
Rendi tersenyum tipis. “Gue masih perlu banyak restu dari keluarga lo, sebelum ke KUA.”
“Itu urusan gampang, gue akan bantu lo!”
“Hm.” Rendi berdehem menanggapinya. Rendi masih tidak yakin apakah Jessika menyukainya? Angan-angan tentang sebuah ‘kegagalan’ ada dalam benak Rendi. Hatinya tiba-tiba saja menciut untuk segera menghalalkan gadis itu.
Rendi segera pamit pulang kepada Bara, urusan tentang sebuah pernikahan harus dia pikir matang-matang. Karena menurut dirinya pernikahan bukanlah sesuatu yang main-main.
Bara hanya bisa memandang punggung Rendi yang kian jauh dari hadapannya, cukup aneh melihat tingkah Rendi. Bara tidak ambil pusing, netra cokelat milik Bara jatuh kembali kepada dua wanita yang menggunakan jilbab lebar itu. Siapa lagi kalau bukan Famira dan Jessika. Jessika menggandeng tangan kakak iparnya dengan manja.
“Kalian mau ke mana sudah berpakaian rapi seperti ini?” tanya Bara penuh selidik. Bara menghalau jalan Famira. Melihat dari bawah sampai atas penampilan istrinya itu.
“Mau ke mall, Kak Bara,” jawab Jessika antusias.
Famira meraih tangan suaminya. “Boleh aku pergi, Mas?” tanya Famira meminta izin.
Dengan cepat, Bara menggelengkan kepalanya. “Tidak boleh, Ra!”
Jessika merengek kepada kakak lelakinya itu, gadis ini menaruh muka melas terbaiknya. Berharap Bara luluh. “Nggak lama kok, Kak. Izinin kak Famira untuk pergi, yah.” Jessika menggoyangkan lengan Bara, “Kak, boleh dong. Jessika jamin kak Famira, nggak apa-apa kok,” mohon Jessika kembali.
Bara tetap kukuh dengan pendiriannya, tidak boleh, tetap tidak boleh. Bara menarik tangan Famira masuk ke dalam rumah kembali. “Kamu lagi hamil, Ra. Mas tidak mau kamu dan calon anak kita kenapa-kenapa. Banyak orang jahat yang berkeliaran di luar sana. Dan mas tetap tidak mengizinkan!” tegas Bara penuh penekanan.
Famira mengatupkan bibirnya, menuruti perintah suaminya. Wajah wanita cukup sedih, karena Bara tidak mengizinkannya keluar.
“Famira ingin pergi keluar, Mas. Famira bosan di rumah terus,” keluh Famira, mendudukkan tubuhnya di samping suaminya itu. Famira meremas ujung jilbabnya saat belum mendengar sahutan dari Bara.
“Kak Bara terlalu over protektif kepada kak Famira.” Jessika mencebik kesal terhadap kakaknya itu.
“Kalau mau ke mall, pergi sendiri, Dek. Jangan ajak istri kakak!”
“Sebal deh, dengan sikap Kak Bara yang keras kepala ini,” ujar Jessika. Jessika ikut duduk di hadapan Bara. Menatap sangar kakak lelakinya itu.
Bara menatap wajah Famira yang sudah ditekuk, mengusap pipi Famira dengan lembut. “Pengen beli apa pergi ke mall, Ra?”
“Nggak ada, cuman pengen nemenin Jessika aja. Famira cuman pengen jalan-jalan, Mas.”
Bara mengembuskan napas panjang. “Ya udah kita pergi, mas yang akan mengantar kalian.” Bara memilih mengalah, tidak akan sanggup jika melihat istrinya itu bersedih. Bara pun tidak akan membiarkan Famira pergi sendirian keluar, mengingat Rafael masih berkeliaran bebas di luar sana.
“Terima kasih, Mas.” Famira tersenyum tipis, Bara mengaguk kecil mengusap lembut kepala Famira yang di lapisi jilbab itu.
“Atha boleh ikut juga, Yah?” tanya anak kecil laki-laki itu di gendongan ummi Hana.
“Boleh dong,” jawab Bara mengambil alih tubuh Atha ke dalam gendongannya.
•••
Tidak butuh waktu lama mobil Bara tiba di sebuah mall besar di kota itu. Bara menggandeng tangan Famira, sementara Jessika di suruh untuk menggendong Atha.
__ADS_1
“Bibi Jessika, aku jalan aja,” pinta Atha. Jessika mengaguk paham, sebelum menurunkan tubuh anak kecil itu dari gendongannya Jessika mencium kedua pipi Atha yang sangat menggemaskan. “Coba aja kamu udah besar, bibi ingin kamu jadi suami bibi aja. Kamu sangat ganteng, Sayang.” Jessika mencium kembali pipi anak kecil laki-laki itu, Atha terlihat sedikit tidak suka diperlakukan berlebihan oleh bibinya itu.
“Jangan bicara yang aneh-aneh pada Atha, Jessika.” Bara memperingati, jangan sampai otak polos Atha di pengaruhi oleh omongan Jessika yang suka main ceplas-ceplos tidak ada sensor.
“Iya, Kak,” jawab Jessika. Jessika menggenggam erat tangan mungil Atha.
Setelah berputar cukup lama di mall besar itu, akhirnya mereka berhenti di salah satu toko baju.
“Kak Famira, bagus nggak gamis ini?” tanya Jessika sambil menunjukkan gamis di tangannya.
“Bagus, Dek,” jawab Famira.
Jessika terus memilih-milih gamis dan jilbab di toko itu. Pakaian syar’i–nya masih sedikit, makanya dia mau beli banyak-banyak. Buat tambah koleksi, begitulah yang ada di pikiran gadis itu.
Bara mendengus kesal, menemani Jessika berbelanja sesuatu yang membosankan. Adiknya itu pasti banyak maunya.
“Kamu nggak beli juga, Ra?”
“Nggak Mas, gamis aku sudah banyak.” Famira berjalan ke sederet baju koko pria. Famira mengambil baju koko berwarna putih. “Bagus untuk, Mas.” Famira mengepaskan baju koko itu ke tubuh suaminya, “Suka?”
“Kalau menurut kamu bagus, menurut mas juga bagus, Ra.”
“Baiklah.” Famira segera menyuruh pramuniaga toko itu untuk membungkusnya.
Bara tersenyum kecil, melihat putranya yang sudah merengek meminta sesuatu. Bara menundukkan sedikit tubuhnya supaya sejajar dengan tinggi Atha. “Mau apa, Tha?”
“Beli yang lain, kamu makan es krim terus, Tha. Gigi Atha udah bolong-bolong tuh akibat makan es krim terus.” Bara menggendong tubuh Atha, menunjuk gigi anak kecil itu.
“Mainan, boleh, Yah?” Atha bertanya antusias.
“Hm, baiklah. Ayah akan belikan.”
Puas berbelanja, Bara, Famira, Atha, dan Jessika memilih untuk mengganjal perutnya yang sudah mulai lapar. Mereka berempat sekarang ada di salah satu restoran mewah di mall itu.
Seseorang wanita berambut gelombang menepuk-nepuk pundak Bara.
Bara memutar bola matanya malas ke arah wanita yang tidak di kenal itu.
“Maaf Pak, istri saya lagi ngidam. Dia ingin meminta foto kepada Anda.” Si suami yang berada di sampingnya mencoba menjelaskan saat melihat raut tidak bersahabat di wajah Bara.
Bara melihat perut wanita itu yang sedikit membesar.
“Ayo mas ganteng, kita foto bareng,” pinta wanita itu.
Bara memandang ke arah Famira, mencoba meminta izin. Famira mengaguk kecil pertanda setuju, wanita itu persis dengan dirinya yang terkadang banyak mau. Bara bangkit berdiri mengikuti kemauan wanita itu kalau bukan karena wanita itu hamil seperti istrinya, Bara ogah melayaninya.
“Terima kasih, Pak. Maaf menggangu makan Anda.” Pasangan suami istri itu segera pamit setelah mendapat apa yang ingin mereka dapatkan.
__ADS_1
“Vina!” panggil Famira saat melihat kehadiran wanita itu.
Vina yang sedang mencari meja makan, menoleh ke sumber suara. “Famira?” Vina menghampiri Famira, dan duduk di samping Famira.
“Sudah lama kita tidak bertemu, bagaimana kabarmu, Ra?” tanya Vina antusias. Tersenyum tipis ke arah Bara dan Jessika yang menatap dirinya dengan penuh tanda tanya.
“Alhamdulillah baik, Vin. Kamu sendiri gimana?”
“Baik juga, Ra.”
“Vina, mantan kak Bara dulu yah?” celutuk Jessika, menatap intens wajah Vina dan tentunya penampilan Vina yang sudah berubah.
“Iya.”
Bara memilih pergi ke toilet, melihat wajah Vina membuat selera makannya hilang. Masa lalunya teringat kembali melihat sosok Vina.
Netra Famira fokus pada anak kecil berjilbab digendongan Vina.
“Anak kamu, Vin? MasyaaAllah cantik sekali.”
"Iya, Ra. Namanya Nayla," ucap Vina memperkenalkan putrinya itu, “Sayang, salim sama Tante Famira,” tutur Vina lembut kepada putrinya.
Anak kecil perempuan yang seumuran dengan Atha itu meraih punggung tangan Famira, lalu menciumnya.
Famira merasa gemas dengan anak Vina, dia menggendongnya. Mencium gemas pipi chubby anak kecil perempuan itu.
“Mirip sekali sama kamu, Vin. Cantik.”
“Bunda!” Atha merengek tidak suka, melihat bundanya menggendong orang lain. Atha menarik gamis Famira. Famira tersenyum kecil melihat wajah cemburu Atha, dia memberikan Nayla kembali ke Vina, lalu menggendong putranya. “Bunda cuman sayang sama Atha kok.”
“Wah, siapa nama kamu, Nak?” Vina bertanya ramah.
Atha tidak kalah sopan, dia meraih punggung tangan Vina lalu menciumnya. “Nama aku Atha,” ucapnya sambil memperlihatkan sederajat giginya yang putih.
“Nama yang bagus, Sayang.”
“Kalau dijodohkan mereka berdua cocok juga,” celetuk Jessika kembali, “Mereka berdua sama-sama cantik dan ganteng. Jodohkan dari sekarang, seru pastinya. Jessika jadi pengen punya anak juga.” Jessika menyeruput jus alpukatnya.
Tuk!
Bara yang baru kembali dan tidak sengaja mendengar ucapan adik perempuannya itu menjitak kepala Jessika, membuat Jessika meringis kesakitan.
“Nikah dulu, baru punya anak, Dek!”
“Jessika nggak perlu nikah, Jessika bisa kok punya anak,” sahut Jessika antusias.
Vina dan Famira tampak menyimak.
__ADS_1
“Nggak usah ngawur ngomongnya, Dek!” Bara berjalan ke arah Famira, “Mas tunggu kamu di mobil, Ra.” Bara segera berlalu, dia tidak menyapa Vina sedikit pun. Boro-boro menyapa melihatnya saja Bara ogah.