
━━━━━━━━━⊰✿✿⊱━━━━━━━
Di sebalik setiap kesedihan akan ada terdapat kebahagiaan. Serahkan segala urusan kepada Allah. Biarkan waktu dan kehidupanmu berjalan karena takdir hidup kita sudah diatur sebaik mungkin.
–Catatan Muslimah–
━━━━━━━━━⊰✿✿⊱━━━━━━━
'Ayah ... Ayah ...' suara anak kecil menjerit kesakitan di dalam mimpi Bara. Bara merasakan itu nyata sekali.
"Paman Bara ... bangun." Kila menggoyahkannya tubuh Bara. Anak kecil berambut cokelat yang tidur di pelukan Bara, terbangun tengah malam saat melihat pamannya itu menggeleng-gelengkan kepalanya dan keringat dingin bercucuran di wajah pamannya itu.
Bara langsung beringsut duduk, kering di wajahnya di usap secara kasar. Baru pertama kali ini Bara memimpikan seorang anak kecil. Bara berharap bahwa mimpinya itu hanyalah sebatas bunga tidur. Mimpi itu mungkin efek dia selalu khawatir dengan kondisi Famira dan calon buah hatinya.
Tetapi, banyak orang pula yang mempercayai bahwa mimpi dalam tidur memiliki arti tersendiri bagi setiap seseorang dalam hidupnya.
"Paman mimpi buruk, yah?" tanya Kila dengan nada suara serak. Anak kecil itu sudah menganggap Bara seperti ayahnya sendiri.
Bara menggelengkan kepalanya. "Kila tidur lagi ya, maafkan Paman mengganggu kamu tidur," tutur Bara lalu mengecup kening keponakannya itu. Pria ini kembali membaringkan tubuhnya lalu memeluk tubuh keponakannya itu.
Bara pulang ke kediamannya sekitar pukul dua dini hari, dia dan Rendi sudah pergi ke kediaman Rafael mencari Famira. Namun, nihil istrinya itu tidak di temukan sama sekali. Mereka berdua hanya mendapati wanita paruh baya yang sudah mati terbunuh di ambang pintu rumah Rafael.
Rasa khawatir dan cemas semakin menjadi-jadi di hati Bara. Dimana dan bagaimana keadaan istrinya itu?
•••
Erwin, pemuda itu bahkan tidak bisa tidur sama sekali. Berbagai posisi tidur dia sudah coba mulai posisi tengkurap, telentang, miring namun, tetap saja Erwin tidak bisa memejamkan matanya.
Memikirkan bagaimana keadaan adiknya sekarang.
[ Huft ... Anda sungguh menyebalkan, Pak. Ada apa sih menelepon saya pagi buta seperti ini, Pak Erwin yang terhormat?! ] tanya Dilla dengan suara kesal, gadis ini menaruh dengan malas handphonenya di samping telinganya. Dilla sungguh kesal karena, Erwin mengganggu tidur dan istirahatnya.
[ Dilla ... ]
Suara Erwin terdengar sendu tetapi tetap terdengar sexi. Nada suara yang berhasil membuat hati Dilla berdegup dua kali lebih kencang. Baru pertama kali ini atasannya itu memanggilnya dengan nama panggilan. Biasanya selalu formal.
[ Anda sakit? ]
[ Tidak. ]
[ Oh, benarkah ... lalu ada apa Pak Erwin menelepon? ]
[ Aku hanya ingin mendengar suaramu! ]
[ Hahaha ... ] Dilla tertawa cekikikan di bawa selimutnya. Atasannya itu lagi menggombal dirinya? Sungguh dia tidak percaya dan sangat tidak masuk akal.
[ Anda mungkin salah makan malam ini, Pak? atau jangan-jangan Pak Erwin lagi mengigau sekarang. ] Dilla masih dengan tawanya.
Erwin mendengus kesal, pemuda ini menendang sisi lemarinya mendengar Dilla tertawa tidak jelas mendengar perkataannya. Apa yang lucu dari perkataannya itu.
__ADS_1
Sudah beberapa hari terakhir ini, Erwin memang jarang bertemu dengan OB baru itu, karena dia terlalu sibuk mencari Famira.
[ Tidak lucu! ] Nada suara Erwin langsung berubah menjadi ketus dan dingin mendengar Dilla masih tidak berhenti tertawa.
[ Ma---af, Pak. Saya bukan menertawakan Anda kok. ] jawabannya berbohong. Dilla langsung menghentikan tawanya.
[ Gaji kamu saya potong! ] pungkas Erwin.
[ P— ] ucapan Dilla terpotong.
Tutt ...
Erwin mematikan sambungan teleponnya secara sepihak, pemuda ini tersenyum penuh kemenangan.
'Menjahilinya tidak apa-apa, bukan?' gumam Erwin bertanya pada dirinya sendiri, dia menarik selimut lalu memejamkan matanya. Senyum tipis terukir di bibir pria ini membayangkan bagaimana wajah Dilla yang pastinya sangat marah dan kesal dengan dirinya.
Dilla memukul bantal guling meluapkan kekesalannya pada Erwin.
"Padahal ini bukan jam kerja, kenapa main potong aja gajiku. Atasan itu sangat menyebalkan sekali." Dilla terus menyumpah serapah Erwin.
'Hidupku tidak akan tenang lagi bila aku jadi menikah dengan pria seperti, Pak Erwin. Padahal, aku berharap kamu akan kembali, Bal. Aku masih menunggu kepulangan dan janjimu selama ini padaku.' Tak terasa bulir air mata jatuh di pelupuk mata Dilla. Dilla mengamati sebuah tasbih batu pirus biru di atas mejanya. Pemberian seseorang yang sangat dia harapkan kabarnya.
•••
"Bara," panggil Anita melambaikan tangannya di depan wajah Bara. Adik laki-laki semata wayangnya itu terlihat tidak semangat sekali pagi ini, "sarapan dulu, Dek," ucap Anita lagi.
"Hm, sebentar lagi Bara turun." Bara masih bergeming duduk di atas sofa menatap foto Famira di layar handphonenya.
"Aku sangat khawatir dengan keadaan Famira, Kak!"
"Berdiam diri dan terpuruk seperti ini tidak akan membuahkan hasil sama sekali, Dek," ucap Anita, "Tuhan tahu dimana batas kemampuan umatnya. Ada hikmah dibalik semua ini, Dek." Kata-kata motivasi itu meluncur di bibir Anita.
Bara mengembuskan napas panjang, lalu memeluk tubuh ramping kakak perempuannya itu. Anita cukup kaget, sudah lama adiknya itu tidak bersikap seperti ini kepada dirinya.
"Terima kasih Kak, sudah mengingatkan Bara."
"Famira yang selalu mengatakan pada Kakak, bahwa kita tetap berbaik sangka dengan ujian Tuhan pada kehidupan ini. Bukan hanya kamu yang merasa kehilangan Famira, Kakak juga. Semoga dia selalu dalam lindungan-Nya."
Rendi yang baru saja tiba, berdiri sejenak di ambang pintu kamar Bara menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, melihat ada Anita dikamar Bara. Rendi tiba-tiba saja merasa canggung.
"Tumben datang pagi, Ren," sapa Anita bangkit berdiri untuk meninggalkan Bara dan Rendi berdua. Dia mengetahui ada urusan penting yang akan di bicarakan oleh kedua pria itu.
"Biasalah Kak, urusan pekerjaan yang menuntut," jawab Rendi tetap canggung. Pikirannya teringat saat Kila menjodohkan dirinya dengan Anita.
Anita melemparkan senyum saat berpapasan dengan Rendi sebelum pergi keluar dari kamar Bara.
"Rafael semalam berhasil kabur, Bar," kata Rendi lalu duduk di samping Bara.
"Bagaimana bisa kabur? lo nggak becus mengurusnya!"
__ADS_1
"Anak buah yang gue suruh untuk mengantar Rafael semalam ke kantor polisi dihajar habis-habisan oleh geng Rafael lainnya. Mereka berhasil membawa Rafael pergi, gue juga nggak tahu akan begini," kilah Rendi.
"Lo memang nggak becus!" geram Bara menjitak kepala Rendi, "gue nggak mau urus Rafael lagi, gue mau fokus mencari Famira dulu saat ini."
"Rafael bisa menjadi ancaman juga untuk lo saat ini."
"Gue bisa mengurusnya! keluar lo sekarang, tunggu gue di bawa." Usir Bara, dia masih ingin sendiri dulu saat itu.
Sebelum benar-benar keluar, tiba-tiba saja Rendi mengingat informasi penting yang membuat dia mau datang pagi ini ke rumah keluarga Wijaya.
"Semalam terjadi tabrakan lari di jalan raya yang tak jauh dari rumah Rafael. Sekitar 30 sebelum menit kita datang, ada sebuah mobil sedan hitam yang membantu korban tabrakan lari itu. Wanita berjilbab yang menjadi korbannya itu, gue khawatir itu Famira," jelas Rendi kepada Bara informasi yang berhasil dia dapatkan.
"Telepon seluruh direktur rumah sakit yang ada di kota ini sekarang! informasikan kepada mereka untuk memeriksa pasien korban kecelakaan!" perintah Bara. Rendi mengaguk menuruti perintah Bara.
"Gue sudah menelepon seluruh rumah sakit kota ini!"
Bara mengambil jasnya di dalam
lemari. "Kita langsung pergi dan memeriksa saja!"
"Oke!" Rendi mengikuti langkah Bara.
Mama Ani yang sudah duduk di meja memanggil Bara untuk sarapan pagi, "mau ke mana pagi-pagi, Bara? kamu harus sarapan dulu."
"Maaf, Ma. Bara harus segera pergi ke rumah sakit." Bara mencium kening Mama Ani lalu menyalami punggung tangan Mama Ani dan Papa Andi.
"Ada perlu apa kamu ke rumah sakit, Bara?" tanya Papa Andi.
"Tidak apa-apa, Pa. Ada urusan penting yang harus Bara selesaikan di sana," jawab Bara berbohong. Dia tidak ingin membuat kedua orang tuanya itu terlalu khawatir, dia ingin memastikan dulu benar atau tidak Famira yang menjadi tabrakan lari itu.
"Paman Rendi sarapan sama, Kila yah," pinta anak kecil itu menarik tangan Rendi untuk mengajak makan bersamanya.
"Paman juga harus pergi." Rendi mencubit gemas pipi Kila.
"Cobain nasi goreng buatan Mama Kila dulu." Kila menyuapi sesendok nasi goreng itu pada Rendi, "enak kan nasi goreng buatan Mama?" tanyanya antusias.
"Kila ...," Anita memperingati putrinya itu untuk menjaga sikap.
"Paman Rendi kan calon Papanya Kila, Ma. Iya kan, Paman?" tanyanya
antusias, "Paman iya, kan?" tanyanya lagi saat melihat Rendi hanya diam mematung.
"Iya-iya, Kila benar," jawab Rendi tersenyum tipis mencium kening Kila.
Anita hanya bisa menundukkan kepalanya, pipi wanita itu tampak bersemu merah.
"Ye ... kalau Paman dan Mama nikah, Kila akan punya adik lagi dan menjadi seorang kakak," girang anak kecil itu bahagia.
Rendi menepuk jidatnya mendengar ucapan Kila.
__ADS_1
Papa Andi, Mama Ani, dan Bara tersenyum kecil mendengar penuturan Kila.