Pernikahan Tanpa Cinta

Pernikahan Tanpa Cinta
58


__ADS_3

“Bagaimana kamu bisa dengar, kamu aja lagi tertawa cekikikan nggak jelas nonton film itu.” Erwin menunjukkan film komedi yang sedang di tonton oleh Famira, Erwin meraih remote TV di tangan Famira lalu mematikannya.


"Kenapa dimatikan, Kak?" Famira mencebik kesal.


"Biar kamu fokus sama Kak aja, Dek," sahut Erwin. "Sini Dek, Kakak rindu loh." Erwin menarik tubuh Famira ke dalam dekapannya, memeluk erat tubuh wanita berjilbab itu.


"Lepasin Kak, Famira nggak bisa napas nih," cicit Famira memberontak melepaskan pelukan itu.


Erwin melonggarkan pelukannya, dia mengecup kening Famira. Mencium pipi kiri dan kanan Famira.


"Kak Erwin! jangan cium Famira terus, Famira bukan anak kecil."


"Kakak kan rindu, Dek," sahutnya cengengesan. "Kenapa duduk sendiri, penghuni rumah lainnya mana, Dek?" tanya Erwin saat melihat rumah mewah itu sepi hanya terdapat ART yang masih sibuk bekerja.


"Mama dan Papa lagi pergi ajak Kila jalan-jalan."


"Kenapa kamu nggak ikut juga, Dek?"


"Famira ingin di rumah aja, Kak."


Erwin manggut-manggut mengerti. "Terus, suami kamu?"


"Ada di atas, di ruangan kerjanya sama Rendi."


"Sok sibuk, istri di biarkan sendiri," ucap Erwin merasa kesal kepada Bara karena membuat adik kesayangannya merasa kesepian. Erwin mengusap lembut kepala Famira yang di lapisi jilbab itu.


"Kakak sendiri juga sibuk. Sudah satu minggu ini Kakak nggak pernah menelepon Famira atau pun datang ke sini."


"Ya ... Kakak juga sibuk, Dek. Sejak Ayah nyerahin alih jabatannya jadi nggak ada waktu, maaf ya. Dek," jawab Erwin.


"Famira rindu juga sama Ayah, Famira ingin nginap di rumah Ayah malam ini, Kak."


Erwin segera berdiri menggandeng tangan Famira. "Yuk kita pulang, Dek," ajak Erwin antusias.


"Bentar dulu, Famira minta izin sama Mas Bara dulu, Kak." Famira menarik tangan Erwin untuk mengikuti dirinya ke atas menuju ruangan kerja Bara.


Famira mengetuk pintu. "Mas, Famira boleh masuk?" tanya Famira dari luar.


"Masuk aja, sayang. Nggak usah minta izin juga," sahut Bara dari dalam.


"Ada Bang Erwin juga ya," sapa Rendi saat melihat Erwin yang mengekor di belakang Famira. Dia menyenggol lengan Erwin.


"Apa lo," sahut Erwin dengan nada ketus.


"Nggak usah ngegas, Bang."


"Siapa yang ngegas?"


"Lo, lah!"

__ADS_1


"Kalian berdua jangan membuat keributan di sini!" ujar Bara menatap tajam kedua pemuda itu. Rendi langsung diam, sementara Erwin tidak ada takut-takutnya.


Bara beralih menatap Famira yang sedang merengek. "Mau ke mana, malam-malam, Ra?" tanya Bara sambil mencubit lembut pipi Famira yang selalu menggemaskan.


"Famira mau nginap di rumah Ayah malam ini, Mas. Boleh ya," pinta Famira memohon.


Bara mengangguk setuju. "Tentu saja boleh, Mas juga akan nginap sama kamu juga."


"Makasih, Mas," jawab Famira lalu mencium pipi Bara.


"Jangan di lanjutin!" ujar Erwin dan Rendi kompak, saat melihat Bara sudah akan bertindak ke adegan yang lebih intim lagi.


"Gue lupa, ada yang masih jomblo di sini juga," kata Bara mengejek Rendi dan Erwin. "Lo berdua cepat nikah, enak loh!" ejeknya kembali.


"Kamu pergi dulu sama Erwin, nanti Mas nyusul. Masih ada yang Mas bicarakan dengan Rendi, nggak apa-apa, kan?"


"Nggak apa-apa kok, Mas. Famira ngerti," sahut Famira lalu mencium punggung tangan Bara.


"Jaga istri gue baik-baik. Awas aja sampai badan istri gue kenapa-kenapa!" Bara memberikan kepada Erwin.


"Gue juga tahu! nggak usah lo bilang juga," jawab Erwin. Mereka berdua pun segera meninggalkan kediaman Wijaya.


•••


"Ayah sudah tidur, Kak," tutur Famira pelan saat dia sudah masuk di kamar Vernandes. Famira menyelimuti tubuh pria paruh baya itu dan mencium keningnya.


Famira dan Erwin duduk di meja makan, Famira menikmati martabak kesukaannya yang sempat dia beli saat perjalanan tadi.


"Dek," panggil Erwin.


"Iya, Kak. Ada apa?" tanya Famira bingung ketika melihat raut wajah pemuda itu tampak murung.


"Kakak sedang coba mendapatkan hati seorang wanita."


"Alhamdulillah, Kak Erwin akhirnya bisa cepat nikah. Siapa perempuan itu? kenalin ke Famira dong, Kak."


"Kakak baru beberapa hari bertemu dengannya, Kakak ingin mendapatkannya dengan cara yang benar untuk mendapatkan hatinya. Kakak minta saran, bagaimana bisa mengambil hati perempuan, Dek?"


Famira mengunyah habis martabak di dalam mulutnya terlebih dahulu sebelum menjawab pertanyaan Erwin. "Perlu yang Kak Erwin ingat, perempuan itu butuh kata Qobiltu bukan i love you, Kak. Wanita itu ingin sebuah kepastian, Kak."


"Kakak juga berniat seperti itu sih, Dek. Langsung khitbah dan akad," jawab Erwin antusias.


"Menurut Famira, Kak. Mendingan proses ta'aruf dulu. Biar Kakak bisa mengenali perempuan itu dulu, latar belakang keluarganya ataupun yang lainnya. Begitu pun sebaliknya, perempuan itu juga bisa mengenali keluarga kita juga. Karena pernikahan itu bukan main-main, Kak. Famira cuman tidak ingin Kakak salah pilih perempuan." Famira berhenti sebentar untuk mengambil napasnya.


"Bila memang Kakak sudah yakin dengan sepenuh hati, Kakak boleh langsung pergi ke rumahnya dan mengkhitbahnya. Jangan lupa Kak, shalat istikharah dulu. Minta petunjuk sama Allah. InsyaaAllah semuanya akan lancar," jelas Famira.


"Adekku pintar sekali, makasih penjelasannya ustadzah Famira." Erwin menarik pipi Famira.


"Iya, jangan cubit pipi Famira

__ADS_1


juga. Sakit, Kak," aduh Famira lalu memegang pipinya.


"Maaf, pipi kamu gemasin sih."


"Famira boleh minta nomor perempuan yang Kakak suka itu?"


"Buat apa?"


"Pada saat proses berta’aruf harus didampingi oleh pihak ketiga untuk sebagai penghubung dan memastikan syariat Islam tetap terjaga, Kak. Biar Famira aja yang menjadi sarana penghubung antara Kakak dan perempuan itu. Karena banyak kasus di zaman sekarang ta'aruf yang berkedok pacaran. Jelas-jelas keduanya sangatlah berbeda. Kakak punya nomornya?"


"Nggak punya, Dek."


"Biar Famira cari tahu sendiri deh, Kakak pasti tahu di mana rumahannya? kasih tahu Famira, biar Famira bisa pergi menemuinya."


Erwin pun memberitahu Famira, obrolan mereka berlanjut panjang sampai Bara tiba di kediaman Vernandes.


•••


Famira dan Bara sudah berada di salah satu kamar di rumah Vernandes.


"Mas, baca in Famira surah Ar-Rahman," pinta Famira tersenyum tipis.


"Bentar dulu ya." Bara bangkit dari ranjang lalu mengambil air wudhu dan mengambil Al-Qur’an yang ada di dalam lemari kaca.


Famira sudah membaringkan tubuhnya di atas kasur, netranya menatap kagum kepada lelaki yang sedang duduk di bibir ranjang.


Bara memulai membacanya surah Ar-Rahman dengan nada suara sangat indah dan merdu sekali, membuat Famira tidak ingin melepaskan pendengarannya untuk mendengarkannya.


'Tabārakasmu rabbika żil-jalāli wal-ikram' Ayat terakhir terucap di bibir Bara. Bara pun menutup bacaan dengan ucapan 'shadaqallahul adzim'. Dan menaruh mushaf itu di atas nakas.


Bibir Bara terangkat menyungging senyum tipis, ternyata Famira sudah tertidur pulas. Bara pun segera membaringkan tubuhnya di samping Famira.


"Selamat tidur, jagoan Ayah." Bara mengelus lembut perut Famira yang sudah lumayan membesar, lalu menciumnya. Tak lupa Bara mencium kening Famira. "Selamat tidur juga, sayang," tuturnya. Bara pun masuk ke dalam selimut dan menarik Famira ke dalam dekapannya.


Mereka berdua pun larut dalam mimpinya masing-masing.


.


.


.


.


.


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian yah ;)


Makasih

__ADS_1


__ADS_2