Pernikahan Tanpa Cinta

Pernikahan Tanpa Cinta
86


__ADS_3

═════════•❁❁•═════════


Allah ta’ala berfirman dalam Al Qur’an :


“Katakanlah: Wahai orang yang melampaui batas terhadap dirinya (dengan dosa), janganlah kalian BERPUTUS ASA dari rahmat Allah (dengan meminta ampun kepada-Nya), karena Allah akan mengampuni dosa-dosa semuanya, sungguh Dia maha pengampun lagi maha penyayang.”


[ QS. Azzumar : 53 ]


═════════•❁❁•═════════


"Berhenti menertawakanku! apa yang lucu?" Erwin yang sudah frustrasi kian frustrasi melihat Dilla tertawa cekikikan nggak jelas di sampingnya. Dilla pura-pura tidak mendengar, dia memegang perutnya semakin tertawa lepas.


"Dilla ...," Erwin kembali memperingati.


Dilla langsung berhenti tertawa, wanita ini segera mengecup singkat pipi Erwin. Agar suaminya itu tidak marah.


"Aku mencintaimu Mas ...," kata Dilla tersenyum tipis lalu bangkit. Dilla mengacak rambut Erwin saat melihat suaminya itu masih kesal.


"Hm." Wajah Erwin tampak senang mendengar perkataan Dilla.


"Aku mau bantu bibi masak dulu Mas, buat makan malam nantinya." Dilla melepaskan genggaman tangan Erwin.


"Kita masak bersama," sahut Erwin, Erwin ikut bangkit dan menggandeng tangan Dilla menuju ke dapur.


"Boleh, Mas Erwin bisa masak emangnya?" tanya Dilla saat berjalan ke arah dapur.


"Sedikit, nanti kamu yang ajarin."


Dilla mengaguk setuju, ketulusan hati suaminya itu, sedikit demi sedikit membuat hatinya luluh. Dilla menyadari takdir Tuhan memang yang terbaik untuknya. Dilla akan terus mencoba menjadi istri yang baik dan taat terhadap suaminya.


••••


Famira dan Bara sudah kembali ke rumahnya, ummi Hana ikut tinggal bersama mereka.


Mobil Bara sudah sampai di kediaman keluarga Wijaya malam ini.


"Mas nggak turun?" tanya Famira sebelum membuka pintu mobil. Padahal Bara yang mengajak dirinya untuk datang ke kediaman mama Ani dan papa Andi untuk bertemu Jessika. Famira juga cukup penasaran dengan sosok Jessika, Famira tidak mengetahui bahwa Bara mempunyai adik angkat. Ada raut kekecewaan di wajah Famira, namun wanita ini sangat pandai menyembunyikannya.


"Mas harus pergi sebentar, Ra. Ada hal yang harus mas urus malam ini. Nggak akan lama ...," jawab Bara mencubit pelan pipi Famira.


Famira meraih punggung tangan Bara lalu menciumnya. "Baiklah, Mas hati-hati," tuturnya lembut dan di balas Bara anggukan kepala oleh Bara.


Saat mobil suaminya itu hilang di depan pintu gerbang rumah, Famira segera berjalan masuk ke dalam rumah mewah itu.


"Assalamu'alaikum ...," salam Famira.


"Wa'alaikumussalam," sahut seluruh penghuni rumah bersamaan. Kebetulan seluruh anggota keluarga Wijaya sedang duduk di ruangan keluarga bercengkrama malam itu.


"Bibi Famira ..." teriak Kila senang, anak kecil itu berlari ke arah Famira. Famira berjongkok dan menggendong tubuh Kila mencium kedua pipi anak kecil perempuan itu secara bergantian karena merasa gemas.


"Bibi kok sendiri? paman mana?" tanya Kila penasaran saat tidak melihat kehadiran pamannya.


"Paman lagi pergi sebentar, nanti datang ke sini kok," sahut Famira lalu menduduki tubuhnya di atas sofa dengan Kila diatas pangkuannya.


"Pergi ke mana, Nak?" tanya mama Ani.


"Famira kurang tahu, Ma," jawab Famira.


Jessika yang baru turun dari kamarnya langsung duduk di samping Famira.


"Ini istri kak Bara, Ma, Pa?" tanya gadis itu penasaran kepada papa Andi dan mama Ani.

__ADS_1


"Iya, itu Famira. Istri kakakmu," sahut papa Andi.


"Kakak cantik sekali, pantesan kak Bara jatuh hati pada Kak Famira." Jessika tersenyum tipis menatap wajah Famira dengan seksama.


"Bukan hanya cantik paras, Bara jatuh hati kepada Famira karena cantik akhlak," celutuk Rendi yang baru saja datang. Pemuda itu datang ke kediaman keluarga Wijaya karena permintaan papa Andi. Entah apa yang akan dibicarakan pria paruh itu kepada dirinya.


"Apakah Kak Rendi akan menyukai Jessika bila Jessika berhijab dan memperbaiki akhlak?" tanya antusias Jessika, gadis itu langsung bangkit berdiri setelah melihat kehadiran Rendi.


"Tidak tahu juga," sahut Rendi agak ketus.


Jessika memukul pelan tubuh Rendi, pria ini selalu saja dingin dan ketus kepada dirinya.


"Jessika jaga sikap, kamu sudah besar, Nak," tutur mama Ani memperingati.


Jessika mengembuskan napas panjang. "Iya, Ma."


"Kak ipar, ayo ke kamar Jessika. Jessika mau dengar secara detail kisah kak Bara dan kak Famira. Penasaran banget, Kak Famira bisa menaklukan hati kak Bara yang dingin dan keras itu, siapa tahu aku juga bisa menaklukkan hati pria yang aku sukai dari cerita Kak Famira," pinta Jessika memohon kepada Famira. Jessika melirik ke arah Rendi yang selalu saja cuek dan acuh terhadap dirinya.


"Boleh."


"Jangan berbuat yang aneh-aneh pada Famira, Jessika."


"Oke, Kak Anita." Jessika mengacungkan jempol ke atas. Gadis ini segera mengandeng tangan Famira ke dalam kamarnya.


***


"Ayah, ayo. Atha mau ke pasar malam. Ayah ...," Atha yang duduk di pangkuan Bara itu terus merengek. Menarik tangan Bara untuk bangkit.


"Tidak boleh, Atha. Nanti kamu masuk angin. Sekarang Atha makan aja setelah itu tidur ...," ucap Bara lembut.


"Nggak mau, Ayah. Atha mau ke pasar malam. Ayah ayo," pinta anak kecil laki-laki itu lagi.


"Atha makan dulu, baru kita pergi," final Bara, pria ini tidak bisa menolak keinginan Atha. Itulah alasan Bara pergi meninggalkan Famira sebentar, dia mendapatkan telepon dari Desi bahwa Atha tidak mau makan kalau dirinya tidak datang.


"Bibi Desi boleh ikut, Yah?"


"Boleh." Bara menggendong tubuh Atha ke dalam mobilnya.


Tak ada percakapan lebih di dalam mobil. Hanya terdengar suara riang dan tawa Atha mengiringi perjalanan mereka bertiga.


"Ayah, Atha naik itu ya!" tunjuk Atha saat sudah sampai, anak kecil itu menunjuk wahana permainan bianglala.


Cukup ramai di sekitar situ, orang-orang banyak berlalu lalang. Bara memilih terus menggendong Atha, takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.


"Tidak boleh, Atha."


"Kok nggak boleh, Yah? Atha boleh naik apa dong?"


Bara terdiam sejenak, netranya cokelat mengelilingi sekitar. Mencari wahana permainan yang aman bagi anak kecil seumur dengan Atha.


"Atha naik wahana permainan itu aja, Kak. Lebih aman sepertinya," saran Desi menunjuk komedi putar tumblr.


"Boleh juga," sahut Bara menerima saran gadis yang berdiri di sampingnya itu.


Atha tertawa riang saat naik komedi putar tumblr. Bara dan Desi hanya bisa tersenyum juga melihat keceriaan di wajah Atha.


Dua jam berlalu, akhirnya Bara memutuskan untuk mengajak Atha pulang. Anak kecil itu juga sudah tertidur pulas di dekapan Desi dengan tangan memegang gulali.


"Bagaimana keadaan kakekmu, Desi?" tanya Bara menghilang kecanggungan yang terjadi dalam mobil.


Desi yang duduk di kursi belakang mendongak kepalanya menatap lurus pria yang sedang menyetir mobil.

__ADS_1


"Alhamdulillah sudah lebih baik, Kak. Terima kasih ya, Kak. Kak Bara sudah banyak membantuku."


"Sama-sama." Bara menyinggung senyum tipis.


Tak butuh lama mobil Bara sampai di halaman pantai asuhan.


"Maaf ya, Kak. Atha selalu saja merepotkan Kak Bara."


"Tidak masalah, aku sudah menganggap Atha seperti anakku sendiri," sahut Bara. Pria ini segera pamit untuk pulang. Dia sudah terlalu lama meninggalkan Famira di rumah kedua orangtuanya.


***


Famira diantar pulang oleh Rendi dan Jessika balik rumah, dia merasa cukup lama menunggu Bara. Mama Ani dan papa Andi menawarkan menantunya itu nginap di rumahnya namun, Famira menolak halus karena dia tidak mau ummi Hana sendiri di rumah.


Rendi dan Jessika yang melihat kemunculan Bara tampak memandang tidak suka.


"Famira kecewa sama lo, Bar," kata Rendi dengan nada tidak bersahabat. Rendi tidak mengerti dengan pola pikir dari sahabat sekaligus atasannya itu.


"Kak Bara kok jahat pada kak Famira?" Kini Jessika bersuara dengan nada tidak suka juga.


Bara tidak mengerti dengan perbincangan kedua orang itu mengarah ke mana.


"Lihat ini!" Jessika memperlihatkan foto dari handphone miliknya.


"Dan lo harus tahu Bar, seseorang mengirim foto ini ke semua anggota keluarga lo!"


Bara terbelalak kaget saat melihat foto dirinya bersama Atha dan Desi di layar handphone milik Jessika. Seseorang mengambil foto tersebut saat ada adegan Bara dan Desi yang terlihat cukup dekat.


"Siapa dalang semua ini? ini tidak seburuk yang kalian kira!" Bara mendengus kesal.


"Kami juga nggak tahu," sahut Jessika dan Rendi bersamaan. Mereka berdua memilih untuk pulang tidak ingin terkena imbas marah dari Bara.


Setelah puas menangis di pelukan ummi Hana, Famira naik ke kamarnya. Membasuh wajahnya agar tidak terlihat dia baru menangis, Famira segera menggantikan gamis yang di pakai dengan piyama. Siap-siap untuk tidur.


Pintu kamar terbuka pelan, Bara memasuki kamar dengan hati bersalah.


"Baru pulang?" tanya Famira menoleh kearah suaminya, wanita ini duduk di tepi ranjang. Menatap wajah suaminya dengan tatapan hampa.


"Mas bisa jelasin semuanya Ra ..." Ucapan Bara tergantung.


"Rendi sudah menjelaskan semuanya, Mas tidak perlu jelas apa pun," potong Famira cepat.


"Maafkan aku, Ra." Bara meraih tangan Famira.


Famira terdiam.


"Kamu marah sama aku, Ra?"


Famira mengukir senyum tipis, dia menggenggam kembali tangan Bara.


"Sekarang aku tanya ke Mas, bagaimana perasaan Mas saat Famira pergi dengan pria lain tanpa sepengetahuan, Mas?" tanyanya dengan nada sopan.


"Marah, cemburu, dan aku akan menghajar habis-habisan pria yang pergi bersama kamu," jawab Bara penuh yakin.


Senyum kembali terukir di bibir Famira. "Begitu pun yang Famira rasakan sekarang, Mas. Famira punya hati, dan rasa sakit itu ada," jelasnya, Famira menundukkan kepalanya dalam-dalam.


Ucapan itu menusuk hati Bara. Bara seakan tertampar keras oleh ucapan istrinya itu.


"Famira tahu Mas tidak ada hubungan apa pun dengan wanita itu. Famira percaya sama Mas. Tapi, Famira sedikit kecewa, Mas nggak jujur pada Famira. Bukankah kita suami istri? kejujuran dalam hubungan itu diutamakan Mas." Bara langsung memeluk erat tubuh Famira, "Jangan sampai kepercayaan Famira hilang terhadap Mas, jika sudah hilang Mas akan sulit mendapatkannya kembali ...," katanya lagi.


"Aku minta maaf ..."

__ADS_1


"Famira sudah memaafkan, Mas. Famira ingin tidur." Famira melepaskan pelukan Bara.


__ADS_2