobul sekarang aja, Bar. Nggak nahan gue, ingin meluk Jessika!" lanjutnya mengundang elak tawa ringan dari orang-orang yang hadir.
"Dasar lo, kebelet nikah!" hardik Bara menendang tulang kering Rendi, Rendi hanya bisa meringis. Moment bahagianya diganggu oleh sahabat sekaligus calon iparnya itu.
Jessika langsung memeluk tubuh kakak laki-lakinya itu, ia menangis bahagia di pelukan Bara. "Kak Bara, ini bukan mimpi, 'kan?" tanyanya masih dalam pelukan Bara.
Bara mengusap lembut kepala Jessika yang dibaluti jilbab itu. "Nggak, Dek."
__ADS_1
Kila turun dari gendongan Andre. "Kila, mau ke mana?" tanya Andre mencium gemas pipi putrinya itu.
"Mau ke Paman Rendi, Pa," sahutnya mencium kembali pipi Andre. Anak kecil perempuan yang menggunakan gaun itu berlari kecil ke arah Rendi.
"Paman, gendong Kila!" pintanya merengek manja.
Rendi mengaguk, ia membungkukkan badannya sedikit. "Jadi, Paman sebentar lagi nikah sama Bibi Jessika?" tanyanya penuh semangat.
"Iya."
"Paman Rendi, sering dong main sama Kila nantinya. Yeh ....," girangnya bahagia. Rendi tersenyum kecil melihat tingkah lucu Kila dalam gendongannya. Kecupan singkat mendarat di pipi chubby Kila darinya.
###
Setelah acara selesai dan berjalan lancar, Bara dan Famira kembali ke kediamannya. Mereka ikut senang, melihat kebahagiaan yang terpancar di wajah Rendi maupun Jessika.
Bara menarik kepala Famira untuk bersandar di pundaknya. Tangan sebelahnya bergerak mengusap lembut pipi istrinya itu. Ia melaju mobilnya lebih cepat, tidak rela melihat Famira yang tidak nyaman tertidur di dalam mobil.
30 menit berlalu, akhirnya tiba di kediamannya. Tidak mau membuat Famira terbangun, Bara memilih menggendong tubuh Famira ke atas kamar. Ia menaruh tubuh istrinya itu ke atas kasur pelan-pelan. "Selamat tidur, Sayang," ucapnya sembari mencium puncak kening dan tidak lupa perut Famira. Ia menarik selimut menutupi setengah badan Famira.
"Ayah," ucap anak kecil laki-laki diambang pintu dengan mainan ditangannya.
"Atha, belum tidur?" tanyanya lalu menggendong tubuh putranya itu.
"Mau tidur sama Ayah dan bunda," jawabnya tersenyum kecil.
__ADS_1
Bara mengacak-acak rambut Atha dengan gemas. "Sekarang, Atha tidur. Nanti telat sholat subuhnya. Atha nggak mau pergi sholat berjamaah sama ayah ke masjid?" tanya Bara menaikkan sebelah alisnya. Bara dan Famira sudah mengajarkan pendidikan agama terutama tentang kewajiban untuk sholat diusia dini kepada Atha, ya walaupun Atha belum berusia tujuh tahun. Apa salahnya bila mengajarkan demi kebaikan? Famira dan Bara berharap semoga putra mereka menjadi pemuda yang taat dan selalu patuh atas perintah-Nya bila besar nantinya.
"Mau, mau, Yah," jawabnya antusias. Anak kecil itu sangat semangat sekali, ia segera memejamkan matanya.
"Baca doa sebelum tidur dulu, Tha."
Atha membuka kedua bola matanya kembali. "Hampir lupa, Yah. Bismika Allahumma ahyaa wa, wa ...."
"Wa bismika amuut," sambung Bara cepat. "Ulangi sekali lagi, Atha masih kurang lancar," pinta Bara.
Atha mengaguk setuju. "Bismika Allahumma ahyaa wa bismika amuut," ucapnya dengan fasih.
Bara mengangkat kedua jari jempolnya. "Hebat, anak ayah. Sekarang baru boleh tidur," ujarnya mencium pelipis putranya.
Tidak lama, Atha ikut terlelap di samping Famira.
[Maaf, menganggu istirahat malam ini, Tuan.] Seseorang di seberang sana, berucap ramah saat sambungan telepon sudah terhubung.
[Hm, tidak masalah. Apa kau mendapatkan informasi, Detektif Jordan?] Bara langsung bertanya to the point. Ia berjalan ke balkon kamar, takut Famira dan Atha terganggu karena dirinya.
[Pelaku dan tempat persembunyian sudah diketahui Tuan.]
[Kerja bagus.] Bara tersenyum culas mendengarnya.
[Beberapa hari kemungkinan saya akan menjadi anggota kelompok mereka, agar bisa menyusup untuk masuk.]
__ADS_1
Obrolan mereka berjalan panjang malam itu. Bara hanya menyimak laporan dari Detektif Jordan.